My Own Cafe Penang

Membaca beberapa literatur tentang makanan Indonesia. Ternyata banyak sekali budaya Tionghoa yang mempengaruhi keberagaman kuliner lokal. Memang, orang Cina di mana-mana. Mereka memiliki kebiasaan merantau dan membentuk komunitas-komunitas di wilayah baru yang didatangi. Jadi, jika sekarang kita mengenal kawasan pecinan. Area itu sudah berakar selama ratusan tahun. Tak hanya di Indonesia, tapi berbagai tempat di dunia.

Faktor terbesar perantau biasanya ingin mendapatkan hidup yang lebih baik.

Kita tahu, Cina masa kini yang maju – mandiri – yang bangun menjadi macan Asia dengan penduduk terbesar di dunia(2017),  dibentuk dari penaklukan-penaklukan kerajaan. Perang antar suku berlarut-larut yang memunculkan dinasti-dinasti menyebabkan banyak orang Tiongkok bermigrasi untuk menghindari kekacauan. Perang, kondisi ekonomi dan sosial yang buruk mendorong mereka meninggalkan tanah leluhur menuju daratan baru yang lebih menjanjikan. Era dinasti Qing mereka yang meninggalkan Kerajaan Qin dianggap pengkhianat dan jika kembali dieksekusi.

Selain itu, migrasi orang Tionghoa juga terjadi karena perdagangan. Sejak abad ke-10 hingga 15, Asia Tenggara tak lepas dari wilayah yang menjadi tujuan dagang para saudagar dari Tiongkok. Mereka membawa sutra dan keramik untuk ditawarkan ke pedagang internasional pada zaman dulu.

Motivasi lainnya yakni ekspansi kekuasaan. Dalam buku berjudul “Geger Pecinan 1740-1743” disebutkan bahwa pada 1292 ribuan tentara Tiongkok mendarat di Karimun Jawa. Secara beruntun di abad-abad selanjutnya, gelombang migrasi orang Tiongkok terjadi secara berkelanjutan. Terbesar menurut sejarah pada 1911 sampai 1949 di mana mereka melarikan diri dan menetap di Asia Tenggara. Isu politik merupakan alasan terbesar pada saat itu, ketika pemerintah nasionalis kalah dari Partai Komunis Tiongkok. Para nasionalis pergi dari China Daratan menuju tanah yang memberikan kehidupan baru dalam melanjutkan hidup dan perjuangan politik.

Negara seperti  Laos, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Indonesia merupakan sebagian Asia yang turut dirambah sebagai rumah baru. Tentu saja kepergian mereka dari tanah leluhur tidak bisa lepas dari budaya dan keseharian yang dilakukan, termasuk kuliner dan pengolahannya.  Kuliner ala Tiongkok otomatis diperkenalkan pada warga lokal. Proses akulturasi dan asimilasi membuat makanan tiongkok berkembang lebih beragam secara rasa dan varian.

restoran di penang
Gaya perumahan Straits Elektik My Won Cafe Penang.
wisata kuliner penang
Rumah sekaligus tempat makan yang masih menonjolkan arsitektur Tiongkok.

wisata penang murah Ketika bepergian ke Malaysia, yang menjadi perhatian saya adalah makanan. Terutama kuliner peranakan yang sebagian besar tidak jauh beda dengan makanan peranakan yang ada di Indonesia. Saya menyambangi My Own Cafe yang menggunakan rumah sebagai lokasi dagangnya. Di pojokan dekat Yap Kongsi Temple, keluarga Malay Chinese ini berjualan makanan harian seperti laksa, kwetiau, dan nasi goreng.

Jauh-jauh sampai ke Penang, Malaysia, makannya nasi goreng dan kwetiau?

Meski di Indonesia juga ada, saya mau-mau aja mencoba makanan sederhana yang biasanya saya beli di tukang nasi goreng. Karena di sini cara penyajian dan rasanya ternyata beda dari yang saya sering makan di Indonesia.

Nasi Goreng di Mana-Mana

Ketika bangun kesiangan atau malas masak. Biasanya ibu saya punya ide makan nasi goreng untuk sarapan. Lucunya malah bapak saya yang bikin nasi goreng. Masakan praktis, modalnya dikit, dan jauh dari ribet.

Begitu pula ketika awal mula jadi anak kostan yang jauh dari rumah. Ujung-ujungnya kalau kurang ide mau makan malam apa. Saya lari ke gerobak depan kostan dan beli nasi goreng  yang waktu itu harganya Rp 8000 saja. Semakin ke sini alias semakin tua, saya wajib nih mengurangi nasi goreng untuk dikonsumsi harian pas malam. Soalnya kalori tinggi dan seratnya dikit. Selain perut kenyang, dapat bonus perut gendut dan lemak nempel di badan.

Ketika pesan nasi goreng, kita sering ditanya, “Mau yang nggak pedas, sedang, atau pedas?”

Ketika membuat sendiri nasi goreng di rumah biasanya ngulek bumbu sendiri. Wajib ulek, biar lebih sedap aroma dan rasanya lebih mantep. Kami juga jarang menggunakan bumbu nasi goreng dalam bentuk bubuk. Lalu perhatikan, bumbu nasi goreng yang dibawa penjual nasi goreng gerobak. Demi kepraktisan, mereka melumatkan semua bumbu jadi satu kemudian ditumis sampai layu dan wangi. Teknik ini juga membantu agar bumbu awet dan bisa digunakan untuk beberapa hari.

Sejarah nasi goreng sudah muncul sejak dinasti Sui abad lima hingga enam masehi. Kepopuleran nasi goreng ini semakin meningkat saat dinasti Ming berjaya. Ide pembuatan nasi  goreng dari dulu hingga sekarang memang tidak berubah. Daripada membiarkan nasi sisa terbuang begitu saja, lebih baik diolah lagi agar bisa dikonsumsi. Bumbu utamanya juga tidak jauh beda dari yang ada sekarang : kecap dan bawang.

Namun, nasi goreng khas Indonesia punya ciri tersendiri. Warna nasi gorengnya coklat pekat, pasti kecap manis yang dituangkan cukup banyak. Tapi kalau merah, pakainya saos. Seringnya karena kecap manis atau saus yang mendominasi. Saya jadi kurang tahu sebenarnya rasa asli nasi goreng seperti apa.

Selain itu, nasi goreng sekarang nggak cuma tentang nasi putih yang dibumbui. Di warung penjual nasi goreng biasanya ditawari beberapa pilihan. Mulai dari kambing, ati ampela, teri, pete, ayam, atau seafood yang jadi campurannya. Dengan berkembangnya ilmu dan kreativitas di dunia memasak. Varian nasi goreng pun semakin banyak  : nasi goreng brokoli, nasi goreng wortel, nasi goreng telur tomat, dll.

kuliner peranakan
Sambal Fried Rice

Sambal Fried Rice

Kalau membaca menu nasi goreng sambal fried rice. Mungkin sebagian dari kalian akan mengernyit. Lha masak nasi goreng kan memang biasanya udah dicampur sambal. Semuanya dicampur jadi satu lalu dihidangkan dengan acar dan kerupuk.

Ini pengalaman pertama makan nasi goreng di Penang sekaligus yang kedua di Malaysia. Nasi goreng sambal penyajiannya berupa nasi goreng yang dicampur dengan telur dadar yang dihancurkan, beberapa potong sayuran, dan menggunakan udang. Bagian atasnya ditaburi bawang goreng yang lumayan banyak dengan sambal pelengkap di tempat berbeda. Tanpa kerupuk dan acar (catat ya).

Seklias saya pikir sambal pastanya sangat pedas, sehingga perlu dipisah dan pembelinya akan menyesuaikan sendiri rasa pedasnya. Ternyata memang begini tampilan nasi goreng ala Penang. Sambal jadi pelengkap, sehingga rasa dasar nasi goreng tidak rusak. Jika ingin menggunakan sambal, cara makannya ya tinggal diambil seperlunya.

Sesungguhnya, ketika benar-benar mencampur sambal dengan nasi goreng. Rasanya berubah total. Nasi goreng Penang memiliki rasa yang gurih yang ringan, tidak manis, dan rasa gurihnya lebih menonjol (FYI  : makanan di My Own Cafe berlabel halal meski penjualnya orang Tionghoa). Sedangkan rasa sambalnya memang sangat bertolak belakang dengan rasa nasi gorengnya. Jadi, kalau buat saya, sayang untuk mencampur keduanya. Malahan, lebih baik menyingkirkan sambal saat makan.

Harga 1 porsi : RM 7

Baca juga : Barbekiu Saigon Night Pinggir Jalan

kuliner Penang
Char Kway Teow

Char Kway Teow

Dari bentuknya saya mengenal makanan ini sebagai kwetiau. Di Indonesia lebih akrab disebut kwetiau goreng dan yang berkuah diberi nama kwetiau rebus. Keduanya bersama nasi goreng, bakmi, dan bihun menjadi menu yang tidak terpisahkan di penjual mie gerobak keliling.

Lalu bagaimana dengan di Penang ? Kwetiau goreng populer dengan sebutan char kway teow, namanya dari bahasa Hokkien. Jenis olahan mie yang menjadi makanan nasional di Singapura dan Malaysia. Di bawa oleh suku Tionghoa yang sama, ternyata kwetiau goreng dan char kway teow punya tampilan yang sedikit berbeda.

Kwetiau goreng (yang biasa saya makan versi Jawa) di penjual mie keliling biasanya hanya dicampur dengan telur dan ayam suwir. Jika membeli di warung khusus. Kita bisa pilih tambahan protein seperti ati ampela. Isiny kwetiau, protein hewani, potongan sawi hijau dan acar.

Char Kway Teow berisi kwetiau yang diolah bersama telur, tauge, udang utuh, dan daun ku chai. Di Indonesia char kway teow lebih mirip dengan kwetiau medan.

Harga 1 porsi : RM 7

wisata kuliner di penang
Fish meatball soup

Fish Meatball Soup

Satu porsi isi lima bakso dengan kuah yang sangat kental. Bakso yang warnanya coklat ini sepertinya dimasak dengan bumbu kuah yang sama. Saya sih suka banget sama tampilannya. Apalagi rasa kuahnya yang enak banget. Baksonya memang seperti bakso ikan pada umumnya, tapi kuah pekatnya ini ternyata bukan air berbumbu. Melainkan campuran ikan yang dihancurkan dan dibuat jadi kuah kental. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tapi layak dicoba ketika berkunjung ke My Own Cafe.

Tak hanya makan saja, tapi saya begitu menikmati suasana homey yang tercipta di sana. Mural My Own Cafe merupakan satu yang terpopuler dari sekian banyak yang ada. Tidak dilukis di tembok luar, melainkan di dalam rumah. Saya pun berjumpa dengan pemilik My Own Cafe yang dilukis pada mural tersebut.

Ambience yang tercipta pun seperti di rumah, karena saya bisa menyaksikan pemilik tempat makan ini mondar mandir keluar masuk rumah. Hingga nyemil dan menikmati siang hari dengan santai di teras.

kuliner penang
Mural di bagian dalam My Own Cafe.

asam laksa penang

My Own Cafe : 2, Cannon Street,, George Town, 10200 George Town, Pulau Pinang, Malaysia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *