Pengalaman Beli Rumah Second Lewat KPR

Apa Yang Kamu Fokus Pikirkan, Itulah Yang Terjadi

Ini bukan simsalabim. Bukan juga soal mistis. Tapi law of attraction tampaknya bekerja sangat baik dalam kehidupan saya. Termasuk saat mewujudkan cita-cita punya rumah pertama, yang kala itu saya beli secara second setelah mencari lewat situs jual beli.

Awal tahun 2016, angan-angan punya rumah sendiri terbersit begitu saja. Hanya sekilas. Lalu di bulan kedua tahun itu, saya terpengaruh sebuah artikel yang membahas tentang perencanaan finansial kaum muda di bawah usia 30 tahun. Sudah kerja, gaji bulanan ada, bonus kadang dapat kadang nggak, berkecukupan, dan bisa hura-hura sesuai standar saya. Artikel itu cukup mengusik, karena inti dari pembahasan mengenai gaji bulanan larinya ke mana ?

Sontak saya pun jadi itung-itungan, selama ini ke mana kah hasil kerja yang saya kumpulkan selama lima tahun?

Selama Februari hingga bulan Juni, angan-angan ini timbul tenggelam. Sesekali saya buka website jual beli rumah. Lihat harganya, wow… bikin kepala cukup pening. Apalagi kala itu saya tinggal di Jakarta. Tahu kan nggak ada tanah murah di sana ?

Namun, di tahun yang sama saya sudah punya tekad. 2016 harus punya hunian pertama. Jadi, saya pun rajin bergerilya mencari informasi.

Mayoritas teman-teman saya yang sudah berpengalaman, mendapatkan hunian di pinggiran. Entah Bekasi, Depok, atau Tangerang. Membayangkan punya hunian di pinggiran tapi kerja di Jakarta semakin  membuat saya berpikir panjang. Emang butuh banget ya punya rumah di Jakarta ? Pulang pergi butuh minimal tiga jam. Di sisi lain, saya juga memimpikan untuk bisa work from everywhere. Alias, kerjaan itu bisa dibawa ke mana-mana, bukan yang kerja di belakang meja terus. Artinya, saya punya kesempatan untuk membeli rumah pertama tidak harus di Jakarta. J

Banyak pertimbangan untuk membeli rumah. Pertama, soal biaya. Kedua, mau di area mana. Ketiga, apakah saya sudah mau menetap di kota tersebut sampai tua ?

Setelah berpikir cukup lama. Saya pun memutuskan, rumah pertama saya bukan di ibukota. Dengan segala macam faktor yang saya pikirkan. Saya pun menetapkan untuk membeli rumah pertama di sebuah kota kecil. Yang mana di sana, nggak ada tuh yang namanya bioskop. Hehehe…

Mencari Rumah Katanya Seperti Cari Jodoh. Untungnya Jodoh Rumah Pertama Saya Cepat Didapat.

Internet banyak membantu saya untuk mendapatkan referensi rumah dengan harga rendah. Karena kalau mau beli cash, kantong juga belum cukup. Mau minta ditombokin orang tua. Waduww… nggak lah yaw. Jadi, dari sinilah saya riset sebelum kunjungan menemui jodoh rumah pertama saya. Dari awal pun saya madep mantep untuk membeli rumah melalui KPR.

Rumah pertama yang saya kunjungi dekat dengan pintu tol Sragen. Areanya memang perumahan dengan luas tanah yang lumayan, hampir 200 meter. Sejak awal saya sudah tahu bahwa rumah ini ditinggal lama oleh penghuninya. Untuk ditinggali sangat tidak layak dan butuh renovasi total. Saya memang mengincar tanah yang agak luas. Karena impian saya, punya taman di area depan dan belakang. Tapi, refrensi rumah pertama ini gagal saya ambil karena dua alasan. Yang pertama saya tidak cocok dengan lingkungannya dan kedua, KPR hanya akan meloloskan jika rumah yang kita beli dalam kondisi baik.

Saya tidak menyerah karena deadline kurang dari dua bulan untuk akad rumah, sebelum saya benar-benar melakukan akad di depan penghulu (Nggak tahu kenapa, tiga bulan setelah pencarian rumah, saya nikah. Everything was happened so fast).

Saat di Jakarta, saya sudah merencanakan untuk mengunjungi dua orang broker. Sekali jalan bisa survey dua lokasi sekaligus. Setelah mencoret refrensi calon rumah pertama. Keesokan harinya, saya pergi untuk melihat-lihat calon rumah kedua. Kali ini rumahnya baru selesai dibangun. Luas tanah 120 meter persegi dan lokasinya dekat dengan sawah. Sejauh ini, saya tidak masalah karena mengidamkan punya hunian yang asri. Area rumah tersebut bukan di perumahan, tetapi ada dua rumah yang baru saja dibangun. Saya pun tertarik dan nyaris mengurus surat menyurat rumah ini. Nyaris. Ya, karena setelah saya kembali ke Jakarta dan cari tahu tentang dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan rumah KPR ke bank. Ternyata rumah tersebut belum ber-IMB dan sertifikat tanah belum dipecah.

Saya tidak mau repot untuk urusan berkas-berkas. Pengennya sudah yang beres, sehingga ketika harus balik nama dan pengajuan KPR. Saya tak punya masalah dan tidak mengulur waktu. Sang perantara penjual rumah pun tetap kekeuh untuk tidak mau mengurus IMB dan jika harus menunggu sertifikat tanah dipecah. Artinya, dia harus mendapatkan pembeli untuk rumah yang lainnya. Duh, sepertinya akan lama jika saya menuruti.

Akhirnya, saya pun membatalkan transaksi tersebut karena memang surat-surat dari pihak bersangkutan tidak lengkap. Itu pun diwarnai tragedi, sang broker marah-marah karena saya tidak jadi beli. Padahal sejak awal, saya sudah tekankan, saya mencari yang surat-surat lengkap.

Mungkin karena saya bersikukuh untuk segera punya hunian. Hampir setiap hari saya browsing situs jual beli rumah, membuat daftar nomor yang harus dihubungi, sekaligus daftar luas rumah, fasilitas, serta harganya. Bersyukur pencarian rumah pertama ini singkat. Tak sampai satu minggu, saya menemukan lagi satu calon rumah yang menarik dan sesuai dengan isi kantong.

Saya menghubungi pemilik rumah dan mendapatkan informasi lebih lengkap. Rudy membantu untuk survey rumah tersebut, menanyakan kembali tentang suratnya, dan fasilitas yang ada di dalamnya. Beruntung, ternyata pemiliknya seorang bankir dan menjual rumah mereka dalam waktu cepat. Saya cocok dengan kondisi rumah tersebut, ditambah lagi, saya membeli rumah dengan bonus seisinya. Mulai dari meja kursi ruang tamu, beberapa lemari, tempat tidur, dan meja makan. Memang bekas, tapi untuk sementara waktu sangat menolong sebelum saya bisa mengisi dengan yang baru.

Deg-Degan Pengajuan Kredit Rumah Second Lewat KPR BTN 

Yang bikin agak khawatir karena proses approval KPR. Saya sudah mendapatkan rumah second yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan, sang pemilik juga tidak sabar dapat uang cash dari penjualan rumah. Waktu yang saya miliki hanya satu bulan untuk menyiapkan berkas, proses pengajuan sampai approval.

Lagi-lagi saya gunakan internet sebagai penolong untuk mencari bank mana yang pas untuk pengajuan KPR. Beberapa bank swasta sudah jadi pertimbangan, akan tetapi akhirnya saya pilih langsung saja pengajuan ke BTN (Bank Tabungan Negara). Hanya satu bank yang saya gunakan sebagai pengajuan kredit rumah ini. Antara tak sempat urus di bank lain karena waktu terbatas. Entah darimana, keyakinan saya kuat bahwa segera mendapatkan hunian ini secepatnya dari BTN.

Surat-surat untuk pengajuan KPR BTN saya penuhi, seperti :

  1. KTP
  2. NPWP
  3. Slip gaji tiga bulan terakhir
  4. Rekening koran tabungan 3 bulan terakhir
  5. Surat keterangan bekerja (kala itu saya masih karyawan sebagai karyawan tetap).
  6. Formulir pengajuan KPR BTN

Untuk lebih lengkapnya tentang syarat pengajuan & suku bunga KPR BTN dapat dilihat di sini.

Syarat-syarat di atas terlihat begitu mudah untuk dipenuhi. Namun, ada beberapa hal penting lain yang harus disiapkan atau ditanyakan terlebih dahulu kepada pihak bank sebelum pengajuan dilakukan.

  1. Kita harus mengetahui down payment yang diwajibkan dari pihak bank. Di BTN saya diharuskan membayar 30% DP dari harga rumah. Selebihnya nanti dicicil lewat KPR.
  2. Kita perlu menyiapkan anggaran lain-lain (minimal 15%-20% dari harga rumah) untuk membayar berbagai macam administrasi mulai dari provisi, mengurus notaris dll.

Uang Pengikat Rumah

Jika membeli rumah lewat developer biasanya sebagai calon pembeli, kita perlu menyerahkan sejumlah uang sebagai pengikat. Berkisar antara 2 – 4 juta rupiah. Beberapa rekan saya kehilangan uang pengikat tersebut tanpa ada kejelasan kea rah pembelian rumah.

Saya begitu beruntung & bersyukur dengan budget yang tidak besar, langsung mendapatkan dari pemilik rumah sehingga dalam jangka waktu pendek. Semua proses jual beli bisa terlaksana. Tapi apakah mulus-mulus saja ? Tidak.

Saat menunjukkan keseriusan untuk beli rumah second tersebut, calon penjual bahkan baik hati sekali menjual tanpa uang pengikat. Sehingga saya diberi kesempatan untuk pengajuan paling tidak 1 bulan.

Pengajuan Kredit Rumah Second Lewat KPR BTN Sempat Ditolak

Setelah menunggu selama tiga minggu, pihak bank menelpon saya dan memberi tahu hasil dari pengajuan KPR lewat telepon. Saya setengah mati kecewa, karena hasilnya ditolak berkaitan dengan status ketenagakerjaan saya di perusahaan tempat bekerja waktu itu. Dari pihak bank menganggap saya masih karyawan kontrak berdasarkan SK (surat keputusan) dari kantor. Sehingga mereka mempertimbangkan apakah saya mampu untuk melakukan cicilan dengan lancar sampai batas waktu yang ditentukan.

Kaget, kecewa, tapi saya juga tidak terima. 😀 Merasa sudah menjadi karyawan tetap dan saya memberikan data valid. Saya melakukan klarifikasi ke pihak bank. Lalu menyerahkan dua surat ketika saya masih menjadi karyawan kontrak dan surat pengangkatan ketika jadi karyawan tetap (yang sudah saya serahkan sebelumnya dan ditolak).

Setelah diusut, ternyata ada kesalah pahaman tentang PKWT & PKWTT. Surat yang saya ajukan pertama kali yakni fotocopy surat yang menunjukkan saya karyawan PKWTT (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu), secara lebih mudah bahwa surat ini menunjukkan seseorang sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Baca di sini untuk pemahaman lebih lanjut tentang PKWT & PKWTT.

Sedangkan dari kepanjangan PKWTT, mungkin ada pegawai bank yang kurang ngeh terhadap perbedaan ini. Sehingga hasilnya pun ditolak.

Keesokan harinya, saya segera mengirimkan fotocopy surat PKWT beberapa tahun sebelumnya yang , pernah saya terima dari perusahaan tempat saya bekerja. Agar pihak bank bisa membandingkan, dengan harapan menerima pengajuan KPR saya.

Proses mencari rumah akhir Juli 2016, pengajuan awal Agustus 2016. Masuk di tanggal 1 September 2016, sang pemilik rumah mengontak saya untuk meminta kejelasan apakah saya jadi membeli atau tidak. Saya pun bernegosiasi untuk memberikan waktu beberapa hari lagi karena pihak bank belum memberikan jawaban. Namun, pemilik rumah menyatakan jika ada orang lain yang juga berminat terhadap rumah tersebut. Meskipun, ia juga memberikan kelonggaran waktu dengan syarat saya harus memberikan uang pengikat sebesar dua juta rupiah.

Saya pun menyanggupinya dan menjanjikan untuk transfer pada tanggal 2 November 2016 pagi hari. Setelah uang ditransfer sekitar pukul 9 pagi. Sore harinya, pihak BTN kembali menghubungi dan menginformasikan bahwa pengajuan KPR saya diterima. Weww…. Antara senang, bahagia, tapi rada nyesek juga dua juta rupiah saya melayang. Tapi tak jadi masalah, mungkin saja udah jalannya.

Sembilan hari kemudian menjadi proses mengurus berbagai macam hal mulai dari ke notaris, ke kantor pajak, dll. Tanggal 10 September 2016, saya pergi ke kantor BTN untuk melakukan akad jual beli rumah second melalui KPR.

Note :

Proses pengajuan KPR :

Lengkapi dokumen pengajuan KPR -> Proses appraisal -> Kalkulasi penawaran bank -> Kredit disetujui bank/tidak (jika ya) -> Tanda tangan akad kredit.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *