Perjalanan Naik Bis Dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh

Punya pengalaman naik bis jurusan Solo-Jakarta yang ngabisin waktu dua belas jam sekali jalan. Bikin perjalanan enam jam dari Ho Chi Minh City ke Phnom Penh gampang dilewati. Di negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam beli tiket untuk transportasi apa pun bisa dilakukan lewat online. Termasuk beli tiket bis via website.

Sebelum berangkat liburan. Semua pemesanan hostel dan bis, dari satu kota ke kota lain sudah beres (kecuali dari Siem Reap ke Bangkok yang harus ditunda).

Saya cari beberapa website yang dikelola agen berbeda. Mulai dari membandingkan harga, jam keberangkatan, sampai fasilitas yang diterima setiap penumpang. Setelah sibuk window shopping tiket bis, akhirnya saya putuskan beli semua tiket bis di www.bookmebus.com. Meski tidak semua harga bis yang saya incar harganya murah jika dibandingkan website lain. Tapi beli tiket di satu agen online jadi lebih ringkas.

 

bis dari saigon ke phnom penh

 


Tentu aja saya pilih yang paling murah, karena perjalanan ini durasinya nggak lama-lama amat. Lihat lebih detil deh fasilitas bisnya. Ada rupa ada harga. Yang paling mahal pasti fasilitasnya lebih banyak dan lengkap. Tapi buat saya, air minum dan wifi sudah cukup bikin nyaman. Wi-fi is d’best solution to kill my time.


Rasanya memang jauh berbeda memesan tiket lewat online daripada beli langsung di agen. Serba cepat, gampang, nggak ribet, dan saya bisa beli jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Di Indonesia, bis jadi alat angkutan yang sebisa mungkin dihindari untuk perjalanan panjang. Alasannya karena capek, durasi perjalanan yang lama dan tidak tepat waktu sampai tujuan. Bahkan tren mudik tahun 2017, pesentasi penggunaan pesawat meningkat daripada naik bis. Saya sering loh dikatain temen kenapa mesti dibela-belain naik bis. Mbok ya naik pesawat kalau balik Jakarta. Kesannya kaya kere banget kalau naik bis.

Wah belum tahu mereka. Padahal saya sebenarnya latihan untuk tidak gampang ngeluh, kalau pas jalan-jalan kaya gini. Ngeles abis.

Pesan Tiket Bis di Indonesia vs Pesan Tiket Bis di Luar Negeri

Di Indonesia, pesan tiket bis jarang yang pakai sistem online. Bahkan untuk bis-bis yang sudah punya nama beken dan mentereng,  kebanyakan penumpang bahkan pelanggannya mesti beli tiket di agen perjalanan atau perusahaan bis yang membuka agen di kota-kota tertentu. Setiap balik ke Jakarta dari kampung halaman, saya lebih sering naik bis daripada kereta api. Alasannya klise, susah dapat tiket kereta api kalau pulangnya dadakan. Plus lagi latihan tidak ngeluh.

Saya sudah punya langganan bis yang selalu saya pakai untuk balik ke ibukota. Yang berganti-ganti cuma kelas bisnya aja, mulai dari patas AC, eksekutif, eksekutif plus, atau big top. Dulu, beli tiket bis dadakan pas hari H keberangkatan atau satu hari sebelumnya, saya masih bisa dapat kelas eksekutif atau eksekutif plus. Kalau membeli satu minggu sebelumnya, biasanya ditolak, karena jadwal kebrangkatan masih lama. Harga dan kelasnya di tengah-tengah, masih kisaran Rp 140.000 – Rp 180.000 sekali jalan.

Satu tahun terakhir beli tiket bis untung-untungan, tapi lebih banyak nggak untungnya kalau dadakan. Susah dapat kelas yang diinginkan atau berangkatnya terlalu siang. Jam 2 siang harus sudah stand by di tempat agen.

Nggak enaknya lagi pas tiket habis dan saya kebingungan mau balik Jakarta pakai apa. Sampai saya selalu minta tolongke orang rumah untuk nitip ngebeliin tiket satu minggu sebelum keberangkatan. Masih bisa milih tempat duduk, kelas bis, serta jam keberangkatan bisa jauh lebih sore atau bis terakhir. Untuk jadwal Solo – Jakarta jam keberangkatan mulai pukul 2 siang, empat sore, dan setengah enam sore. Yang biasanya selalu ngaret dan mundur
setengah bahkan satu jam.

Soal mundur atau ngaret, saya sudah bisa maklum. Penduduk Indonesia kan banyak dan lalu lintas jalanan yang padat pasti nggak bisa diprediksi. Naik bis di Indonesia itu perlu kesabaran khusus serta daya tahan tubuh yang kuat. Jadi soal bis yang telat, ya harap maklum.

Saya sama Rudy sudah sepakat ngambil rute darat saat liburan ke negara Indocina. Saya booking sebelum berangkat karena takut kehabisan tiket atau harganya yang cenderung naik. Tiap bis ngasih harga yang berbeda dengan fasilitas yang beragam. Alasan lainnya, untuk perjalanan dengan durasi yang nanggung selama 10 hari. Rasanya lebih tenang nyiapin segalanya sebelum berangkat. Saya ambil jadwal pagi hari pukul 9 dengan bis Phuong Trinh Bus Lines.

Lakukan pencarian informasi bis yang akan kita naiki. Baca review serta pengalaman wisatawan lain. Hal ini sangat penting, karena buat apa mendapatkan harga bis yang terjangkau tapi terlunta-lunta di perjalanan selama berjam-jam.

Ketika saya sudah sampai di Ho Chi Minh, saya baru tahu di lingkungan hostel banyak sekali agen bis bertebaran. Mereka menjual paket tur wisata sekaligus tiket ke berbagai kota dari Ho Chi Minh ke beberapa negara indocina lainnya, termasuk ke Phnom Penh. Soal harga memang sedikit berbeda. Jika membeli tiket bis secara langsung biasanya lebih mahal $2-$3.

Karena kadung beli online dan ternyata jaraknya jauh dari tempat saya dan Rudy menginap, Saigon Marvel Hostel. Saya harus naik grab dan kena tarif Rp 45.000,00. Hitung-hitung keliling kota, saya diantar ke sebuah agen bis di kawasan 24 Tản Đà, phường 10, Quận 5. Jaraknya sekitar 12 kilometer dari penginapan saya. Ya mesti pakai taksi ya, daripada kemringet dan kecapekan nggendong ransel ke tempat agen bis.

Si sopir taksi ini pede sekali menurunkan saya di deretan ruko yang masih sepi. Hanya tiga yang baru buka. Setelah bayar taksi dan masuk ke agen bis yang buka di deretan ruko. Saya menunjukkan tiket online yang sudah dicetak. Penjaga agen bisnya seorang laki-laki tadi geleng-geleng kepala. Sambil menunjuk ke ruko sebelah, agar saya pergi ke sana dan tempat ini bukan agen bis yang saya maksud.

Saya beranjak menuju ruko sebelah dan menanyakan hal yang sama. Dan tetap saja ditolak. Waduuuh… saya bingung karena semua orang Vietnam di luar lingkungan hostel sepertinya nggak terlalu paham bahasa Inggris. Komunikasi kami cuma geleng kepala, angguk-angguk, atau menunjuk.

Pedoman saya pada secarik kertas berisi nama bis serta alamat agen bis yang juga berfungsi sebagai bukti pembelian tiket. Kami juga bertanya ke beberapa orang lain yang ada di sekitar kawasan itu. Ada yang belum sempat saya tanya, sudah acuh dan melambaikan tangan tanda tidak tahu.

Ketika bertemu dengan orang yang bisa bahasa inggris di salah satu hotel kecil, ia memberi tahu jika saya salah tempat. Duhhh… Lalu orang baik ini mengarahkan agar saya pergi beberapa ratus meter dan bertanya kembali ke orang lain, di mana lokasi yang tepat. Saya sempat was-was jika sopir taksi tadi terlalu jauh nurunin kami beruda, jauh dari  tempat yang seharusnya.

Jadwal keberangkatan bis memang selalu tepat waktu dan yang tidak datang akan ditinggal. Sedangkan jadwal keberangkatan selanjutnya dengan bis yang sama selang tiga jam. Sudah terlalu siang dan saya bisa sampai Phnom Penh malam hari.

Saya dan Rudy bisa saja mengambil jadwal berangkat malam hari. Artinya bisa lebih irit ongkos menginap di hostel dan hemat waktu karena tidur di perjalanan. Tapi tujuan kami naik bis siang hari memang ingin lihat suasana kota dan perbatasan.

Menuruti panduan orang lokal saya lakukan. Tanya ke beberapa orang dan diarahkan melewati dua blok bangunan, berlawanan dengan lokasi sopir taksi tadi menurunkan saya. Lucunya, pas nggak sengaja bertanya ke agen bis dan ternyata nggak pakai jasa mereka. Sikapnya jadi kurang ramah dan langsung mrengut cemberut. Malah pas iseng nanya ke orang biasa seperti pejalan kaki yang lewat, petugas keamanan gedung, atau pedagang makanan. Mereka lebih komunikatif dan terlihat senang ngasih bantuan.

Setelah hampir tiga puluh menit kami berdua nyari agen bis yang dimaksud, akhirnya ketemu juga. Tempatnya kecil dengan satu orang penjaga yang bertugas mengakomodir penumpang. Saya dan Rudy, penumpang yang datang paling awal dan masih harus menunggu sekitar 45 menit.

naik bis dari ho chi minh ke phnom penh

Agen-agen bis di Vietnam memang jauh berbeda seperti di Indonesia yang biasanya memiliki ruang tunggu luas. Di Ho Chi Minh City, kebanyakan agen berupa ruko kecil berukuran sepuluh meter. Hanya ada beberapa bangku yang disediakan. Tapi, soal fasilitas wifi jangan ditanya. Internet sepertinya sudah jadi bagian dari rutinitas dan pekerjaan orang Vietnam. Untuk agen bis sekecil itu pun, fasilitas wifi tersedia dengan kecepatan yang nggak bikin kecewa. Sambil nunggu penumpang lainnya, saya bisa mengakses portal berita atau mencari informasi lewat internet.

Beberapa saat kemudian, penumpang lain yang akan berangkat bersama kami pun datang. Saya pikir teman perjalanan kami akan banyak dan bis terisi penuh. Selain saya dan Rudy, penumpang bis yang datang hanya segerombolan ibu-ibu dan keluarganya, berjumlah lima orang, serta tiga orang laki-laki. Keberangkatan sesuai jadwal. Tepat pukul sembilan pagi waktu Ho Chi Minh. Dan sesuai tebakan, bis tidak terisi penuh.

Bis yang saya tumpangi cukup nyaman meski interiornya tidak bisa dibilang baru. Tempat duduknya dua-satu. Dua di sebelah kiri dan satu kursi di sebelah kanan. Jika di Indonesia, kelas ini disebut big top atau super eksekutif.

Saya mau tak mau membandingkan harga serta fasilitasnya. Perjalanan dengan super eksekutif dari Solo ke
Jakarta tarif tiketnya sekitar Rp 375.000, durasi perjalanan sekitar 8 hingga 10 jam dengan fasilitas toilet, air minum, dan makan malam. Sedangkan perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Phnom Penh untuk model bis yang sama, per kursinya diberi tarif $8 dan hanya mendapat air minum serta tisu basah. Durasi perjalanan sekitar 6 jam.
Jadi menurut Anda lebih murah yang mana ?

bis menuju phnom penh

Tidak ada musik yang diputar seperti bis antar kota di Indonesia. Semuanya tenang, kecuali ibu-ibu tadi yang ngobrol dengan bahasa campuran, Inggris dan bahasa lokal Kamboja. Selama perjalanan, suara para ibu gaul mendominasi satu bis. Mulai dari ketawa ngakak entah bercerita apa. Atau sibuk membahas outfit yang dikenakan satu sama lain. Baru kali ini, saya naik bis bareng penumpang yang sangat bergaya. Gerombolan ibu yang mencat rambut dan pakai perhiasan mencolok, entah asli atau hanya sekedar aksesoris. Serunya lagi, ada satu ibu yang total berbusana sampai pakai sepatu boot. Padahal saya cuma modal sandal jepit yang bisa dilepas kapan saja.

Bis kami melewati pinggiran kota Ho Chi Minh yang tenang, jalanannya tidak seramai di pusat kota. Banyak bangunan-bangunan tua yang berfungsi sebagai pertokoan. Mayoritas bangunannya khas pecinan, bagian bawah untuk toko sedangkan bagian atasnya untuk rumah pribadi. Hampir semuanya bertingkat dua atau tiga. Sedangkan beberapa gedung baru yang difungsikan untuk tempat umum sedang dibangun.

Perjalanan yang bisa dibilang lancar tanpa hambatan dan gangguan. Dua jam perjalanan, kami sudah berada di perbatasan Vietnam dan Kamboja. Kami semua diturunkan ke kantor imigrasi untuk mendapatkan stampel paspor dan melanjutkan perjalanan.

Memasuki Kamboja

Wilayah Kamboja lebih khas dan  nggak terlupakan buat saya. Melewati perbatasan, jalanan kering yang berdebu menyambut kendaraan yang lewat. Seperti mengalami musim kemarau yang panjang. Sepanjang jalan raya yang kami lalui tak lepas dari debu berterbangan dan tidak ada pohon rindang.

Area yang kami lewati mayoritas lahan yang luas. Sayangnya dibiarkan gitu aja, kentara sekali dibiarkan tidak terpelihara. Sepanjang perjalanan menuju Phnom Penh, saya dan Rudy bolak balik mengomentari soal lahan luas yang mangkrak tadi.  Kenapa area seluas itu tidak dikelola saja. Misalkan ditanami pohon yang bisa dipanen kayunya atau sawit.

Entah kebetulan atau memang jarang ada, lahan-lahan yang kami lihat tidak ada yang berupa sawah. Mungkin iklim di Kamboja nggak seramah di Vietnam atau Thailand yang bisa digunakan untuk menanam padi. Atau memang pemerintahan mereka belum cukup peduli dan punya solusi untuk memanfaatkan lahan tadi.

Jika ada beberapa rumah, terlihat kumuh dan tidak terurus. Tanah-tanah terhampar ditumbuhi tanaman liar yang mulai meninggi.

Soal jalanan, meski berdebu dan terletak di perbatasan. Jalan aspalnya sangat mulus, nggak ada tuh  sopir ngerem bis mendadak karena tiba-tiba ada jalan berlubang. Saking mulusnya, kendaran yang lebih kecil terutama motor bisa nyalip bis yang lewat dengan lancar tanpa hambatan.

Hal ini yang bikin sopir bis kami jadi lebih aktif membunyikan klakson. Tak sampai dua menit, klakson selalu ditekan. Ia sepertinya khawatir jika ada kendaraan lain yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

Bis kami sempat berhenti beberapa kali selain diperbatasan dan saat makan siang. Ia menurunkan dua penumpang berbeda di lokasi yang berbeda. Dan sempat menaikkan satu penumpang.

Ketika baca beberapa cerita perjalanan darat pejalan lain. Jalur menuju Ho chi Minh ke Phnom Penh nggak melulu hanya dengan bis. Biasanya penumpang akan diturunkan ke sebuah pelabuhan kecil dan menyeberangi sungai selama 15 menit. Lalu kembali menaiki bis yang sama dan meneruskan perjalanan sampai ke Phnom Penh.

Tapi tidak untuk kali ini. Rupanya satu jembatan sudah dibangun dan menghubungkan dua daratan yang dilewati sungai. Bis kami melewati jembatan besar yang bentuknya mirip Suramadu. Tapi saya nggak tahu namanya apa. Jembatan ini mempercepat durasi perjalanan karena semua penumpang tidak perlu naik turun bis.

Masuk kota Phnom Penh, saya disambut sebuah kota yang sedang menuju pembangunan infrastruktur. Bisa dibilang Phnom Penh seperti Jakarta tahun 80 hingga 90-an. Bangunan yang ada bentuknya belum terlalu modern. Sebagian besar sedang dirombak dan dibangun ulang. Di beberapa bagian jalanannya macet,meski tidak semacet Jakarta.

Jam dua siang, kami sudah sampai di Phnom Penh. Namun, kami sampai di tempat agen pemberhentian pukul setengah tiga sore karena bis sempat susah bergerak saat melewati lokasi- lokasi yang sedang dibangun. Ketika semua penumpang sudah diturunkan dari bis. Seketika itu juga, hujan datang sangat deras dan membuat saya harus lebih lama lagi merebahkan diri di hostel.

Kesimpulannya perjalanan hampir enam jam dari Ho Chi Minh City ke Phnom Penh ini memang nggak ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman balik ke Jakarta dari Solo. Tertarik naik bis antar negara di kawasan Indocina ?

Incoming search terms:

  • bus patas ac era 90an
  • dari ho chi minh ke phnom penh
  • naik bus dari saigon ke dalat
  • perjalanan bus vietnam ke kamboja
  • Transportasi dari ho chi min city ke phnom phen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *