Wisata Kamboja : Toul Sleng, Sekolah Yang Bertransformasi Menjadi Penjara Mengerikan

Dari luar gerbang, bangunan ini nampak biasa saja. Jendela-jendela yang lumayan besar terlihat sebagian. Dari bentuknya, terlihat bangunan ini sudah tua. Letaknya strategis di pusat kota, yang sekelilingnya merupakan pemukiman warga. Semua seperti normal saja, sampai akhirnya saya masuk ke dalamnya.

***

Sekolah Tuol Svay Prey Secondary School mengalami perubahan di tahun 1975. Perubahan mengerikan, sangat mengerikan.  Saat bangunan berlantai empat yang seharusnya menjadi tempat belajar para siswa. Kemudian berubah fungsi menjadi ruang-ruang penyiksaan belasan ribu orang.

Kamboja sempat mengalami masa sangat kelam. Yang sampai saat ini pun masih meninggalkan kenangan pahit bagi sebagian besar warga. Kisah pedih dan menyayat tentang Kamboja saat rezim Khmer Merah sering menjadi latar cerita kuat sebuah film. Mereka ingin memberi tahu generasi paska kejadian, ada sebuah tragedi yang tidak boleh terulang lagi di masa depan.

Saya pun masuk gerbang. Menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak beda jauh seperti sekolah pada umumnya. Di mana ketika masuk pintu depan, para siswa bisa menaruh sepeda dengan berbelok kiri ke area yang kosong. Lalu mereka masuk melewati pos keamanan satpam yang biasanya berada di bagian depan. Kemudian, anak-anak tadi berbondong-bondong masuk kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Itu yang terbayang dalam pikiran saya melihat sekolah ini dari depan.

Nyatanya berbeda jauh, saya dipersilahkan masuk. Membeli tiket dan diberi pilihan menggunakan headphone yang terhubung dengan sebuah alat yang mampu menjelaskan tentang Tuol Sleng ini. Saya bergidik. Sudah cukup. Cukup dengan beli tiket masuk saja, melanjutkan perjalanan mengetahui bagaimana Pol Plot di masa lalu meninggalkan kesan buruk untuk Kamboja. Saya menahan diri tak mau mendengar cerita tragis dari audio dan lagu-lagu yang mungkin nanti bisa membawa trauma.

***

wisata phnom penh
Ruang-ruang kelas yang dilapisi kawat.

Kompleks sekolah ini memiliki empat bangunan yang lumayan besar, halaman luas, dan pada zamannya mungkin menjadi sekolah ternama. Saya pun mulai mendekat mendatangi gedung pertama. Hanya mendekat dan entah kenapa ketakutan tiba-tiba menyeruak ke dalam diri saya.

Sebuah ranjang berkarat tanpa kasur dengan lapisan rongga-rongga penahan yang jarang, ada di tengah ruangan. Ini bukan disengaja. Tapi menggambarkan kondisi saat itu, bagaimana sebagian ruangan kelas menjadi lokasi introgasi dan penyiksaan tahanan.

Empat bulan setelah memenangkan perang saudara. Khmer Merah melakukan gerakan bengis di negaranya sendiri. Bekas gedung sekolah kemudian diberi nama menjadi Tuol Sleng yang dalam bahasa Khmer yaitu Bukit Pohon Beracun. Tempat ini menjadi saksi bagaimana orang-orang yang dianggap musuh oleh Khmer Merah diincar, ditangkap, dan mengalami pengalaman luar biasa mengerikan dalam hidup mereka, dengan ujung tragis selalu yaitu kematian. Orang-orang yang dianggap musuk adalah pejabat pemerintah di rezim sebelumnya serta orang-orang berpendidikan seperti guru, dokter, mahasiswa, insinyur, dan orang yang mereka anggap memiliki strata tinggi yang mereka cari. Dengan paham komunisnya, Pol Plot dan kelompoknya juga mengincar para biarawan serta aktivis partai dan keluarga mereka. Semua dicari dan ditangkap.

Tak pandang bulu, bahkan sering anggota keluarga yang tak tahu menahu tentang kegiatan orang-orang (yang dianggap musuh Khmer Merah) pun ikut menjadi korban. Mereka dikumpulkan bersama, disiksa, lalu menunggu giliran untuk dihabisi di ladang Choeung Ek.

Keluarga dipisahkan dengan sengaja. Para suami terpisah dari anak istri. Perempuan dan lelaki menempati lokasi berbeda di sana. Suami biasanya akan menerima terlebih dahulu “hukuman keji” bahkan yang mereka tak tahu apa penyebabnya.

S21 (Security Prison 21), nama lain dari Tuol Sleng, memanfaatkan kelas-kelas menjadi penjara. Sekeliling bangunan diberi lapisan kawat berduri dan dialiri listrik. Jendela-jendela yang harusnya sebagai velintasi udara, kemudian berubah menjadi jeruji besi, yang sama memiliki sengatan listrik, untuk mencegah para tahanan melarikan diri.

Saya menyusuri lantai bagian bawah di bangunan pertama. Ruangan-ruangan itu menjadi tempat penyiksaan yang berisi satu ranjang. Tepat pada pintu masuk terdapat penjelasan tentang kejadian yang ada di sana. Para tahanan akan diletakkan terlentang pada ranjang, lalu diintrogasi dengan sangat kejam. Ketika mereka tak memberi jawaban atau apa yang mereka katakan tak sesuai dengan keinginan petugas. Sengatan listrik akan menjalari tubuh tahanan itu.

Banyak wisatawan yang berdiri di tiap-tiap pos yang sudah diberi tanda. Sama seperti mengunjungi Cheoung Ek, kami memang akan digiring ke titik-titik penting yang menjadi saksi tentang peristiwa penyiksaan di bekas gedung sekolah itu. Saya hanya memilih menyusuri gedung lalu membaca penjelasan yang ada di beberapa tempat yang sudah disediakan. Kaki saya tak mampu untuk menapaki tangga, lalu melihat bagaimana keadaan lantai dua hingga empat dari gedung pertama tadi.

Baca juga : Cheoung Ek – Ladang Genosida di Kamboja, Jadi Tujuan Wisata Populer.

Rudy, yang menyempatkan diri pergi ke lantai atas, bercerita kalau di sana sebagian ruangan hampir sama peruntukannya. Sebagian menjadi tempat penyiksaan, sebagian yang lain diperuntukkan sebagi penjara dengan ruangan kelas yang dibangun kembali dengan sekat-sekat kecil bagi tahanan berukuran 2×1 meter.

S21
Wisatawan mendengarkan audio untuk mendapatkan keterangan tentang kejadian di Toul Sleng.

Wisatawan seperti punya dunia sendiri saat menyimak audio yang mereka dengarkan. Wisata Kamboja yang terkesan cukup aneh karena tak membawa kesenangan, bahkan seperti napak tilas sejarah suatu tempat. Semua tampak serius, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain sesuai dengan titik yang dipandu dari audio. Terkadang beberapa dari wisatawan duduk termangu sambil memandang ke arah beberapa bangunan. Ada pula yang berdiri terpaku sambil manggut-manggut dengan serius.

Sampai di sini… saat menulis artikel ini. Jemari saya tiba-tiba berhenti, gamang untuk melanjutkan atau menyudahi saja menuliskannya. Artikel ini tidak sekali jadi saya buat. Terhenti berhari-hari, ketika ingin menuliskannya kembali, sering juga saya pilih mundur mengurungkan niat. Saya pun berfikir tentang kejadian-kejadian serupa. Baik tentang genosida di Kamboja atau di negara lain. Bahkan peristiwa serupa yang terjadi di Indonesia dengan latar yang berbeda. Bertanya-tanya tentang yang selamat,  betapa kejadian memilukan bisa menjadi momok yang menghantui seumur hidup. Yang tidak bisa enyah dari pikiran, bahkan melekat dan mungkin menghantui orang yang selamat dari kejadian tragis. Padahal, saya yang puluhan tahun lahir sejak peristiwa itu dan datang tak sengaja sebagai wisatawan saja, sebagai penonton sejarah yang tersisa. Kerap bergidik jika tak sengaja teringat sekolah yang menjadi tempat penyiksaan ini.

Di bangunan berikutnya, langkah saya terhenti menyaksikan replika patung yang menggambarkan penyiksaan di Toul Seng. Susunan kayu yang dibuat sedemikian rupa ditancapkan pada tanah. Lalu di bawahnya terdapat sebuah gentong besar yang (konon) berisi air. Patung seorang pria duduk dengan tangan terikat dengan mimik muka tersiksa dan mulutnya terbuka. Tahukah ? Bahwa ini satu dari sekian jenis penyiksaan yang ada di Toul Sleng. Jenis intograsi di mana seseorang akan diikat, sengaja digantung kakinya dan kepala dimasukkan ke dalam air.

Apa yang mereka tanyakan ? Tentu saja perihal orang-orang yang dicari pihak Khmer Merah atau hal-hal yang terkait dengannya. Suatu film yang benar-benar memberi gambaran awal tentang kondisi Kamboja saat itu yang sempat saya tonton adalah First They Killed My Father. Sebuah kisah nyata yang diangkat dari cerita keluarga Loung Ung. Seorang anak dari keluarga ternama yang sebagian keluarga termasuk ayah dan ibunya mati ditangan Khmer Merah.

Setelah melihat replika itu, saya pun memasuki gedung yang cukup ramai dengan wisatawan. Sebagian masih asyik mendengarkan audio, yang lain juga berbincang dengan teman yang sama-sama mengunjungi tempat ini.

Saat itu, yang berbarengan dengan saya dalam kunjungan wisata Kamboja ini mayoritas merupakan wisatawan asing. Jarang sekali saya temui orang lokal Kamboja. Toul Sleng menjadi magnet khusus bagi negara ini dan sebuah tragedi ternyata mampu memikat sekelompok orang. Kamboja mampu menjual kisah ini sebagai obyek wisata sehingga meningkatkan kunjungan wisata ke negara ini. Yang tentu saja, ingin membuka mata dunia tentang tragedi kelam yag bisa menjadi pelajaran agar tak terulang kembali.

wisata phnom penh
Replika bagaimana para tahanan disiksa degan digantung pada tempat ini.

Gedung yang saya masuki memiliki aturan yang sama dengan lainnya. Kami dilarang mengambil foto di sana. Saya pun lebih banyak menggunakan waktu untuk melihat-lihat dan membawa keterangan tentang apa yang diletakkan di sana.

Bukti-bukti penyiksaan dan tengkorak-tengkorak menjadi barang-barang yang dipajang. Sebuah tempat tidur kayu tebal dan lumayan besar diletakkan di sebuah ruangan. Bukan tanpa sebab, tempat tidur kayu ini menjadi saksi bisu dari penyiksaan prajurit Khmer Merah. Orang yang “terpilih” kakinya dimasukkan di sebuah lubang yang terdapat pada sisi bawah tempat tidur itu. Diikat lalu air akan dimasukkan secara terus menerus sampai mereka hampir tenggelam. Jika jawaban yang mereka berikan tidak sesuai.

Tengkorak-tengkorak yang ada di sana merupakan hasil penggalian di area The Killing Field. Ladang pembunuhan yang menjadi hilir dari penyiksaan dan kekejaman ini.

Saya pun membaca beberapa kisah yang tertulis di sana. Satu atau dua yang selamat bercerita tentang pengalaman mengerikan. Mereka dikumpulkan dalam ruangan yang menjadi penjara, tak diberi makan dalam waktu yang lama, bahkan minum sekalipun. Di saat tertentu, petugas kejam pun datang seperti membangunkan mereka dengan siraman air dari selang. Di saat inilah mereka baru bisa minum dengan air seadanya.

Dipukul, dicambuk dengan bambu, bahkan penyiksaan seperti kuku kaki dicabut dengan tang juga bisa terlaksana saat itu. Korban juga bisa mengalami penyiksaan lanjutan dengan setrum berteganggan 220 volt. Ketika mereka pingsan dan lemah. Para petugas keji itu kembali mengajukan pertanyaan. Tinggal pilihan tahanan, mau menjawab atau siksaan berlanjut. Mereka diminta menyebutkan nama-nama. Yang selanjutnya nama-nama ini akan dicari dan ditangkap. Lalu berlanjut seperti bola salju.

Setiap tahanan politik diambil fotonya oleh petugas Khmer. Semua sangat terdata dengan baik, yang masih bisa ditemukan hingga sekarang dan foto-foto itu sebagian terpajang di gedung yang saya kunjungi.

Tuol Sleng hanya persinggahan, kebiadaban berlanjut ketika malam-malam hari proses eksekusi menjadi akhir penantian yang mereka alami. Mereka digiring dan masuk ke dalam truk, lalu menuju sebuah tempat yang menjadi kuburan mereka. Salah satunya di Choeung Ek.

wisata kamboja.
Beberapa pemakaman di bekas sekolah. Di sana terdapat pula nama-nama korban yang dimakamkan karena tewas akibat disiksa atau kelaparan.
Tugu peringatan di Toul Sleng

Dari segelintir yang selamat, ada dua orang tahanan yakni Chum Mey & Bou Meng, datang setiap hari ke tempat yang memberikan penderitaan untuknya. Kedua orang ini tuli di salah satu telinga akibat penyiksaan yang mereka terima secara teratur. Chum Mey bisa awet karena ia memiliki keahlian memperbaiki mesin tik dan mesin jahit. Mesin tik berguna untuk menghapus pengakuan dan mesin jahit menjadi alat pembuat seragam revolusi Khmer Merah berbentuk piyama hitam dengan aksen kain merah untuk selendang.

Sedangkan Bou Meng, juga tak berakhir dibunuh karena ia merupakan seniman dan ia diminta pemimpin penjara untuk membuat poster besar terkait Pol Pot. Mereka selamat dan saat ini berada di sana menampung foto dan cerita tertulis dari banyak korban. Serta ingin menceritakan kepada orang-orang yang datang tentang kebenaran penjara Tuol Sleng yang saat ini menjadi sebuah museum.

Keduanya juga menjadi saksi di pengadilan internasional mengenai kejahatan yang telah terjadi di Kamboja semasa 1975-1979. Mereka bersaksi atas tuduhan kepada Duch, pimpinan penjara yang juga mantan guru matematika. Duch merupakan arsitek dari metode penyiksaan yang terjadi di Tuol Sleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *