Touring Sepeda Motor Dari Pantai Senggigi Sampai Pantai Kuta Lombok

Menikmati laut dan pantai bisa dengan berbagai cara. Saya memilih untuk menyusuri obyek wisata pantai di Lombok Barat. Touring tipis-tipis yang awalnya tanpa rencana, malah membentuk rute Mangsit, Senggigi, Batu Bayar – Pantai Mekaki, Sekotong Tengah – Pantai Kuta Lombok – Mangsit. Dengan total 235 kilometer, perjalanan membutuhkan waktu hampir 15 jam karena berhenti di empat titik.

pantai-di-lombok-barat
Pemandangan dari gardu pandang.

Lombok benar-benar memanjakan mata. Setelah selesai dengan Gili Trawangan, saya pun lanjut menyebrang ke pelabuhan Pamenang. Jangan ditanya deh soal jalanan yang kami lalui. Pemandangannya bagus banget. Jalannya berkelok-kelok, menikung, dan ada turunan yang ketika mobilnya ngebut, rasa mendesir mengalir dari dada ke perut.

Pantai Sengigi seperti minta untuk disambangi. Tapi saya tak bisa berhenti begitu saja karena baru sampai dan harus segera mencari hotel untuk menginap. Sampainya di titik pemberhentian, saya tanya sana-sini untuk cari penginapan.

Dalam waktu singkat penginapan sudah saya dapatkan dan lunas kami bayar untuk 3 hari. Begitu pula sewa sepeda motor yang prosesnya dibumbui sedikit drama.

Pas hari kedua inilah, petualangan kami mulai.

Saat liburan, sayang kalau harus bangun siang. Apalagi untuk tipe wisatawan Indonesia yang suka piknik pendek-pendek. Banyak momen apik terlewat. Ditambah lagi jika pilihan tempat wisatamu punya pemandangan alam yang sangat terpengaruh cuaca dan sinar matahari. Jangan sia-siakan.

wisata-ntb
laut-di-ntb
nusa-tenggara-barat

Kalau saya tak bergegas berangkat. Bisa saja terlewat mendapati lanskap cantik berupa lautan biru dan aktivitas nelayan.

Saya dan Rudy berhenti sebentar di sebuah gardu pandang.

Memandangi satu bagian kecil kekayaan Indonesia yang selalu bikin terkagum-kagum. Di kejauhan terlihat dataran lain di pulau Lombok bagian barat. Samar-samar pantai yang melengkung dan pohon-pohon yang menghiasi pantainya.

Nelayan yang sedang berada di laut serta mereka yang baru saja pulang dari mencari ikan, duduk-duduk di tepi pantai. Pantai sekitar Lombok Barat yang saya temui memang sebagian besar berpasir hitam. Ingat, pulau Lombok punya Rinjani yang masih aktif.

Perhentian yang saya sambangi ini, baru dibangun setahun. Sayangnya tidak terawat dan ada banyak sampah terutama di bagian tebingnya.

Tak sampai 20 menit, kami melanjutkan perjalanan. Motor kami hanya melaju tanpa menentukan arah yang pasti. Jika nanti ada yang menarik, maka kembali berhenti untuk menikmati apa yang ada di sana.

Sangat mudah menemukan masjid-masjid besar di Lombok. Bangunannya megah dengan cat dasar warna putih dan warna-warna cerah pada bagian kubah atau menaranya. Letaknya pun strategis di pinggir jalan besar. Sehingga bagi warga sekitar maupun pejalan muslim yang ingin beribadah pun, mendapatkan fasilitas yang sangat memadai.

Uniknya, meskipun mudah dijumpai tempat ibadah umat Islam, ternyata jual beli tuak juga masih ada. Di salah satu masjid yang saya lewati, berjarak 200 meter terdapat warung yang menjajakan minuman keras lokal. Papannya sangat kuno tapi dengan tulisan kapital yang besar memperlihatkan apa yang bisa dibeli di kedai itu(Saat itu 2014 ya, mungkin saja ada banyak perubahan terkait dengan ketentuan penjualan miras lokal saat ini).

naik-motor-ke-ntb
Perjalanan menuju ke Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat.
perjalanan-di-ntb
Kondisi jalan setelah Pelabuhan Lembar pada 2014.
masjid-di-ntb
Masjid megah yang sedang dalam masa finishing.

ntb-sedang-dibangun

Hampir satu jam berkendara, setelah melewati pelabuhan Lembar, barulah mendapati jalan yang belum beraspal dan sedang dalam perbaikan.

Kami harus lebih hati-hati karena harus berbagi jalan dengan mesin traktor, truk, dan mobil roda empat yang juga melewatinya. Tak sampai dua kilometer, jalanan aspal sudah kami temukan lagi.

Tak lama, kami menemukan sebuah pantai yang taka da pengunjung. Saya rasa kami nyasar, tapi, pemandangan di sana tak kalah bagus. Sehingga kami putuskan untuk istirahat sejenak.

Daerah itu sudah memiliki akses jalan yang bagus, tetapi sekitarnya masih belum tertata dengan baik. Apalagi di musim kemarau, banyak pohon yang mongering dan lingkungannya terlihat gersang.

Rasanya seperti pantai milik pribadi, karena saat itu hanya kami berdua yang ada di sana. Untuk ada satu pohon yang cukup rimbun dan layak untuk berteduh. Saya pun mengeluarkan beberapa bekal berupa snack dan air minum untuk sekedar mengisi waktu dan mengganjal perut yang hanya terisi nasi goreng porsi kecil saat sarapan.

Ya, ketika wisata ke tempat-tempat yang belum kita kenal. Terutama yang berkaitan alam, rasanya perlu persiapan membawa logistik yang cukup, meski hanya ditaruh dalam tas kecil.

Kita nggak pernah tahu loh, betapa jauhnya menemukan toko yang menjual air minum. Kalau pun ada belum tentu harganya masuk akal.

Mungkin ini yang sebenarnya liburan ke pantai. Cukup bersantai, menggelar kain di atas pasir putih sambil tidur-tiduran yang akhirnya saya sempat ketiduran meski sebentar. Angin pantai sangat menyejukkan pas siang hari.

Saya juga sempat mengumpulkan beberapa cangkang kerang yang bersebaran di tepi pantai. Mengambil yang bentuknya bagus dan putih untuk kenang-kenangan dari Lombok.

Kalau tak ingat waktu, rasanya ingin lebih lama di sana. Tapi, perjalanan harus lanjut. Kami hidupkan motor lagi dan berkendara mengikuti jalanan aspal yang sudah ada.

Selanjutnya, perjalanan kami menghantarkan ke pantai favorit para peselancar yaitu Pantai Bangko-Bangko.

Tandanya saya di lokasi para penggemar surfing yaitu banyaknya bule-bule yang naik motor atau jalan kaki menggotong papan surfing mereka.

Jalan masuk pantai waktu itu, seperti jalan masuk perkampungan desa. Sebagian beraspal tapi rusak dan ada pula yang masih berupa tanah. Kami hanya berputar-putar dan berhenti sebentar di sana. Tak ada yang bisa dilakukan. Yah karena mayoritas yang ada saat itu adalah surfer.

DSC-0042
Pantai Kuta, Lombok Barat.

DSC-0043
Lalu, lanjut saja menyusuri jalanan sambil minta pertolongan ke google map untuk mengarahkan kami ke Pantai Kuta, Lombok.

Jika kalian melihat Mandalika sebagai bagian resort mewah saat ini. 2014 lalu, kondisinya tak jauh beda dengan Pantai Sekotong.

Ketika saya datang, lapak-lapak warga baru saja dibersihkan alias (ditertibkan). Suasananya lengang dan hanya ada beberapa orang saja yang ada di sana. Orang-orang itu adalah penduduk sekitar.

Saat berhenti sebentar di gazebo sederhana. Dua orang anak kecil menyambangi untuk menawarkan kain tentun dan gelang manik-manik. Mereka rebutan memasarkan dagangan yang dibawa dalam keranjang kecil.

Tak banyak yang bisa saya lakukan selama berhenti di tiga tempat tadi. Mau main air di pantai, kami tak bawa persiapan. Sedangkan masih siang dan matahari terasa begitu terik.

Kami akhirnya melanjutkan untuk balik lagi ke area Senggigi.

Meski rute pulang sebagian besar menggunakan jalan yang sama. Saat itu taka da rasa bosan karena memang mendapatkan pengalaman yang menyenangkan mengunjungi pantai-pantai di sekitar Lombok Barat dan Tengah.

pura-batu-bolong-ntb
Pura Batu Bolong, Lombok Barat. Saya tidak masuk ke pura tersebut. Tetapi berada di pinggir pantai yang sejajar dengan pura.

Apalagi ketika menutup sore, kami disajikan tontonan alam yang tak kalah apiknya. Sunset berwarna oranye dan Gunung Agung dari kejauhan.

senja-di-ntb

gunung-rinjani
Sunset dengan pemandangan Gunung Agung, Bali, yang dilihat dari pulau Lombok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *