Yang Unik di Perbatasan Vietnam – Kamboja

Nggak sia-sia pilih perjalanan darat antar negara, apalagi naik transportasi umum. Ini pertama kalinya saya berurusan dengan imigrasi antar negara via darat.

Dari Vietnam ke Kamboja, Saya dan Rudy naik bis . Perjalanan berjalan lancar, tanpa ada hambatan sedikit pun. Bahkan sampai saya tiba di perbatasan Vietnam. Sebelum memasuki wilayah kantor imigrasi, semua paspor milik penumpang dikumpulkan kernet. Secara kolektif, petugas dari travel bis membantu kami semua untuk mendapatkan stampel keluar negara Vietnam.

Meski dibantu, setelah sampai halaman parkir kantor imigrasi semua penumpang tetap diminta turun. Kami mengikuti petugas bis tadi, sambil sebagian penumpang curi waktu untuk pergi ke toilet. Barang bawaan ditinggalkan di dalam bis.

Kantor imigrasi Vietnam di area Moc Bai, 60 kilometer arah barat laut Ho Chi Minh City. Area ini merupakan jalur bis memasuki Kamboja dari Vietnam. Karena untuk masuk ke wilayah Kamboja ada beberapa rute lain salah satunya melalui sungai Mekong.

Karena berasal dari Indonesia, Saya dan Rudy tentu saja tidak membutuhkan visa. Sama seperti kami, wisatawan dari bis berbeda yang akan menuju Kamboja juga melakukan hal yang sama. Mereka menyerahkan semua proses imigrasi ke petugas bis masing-masing. Kami cuma bisa menunggu di  sekitar loket.

Sama seperti proses di imigrasi mana pun. Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil foto. Jadi kegiatan hanya menunggu atau sambil ngobrol dengan penumpang lainnya.

Selang 30 menit, satu persatu nama kami dipanggil. Saya sarankan, meski proses mengantri dilakukan kernet bis. Ada baiknya kita menunggu di sekitar dia. Untuk mengantisipasi panggilan orang imigrasi yang akan mengembalikan paspor.

Pemeriksaan di kantor imigrasi jalur darat ini, berbeda jauh ketika menggunakan pesawat terbang. Semuanya mudah dan sangat cepat. Tidak ada pengecekan barang-barang atau pun proses khusus dengan dalih keamanan.

Setelah paspor ada di tangan. Saya, Rudy, dan penumpang lainnya keluar dari kantor dan pergi mencari bis yang kami gunakan.

Sebelum naik bis, ternyata ada petugas lain dari agen bis kami yang minta paspor. Untuk kedua kalinya, paspor penumpang dikumpulkan. Saya sempat bingung karena kami hampir memasuki Kamboja dan memerlukan paspor tersebut sebagai tanda pengenal sekaligus untuk izin masuk negara lain.

Kami pun diminta naik ke bis, karena perjalanan akan dilanjutkan. Kernet yang pertama kali memberikan pengumuman bahwa jadwal setelah ini yaitu makan siang.

Nah, gimana nih nasib paspor saya. Kenapa tidak ada jadwal menunggu di kantor imigrasi Kamboja, di wilayah Bavet ?

Sempat agak panik, tapi seolah-olah tetap cool. Saya nunggu beberapa saat sambil bis berjalan. Mungkin, kernet tadi lupa bilang kalau kami harus ke imigrasi Kamboja. Tapi bis kami melaju begitu saja dan melewati kantor tadi.

Yah, gimana dong ?

Beberapa penumpang lain juga bertanya-tanya tentang paspor mereka. Dengan sigap, kernet bis kami menjelaskan kalau nanti paspor akan diberikan. Yang penting sekarang kami fokus saja untuk makan siang dan ia mengaransi semuanya baik-baik saja.

Memasuki wilayah Kamboja yang iklimnya berubah, lebih panas dan lebih berdebu. Kanan kiri jalan terdapat kasino untuk berjudi dan klub-klub malam yang masih tutup. Rumah warga tidak terlalu banyak dan bangunan benar-benar ada hanya di pinggir jalan. Sedangkan bagian belakangnya beruba lahan luas yang kering dan tidak terurus.

Bis kami membelokkan mobil di salah satu kedai makan. Sungguh jauh kondisinya dengan restoran-restoran antara kota di Indonesia yang digunakan untuk transit bis.

Tempat makan ini jauh lebih kecil dan parkirannya tidak terlalu luas. Sekali berbelok, wuzzzzz …. debu pun berterbangan. Setelah dapat posisi parkir yang strategis, semua penumpang diminta turun untuk makn siang. Nggak lama, ada bis lain yang datang dan punya jadwal sama seperti kami.

Kernet memberi arahan, bahwa waktu makan hanya setengah jam. Jadi, kami diharapkan memanfaatkannya dengan baik.

Makanan yang disediakan modelnya seperti warteg yang ada di Indonesia. Kami harus antri untuk mengambil nasi. Lalu ada pegawai tempat makan yang akan mengambilkan lauk. Pilihan lauknya pun beraneka ragam dan diletakkan di dalam baskom-baskom besar. Saya harus jeli memilih  menu, karena saya hampir saja memilih kodok yang dibumbu santan. Beberapa menu lokal Kamboja menggunakan bahan utama daging kodok dan daging babi. Tapi hanya sedikit, lauk paling banyak berupa sayur-sayuran, ikan, ayam, dan udang.

Pembayarannya yang unik. Di perbatasan Vietnam – Kamboja, menggunakan tiga mata uang untuk transaksi. Mereka menerima VND – mata uang Vietnam, $ – dollar Amerika Serikat, dan mata uang nasional Kamboja – riel.

Karena saya masih punya beberapa puluh ribu VND. Pembayaran saya lakukan dengan mata uang Vietnam, sekalian menghabiskan sisa uang. Satu porsi makanan dengan dua lauk harganya VND 80.000. Cukup mahal sih, karena saya dapat sayur yang bentuknya nggak jelas dan dua buah udang.

Tapi karena penasaran dengan cita rasa makanan Kamboja. Untuk pertama kalinya, saya mencoba di kedai ini. Rasanya masih bisa diterima lidah, tetapi tidak kaya bumbu seperti masakan Indonesia. Lumayan lah untuk mengganjal perut.

Di kedai ini juga menjual beberapa cemilan lokal yang jga bisa saya jumpai di Indonesia. Mereka akrab dengan semprong, semacam crepes yang dibentuk seperti kipas atau spring roll.

Pukul 13.15 waktu Kamboja, semua penumpang dipersilahkan naik kembali. Nggak lama setelah kami duduk, paspor kami juga dikembalikan.

Ternyata oh ternyata, semua stempel dan pengurusan di imigrasi Kamboja dilakukan petugas bis. Gampang banget dan nggak ribet. Nggak perlu ditanya-tanya, nggak ada sesi foto, atau pun pengambilan sidik jari.

Saya jadi bertanya-tanya, berarti penyelundupan manusia bisa gampang dilakukan ya? Kalau sistemnya seperti ini. Bisa diwakilkan. Pengalaman unik saya alami di perbatasan Vietnam-Kamboja. 

Paspor sudah ditangan, perut juga sudah kenyang. Kami semua lalu melanjutkan perjalanan menuju Phnom Penh. Welcome to Cambodia !

wisata kamboja murah

makanan khas kamboja

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *