Panduan Wisata Backpacker-an ke Nepal Bagi Pemula

Seminggu merupakan waktu pendek untuk menjelajahi Nepal, meski hanya sebagian kecil wilayahnya. Tapi dalam waktu tujuh hari, saya dan Rudy bisa mengunjungi empat daerah di negeri yang sangat terkenal dengan pemandangan Himalaya ini.

Nepal menjadi negara Asia Selatan pertama yang saya kunjungi. Negara yang banyak memeberi pengalaman baru dan hal-hal unik yang tidak saya temui di Indonesia sebelumnya, terutama tentang budayanya. Selama perjalanan di Nepal banyak hal mengejutkan yang memberikan pandangan mengenai budaya, fasilitas masyarakat, perbedaan, dan bagaimana Nepal membuka tangan lebar-lebar bagi wisatawan dari seluruh dunia untuk menikmati keindahan rangkaian Himalaya.

Kunjungan pertama ini ternyata membuat saya berfikir untuk kembali lagi wisata ke Nepal beberapa tahun ke depan, saking banyaknya destinasi incaran yang belum saya datangi. Jika ingin pergi ke Nepal juga, berikut serangkaian hal yang perlu disiapkan dan diketahui tentang negeri atap dunia ini :

Visa

Kerjasama Nepal dan Indonesia mempermudah wisatawan asal Indonesia berkunjung ke Nepal dengan visa on arrival. Hanya perlu menentukan durasi tinggal di Nepal dalam jangka waktu 15 hari, 30 hari, atau 90 hari. Semua bisa diurus setelah kedatangan di bandara internasional Tribuvan.

Baca : Cara Mengurus Visa On Arrival Nepal

Mata Uang

Mata uang Nepal : Nepalese Rupee

Transaksi selama di Nepal menggunakan mata uang Nepal yang disebut Nepalese Rupee. Sayangnya, untuk menukarkan rupiah ke Nepalese Rupee cukup susah di Indonesia. Sebelum berangkat lebih baik menukar rupiah dengan dollar Amerika. Kemudian saat tiba di Nepal bisa menukarkan ke money changer yang ada di bandara atau sekitar wilayah Thamel.

Jika menukar di bandara, saya sarankan penukaran dilakukan setelah selesai urusan imigrasi. Konter money changer yang melayani penukaran ini lebih bersahabat soal kurs dan tidak menyertakan fee untuk penukaran.

Transaksi di Nepal memang menggunakan Nepalese rupee. Tapi saya juga sempat melakukan transaksi untuk beli makanan dan membayar taksi dengan USD saat kepepet kehabisan mata uang Nepal.

Jika ingin lebih praktis dan tidak membawa banyak uang. Penarikan mata uang Nepal juga bisa dilakukan di mesin ATM jika memiliki kartu debet berlogo visa atau mastercard. Saat penarikan rata-rata bank mengenakan charge sebesar Rs 500. Dan untuk satu bank lebih murah dengan charge per penarikan Rs 395. Pengalaman saya, lebih nyaman untuk membawa dollar USD dari Indonesia dan menukarkan ke money changer karena lebih untung dalam perhitungan kurs. Baru ketika, kepepet uang cash habis, bisa tarik tunai di ATM terdekat.

Transaksi pembayaran dengan kartu kredit atau kartu debet akan dikenakan charge sebesar 3,75 % – 4 % per gesek. Jadi, perlu sekali hitung menghitung demi penghematan pengeluaran sebelum belanja dengan kartu atau tarik tunai di ATM.

Transportasi

Nepal masuk ke 10 negara termurah untuk traveling. Benarkah ? Pengalaman saya di Nepal. Transportasi memakan biaya liburan cukup besar karena ke mana-mana pakai taksi atau sewa mobil. Sebenarnya itu soal pilihan, karena transportasi umum di Nepal belum terlalu bagus. Yang ada hanya bus umum dengan kondisi seperti bus-bus di Indonesia tahun 1950-an L.

Dari Tribuvan International Airport di Kathmandu ke Thamel (kawasan wisata dan penginapan di Kathmandu) bisa naik taxi yang harganya Rs 700. Keluar dari kawasan imigrasi, biasanya ada orang yang akan menawarkan jasa antar ke penginapan menggunakan taxi. Mereka menawarkan dari range Rs 800 –Rs 1000-an. Tawar menawar perlu dilakukan sebelum pergi ke tempat tujuan kita. Saya biasa menawar dengan menurunkan hingga 40 % dari harga pertama yang diberikan. Jika mereka tidak setuju, barulah dinaikan sedikit demi sedikit hingga sampai pada kesepakatan harga.

Jika biasanya saya menyarankan naik bus. Kali ini, takasi menjadi pilihan terbaik saat ke Nepal jika dibandingkan memakai bus umum untuk bepergian. Mengingat waktu yang saya miliki sempit. Menggunakan bus umum, sangat menyita waktu dan tidak bisa diprediksi keberangkatan dan durasi perjalanan bus yang nanti kita naiki. Saran dari beberapa orang lokal memang sebaiknya menggunakan taksi untuk bepergian.

biaya hidup di Nepal
Mata uang Nepal : Nepalese Rupee

Biaya Hidup di Nepal

Biaya hidup selama di Nepal memang tergolong murah jika mau mencari tempat makan warga lokal. Sayangnya, tempat makan seperti ini sangat sempit dan cenderung lokasi makannya gelap. Sehingga saya memutuskan untuk makan di restoran atau kafe.

Makan di tempat-tempat seperti restoran atau kafe pun bervariasi  harganya. Tergantung dari area tempat makan berada dan layanan yang diberikan. Saya sempat makan di pinggiran Thamel yang dekat dengan penginapan pertama. Harganya cukup masuk akal, Rs 550 ( sekitar Rp 62.000) untuk dua orang dengan menu sepiring Dal Bath dan momo buff ditambah dua botol coca cola.

Bahkan di restoran yang sama tapi dihari yang berbeda. Saya mengawali hari dengan sarapan sepiring nasi goreng yang porsinya sangat banyak. Sehingga mampu memberi rasa kenyang hingga sore hari. Satu porsi nasi goreng harganya Rs 150 (sekitar lima belas ribu rupiah, itu pun makan di restoran. Berarti bisa lebih murah jika di warung dengan menu yang sama).

Sedangkan makan di restoran kelas menengah per menu bisa sekitar Rp 35.000 – Rp 70.000 per porsi untuk menu makanan lokal. Pembayaran tentu saja ditambah dengan pajak restoran dan layanan.

Jujur saya tak terlalu banyak jajan cemilan di Nepal. Mungkin porsi makanan berat yang dalam satu menu sudah cukup beragam dan mayoritas memang karbohidrat membuat rasa kenyang bertahan lama. Sehingga saya tak sempat membeli snack street food sperti chaku, chaat, chhurpi, atau samosa. Jajanan yang tersedia di sana sangat tradisional. Jadi jangan bayangkan ada street food lucu seperti negara maju yang bisa difoto dan tampak instagramable ketika diposting. Mayoritas berwarna coklat dan prosesnya digoreng.

Cerita di hari pertama saat ngopi di kawasan Thamel, saya sempat mencoba menu yang namanya sangat tradisional, bhatmas sadeko. Dan ketika datang jeng…jeng… saya makan kedelai goreng yang dicampur dengan bawang merah, irisan daun, dan perasan jeruk nipis. Nama baratnya Soy Bean Salad, tapi buat saya yang jawir alias jawa, lebih tepat menyebutnya dele goreng (kedelai goreng).

Momo jadi snack andalan yang sering kami berdua coba. Harga paling murah Rs 90 dan mendapat sepiring besar berisi sekitar 10-12 potong momo dengan cup kecil bumbu kari sebagai saus cocolnya. Beberapa tempat memberi harga bervariasi tergantung isiannya. Penyajian momo pun bisa di kukus atau digoreng. Dan ini berpengaruh ke harga momo. Momo goreng lebih mahal sekitar Rs 20- Rs 30.

Harga-harga yang saya cantumkan saat di Nepal ini tentu saja harga turis, meski dalam range semurah-murahnya. Jika ingin lebih murah lagi, maka bisa blusukan mencari tempat makan yang agak masuk ke gang. Tapi, biasanya penjual makanan pun akan tahu bahwa kita wisatawan. Sehingga mereka memberikan harga yang sedikit lebih tinggi dari warga lokal.

Rata-rata harga makanan di Nepal (untuk kawasan turis sekalipun) cukup masuk akal sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000 sekali makan dengan menu sederhana dan porsinya cukup besar.

makanan khas Nepal
Momo (dibaca : mama) makanan khas Nepal yang sempat saya coba sebanyak 5 kali selama di sana.

Makanan Khas Nepal

Makanan tradisional di Nepal kaya sekali bumbu. Namun, hampir semua makanan menggunakan masala sehingga rasanya hampir sama. Pengaruh tradisi dan bumbu ala India juga sangat kuat, termasuk dengan gaya penyajiannya. Ada tiga makanan wajib yang perlu dicoba saat ke Nepal :

Momo : Sejenis dim sum dengan isian ayam, sayuran, atau daging kerbau. Disajikan dengan bumbu agak pedas. Momo dimakan sebagai snack atau makanan pendamping. Harga dan kelezatan momo juga bervariasi tergantung di mana memesan dan ketrampilan koki saat memasak sehingga berpengaruh pada rasa dan harga.

Dal Bhat : Menu makanan lengkap khas Nepal yang menyajikan nasi bersama sayuran, ayam/daging kerbau, dengan sup yang disebut dal. Dal Bhat tersedia dalam beberapa versi, baik untuk vegetarian atau dengan lauk protein. Lauk dalam menu lengkap dal bhat sekitar empat hingga enam jenis.

Lassi  : Lassi jadi minuman favorit saya ketika di Nepal. Sejenis minuman yoghurt yang cocok dikonsumsi saat siang hari. Lassi disajikan dalam kondisi dingin dan bisa diminum tawar, manis, atau dicampur dengan buah-buahan seperti apel, anggur dan lainnya.

Harga makanan di Nepal sangat bersahabat dengan kantong wisatawan Indonesia. Apalagi jika mau berburu warung yang menyatu dengan rumah warga. Harganya jauh lebih murah dan bebas pajak. Namun, jika makan di tempat nyaman atau di restoran menengah sekalipun. Biasanya akan dikenakan pajak restoran dan layanan.

Komunikasi

Ncell dari Axiata menjadi provider yang saya gunakan selama di Nepal. Harganya Rs 400 untuk 7 hari dengan kapasitas 4 gigabyte. Selebihnya penginapan, guest house, restoran, ataupun hotel menyediakan wifi.

Bulan Tepat Berkunjung ke Nepal

Jangan pergi ke Nepal saat musim moonsoon perkiraan di bulan Juni hingga akhir September. Memang cukup panjang waktunya, dan urungkan niat ke sana jika tidak ingin banyak waktu terbuang sia-sia ketika liburan ke Nepal pada bulan itu.

Sedangkan waktu terbaik ke Nepal disarankan pada Oktober hingga Desember. Eits… tapi kapan saat yang tepat ? Saya berada di Nepal 28 September sampai 5 Oktober 2018. Meski mendapatkan lima waktu untuk menikmati Nepal di awal bulan Oktober. ternyata cuaca masih tidak bersahabat untuk benar-benar bisa mendapatkan pemandangan Himalaya seperti yang saya bayangkan.

Nagarkot yang menjadi tempat pilihan terakhir selama di Nepal, tetap memiliki cuaca mendung, meskipun setiap hari tidak hujan.

Saran terbaik jika ingin mendapat pemandangan apik. Datanglah di pertengahan Oktober hingga Desember.

Januari dan Februari menjadi bulan yang dingin, terutama saat malam. Wah…saya tidak bisa membayangkan berapa lapis pakaian yang harus digunakan kalau datang di bulan itu. Namun, di bulan ini ternyata wisatawan yang berkunjung malah bisa mendapatkan pemandangan indah dan bila memilih trekking di Nepal. Tujuan wisata trekking tidak terlalu ramai.

penginapan di nepal
Penginapan pertama di Nepal yang ada di Thamel, Kathmandu

Penginapan di Nepal

Ada berbagai jenis penginapan yang bisa ditinggali selama di Nepal. Mulai dari hotel, guesthouse seperti yang saya tempati ketika di Bhaktapur, atau resort-resort yang menawarkan pemandangan indah dan fasilitas menarik selama di Nepal.

Pesan tempat menginap di agoda.com atau hostelworld.com untuk pemesanan maksimal seminggu sebelum keberangkatan. Terutama jika menjelang hari H, penginapan incaran dengan biaya terjangkau dan lokasinya strategis sudah dipenuh.

Saya tinggal di kawasan Thamel saat di Kathmandu dan sempat menginap di dua tempat berbeda. Biaya hotel sederhana sekitar Rp 160.000 per malam dengan fasilitas kamar mandi dalam yang bersih, air hangat, dan wifi. Ada juga hotel yang per kamarnya bertarif Rp 80.000 per malam dan bisa diisi dua orang satu kamar tapi share bathroom dengan kamar lain.

Pakaian Yang Dikenakan Selama di Nepal

Tergantung dari destinasi wisata yang ingin dikunjungi. Jika merencanakan pergi untuk trekking ke Annapurna atau basecamp lainnya tentu saja perlu persiapan ekstra. Jika wisata ke Nepal hanya mengunjungi wilayah perkotaan atau desa-desa dan fokus pada wisata budaya. Pakaian yang digunakan hanya perlu baju kasual biasa yang menyerap keringat dengan potongan sopan. Warga lokal menggunakan baju sari atau baju khas Nepal yang cenderung tertutup baik pada celana maupun atasannya. Apalagi jika pergi ke tempat peribadatan, simpan satu syal panjang di dalam tas jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Jika kunjungan hanya sebatas ke Kathmandu, Lalitpur, maupun Bhaktapur, tetap siapkan jaket atau baju hangat. Biasanya menginjak jam tujuh malam waktu setempat cuaca mulai berubah dan cenderung mulai berangin dan dingin.

Sebelum saya dan Rudy pergi ke Nagarkot, kami menyempatkan berbelanja jaket khas Nepal dan satu jaket North Face untuk menghangatkan diri. Benar saja, sesampainya di Nagarkot dan waktu baru menunjukkan jam 3 sore. Cuaca dingin mulai terasa, apalagi jika malam hari temperatur bisa turun hingga 10-12 derajat Celcius. Bagi kami yang berasal dari Indonesia tentu saja memerlukan banyak baju tebal saat di Nagarkot.

Bahkan pemilik hotel yang kami tempati di Nagarkot mengomentari penampilan saya yang sudah buru-buru pakai hodie tebal dan menutup kepala karena dingin. Padahal kami berada di dalam ruangan. Ia sangat mengerti bahwa kami berasal dari negara tropis yang cukup panas. Berbeda jauh dengan iklim di Nepal.

wisata nepal murah
Sepotong pemandangan Nagarkot saat sore hari.

Tempat Wisata Favorit di Nepal

Nepal terkenal dengan wisata alam yang menakjubkan. Ketika Himalaya menjadi magnet utama bagi wisatawan mancanegara berdatangan ke Nepal. Kita bisa memulainya dengan hiking dengan tingkat kesulitan yang remeh seperti saat di Nagarkot. Pilihan lain yang sering dijual dalam bentuk paket wisata yakni menikmati Annapurna dengan mendaki Poon Hill di area Pokhara. Lokasi Pokhara yang jaraknya perlu dicapai sekitar tujuh jam dari Kathmandu dengan bus, menjadi pilihan lain menikmati Nepal. Punya waktu cukup panjang dan uang cukup banyak ? Trekking dengan rangkaian persiapan matang ke area populer seperti Everest, Annapurna, maupun Langtang menjadi petualangan menarik menikmati alam Nepal.

Tapi, Nepal juga tidak bisa lepas dari wisata budaya yang sangat menarik dan perlu dikenal lebih mendalam. Ketika punya waktu sedikit seperti pengalaman saya yang hanya sekitar tujuh hari di Nepal. Rute Kathmandu – Lalitpur – Bhaktapur dan mengakhiri perjalanan di Nagarkot bisa menjadi referensi bagi teman-teman pemula yang ingin ke Nepal tapi tak punya waktu cukup luang.

Buat saya, empat daerah ini menjadi destinasi terbaik untuk mengawali perkenalan dengan Nepal ketika punya durasi pendek berlibur di sana. Tentu saja, dengan rencana panjang untuk berkunjung lagi ke Nepal dan melakukan perjalanan yang jauh lebih lama.

Normalnya, di Nepal itu minimal dua minggu. Memaksimalkan izin visa paling pendek yang hanya 15 hari.  Dan kebanyakan orang akan menggunakannya untuk pergi naik gunung dan mengunjungi Annapurna Basecamp. Ketika saya mengurus visa on arrival, mayoritas wisatawan mancanegara berkunjung ke Nepal minimal sebulan. Bisa jadi hanya kami berdua yang waktu itu mengajukan visa Nepal selama 15 hari.

Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Nepal :

Cantiknya Gadis-Gadis di Kathmandu, Nepal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *