Liburan Singkat ke Anyer (1)

Lebaran Idul Fitri kemarin saya putuskan tidak pulang kampung. Saya menikmati kota Jakarta yang nggak terlalu padat di hari pertama dan kedua.

Ide untuk pergi wisata ke Anyer pun dadakan setelah saya dan Rudy sudah mentok kebosanan di Jakarta. Hari minggunya, saya dan Rudy berangkat jam enam pagi ke Anyer.

Ini pertama kalinya lho kami pergi ke sana berdua dan touring naik motor pinjaman. Salah seorang teman saya yang mudik, mau meminjamkan kendaraannya sekaligus nitip selama mudik.

Dari google maps, durasi perjalanan sekitar 2,5 sampai 3 jam. Saya pun rela bangun pagi untuk menyiapkan sarapan sekaligus bawa bekal dan cemilan. Emak-emak banget ya ?! Tapi nggak masalah daripada nanti ribet harus jajan dan belum tentu makanannya cocok.

Sederhana saja, dengan nasi putih dan telur dadar ala kadarnya. Bekal saya simpan di kotak makan. Setelah semua beres, kami berdua langsung cus… menuju Anyer.

***

titik nol anyer 1Bepergian naik motor sama Rudy sudah terlalu sering dan mayoritas perjalanan kami menggunakan motor. Tapi liburan kali ini memang serba spesial deh. Banyak hal nggak terduga, ditambah cuaca yang nggak terlalu bersahabat.

Saya masih Segar bugar melewati wilayah Tangerang dan Karawaci. Setelah masuk ke Cilegon, cobaan datang. Seperti biasa, entah kenapa perilaku pelor saya kayaknya nggak lihat-lihat tempat kalau pas naik kendaraan. Nggak di pesawat, kereta, bis, atau mobil. Saya nggak lama bertahan dan pengennya tidur. Sekitar sejam perjalanan, godaan tidur nggak bisa lagi dikendalikan.

Saya dan Rudy bukan tipe orang yang suka ngobrol ketika berboncengan. Takut mengganggu konstentrasi dia nyetir, saya juga males karena harus teriak-teriak saat cerita, agar suara saya bisa kedengaran. Padahal tau kan, saingan kita suara kendaraan dan motor, plus hembusan angin. yang kedengeran paling juga brrrr….kamu ingat ngak brrrrr…

Jadi nggak jelas apa yang lagi saya omongin.

Gara-gara angin semilir itu, saya jadi gampang terbuai dan seperti terhipnotis untuk tidur. Mata sudah saya buka-buka lebar, lihat pemandangan kanan kiri yang huhhh….masuk Serang banyak banget sampah berserakan di pinggir jalan. Sedih banget deh ngelihatnya. Tumpukan sampah di beberapa titik bikin bau nggak enak menyebar. Apalagi pagi tadi, sepertinya baru saja hujan.

Memang nggak ada yang menarik untuk dilihat. Apalagi kalau sudah masuk kawasan pasar. Dua kali kami, melewati jalan yang kanan kirinya pasar tradisional. Memang pasar basah cenderung tidak teratur, tapi ini super parah, jarak beberapa meter sampah sudah mulai menumpuk di sana sini.

Saya beberapa kali berjuang untuk tetep melek, walau sempat merem dan terkantuk-kantuk. Sampai suami saya ini heran dan sengaja ngerem motor agak mendadak agar saya terbangun.

Kalau sudah lelap banget, saya bisa loh tidur sambil duduk santai pas dibonceng. Tapi lama-lama tubuh saya miring juga, dan eitts suka hampir jatuh. Mau nggak mau saya selalu siap sedia untuk pegang erat pinggang suami. Romantis ? Bisa jadi. Tapi yang lebih penting untuk pegangan kalau penyakit saya kambuh. Penyakit nempel terus molor.

Bisa jadi karena bangun dari jam setengah empat pagi, saya jadi gampang ngantuk pas perjalanan ini. Bahkan sempat tidur beberapa ronde di atas motor.

Masuk area Cilegon, saya sudah bangun dengan muka ceria. Rudy cuma bilang, “Udah puas tidurnya?”

pantai di anyerMelewati Cilegon sampai anyer saya terjaga dan sudah nggak ngantuk lagi. Ini pertama kalinya juga saya lewat di daerah industri dan pabrik seperti Krakatau Steel. Gedung super besar, alat berat, truk, dan berbagai macam bangunan tinggi-tinggi untuk mengolah hasil tambang. Di kawasan ini ada beberapa perusahaan yang letaknya berdampingan. Dan di sini juga kemacetan mulai terjadi.

Saya yang berangkat pukul setengah tujuh saja, naik motor, baru sampai di area pabrik sekitar setengah sembilan. Bagaimana dengan mereka yang naik mobil dari Jakarta ? Berangkat jam berapa ya ? Memang banyak yang kendaraannya berplat B, F, dan D. Orang yang tinggal di Jakarta, Bogor, dan Bandung melarikan diri sejenak untuk piknik ke Anyer, mumpung libur lebaran.

Motor yang kami berdua tumpangi gesit untuk nyalip mobil yang antri dan nggak bisa melaju normal. Belok kanan, kiri. Dan kadang-kadang mesti keluar jalan aspal. Fiuh.

Setelah melewati jalur padat sekitar 8 kilometer, akhirnya kami sampai di destinasi pertama Mercusuar Cikoneng.

mercusuar cikoneng anyer

harga tiket masuk mercusuar anyer

wisata anyerMercusuar ini dibangun untuk membantu navigasi kapal yang akan mendarat ke Selat Sunda dan pertama kali dibangun tahun 1806. Sedangkan jalan Anyer-Panarukan dibangun 1808.

Herman Willem Daendels, Gubernur Jendral yang terkenal kejam itu mengerjakan tahap awal membangun jalan raya tahun 1808. Menurut sejarah, Sultan Banten sempat menolak memberikan bantuan ke pemerintah Hindia Belanda untuk membangun pelabuhan militer di Banten, tepatnya di area yang sekarang kita sebut Tanjung Lesung.

Jalan yang dibangun memang terkenal dengan nama Anyer Panarukan. Tapi sebenarnya di tengah jalan, jalur ini tidak hanya memiliki satu jalur. Ide-ide meneruskan pengembangan cabang jalan dilakukan untuk menghubungkan ke daerah Pandeglang dan Lebak. Hal itu juga terjadi di wilayah sekitar Jawa Tengah.

Mercusuar Cikoneng ini memang tampak terawat dan kokoh. Tapi sebenarnya sempat ikut menjadi korban letusan Krakatau tahun 1883. lalu pemabngunan kembali dilakukan tahun 1885 yang letaknya tidak jauh dari mercusuar pertama.

Kami membayar Rp 20.000 untuk biaya parkir motor yang jauh lebih mahal daripada masuk ke mercusuar. Ada satu penjaga, lelaki tua yang bertugas membersihkan bagian dalam. Tidak ada tiket masuk khusus, kami hanya membayar uang seikhlasnya untuk petugas.

Sayangnya, ketika kami datang, akses menuju lantai paling atas tidak dibuka karena masih dalam tahap renovasi. Kami hanya boleh naik sampai lantai tiga.

Ada apa di dalam mercusuar ?

Pernah nonton film The Light Between Ocean ? Film yang bercerita tentang latar belakang kehidupan penjaga mercusuar. Bangunan ini nyata memberi gambaran pentingnya mercusuar untuk memberi panduan bagi kapal yang akan berlabuh. Tidak hanya zaman dulu, tetapi juga saat ini.

Rasa penasaran saya untuk melihat Selat Sunda dari atas mercusuar belum terpenuhi. Tapi saya jadi terhibur dan dapat pengetahuan baru dengan mengunjungi Mercusuar Cikoneng ini.

Lantai dua dan tiga digunakan sebagai museum dan memperlihatkan foto-foto mercusuar yang ada di berbagai wilayah di Indonesia. Dan Mercusuar Cikoneng ini merupakan salah satu yang tertua.

Lapisan temboknya terbuat dari baja berbentuk melengkung dengan skrup besar yang menghubungkan satu plat dengan lainnya. Begitu pula dengan lantai yang digunakan. Tangga ulir yang dicat hijau menghubungkan antara satu lantai dengan lantai lainnya. Untuk mengobati kekecewaan saya, karena tidak bisa sampai atas. Saya tetap bisa melihat pemandangan pantai dari jendela yang ada di lantai dua dan mengabadikannya.

wisata anyer2

pantai di anyer indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *