Perlu Pelicin di Perbatasan Kamboja

Perjalanan darat antar negara memberi banyak pengalaman bagi saya. Terutama di kawasan Asia Tenggara, seperti kejadian di perbatasan Poipet – Aranyaprathet.

Soal transportasi tidak jadi masalah besar. Bahkan dari 1 sampai 10, testimoni tentang angkutan darat saya beri nilai 8. Lagi-lagi perjalanan ini saya siapkan satu minggu sebelum berangkat. Saya memang belum punya pengalaman beli tiket bis on the spot. Selain karena tidak mau kehabisan, beli via online jauh lebih aman dan terjamin. Untungnya kawasan Indo China di Asia Tenggara sudah membuka layanan jual beli tiket via online yang bisa dibeli hanya dengan mengakses website dan pembayaran melalui kartu kredit.

Sudah banyak cerita tentang scam di perbatasan negara Kamboja-Thailand lewat jalur darat. Jika cerita sebelumnya di Vietnam – Kamboja saya punya pengalaman enak dan serba mudah untuk masuk ke satu negara. Di perbatasan satu ini, harus sedia uang ekstra.

Saya berangkat sekitar pukul delapan dari Siem Reap dengan bis double decker warna merah.

Bisnya nyaman dengan tempat duduk dua-dua dan kami mendapat jatah di bagian atas. Seluruh backpack milik penumpang diletakkan pada bagasi yang ada di bagian bawah. Kami hanya diperbolehkan membawa tas kecil serta barang penting lainnya di tempat duduk masing-masing. Sebelum berangkat, agen bis memberi selembar jadwal kegiatan yang akan harus dilakukan seluruh penumpang selema perjalanan dari Kamboja ke Thailand selama 7 jam. Termasuk sebuah stiker yang harus diberi nama masing-masing penumpang. Serta sebuah tanda pengenal yang berisi informasi mengenai bis yang kami tumpangi.

Sebelum berangkat petugas  memberi arahan kalau kami dipersilahkan membaca semua ketentuan yang sudah terlampir di lembaran kertas tadi dan wajib menjaga stiker serta tanda pengenal agar tidak hilang.

Perjalanan tanpa masalah selama tiga jam pertama dari Siem Reap. Sampai di perbatasan, kami dipersilahkan keluar dari bis dan mengambil semua barang bawaan tanpa kecuali. Benar sekali, sangat jauh berbeda ketika pindah negara dari Vietnam masuk ke Kamboja.

Semua penumpang antri mengambil barang bawaan mereka dan diberi arahan menuju kantor imigrasi Kamboja. Kami semua jalan kaki sambil menggendong tas punggung dan ada pula yang sebagian menarik koper besar. Jaraknya hanya 100 meter dari tempat bisa menurunkan semua penumpang.

Cerita di Kantor Imigrasi Kamboja (Poipet)

Kami semua berjalan kaki menuju kantor imigrasi Kamboja yang berada di tikungan jalan. Kantor bertembok hijau tosca tua yang berukuran kecil untuk sebuah kantor imigrasi. Banyak orang sedang duduk-duduk dan menunggu di bagian teras. Saya kurang begitu tahu apa yang mereka lakukan. Memang ada urusan dengan kantor imigrasi atau sekedar nongkrong saja.

Saat masuk gedung yang kecil itu. Antrian juga tidak terlalu ramai. Berukuran sekitar 200 meter, kantor imigrasi di kawasan Poipet ini tidak memiliki banyak sekat. Hanya ada loket-loket di bagian ujung, selebihnya untuk tempat mengantri.

Saya, Rudy, dan romongan satu bis lekas membuat barisan di dua loket yang kosong. Sembari mengisi formulir untuk menuliskan data diri. Saya berdiri sambil membawa tas backpack. Ketika giliran saya tiba, saya pun maju menghadap petugas. Menyerahkan form yang sudah diisi berikut dengan paspor.

Untuk orang Indonesia tentu saja free visa dan sesuai aturan seharusnya saya tidak wajib membayar apa pun. Tapi tak lama setelah paspor saya diperiksa. Petugas meminta uang sebesar 100 bhat atau bisa juga membayar USD 5. Karena uang dollar Amerika saya sudah habis, maka saya pun membayar dengan mata uang Thailand.

Proses meminta cap keluar Kamboja tidak lama. Sekitar 10 menit, itu pun lebih lama untuk mengantri. Saya dan Rudy cukup rapih dan mentaati peraturan, dengan membayar uang pelicin agar semuanya berjalan lancar.

Tapi benarkah harus memberikan sejumlah uang saat keluar Kamboja di perbatasan ?

Kebetulan saya bertemu dengan traveller lain dari Indonesia. Satu perempuan dan dua orang laki-laki. Mereka ternyata tidak menyiapkan uang lokal untuk kejadian seperti ini. Sesampainya di depan loket, ia hanya membawa uang dalam jumlah besar. Dan petugas meminta untuk membayar dengan uang pas.

Alhasil, satu orang berhasil membayar dengan mengumpulkan receh USD yang tersisa. Sedangkan dua lainnya harus ke luar kantor dan diminta menukarkan uang terlebih dahulu. Beruntungnya ketika akan menukarkan, petugas sudah memberikan stempel lebih dulu. Sehingga dia hanya perlu kembali untuk membayar.

Alhasil, setelah paspor diberikan, teman baru saya ini pun langsung keluar kantor begitu saja dan tidak kembali lagi untuk membayar uang pelicin tadi.

Selamat Datang di Thailand

Selamat tinggal Kamboja, sampai ketemu lagi. Dan gapura besar yang saya lewati menjadi simbol perbatasan paling luar Poipet, Kamboja. Kami semua jalan berduyun-duyun dan menginjakkan kaki di tanah Thailand.

Kantor imigrasi Thailand berbeda jauh dengan kantor imigrasi Kamboja yang lebih sederhana. Aksen budaya Thailand sudah terlihat di atap gedung. Ruang imigrasinya pun lebih mewah dan jauh lebih luas. Jika kantor imigrasi di Kamboja gelap dan kecil. Saat masuk kantor imigrasi Thailand, semua ruangan sudah ber-AC, sejuk, dan terang.

Memang, Thailand yang lebih makmur menjadi dream land bagi orang-orang yang tinggal di wilayah Kamboja maupun Myanmar. Bisa dibilang petugas imigrasi dan polisi yang ada di sana sangat waspada menyeleksi siapa saja yang keluar masuk Thailand. Semua itu untuk menghindari trafficking dan penyelundupan manusia.

Alasannya memang sepele, di Thailand yang lebih maju. Pekerjaan dan kesejahteraan jauh lebih terjamin. Sehingga cukup menjanjikan bagi para pencari kerja.

Di kantor imigrasi Thailand, pemeriksaan lebih ketat dari pada di dua negara sebelumnya. Kami ditanya beberapa hal dan diharuskan melakukan foto digital saat meminta visa on arrival pada petugas. Durasinya pun lebih lama, sekitar 20 menit.

Setelah semuanya selesai. Saya dan Rudy segera menuju ke tempat parkiri bis yang letaknya tak jauh dari kantor imigrasi Thailand. Setelah semua penumpang sudah berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Bangkok sekitar dua jam perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *