Solo Travelling ke Singapura #Day1

Tren solo travelling memang belum begitu populer di Indonesia. Banyak yang masih suka pergi liburan rame-rame, bahkan sengaja cari temen jalan untuk share cost biar lebih hemat.

Hanya beberapa orang yang mau pergi sendirian untuk liburan yang durasinya singkat. Bepergian dalam jangka waktu lama untuk piknik seorang diri, baru sedikit orang Indonesia yang melakukannya. Semua kepentonk pada dana dan waktu.

Selain biaya lebih mahal, kendala untuk long travelling sendirian itu karena jatah cuti di Indonesia yang dikit. Tapi yang jelas sih, soal keberanian.

Ada juga yang nekat memenuhi hasrat jalan-jalan dengan resign kerja sesaat, lalu kembali dua atau tiga bulan berikutnya bekerja kantoran.  Tentunya di kantor yang berbeda.

singapura

wisata ke singapura

jalan-jalan ke singapuraSolo travelling pertama saya ke Singapura. Yang deket-deket aja dan cari negara yang udah mapan dan aman. Kali ini saya emang pengen nyoba pergi sendiri, ngerasain ngapa-ngapain sendiri, dan menentukan dengan bebas destinasi wisata yang saya kunjungi.

Karena cuma ke Singapur, saya manfaatkan akhir pekan, Sabtu dan Minggu buat ke negeri singa.

Sebenarnya banyak loh teman-teman saya yang sering bolak balik Singapur sendiri, tapi biasanya untuk urusan kerjaan. Pergi pagi pulang sore, atau cukup dua hari satu malam di sana.

Saya ambil penerbangan terakhir ke Singapur di Jumat malam. Sudah bisa dipastikan saya numpang tidur di bandara dan baru keliling-keliling besoknya.

Nggak masalah ya, tidur di bandara, apalagi di Changi Airport yang fasilitasnya lengkap.

Saya suka jalan-jalan, tapi perasaan aneh sering tiba-tiba datang ketika sampai di tempat tujuan. Apalagi pas perjalanan jauh.

Emang ini cuma di Singapur, naik pesawatnya nggak lama. Pas di pesawat rasa aneh muncul, karena saya tanya sama diri sendiri. Ngapain pergi sendirian? Mau ke mana aja? Bosen atau nggak? dan banyak lagi pertanyaan nggak jelas muter-muter di kepala.

Itu kalau ada teman yang mau dikunjungi atau janjian ketemu di satu tempat. Kali ini murni saya pengen me time liburan.

Sampai di Changi saya muter-muter sebentar lalu makan malam di Wang Cafe yang ada di terminal 3. Saking lapernya dan capek karena belum sempat istirahat sehabis ngantor. Saya lama-lamain di Wnag Cafe, makan laksa dan santai sambil minum kopi susu yang harga satu paketnya 7 dollar Singapura.

Makan nggak buru-buru dan nggak ada yang ngingetin, nggak ada teman ngobrol, dan saya juga nggak minat untuk iseng kenalan sama pejalan lain. Bener-bener ingin menikmati waktu sendirian. Malah di saat seperti ini, saya jadi lebih fokus merhatiin lingkungan sekitar saya.

Banyak orang paruh baya yang kerja sampai tengah malam, sampai satu keluarga yang mau liburan dan milih kaya saya, nginep di Changi.

Habis di Wang Cafe, yang total ngabisin waktu 1,5 jam. Saya langsung pergi ke bagian  imigrasi untuk minta stampel paspor dan masuk wilayah kedatangan. Saya emang sengaja agak molor karena agak males harus nunggu lama antri. Tapi kebabalasan kelamaan dan akhirnya diomelin petugas karena baru dua jam setelah kedatangan pesawat saya baru stampel paspor.

Ya saya bilang aja, kalau tadi makan malam dulu. Eh, malah saya tambah ditegur karena durasi makan saya terlalu lama. Makannya sih cuma bentar, nongkrongnya yang lama, batin saya.

Rasa bosan udah mulai datang, selang satu jam, karena saya juga bingung mau ngapain. Lupa bawa buku dan udah jenuh main internet dan buka sosial media. Alhasil, saya wara-wiri keliling terminal 3, keluar masuk toilet, dan jadi perhatian beberapa pegawai bandara.

Pengalaman solo travelling yang bikin saya banyak belajar. Memang lebih enak jalan berdua bareng pacar, paling nggak ada teman ngobrol ngalor ngidul, daripada diem terus kaya gini. Efek kopi juga bekerja karena sampai jam satu dini hari, mata saya masih kuat melek. Meski badan udah mulai capek dan coba untuk tidur, tapi nggak bisa-bisa.

Ruang tunggu di Changi emang besar dan banyak tempat duduk. Tapi kebanyakan kursi dilengkapi handle di bagian tangan, yang bikin nggak bisa rebahan. Banyak yang pilih tidur di lantai, meringkuk, dan kedinginan. Saya nggak berani, karena salah kostum dan Cuma bawa celana pendek pas perjalanan ini. Jadilah cuma tidur-tidur ayam dan nggak nyenyak.

Jam 6 pagi, kereta menuju tengah kota udah beroperasi. Saya sempet menikmati gerbong kereta yang kosong mlompong dan melewati dua stasiun.

Saya berhenti di stasiun Bayfront karena pengen lihat suasana Marina Bay dan Garden by The Bay pas pagi hari. Sayangnya cuaca nggak cerah, karena Singapura masih kena imbas kebakaran hutan di Pekanbaru waktu itu.

Kebanyakan orang sibuk olahraga dari lari, jalan kaki, sampai sepedaan. Cuma saya yang gendong tas ransel seperti orang ilang dan dilihatin orang yang lewat.

marina bay sandPas lagi asyik ambil beberapa gambar. Saya didatangi warga asli yang lagi olahraga. Dia minta difotoin dengan latar gedung Marina Bay Sand dan berdiri di atas tulisan dream. Bapak ini langsung akrab dan kami sempat ngobrol sebentar. Pas ditanya asal saya dari mana, iseng aja bilang saya berasal dari negara dimana asap ini berasal. Eh, dia malah ketawa ngakak.

garden by the bay

ke singapura

garden by the bay Dari Marina Bay Sand, saya lanjut keliling Garden By The Bay. Taman belum terlalu banyak orang karena masih jam 6 pagi. Saya lanjutin berkeliling di area yang bisa dikunjungi gratis sambil melihat-lihat beberapa tanaman yang mereka rawat.

Asyik banget di Singapura. Negara yang luasnya nggak sebesar Jakarta, tapi punya banyak tempat gratis untuk warganya beraktivitas dari piknik sampai olahraga. Tempat favorit saya kalau di Garden By The Bay, di kursi yang mengarah ke danau depan bangunan kaca. Ada banyak tempat duduk dan bisa santai mengamati kegiatan orang lewat atau melihat Singapore Flyer di seberang. Syahdu banget suasananya.

singapore flyer Setelah puas istirahat dan menikmati udara segar Singapura. Saya lanjut jalan kaki menuju ke Lau Pat Sat, untuk sarapan sekaligus makan siang. Dengan peta wisata Singapura yang gampang didapat pas di bandara. Jalan-jalan sendirian jadi lebih mudah dan nggak perlu khawatir kesasar. Cuma apesnya memang saya nggak well prepared untuk solo travelling yang cuma dua hari ini. Terlalu nyepelein karena dekat, hanya di Singapura dan ngegampangin hanya dua hari satu malam.

Bekal saya satu tas ransel kecil, yang semuanya masuk di situ. Saya kelupaan pakai sepatu yang nyaman untuk jalan kaki. Baru beberapa jam, telapak kaki saya udah mulai pegel.

Di Lau Pat Sat, saya udah niat mau brunch aja. Ngrapel karena males bolak-balik cari tempat makan. Tambah lagi sekali makan pasti keluar uang hampir seratus ribu rupiah. Jadi lebih irit. Negara kecil ini memang ampuh banget. Luasnya hanya 719,1 km persegi, mengandalkan industri dan pariwisata modern, tapi masuk dalam 10 negara dengan biaya hidup termahal.

Pilihan paling pas buat berhemat makan ya nasi briani. Setelah saya muter-muter Lau Pat Sat, makanan India jadi pilihan yang tepat, porsinya banyak, harganya lebih terjangkau.

Saya pesan nasi briani ayam. Harganya 5 dolar Singapura atau sekitar Rp 49.000, tapi lihat ukurannya ya. Empat potong daging ayam dan nasi briani warna kuning tumpah ruah di piring besar. Wihhhh, porsinya banyak banget. Ini mah, lebih cocok dimakan untuk dua atau tiga orang.

Saya langsung cari tempat duduk yang kosong. Harga 5 dollar belum termasuk minum, jadi saya harus beli minuman dulu yang penjualnya ada di bagian tengah ruangan. Pas udah bayar dan dikasih minum, saya langung balik badan dan mau ke meja tempat briani saya letakkan. Eh, asem banget. Ada satu burung gagak lagi berdiri di meja dan berhasil mematuk bagian pinggir nasinya. Keselll banget. Beberapa burung dari atas juga mau ikutan bertengger di situ.

Saya langsung buru-buru lari dan mengusir mereka.  Antara bingung mau buang atau nggak. Akhirnya saya putuskan my brunch must goes on. Saya lanjut tetap makan, tapi mengambil sebagian nasi saja. Ini pengalaman yang nggak terlupakan di Singapura.

Di bagian atap Lau Pat Sat, terdapat rangka-rangka besi yang jadi tempat bertengger burung gagak. Malah burung ini sepertinya sudah akrab dengan kehadiran manusia. Mau tempat ramai sekalipun, beberapa burung wara wiri terbang di atas kami yang berkunjung.

Lau Pat Sat memang tempat makan favorit. Masih ada harga makanan terjangkau di sana. Asal nggak rakus dan gelap mata. Tempatnya juga startegis karena dekat perkantoran.

Sehabis itu, saya jalan kaki lagi ke daerah Chinatown, sambil nunggu waktu check in hostel yang masil lama. Lagi setengah jalan, tiba-tiba perut saya mulai berisik. Nggak enak banget, lama kelamaan mules. Saya jadi panik karena nggak tau toilet umum di sekitar situ. Untungnya di seberang jalan ada pusat perbelanjaan kecil. Saya pergi ke sana dan sibuk nyari tanda toilet, yang ternyata ada di lantai dua.

Rasanya aman banget karena perut mules harus dituntaskan. Lagi senengnya ketemu toilet, ternyata yang disediakan toilet kering. Duhhh….. saya hela nafas panjang.

Setelah urusan toilet lancar dan beres. Saya sempetin keliling-keliling sebentar di pusat perbelanjaan ini. Tempatnya sepi dan nggak banyak yang buka. Mirip seperti gedung perkantoran tapi yang dijual kebanyakan barang-barang elektronik.

chinatown singapore

building near chinatown singapore

travel blogger indonesia

shopping di singapura

Keluar dari sana, ternyata saya sudah dekat wilayah Chinatown. Saya habiskan sisa siang hari untuk keliling dan belanja beberapa souvenir. Banyak barang lucu dan murah, tapi saya coba nahan biar nggak kalap dan boros belanja yang nggak perlu.

Selama beberapa tahun terakhir saya berhasil untuk nggak wisata belanja banyak pas liburan. Ciri khas wisatawan Indonesia yang saya buang jauh-jauh. Paling hanya beli kenang-kenangan remeh temeh atau sekedar beli titipan. Apalagi terbiasa bawa ransel, saya nggak punya banyak tempat kosong untuk barang belanjaan.

Saya beli beberapa pernak pernik ukuran mini yang total hanya keluar uang Rp 150.000,00 lanjut berjuang menghadapi panas dan bertahan dengan alas kaki tipis yang bikin kaki cepat pegal.

wisata singapuraSetengah jam sebelum waktu check in, saya lanjutkan keliling di Chinatown sambil nyari lokasi hostel tempat saya menginap. Ternyata susah-susah gampang, menanyakan alamat di Singapura. Ketika saya memperlihatkan bukti booking hostel, mereka serta merta geleng kepala dan jawab nggak tau lokasi tersebut.

Sampai tiga kali saya bertanya ke orang yang berbeda jawabannya sama. Hmmm… sebesar inikah Singapura? Sampai pada nggak tahu lokasi. Padahal saya sudah memilih area menginap yang startegis dan dekat dengan pusat perbelanjaan.

Baru di orang yang keempat, ia mengarahkan ke mana saya harus pergi. Karena sudah terlalu capek, saya nekat tanya lagi agar cepat sampai dan nggak terlalu lama berkeliling. Yang satu ini special banget. Pas saya tanya nama jalan, dia jawab nggak tahu. Dan ternyata ketika saya lanjutkan jalan kaki nggak sampai 200 meter. Jalan yang saya cari ada di depan mata. Rasanya kesel banget. Entah dia terlalu cuek atau memang tidak tahu. Padahal saya bertanya pada seorang penjaga keamanan kantor, yang letaknya nggak jauh dari hostel.

Sampai di hostel, saya langsung duduk di sofa dan istirahat, terus ngelanjutin konfirmasi ke resepsionis. Di sini disiplin banget, saya harus tetap menunggu meski kurang 10 menit dari jadwal booking dan belum boleh masuk kamar. Kalau nggak saya wajib bayar biaya tambahan lagi.

Setelah bisa pakai fasilitas yang saya sewa. Buru-buru saya mandi, beres-beres, dan istirahat selonjoran kaki, sampai ketiduran dua jam. Sebelum melanjutkan perjalanan malam saya selanjutnya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *