Pengalaman Naik Taksi di Nepal

Ah Indonesia…Indonesia…

Begitulah sapaan seorang bapak yang menyambut saya di pintu gerbang keluar imigrasi Tribuvan International Airport. Makelar  ini menggiring saya untuk seger membeli sim card sembari menawarkan jasa antar taksi.

Suasanan riuh bandara kecil membuat pikiran saya terbelah. Di Nepal, ketika ingin membeli simcard, kita diwajibkan menunjukkan passpor lalu difotocopy oleh petugas. Belum lagi saya sibuk memilih paket data yang ditawarkan,  lalu dengan bantuan kalkulator menghitung konversi harganya dalam rupiah. Masuk akal, kata saya dalam hati. Harga paket data selama singgu lumayan murah. Sembari hitung-menghitung, berbagai pertanyaan tentang saya dan mau pergi ke mana silih berganti diucapkan dua orang yang menghampiri.

Urusan sim card sudah beres. Saya pun melanjutkan negosiasi untuk mendapat harga terbaik menuju Thamel. Tawar menawar lumayan alot, saya sudah sempurna seperti ibu-ibu. Apa pun diperhitungkan ketika bertransaksi, sekecilapa pun selisihnya. Maklum saja, pedoman tarif taksi yang saya pakai berdasarkan pengalaman orang-orang yang sudah pernah ke Nepal sebelumnya.

“OK. Deal 700 rupees.” Ucap saya ke bapak tadi.

Awalnya ia memberi harga sangat tinggi, sampai Rs 1000. Enak saja batin saya.

Referensi yang saya baca sebelumnya, kisaran taksi yang mengantar dari bandara ke Thamel mulai dari Rs 500. Itu berdasarkan perhitungan tahun 2017. Kalau pun naik pasti tidak terlalu tinggi.

Kami pun keluar bandara bertiga. Ia mengantarkan saya ke tempat parkir untuk menemui Mr.Kashi, sopir yang akan membawa Rudy dan saya sampai ke Thamel. Barang-barang kami disimpan dalam bagasi dan saya dipersilahkan duduk di belakang. Mobil yang kami pakai pun bukanlah taksi pada umumnya. Melainkan mobil pribadi yang diperuntukkan untuk mengantar penumpang. Di Indonesia seperti mobil sewaan. Tak lama seseorang naik mobil dan duduk di samping Mr.Kashi. Menanyai saya banyak hal tentang kunjungan ke Nepal.

Ternyata orang itu seorang pemandu wisata yang menawarkan paket wisata ke Pokhara, Nepal.

Saya pun menolaknya karena tidak ada waktu untuk mengunjungi Pokhara. Ia bergegas keluar mobil dan membiarkan Mr.Kashi melakukan tugasnya.

Taksi menjadi transportasi di Kathmandu yang paling direkomendasikan bagi wisatawan pemula yang berkunjung ke Nepal. Pra sopir itu berani menawarkan harga tinggi karena untuk mengakses bus dari bandara tidak mudah. Bandara Tribuvan belum memiliki fasilitas terintegrasi dengan transportasi umum yang mempermudah wisatawan asing menuju pusat kota atau tempat wisata Nepal yang terkenal.

Bus umum hanya bisa ditemukan di luar bandara. Jam kedatangan dan keberangkatan tidak tepat waktu dan susah diprediksi.

Perjalanan ke Lalitpur, Obrolan Tentang Sania dan Bersyukur Batal Naik Bus

Setelah selesai sarapan, saya bergegas mencari taksi menuju ke Lalitpur. Di depan restoran saya memberhentikan beberapa taksi dan menanyakan tarifnya. Ada yang menawarkan harga Rs700, tapi akhirnya saya mendapatkan Rs 500 dengan model taksi yang biasa-biasa saja. Bukan mobil baru tetapi tak terlalu jelek untuk ditumpangi.

Sopir saya anak muda berpenampilan kekinian yang gesit. Baru masuk mobil, kami sudah diajak mengobrol. Cara menyopirnya pun sesekali ngebut dan pintar menyalip mobil-mobil yang ada di depannya. Namanya Sumanluck Yonza.

Di tengah perjalanan, ia mengambil smartphone dan memutar musik. Kencang sekali. Berbeda dengan sopir saya sebelumnya yang tak suka hingar bingar di dalam mobil. Musik-musik yang didengarkan pun modern. Tidak hanya musik lokal Nepal yang tak saya ketahui. Beberapa referensinya yaitu lagu-lagu Maroon Five satu tahun terakhir yang sudah diaransemen ulang dengan campuran musik tradisional. Tidak membosankan, malah terdengar menarik. Lagian saya familiar dengan lagu-lagunya.

Di sela-sela mengendarai mobil. Ia menunjukkan beberapa tempat di pusat kota Kathmandu dan tempat wisata paling diminati. Waktunya saya melihat kondisi dalam kota yang sebenarnya jauh lebih modern kota saya di Solo.

KFC dan Pizza Hut masih terlihat dengan outlet kecil, yang jauh dari Thamel. Jadi, saya tidak bisa mencoba menu franchise ini.

Saya pun fokus mengamati jalanan dan lalu lalangnya. Orang-orang Nepal wara-wiri menjelang siang. Para wanitanya yang berjalan kaki, tetap menggunakan masker untuk menutup hidung. Mereka juga kerap menggunakan payung untuk menghindari panas.

Sumanluck, juga menunjukkan masjid di tengah kota. Ia tahu saya dari Indonesia. Mungkin, di Nepal sudah terkenal bahwa Indonesia negara terbesar berpenduduk muslim. Padahal ia tidak menanyakan apa keyakinan saya.

Tiba-tiba ia mengganti lagu, menunjukan sebuah band lokal yang cukup terkenal di youtube. Lagunya Ed Shreen berjudul Shape Of You yang dicover Niran Bangol feat Palsang Lama berkumandang. Aransemennya memang hampir berubah. Alat musik tradisional begitu kental di dalamnya.

Mereka menggunakan tabla, instrumen sejenis kendang yang asalnya dari India. Lalu ada juga yang memainkan sarangi, alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara digesek dengan piyul. Sekilas cara memainkannya seperti cello.

Saya enjoy mendengarkan sambil menikmati perjalanan selama satu jam ini. Sumanluck juga menanyakan apakah di Indonesia ada penyanyi bernama Sania? Dengan sigap saya jawab ya.

Sania yang ada di pikiran saya adalah penyanyi R&B yang terkenal tahun 1998 dengan lagu Santai. Masih ingat kan ? Kalau kalian tahu, berarti kita satu angkatan ya.

Sumanluck menceritakan betapa populernya Sania di Nepal. Lalu dia menunjukkan Sania yang dimaksud. Oh ternyata orang yang berbeda. Sania yang terkenal itu adalah orang yang hobi nyanyi dangdut di Smule.

Kalau didengarkan sebenarnya nggak jauh beda hentakan irama lagu-lagu yang diputar Sumanluck dengan jenis musik dangdut dari Indonesia.

Pilihan tepat ke Lalitpur naik taksi karena perjalanan saya bisa lebih cepat daripada dengan bus. Selama perjalanan saya melihat bus kecil seukuran mikrolet yang berjajar lama di tepi jalan. Bahkan berdesak-desakan di dalam bus tak berjendela. Fiuh… susah bayangin kalau saya dan Rudy ada di dalamnya.

Pulang dari Lalitpur, kami berdua juga pilih naik taksi saja. Lebih praktis dan mudah. Di Patan, nama lain Lalitpur, mencari taksi juga cukup mudah. Beruntung, saya malah dapat harga lebih murah Rs 400 sekali jalan. Kami lalu diantarkan sampai Thamel. Kawasan paling strategis bagi wisatawan.

Pindah Tempat Menginap Ke Bhaktapur

Transportasi di Nepal yang paling aman dan nyaman memang taksi. Belum ada kendaraan yang terintegrasi menghubungkan satu kota dengan kota lain di Nepal. Bisa cek highlight Nepal instastoryku di www.instagram.com/citranurmi.

Begitu juga ketika pergi ke Bhaktapur. Taksi jadi satu-satunya pilihan yang saya ambil. Keluar dari hostel dengan menggendong backpack dan bawa semua barang-barang. Saya dan Rudy menyusuri jalanan Thamel yang masih sepi. Toko-toko belum buka. Akhirnya, kami pun melipir ke area yang dekat dengan hostel pertama tempat menginap. Di sana banyak gerombolan sopir taksi yang sedang cari penumpang.

Saya tanya berapa tarif pergi ke Bhaktapur. Salah satu sopir pasang tarif Rs 1500. Mahal amat, pikir saya.

Saya pun bertanya ke sopir lain yang di seberang jalan. Ia mau memberi tarif Rs 1200.

Saya masih gencar menawar sampai harga setengahnya. Meskipun tahu kalau jarak Kathmandu ke Bhaktapur 15-an kilometer. Lebih jauh jika dibandingkan ke Lalitpur. Tapi, saya tetap gigih menawar taksi. Sampai akhirnya saya memberi Rs 800 dan salah satu dari mereka menerimanya. Tidak sia-sia ya negosiasinya.

Lebih jeli memperhatikan harga Rs bisa saya dapatkan karena jenis kendaraan dan tingkat baru atau tidaknya mobil. Harga awal yang sampai Rs 1500 sebelumnya karena menggunakan mobil baru. Sedangkan bisa dapat yang Rs 800, karena mobilnya biasa saja. Pakai AC alam.

Umumnya jarak 15 an kilometer bisa ditempuh dalam waktu 30 sampai 45 menit jika jalanan tidak macet. Tapi ini Nepal, jalanannya masih kacau. Sebagian sudah beraspal, dan banyak yang masih tanah. Alasan para sopir menawarkan harga mahal biasanya dengan bumbu-bumbu jalanan berkelok-kelok dan sulit dilewati.

Memang iya, tapi tidak sepenuhnya benar. Perjalanan saya ke Bhaktapur sekitar 1,5 jam saja. Jam 10 pagi, saya pun diturunkan di depan kompleks besar. Mirip-mirip area perumahan zaman dahulu. Uniknya, penginapan yang saya tinggali berada di area Bhaktapur Durbar Square. Sehingga perlu tiket masuk dan berlaku selama satu minggu.

Menuju Nagarkot Dengan Perjalanan Menantang

Nagarkot jadi daerah terakhir di Nepal yang saya kunjungi. Perjalanan ini lebih seru dari yang saya bayangkan. Ongkos pergi ke sana pun jauh lebih mahal.

Sebelum check out dari guest house. Saya tanya ke pemilik rumah. Transportasi apa yang mereka rekomendasikan untuk ke Nagarkot. Adakah bus umum ?

Tentu saja ada. Namun, pemilik guest house yang juga menyiapkan sarapan untuk saya pagi itu, lagi-lagi tidak merekomendasikan naik bus umum.

You can go there. But, i think, better with taxi,” katanya saat itu.

Meski ia juga memberi tahu di mana terminal bus di Bhaktapur berada. Ia tidak bisa menjamin kapan sampai ke Nagarkot.

Di depan gapura Bhaktapur Durbar Square. Beberapa orang seperti menunggu kami. Sudah jelas lah, dengan tas yang kami gendong. Beberapa orang langsung menghampiri dan menawarkan transportasi.

OK tak ada pilihan. Daripada berjalan jauh ke terminal dan pergi tanpa kepastian. Saya pun pilih naik taksi ke sana. Karena kekurangan uang cash, saya pun pergi dulu ke ATM terdekat. Lalu mendatangi kendaraan yang membawa kami.

Kali ini saya sepertinya tidak naik taksi. Tapi sedang menyewa kendaraan pribadi berbentuk van menuju Nagarkot. Mobil yang saya pakai berbentuk van dalam kondisi bagus dan masih baru. Nyaman, ber-Ac, dan cukup lapang untuk ditumpangi dua orang dan satu sopir.

Pemandangan indah di Nagarkot

Bhaktapur ke Nagarkot sebenarnya dekat. Hanya 12-an kilometer. Sewa mobil ini sekitar Rs 1700 sekali jalan. Namun  tantangan kontur jalanan yang membuat sewa mobil jadi mahal. Bandingkan dengan naik bus yang tarifnya hanya Rs 80 saja. Jauh berbeda.

Perjalanan ke Nagarkot awalnya lancar-lancar saja. Barulah terjadi mobil goyang setelah masuk ke sebuah jalan menuju pedesaan. Jalanan yang beraspal berganti dengan tanah berbatu. Roda bergulir melambat, sopir pun harus berhati-hati membawa mobil yang berhimpitan dengan bus atau kendaraan lain.

Kami melalui rumah-rumah warga yang jaraknya berjauhan. Satu dan lainnya dibatasi lahan yang luas. Pemandangan juga semakin beragam ketika mulai menanjak. Tak hanya pepohonan, tetapi kanan jalan berupa tebing dengan pemandangan yang menawan.

Tas di bangku depan saya bergoncang
ke kanan dan ke kiri. Saya cuma tertawa cekikian di dalam mobil dengan kejadian ini. Untung naik mobil sewa. Bukan taksi biasa seperti yang kami tumpangi saat di kota.

Apa jadinya perjalanan kami kalau menumpanginya.

Pergi ke Nagarkot perlu mobil mobil berbadan besar. Di belakang saya ada bus mini warna kuning yang sedang berjuang mengatasi beratnya medan. Sudah jalan tidak beraspal, banyak bebatuan, ditambah jalanan kurang lebar sehingga perlu ekstra hati-hati saat menikung. Sebelah kanan kami tebing.

Repotnya jika berpapasan dengan kendaraan lain yang berlawanan arah.

Bahkan dua kali saya berpapasan dengan mobil yang mogok di jalan. Apes banget. Penumpangnya turun dan menepi. Mereka berteduh di bawah pohon, berlindung dari matahari yang mulai terik.

Jalanan yang saya lalui luar biasa parah. Berkilo-kilometer masih berupa tanah dan sebagian besar masih dalam proses di aspal.

Di bagian tertentu, tebing digerus untuk memperlebar jalan. Terutama di bagian yang menikung. Di lokasi yang sama, kontur tanah jalan ini paling jelek. Bergelombang, ada banyak batu, terdapat gundukan bekas ban mobil. Sepertinya semalam habis hujan deras dan membuat jalanan berlumpur. Lalu siang itu tanahnya mengering.

Perjalanan ini diselingi lagu lagu tradisional yang cocok sebagai backsound. Bukan karena ingin menari, tetapi terpaksa badan terhuyung dan bergoncang mengikuti ke mana mobil bergoyang saat melaju.

Tak lama, kami berhenti di pinggir jalan. Sopir saya sempat turun mendatangi sebuah rumah. Ia bilang sudah masuk ke area Nagarkot yang kami cari. Lalu saya diminta membayar Rs 300 per orang untuk masuk kawasan.

Entah ini peraturan pemerintah atau pungutan liar. Saya tak begitu paham. Nurut sajalah daripada ada masalah dan lebih lama di jalan. Petugas yang ada di sana pun tanpa seragam.

Setelah saya beri lembaran uang Rs 500 dan recehan sejumlah Rs 100. Kami dibiarkan melanjutkan perjalanan.

Dari Nagarkot ke Kathamndu, kami memberi tumpangan turis Cina yang mobilnya mogok.

Kondisi mulai membaik. Tak lagi merasakan mobil goyang karena roda menggelinding di aspal. Kami semakin melewati jalan menanjak dan berkelok-kelok.

Pada dasaranya langsung keok kalau naik kendaraan. Saya sedari 15 menit di awal berangkat sudah mulai mengantuk. Tak kuasa lagi, mata pun terpejam sempurna.

Entah berapa lama saya tidur. Tiba tiba suami mencolek tubuh saya.

“Bangun. Udah sampai,” katanya.

Saya pun terhenyak kaget dan memandang sekeliling.

“Tuh lihat sebelah kiri,” tambahnya.

Wow… indah banget. Lembah berwarna hijau gradasi. Dihiasi warna-warna oranye yang merupakan rumah warga. Dari kejauhan bukit-bukit terlihat bertumpukan. Birunya langit dan awan-awan melengkapi kesempurnaan pemandangan Nagarkot.

Merutuki kebiasaan pelor di dalam kendaraan. Entah berapa menit melewatkan keindahan yang seharusnya saya saksikan.

Mobil berbelok ke kanan, kembali mengikuti jalanan yang meliuk-liuk. Pemandangan pun berganti dengan pedesaan dan pemukiman warga.

Tak lama kami sampai ke tempat tujuan.

Selamat datang di Nagarkot.
Mari menikmati ketenangan dan menghabiskan tiga malam di At The End Of The Universe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *