Wang Cafe : Menjajal Kuliner Singapura di Changi Airport

Penerbangan malam dari Jakarta ke Singapura selalu jadi pilihan. Menghabiskan liburan singkat saat akhir pekan, membuat saya harus pintar-pintar membagi waktu. Selepas pulang kantor dihari Jumat, saya bergegas menuju bandara Soekarno Hatta.

Penerbangan malam menjadi melelahkan, karena tanpa istirahat saya harus langsung melakukan perjalanan. Meski pun durasi hanya satu setengah jam dari Jakarta ke Singapura. Perut kelaparan sementara, tak menjadi masalah. Pokoknya setelah sampai Changi Airport saya akan segera makan malam untuk mengisi perut yang keroncongan.

Saya memutuskan menginap di Changi Airport, daripada tergopoh-gopoh pergi ke pusat kota menjelang tengah malam. Banyak kegiatan yang bisa saya lakukan untuk menghabiskan malam. Berkeliling di taman, menjajal beberapa fasilitas gratis, hingga berburu kuliner. Pilihan menu untuk makan malam sudah ditentukan. Saya mau mencari sesuatu yang berkuah. Pilihan itu jatuh pada laksa.

Laksa kari merupakan ciri khas makanan peranakan Cina dan Melayu yang populer di Singapura, Malaysia, dan juga Indonesia. Setiap tempat memiliki keunikan dari bahan baku utamanya serta bumbu dalam kuah. Namun, yang menjadi ciri utama merupakan kuah kental nan pekat.

Saya akhirnya mampir ke Kedai Wang Cafe. Slogan Your local cafe yang tersemat di bawah mereknya ini menunjukkan bahwa makanan tradisional juga bisa masuk tempat-tempat modern, seperti Changi. Wang Cafe memiliki beberapa outlet di bandara terbaik di Asia Tenggara itu. Tepatnya di terminal kedatangan 1 dan terminal 2 skytrain di Changi.

Apa yang membuat saya tertarik dengan Wang Cafe? Pertama mengenalnya, saya mencoba paket laksa yang berisi minuman, laksa, dan roti. Antara laksa dan roti memang terlihat tidak nyambung. Tapi patut dicoba, karena inilah kekuatan dan ciri khas uniknya.

Wang Cafe merupakan pionir kopi dan roti lokal di Singapura sejak 1953. Memanfaatkan sistem waralaba, cafe modern ini dapat ditemui di beberapa tempat lain di Singapura. Yang menarik, Wang setia membawa ciri khas tradisional. Bahkan di beberapa outlet menggunakan kursi dan meja bergaya tradisional era 50an.

Pesan Makanan di Wang Cafe

Sama seperti kedai masa kini lainnya. Wang Cafe mengharuskan pembeli mengantri di bagian kasir. Memilih menu, kemudian membayar. Laksa Set with kaya toast and tea menjadi makan malam yang sangat mengenyangkan. Meskipun dibeli dalam bentuk paket. Saya bisa mengubah pesanan khusus minuman. Mau panas atau dingin. Pilih teh atau kopi. Saya pun memesan teh panas.

Tapi tidak mudah untuk menyesuaikan istilah di Singapura. Khusus untuk minuman, Singapura punya cara khusus untuk menyebut kopi atau teh. Teh O, kopi O, kopi kosong, dan lain sebagainya.

Alhasil, saya menggunakan cara umum meski sedikit aneh. Hot tea with milk without sugar. Untuk saja ibu kasir paruh baya tersebut mengerti apa yang saya maksud. Saya membayar makanan seharga 6,5 dollar Singapura dan diperkenankan menunggu karena laksa sedang dibuat.

Saya mengambil sendiri makanan yang saya beli. Mengambil peralatan makan sekali pakai lalu mencari tempat duduk. Terdapat beberapa versi penyajian di Wang Cafe. Ada yang menggunakan mangkuk melamin dan cangkir keramik untuk makanan dan minuman. Tetapi ada pula yang menggunakan gelas dan mangkuk kertas.

Laksa Set ala Wang Cafe

Dari aromanya saja sudah menggugah selera. Laksa kari dengan kuah kental menggoda saya untuk melahapnya. Laksa kari menjadi makanan favorit yang menggambarkan perpaduan gaya China dan Melayu. Saya menggemari laksa ini karena menggunakan bahan utama bihun yang disiram kuah kental berwarna oranye tua. Bagian atasnya ditaburi tau pok, tahu goreng, ikan, dan setengah telor rebus. Aromanya menggugah selera dan rempahnya begitu kuat. Saat suapan pertama, benar-benar nikmat rasanya. Tahu poknya pun enak, menyerap kuah yang mengitarinya.

Saya bergantian menggunakan sendok dan sumpit untuk makan. Mengaduk bihun dengan kuah lalu menyumpit dan memasukannya ke mulut. Lalu menyeruput kaldu kari dengan sendok. Begitu terus sampai tuntas menghabiskan laksa.

Porsi satu mangkuk kuliner Singapura ini sangat pas untuk saya. Tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Penyajian selalu dalam keadaan panas, sehingga cocok menemani saat di bandara.

Saya pun agak berkeringat setelah makan laksa kari hangat. Rempahnya bekerja dengan baik sebagai pengobat dingin ketika bermalam di Changi. Tapi jangan lupakan minumannya. Teh susu dari Wang Cafe memiliki rasa yang istimewa. Paduan rasa yang pas dan tidak berat sebelah, antara teh yang terlalu kental atau rasa susu yang mendominasi.

Wang Cafe memang cocok jadi tempat peraduan selama di Changi. Kedai yang menyajikan makanan tradisional dengan harga yang masih terjangkau untuk kelas bandara terbaik di dunia. Tapi sayangnya saya sendirian saat itu. Sambil menghabiskan teh susu, saya coba cicipi roti lapis ala Wang Cafe. Dua lembar roti berwarna coklat yang di dalamnya diisi butter. Perlu jeda beberapa saat sejak makan laksa lalu makan roti panggang. Roti berwarna coklat yang harumnya khas. Teksturnya renyah karena dipanggang, tapi tampilannya tidak gosong atau kehitam-hitaman. Butter di dalamnya tidak meleleh, tapi menambah cita rasa roti ketika dimakan bersamaan.

Wang Cafe membawa tiga makanan dan minuman dalam menu-menunya. Yang pertama merupakan minuman teh, kopi, maupun lemon. Untuk ingin makan ringan atau sekedar ngemil, ada beberapa pilihan yaitu toast, telur rebus/telur setengah matang. Sedangkan jika ingin makan makanan berat, aneka mie rebus dan berkuah merupakan sajian yang disediakan dalam menunya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *