Hamil Atau Nggak ?

Rasanya pertanyaan kapan nikah sudah jadi satu paket dengan pertanyaan “udah isi belum”.

Orang yang sudah menikah diasumsikan langsung hamil kayak bim salabim. Setelah kelar kawin (eh nikah) biasanya akan ada cecaran pertanyaan, “Udah isi belum?”

Saya termasuk yang ketiban pertanyaan ini, selang seminggu setelah nikah pas November 2016 lalu. Hanya karena badan kelihatan agak melar dan ujug-ujug beberapa orang menyimpulkan sudah hamil.

Biasanya saya cuma jawab enteng, “Isi apaan? Lemak?”

Sambil ketawa-ketawa geli.

Udah “isi” ? artinya jadi banyak. Pertanyaan tulus karena perhatian, kepo, atau malah rese dan terkadang ngeledek. Banyak dari teman saya yang sudah duluan menikah dan akhirnya dikaruniai kehamilan dalam waktu singkat setelah akad nikah. Paling cepat seminggu. Mereka senang banget, karena prosesnya nggak lama. Yang kaya gini pembuktian kalau ternyata suami dan istrinya sehat. Jokes recehan yang jadi bahan becandaan, “Wah tokcer juga lu.”

Tapi ada juga yang mulutnya sinis. Wih hamilnya cepet banget, jangan-jangan udah di DP (down payment) duluan. Tuh, nyinyir kan.

Dua teman yang nikahnya selang dua bulan setelah saya menikah, juga sudah hamil dan senang sekali dengan proses kehamilan mereka. Buat saya, melihat perkembangan dan perubahan bentuk badan dan emosi orang hamil jadi hal menarik. Mulai dari cerita gampang capek, mual, badan lemes, males mau ngapa- ngapain sampe keluar aura flawlesnya ibu-ibu muda yang perutnya membesar. Biasanya jadi tanda kalau janinnya cewek/cowok dan tebakannya terjawab bener/nggak setelah USG.

***

Katanya anak itu anugerah dan titipan Tuhan. Ada yang happy bisa hamil cepet, tapi ada yang harus ekstra sabar mengusahakan kehamilan dan punya anak. Nunggu tiga, lima, dan ada juga yang sepuluh tahun bahkan lebih.

Saya juga punya teman-teman yang belum dapat anugerah ini. Sudah menikah beberapa tahun, tapi belum dikaruniai anak. Padahal mereka sudah pengen banget.

Saya salut lho sama mereka yang punya ikhtiar mengubah pola hidup jadi lebih sehat sampai banyakin doa agar Tuhan kasih kepercayaan punya buah hati. But if you haven’t got what you want, it means He plans another good things for you.

Ikhtiar maksimalnya kalau sudah program inseminasi atau bayi tabung yang butuh banyak biaya, makan waktu, dan super duper butuh kesabaran.

blogger perempuan indonesiaNah, gimana dengan saya yang sampai saat ini belum juga hamil, tapi dikira sudah hamil karena berat badan yang semakin bertambah ?  Oh, saya wajib balik berolahraga supaya berat badan kembali ke angka 46 kilo.

Sampai suatu ketika ada orang yang baik banget bertanya tulus soal perut saya yang sudah terisi atau belum. Sayagampang banget bilang belum dan ditimpali untuk bersabar.

Saya cuma jawab dengan tenang yang endingnya cekikikan, kalau direspon soal kehamila. Karena buat saya tujuan orang menikah tidak hanya untuk punya anak.

Ketika saya putuskan tidak buru-buru hamil dalam waktu dekat, respon yang muncul bermacam-macam. Ada yang positif, tapi nggak sedikit yang bilang cara berfikir saya janggal. Mulai disebut aneh, tidak bersyukur karena banyak yang pengen punya anak tapi susah, ditakut-takuti kalau menunda kehamilan nanti malah kesulitan hamil, sampai menyinggung soal pribadi yang rasanya kurang pantas dibicarakan. Tapi nggak apa- apalah ya. Saya kan nggak perlu pusing dengerin omongan orang.Perempuan kan punya pilihan menentukan banyak hal soal dirinya termasuk soal pernikahan dan kehamilan.

Saya jadi ingat film nominasi oscar yang dibuat berdasar kisah nyata, Lion. Ibu Sue Brierley yang diperankanNicole Kidman, di setengah jam terakhir film, akhirnya cerita jujur kalau keputusan mengadopsi anak bukan karena ia tidak bisa mengandung dan melahirkan dari rahimnya sendiri. Melainkan karena pilihan untuk menolong anak- anak yang digariskan lahir di keluarga kurang beruntung. Ia bisa membantu memberikan kehidupan yang lebih layak bagi mereka, dengan cara mengadopsinya.

Saya nggak ngasih saran untuk tidak punya anak. Tapi cerita ini memberi gambaran bahwa di luar sana, ada perempuan yang bisa melawan ego dan berkorban lebih banyak untuk orang lain. Apalagi mengadopsi anak saat usianya sudah di atas lima tahun dan punya kultur yang jauh berbeda. Ibu Sue ini orang Australia yang tinggal di Pulau Tasmania. Sedangkan dua orang yang diadopsi berasal dari India.

Memilih tidak punya anak juga dilakukan beberapa perempuan yang saya kenal. Dan saya belajar membiasakan diri untuk tidak selalu menilai berbagai hal hanya dari kacamata saya. Teman-teman saya tadi tentu punya banyak alasan dengan keputusan mereka, yang memilih tidak punya keturunan. Yang tentu saja kita nggak boleh kepo dan menghakimi keputusan mereka.

Well, menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak punya anak, menunda hamil atau tidak menunda hamil memang soal pilihan. Saya rasa nggak ada salahnya jika kita punya keputusan berbeda dari orang kebanyakan. Toh, kita nggak merugikan siapa pun kan?!

 

 

Incoming search terms:

  • begitu nikah selang satu bulan hamil tokcer bgt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *