Menikmati Malam di Melaka dan Romantisme Kota Bersejarah

Melaka memang tua. Jauh sebelum ditaklukkan Portugis tahun 1511, kerajaan Melayu yang didirikan Prameswara (seorang keturunan bangsawan Majapahit) telah ada. Portugis hadir dan semakin membuka pintu perdagangan orang-orang Eropa termasuk Inggris.

Melaka masa kini lebih dikenal sebagai salah satu tempat wisata Malaysia paling digemari setelah  tahun 2008 menyandang World Heritage City dari UNESCO. Melaka merupakan perpaduan tiga negara Eropa yakni Portugis, Belanda, dan Inggris. Perdagangan yang awalnya menjadi tujuan utama para penjelajah, kemudian berubah arah menjadi semangat kolonisasi karena rasa tamak dan keinginan menguasai.

Melaka memang tua, tapi berhasil tampil memperbaharui diri dan menjadi tujuan wisata yang banyak digemari. Bangunan lama bersejarah yang terpusat di Red Square mampu menjadi magnet utama terkumpulnya wisatawan. Di sanalah saya mengenal Melaka pertama kali, diturunkan dari bis umum dan langsung bertemu dengan Victoria Fountain.

christ church melaka
Christ Church Melaka yang dibangun tahun 1753.
dutch square melaka
Dutch Square saat malam hari yang suasananya begitu sepi.

Kerlap Kerlip Lampu Menghidupkan Melaka

Sungai Melaka memang pintu masuk perdagangan. Saya coba membayangkan yang terjadi ratusan tahun lalu, hilir mudik kapal-kapal kecil terapung mengantarkan komoditi berharga untuk dinaikkan ke kapal besar yang parkir di lautan. Kemudian para kuli wara-kiri mengangkat berkarung-karung rempah, sedangkan juragan-juragan pemilik uang bernegosiasi di pinggiran sungai.

Letak Melaka yang ada di Semenanjung Malaya memang sangat strategis, sehingga menarik perhatian dan disetarakan dengan kota pelabuhan seperti Lisboa, Hoorn, Valparaiso di Chili, Nanjing dan Yangzhou di Tiongkok.

Saya sangat menikmati suasana malam di Melaka. Nongkrong di pinggir jalan dan memperhatikan lalu lalang kendaraan. Termasuk rombongan trishaw penuh lampu yang tampil agak berbeda jika dibandingkan siang hari. Mereka seperti melakukan konvoi pendek, lalu terpencar menuju spot-spot ramai dan menunggu wisatawan yang ingin menyewa jasanya.

Hari itu akhir pekan, siang hari wisatawan lokal Malaysia banyak yang berdatangan. Termasuk para remaja tanggung yang menghabiskan waktu mengincar lokasi apik untuk berfoto. Tapi malam di area Stadthuys Plan sedikit berbeda. Tak banyak orang yang menghabiskan waktu di sana. Kebanyakan pergi menghabiskan waktu dan berburu jajanan di pasar malam Jonker Street.

Sedangkan saya dan Rudy, mencoba mengabadikan Christ Church Melaka dengan cat merahnya yang pekat bersanding dengan langit malam yang gelap. Bangunan tua terlihat tampak cantik dalam suasana syahdu. Lampu taman dan lampu yang dipasang pada dua pohon besar membantu menerangi peninggalan Belanda yang usianya sudah lebih dari dua abad.

Pohon-pohon besar di sekitar Red Square tak hanya sebagai perindang saat siang. Tetapi juga rumah puluhan burung saat malam. Mereka bertengger, sesaat terbang lagi, lalu sering kali saat bersamaan kotorannya jatuh ke dasar. Pantas saja, pada malas nongkrong di area ini ketika petang.

Karena tak ingin jadi korban serangan tahi burung. Saya dan Rudy pun melipir di tepian Sungai Melaka. Melihat ramainya aktivitas di sana yang semakin ramai saat malam hari. Sungai tampak lebih hidup dengan hiasan lampu yang dipasang di sepanjang pinggiran sungai. Beda dengan Ciliwung yang ada di Jakarta L. Sungai Melaka sangat terjaga kebersihannya. Bantaran sungai dibangun sedemikian rupa, tak hanya bermanfaat sebagai area pejalan kaki tetapi munculnya cafe dan restoran di malam hari.

wisata murah melaka
Jembatan yang menghubungkan sisi Jonker Walk dengan are Dutch Square.
laksa melaka
Laksa Melaka yang menggunakan isian utama berupa mie.
wisata kuliner di melaka
Sup labu dan spring roll untuk makanan pembuka.
kuliner melaka
Satu porsi daging domba untuk makan malam.

Dutch Harbour Cafe

Romantisme Melaka  berhasil saya dapatkan sembari makan malam di Dutch Harbour Cafe Melaka. Lokasinya tepat berada di tepi sungai dan memanfaatkan sebagian kecil bantaran sungai untuk tempat makannya.

Saya mencoba semangkuk laksa dengan kuah kental. Berbeda dari laksa yang kami coba di Jonker Walk. Laksa ini menggunakan mie dilengkapi udang. Sebelum dimakan kuahnya diberi perasan jeruk agar lebih segar dan tidak terlalu eneg. Campuran lauk lainnya yang ada dalam laksa terdapat tahu dan irisan lobak. Sangat mengenyangkan.

Sedangkan Rudy memesan satu porsi daging domba yang tampilannya menggiurkan. Daging domba ukuran besar yang ditata sedemikian rupa terlihat begitu menantang. Untuk karbonya menggunakan kentang tumbuk ditambah sayuran brokoli dan kembang kol sebagai pelengkap. Kami berdua juga dapat tambahan menu pembuka gratis yakni sup labu dan spring roll yang tak kalah nikmatnya.

wisata melaka
Atraksi wisata di Melaka yang tiketnya sekitar Rp 60.000 .
sungai melaka
tempat nongkrong dadakan yang muncul di tepian sungai Melaka.

Top banget rasanya bisa merasakan pengalaman makan malam di Dutch Harbour Cafe. Tak perlu terburu-buru makan, karena suasananya begitu mendukung untuk santai lama di pinggir sungai. Memperhatikan lalu lalang perahu wisata yang mengangkut wisatawan. Tak hanya satu, mungkin ada belasan perahu motor yang beroperasi dalam sehari.

Saya pun bisa melihat area belakang penginapan yang saya tinggali di seberang. Di sebelah sana tempat nongkrong dadakan muncul setiap malam.

Tak hanya wisata sejarah di Melaka, kulineran hingga kencan romantis pun bisa saya dapatkan di sini dengan harga yang cukup terjangkau. Hanya perlu mengeluarkan Rp 220.000 saja untuk bayar semua makanan yang saya pesan.

———————-

Dutch Harbour Cafe.

Jalan Laksamana, Bandar Hilir, 75100 Melaka, Malaysia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *