[Wisata Nagarkot Nepal] Cerita Dari Sisi Himalaya

Nagarkot yang tenang, dengan dingin yang menusuk tulang selepas langit terang mulai temaram. Tiap jam 5 sore, itulah waktu terakhir saat badan masih cukup kuat mendapat semilir angin. Sejam dari itu, saya sudah siap ke dalam restoran untuk berlindung dari cuaca yang membuat mengigil.

Sang pemilik hotel cukup paham dengan kondisi ini. Ia selalu tersenyum dan tahu bahwa kaum tropis perlu beradaptasi dengan bukit Kathmandu yang ketinggiannya 2.175 meter di atas permukaan laut.
suasana-di-hotel
Setiap sore, seteko teh atau kopi panas menemani tongkrongan kami berdua. Ditemani Tyson, si anjing herder pemalas yang hobi tidur. Kegiatan kami hanya duduk santai sambil makan lalu menikmati suasana yang begitu syahdu dengan lilin-lilin yang dinyalakan di setiap meja makan.

Semua asyik sendiri, semua punya kegiatan masing-masing. Entah bercengkrama, mengisi perut, mencari kesibukan dengan berselancar di sosial media, atau bermain musik tradisional. Lagi-lagi kami mendapat penghiburan dari Tyson, si German shepherd, yang sesekali lari-lari kecil di dalam ruangan. Kemudian kembali lagi malas, lalu pasrah di sudut ruangan tanpa gongongan. Inilah anjing herder terkalem yang pernah saya temui.

Tiga malam, saya menikmati kehidupan desa bersama orang-orang baru tanpa saling mengganggu. Semua sibuk sendiri-sendiri menahan dinginnya Nagarkot.

***

Pagi berkabut.

Embun membasahi hampir semua dedaunan yang ada di sekitar The End Of The Universe.

Jangan berharap mendapat indahnya pemandangan Everest, itu mustahil jika datang masih di awal November. Pantas saja saya masih mendapat tiket pesawat terjangkau saat itu. Keberangkatan saya bukanlah saat peak season untuk liburan dan wisata di Nepal.

Embun itu juga membasahi daun kanabis yang dengan sangat mudah bisa saya temui di depan hotel.  Ya, ya kanabis yang dilarang di Indonesia. Sayangnya saya tidak sanggup untuk iseng memetik lalu mencoba mengunyahnya. Karena pagi-pagi saya lebih butuh teh panas daripada mengunyah daun.

Jaket yang hangat ini bahannya terbuat dari hemp. Kemudian juga tas warna-warni ini. Motifnya yang lucu-lucu pasti bikin galau jika sedang belanja. Saya membelinya di Thamel, memang niat beli jaket tebal karena saya dan suami tidak bawa bekal pakaian tebal selama di Nepal. Kami tahu, di Thamel banyak perlengkapan naik gunung. Jadi, saya tak perlu heboh menyiapkannya saat di Indonesia.

Saya cinta dengan tas kecil yang harganya cuma delapan puluh ribu rupiah ini. Murah dan terbuat dari hemp. Mungkin tidak ada yang membuatnya di Indonesia. Tapi kalau kalian ingin memilikinya tanpa harus ke Nepal, banyak sekali toko online yang menjual barang kerajinan dari daun terlarang (di Indonesia).

Saya selalu membawa tas kecil yang terbuat dari hemp itu di Nepal, semenjak beli. Begitu pula saat jalan-jalan menyusuri desa Nagarkot yang begitu virgin kondisinya.

Virgin, karena kami berdua mendapati lokasi ini masih dalam rangka membuka jalan untuk kendaraan.  Mereka menghancurkan bukit untuk membuat jalanan agar mempermudah konektivitas antar desa.

Selepas sarapan yang kepagian, kami berdua jalan pagi menjelajahi desa dan kepo dengan lingkungan sekitar. Kami menyusuri jalanan aspal yang sudah mulai rusak, setiap lima ratus meter bertemu warga lokal. Pagi-pagi di pegunungan, anak kecil ke sekolah membawa koper dengan pakaian sangat rapi. Kemeja biru muda, celana panjang, berdasi, dan rambut cepak yang mirip pekerja kantoran nyasar di desa. Anak kecil ini begitu bersemangat menuju ke sekolah. Dengan sepatu phantofelnya, melewati jalanan desa yang naik turun. Sepertinya pendidikan Inggris cukup memberi pengaruh pada pendidikan di Nepal, minimal yang bisa saya lihat dari cara mereka menerapkan seragam sekolah.
orang-orang-nepal
Traveling itu menyenangkan, karena banyak hal yang bisa saya temui. Termasuk wisatawan dari Jepang yang membawa putri cilik. Usianya kira-kira belum sampai satu tahun. Pagi itu, saya dan Rudy berpapasan dengan beberapa wisatawan dari mancanegara. Mereka hiking mencari udara segar sekaligus berolahraga. Meski tak kenal dan baru pertama berpapasan. Halo dan senyuman ramah seperti menjadi perkenalan singkat, sebelum kami melanjutkan perjalanan lagi menuju lokasi yang berbeda.

Nepal begitu unik. Unik karena saya bisa melihat orang-orang dengan suku berbeda dan kulit warna yang kontras. Ketika berbicara dengan beberapa dari mereka, saya kerap tertegun dengan bola matanya yang indah dan tajam saat memandang. Percakapan kami di desa dengan bahasa verbal tak berjalan lancer, karena tak cukup banyak yang bisa berbahasa internasional. Saya tentu saja tak mampu menggunakan bahasa lokal.

Interaksi kami dengan bahasa tubuh, saat tiga orang anak muda yang kami temui di jalan minta untuk difoto. Mereka pun seperti terheran-heran dengan kamera atau handphone berkamera. Sesekali tawa terdengar dari mulutnya saat melihat gambar yang saya perlihatkan dari ponsel.

Jika, kalian sudah familiar dengan desa di Indonesia atau sempat tinggal di desa. Rasanya Nagarkot begitu dekat. Di sini alamnya masih terjaga, udaranya segar, bahkan saat kami hiking, beberapa jalan setapak baru saja dibuka.

***

Hello Mother

Di perjalanan kami tak sengaja bertemu dengan dua ibu tua yang menggendong rumput kering. Tubuhnya sampai terbungkuk membawa beban yang begitu berat. Dengan pakaian merah dan rok panjang, dua ibu tadi terlihat anggun dari kejauhan.

Saya tanpa sadar mengabadikan momen ini. Ditambah lagi ingin mengabadikan satu sisi Nagarkot. Kamera saya angkat dan saya ambil gambarnya. Tak sampai dua menit, mereka sadar bahwa mereka jadi obyeknya. Dua ibu itu menghampiri kami berdua, mendekat, dan ingin melihat hasil foto yang saya ambil.

Saya pun memperlihatkan padanya. Tak berapa lama, salah satu dari mereka minta uang kepada saya karena hal yang sudah saya lakukan. Ternyata tidak gratis. Saya pun memberikan sedikit uang kepada ibu tersebut, meski dengan nominal yang tak seberapa.
D7K-3304
Mereka melanjutkan perjalanan, entah berapa kilometer lagi yang harus dilalui. Sebenarnya, saya dan Rudy pun ingin melanjutkan perjalanan. Hanya karena lupa botol air minum, niat itu tak jadi terlaksana.

Kami putuskan pulang. Kembali ke hotel demi segelas air minum yang untuk membasahi tenggorokan. Menyusuri jalan tanpa aspal yang jalannya naik turun. Mendapati tubuh yang rasanya mulai hangat dan berkeringat, dengan matahari yang semakin terik. Langkah kami berdua ke penginapan ditemani dua anjing liar. Sesekali saya menatap jauh ke arah lembah, berharap awan membelah dan langit cerah, agar Sang Everest yang putih menampakkan ujung puncaknya.

wisata-nagarkot-nepal
pengalaman-jalan-jalan-ke-nagarkot-nepal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *