Sate Maranggi Cibungur

Makanan rupanya jadi hal yang paling bisa melekatkan  pertemanan kami. Bak piranha, setiap ada makanan kami selalu jadi akrab dan mau berkumpul tanpa saling mencaci. Persis seperti piranha, dalam sekejap makanan yang di depan mata sudah pasti ludes.

Begitulah kami. Saya dan teman satu divisi yang menyatu karena makanan. Meski ada jadwal kondangan yang sudah pasti isinya akan menyantap makananan. Kami juga mengincar kuliner yang bisa dihampiri sebelum ke Bandung menghadiri pernikahan salah satu rekan kerja.

Sate Maranggi Cibungur mengisi jadwal akhir pekan. Berdelapan, kami rela melipir keluar tol untuk icip-icip kuliner asli Purwakarta yang warung makannya tidak buka cabang di tempat lain.

Ini pertama kalinya buat saya makan sate Maranggi Cibungur. Buat saya, sate ya tetap sate. Daging ditusuk-tusuk lalu dibakar dengan bumbu. Dari bumbu inilah yang jadi ciri khas dan pembeda antara sate satu dengan sate lainnya.

Apa yang istimewa dari Sate Maranggi Cibungur ?

Selain tidak punya cabang yang mengindikasikan kalau pengen mencoba sate maranggi yang asli berarti harus datang ke Purwakarta. Warung makan yang letaknya di pinggir jalan ini juga unik karena menggunakan lahan luas hutan jati yang sepertinya sebagian di babat. Sejuk, anginnya semilir, dan sebagian besar pembelinya berada di ruang terbuka.

Sebagian besar ? Yup. Warung sate Maranggi Cibungur ini lebih mirip foodcourt luas yang ternyata tidak hanya menjual sate maranggi. Tetapi juga ada karedok, soto, gado-gado, pepes, dan menu segala macam ikan lainnya. Bentuknya mirip dengan kios-kios kecil berjejer. Suasananya riuh, pembeli memanggil-manggil pelayan. Atau ada yang heboh mencari tempat duduk kosong seperti yang kami lakukan. Pengunjung yang datang bejibun banyaknya pas waktu puncak makan siang. Ramai sekali dan lebih mirip seperti kenduri di suatu desa. Hampir semua bangku penuh. untung masih ada yang tersisa di luar bangunan utama. Bangunan tambahannya hanya tiang-tiang kayu yang diberi atap seng, tanpa dinding. Kami duduk di bangku panjang yang muat untuk lebih dari lima orang. Berbaur dengan pengunjung lain yang datang berkelompok. Bareng keluarga besar atau genk maen seperti kami.

Layanannya juga unik. Tidak pesan makanan per meja yang menunya dicatat pramusaji atau layaknya makan di foodcourt yang self service. Di tempat ini, ada beberapa pelayan yang bertugas menjadi koordinator per makanan dan minuman. Orang yang berkaos biru tugasnya melayani pesanan sate maranggi, yang mengenakan kaos oranye membawa baki berisi cangkir besar es jeruk kelapa muda. Orang ini akan berjalan berkeliling dan menghampiri meja yang membutuhkan es kelapa muda. Begitu juga dengan makanan lainnya memiliki koordinator sendiri-sendiri. Tiap meja diberikan satu lembar nota yang berisi menu sekaligus catatan pembayaran saat pertama kali duduk. Nota ini biasanya dibawa koordinator khusus. Jadi, tiap pesan makanan dan mengambil minuman, kami wajib menuliskan atau menambahkannya di nota itu. Khusus untuk makanan akan disiapkan dan dihantarkan.

Kami pesan lima porsi sate maranggi kambing, dua porsi sate sate maranggi sapi, gado-gado, dan karedok. Satu porsi berisi sepuluh tusuk dengan taburan sambal tomat pedas dan cabai. Dari penampakannya, sate ini hampir tidak berbumbu khusus. Hampir mirip sate klathak. Ini bagian yang paling istimewa karena dari bentuknya kami kesulitan membedakan antara sate sapi dan sate kambing. Bahkan saat menyantapnya. Sate ini dimakan dengan nasi putih yang disajikan dalam bungkus daun pisang. Saya sih cukup satu bungkus nasi, plus nyomot beberapa tusuk sate kambing dan sapi. Aroma sate maranggi kambing hampir nggak muncul aroma anyir kambing yang khas. 90% bersih. Dagingnya empuk dengan potongan yang cukup besar.

Gorengan juga jadi lauk-pauk yang menemani santap siang genk kondangan hari Sabtu itu. Saya sudah kenyang. Tapi sebagian tetap rela nambah nasi karena porsinya terlalu sedikit terutama untuk para pria. Cuma sayangnya karena waktu wisata kuliner yang sempit. Kami berdelapan jadi gagal makan karedok dan gado-gado. Ya apa mau dikata, melayani ratusan pengunjung yang datang bebarengan. Bisa jadi pesanan masih waiting list.

Soal pembayaran tetap di akhir acara santap-menyantap. Nota yang tadi berisi cek list makanan jadi bukti pembayaran di kasir, yang alamak antrinya pun panjang.

Note : Jika perjalanan dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya, bisa keluar tol Cipularang. Satu kilometer dari exit tol Sadang, Purwakarta.

 

 

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *