Cerita Menjengkelkan Hingga Konyol Dari Hostel ke Hostel di Tiga Negara #2

Dengan cuaca panas Siem Reap. Saya dan Rudy kurang bisa beradaptasi dengan cuaca panas Siem Reap yang lebih dari 40 derajat Celcius. Pertama, di rumah sendiri udaranya sejuk dan banyak pepohonan. Saat di kantor, lebih sering pakai AC. Jadi, jarang sekali merasakan panas-panasan. Sekalinya cuaca tidak cukup bersahabat, kami pilih tinggal di rumah dan malas bepergian.

Otomatis ketika baru sampai di Siem Reap sekitar jam satu siang. Komentar kami berdua, “Widihh….panas banget.”

Dari siang sampai sore akhirnya kami lebih lama ngendon di kamar daripada keliling melihat-lihat suasana kota Siem Reap.

Tinggal di hostel itu ternyata membuat perjalanan kami punya banyak kisah. Meski hanya dari kamar penginapan.  Termasuk mengetahui, bahwa banyak wisatawan yang juga merasakan hal serupa seperti kami. Mereka memilih berlindung di hostel, daripada menyiksa diri berkeliling saat siang hari yang terik.

Siem Reap memiliki satu tujuan wisata utama, yakni Angkor dengan puluhan candinya. Kebanyakan memang hanya berniat untuk ke Angkor. Dan kurang mengeksplor tempat wisata lain dan budaya yang ada di Siem Reap.

Karena hal itulah, ternyata kami pun punya banyak teman yang lebih banyak meluangkan waktu hanya di kamar. Entah sekedar tidur siang, baca buku, atau bersantai-santai. Tapi ada satu yang menarik. Tak biasanya kami sekamar dengan wisatawan paruh baya. Dan baru sekali ini mengetahui bahwa mereka lebih memilih tinggal di dorm daripada hotel. Bukan pula dari negara yang familiar dengan travelling bergaya backpacker.

Hampir semua yang ada di satu kamar hostel mix dorm lelaki. Hanya saya satu-satunya perempuan yang ada di sana. Dengan 14 bed yang ada, saya berada di pojok dekat jendela. Berdekatan dengan bed para traveller muda yang masih kinyis-kinyis. Ada satu bapak yang juga berada di kamar itu, dengan kaos you can see dan celana pendek ala babah-babah di toko kelontong.  Betul, bapak tadi asal RRT (republik Rakyat Tiongkok) atau yang lebih kita kenal dengan China.

Sepertinya si bapak ini tak sendirian, karena ada anak muda dengan face yang tak jauh beda tidur di bed bagian atas. Awalnya sih tenang-tenang saja, entah kenapa setengah jam kemudian mulai lah ia memutar beberapa video dari youtube. Sepertinya dengan volume maksimal karena lama kelamaan audio terdengar nyaring. Euh. Bukannya diturunkan, tetapi gas pol. Ia pun cekikikan sendiri. Padahal sebagian besar yang ada di dalam dorm sedang istirahat.

Lama-lama seorang bule pun ambil earphone dan menutup telinganya sambil tiduran. Bukannya merasa enggan karena satu orang memberi kode merasa terganggu. Bapak tadi malah semakin asyik dan ketawa sendiri menonton video yang entah isinya apa. Tak lama ada lagi teman sekamar lainnya yang akhirnya tak tahan, malah pilih keluar kamar.

Kesopanan dan Cuci Mata di Dormitory

Lalu enaknya apa ketika tinggal di mix dorm? Tentu saja cuci mata. Apalagi kalau bisa sekamar dengan lelaki caem, ada hiburan sedikit. 😀 Paling tidak ketika papasan sama cowok-cowok tadi bisa saling sapa, meski lewat senyuman aja. Itulah cara bertegur sapa paling gampang dan berbaur dengan teman-teman baru dari berbagai negara. Termasuk belajar tentang beberapa kebiasaan mereka. Ketika tinggal di dormitory, nilai toleransi dan kepekaan kita akan teruji. Termasuk menjaga kesopanan dan menghargai penghuni lain.

Saking sopannya dan tidak ingin mengganggu teman satu kamar. Ada loh, cowok yang rela angkut-angkut barang bolak balik dari kamar ke luar ruangan untuk packing. Di pagi yang sama ketika akan pergi ke Angkor. Beberapa dari kami yang tinggal di satu dorm sudah bangun sejak jam 3 pagi. Kebetulan tempat tidur desainnya tidak menggunakan korden. Jadi wajiblah ketika jam tidur sampai pagi hari, lampu kamar dimatiin.

Sedangkan loker tempat menyimpan barang-barang ada di dalam kamar. Ada teman satu dorm yang tidurnya satu deret dengan saya, mengendap-endap dan rela menggotong tas ranselnya ke luar kamar untuk packing. Ditambah lagi karena tidak mau mengganggu teman yang lain, ia memakai lampu handphone untuk mencari beberapa barang yang ada di loker. Dari hal paling sepele dari tempat tidur, saya banyak belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan banyak orang meski hanya dari sebuah kamar dormitory.

Singkat cerita, malamnya setelah setengah hari menjelajah sebagian kompleks Angkor dan muter-muter di Pub Street. Saya tetap bisa terjaga sampai hampir tengah malam. Goler-goleran di tempat tidur dengan AC yang cukup dingin dan berharap bisa cepat tidur. Tiba-tiba remaja tanggung yang tidur bersebelahan dengan saya (di tempat tidur berbeda dan ada jarak cukup lebar) datang dari kegelapan. Saya tahu karena sedang browsing dari handphone dan tentu saja ada cahayanya kan. Kemudian, abg tadi langsung menurunkan celana tepat di depan mata dan pakai cancut aja. Lalu naik ke tempat tidur. Eh, busyet.. mungkin dia lupa kalau saya perempuan kali ya dan orang Asia yang tidak akrab dengan hal-hal seperti ini.

Resepsionis Menjengkelkan dan Asisten Rumah Tangga Yang Ramah

Di Ayutthaya, saya memutuskan menginap di Stockhome Hostel. Keputusan memilih tempat ini karena dekorasinya yang lumayan menarik dan unik.

Sesampainya di Ayutthaya saya menyewa motor dan langsung menuju ke hostel. Disambut hujan yang cukup deras. Saya memutuskan tinggal di hostel terlebih dahulu. Seringkali saya kepincut dengan desain hostel yang instagramable dan kreatif, sehingga memutuskan tinggal di tempat itu. Dan pengalaman kali ini membuktikan bahwa yang terbaik adalah membaca review dari pengunjung sebelumnya.

Saya tetap mendapati ornamen-ornamen menarik yang dipajang untuk memperindah dekoarasi ruangan. Sayangnya ketika berada di Stockhome, banyak bagian di ruang utama yang berdebu dan tidak dibersihkan. Malah seringnya, ketika kami ada keperluan dengan resepsionis. Orang yang bertanggung jawab melayani penghuni hostel sering tidak berada di tempatnya.

Berbeda dengan pelayanan di Samsen Hostel Bangkok. Saya bisa merasakan kenyamanan dan kebersihan ruangan, hingga kamar mandi dan pantry yang diperuntukkan bagi semua tamu. Selain bertemu dengan asisten rumah tangga yang menyenagkan dan sangat helpfull. Di Samsen Hostel, ada free drink sepanjang hari yang bisa dibuat kapan saja. Sepele, tapi sangat memanjakan para pejalan seperti saya yang suka cari layanan tambahan dari hostel.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *