Membasuh Jiwa Raga di Tirta Empul Bali

Tirta Empul, Pembersihan Spiritual Lewat Air Suci 

Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali menyimpan kisah panjang tentang pulau eksotis di wilayah Indonesia bagian tengah. Termasuk sebuah pura yang dibangun bersamaan dengan tempat melukat. Tirta Empul. Kolam pemandian yang dikunjungi ratusan peziarah dan wisatawan untuk melihat peninggalan abad ke-9 dan melakukan ritual penyucian.

Pura Tirta Empul dibagi menjadi tiga bagian. Jaba Pura(Halaman Muka), Jaba Tengah(Halaman Tengah), dan Jeroan. Jaba Pura dilengkapi dengan pelataran dan sebuah kolam ikan. Di Jaba Tengah terdapat kolam pemandian yang memiliki 13 pancuran. Berderet dari timur ke barat menghadap keselatan. Masing-masing pancuran memiliki nama masing-masing. Namun, terdapat beberapa yang terpopuler yakni pengelukatan, pembersihan, sudamala, dan pancuran centik/racun.

Tirta Empul memiliki arti air yang keluar dari tanah yang mengalir tanpa terputus. Sumber mata air berasal dari pertemuan beberapa sungai, mengalir, menyembur dan ditampung ke dalam sebuah kolam yang diberi nama Telaga Tirta Suci. Kemudian dialirkan lagi melalui pancuran-pancuran yang terbuat dari batu. Pancuran memiliki estetika dengan ukiran-ukiran di permukaannya. Ditambah hiasan lumut hijau bagian atasnya, dan sebuah lobang yang mengucurkan air suci. Tirta Teteg, Tirta Sudamala, Tirta Pangelukatan, Tirta Pamarisuda, Tirta Pamlaspas, Tirta Panglebur Impian Ala, Tirta Pangentas dan Tirta Pambersihan.

Air dipercaya sebagai pembersih diri. Tak hanya untuk mandi. Puluhan orang dari anak-anak hingga dewasa memasuki kolam yang berair bening untuk melukat. Melukat adalah proses membersihkan diri secara spiritual. Bagi wanita yang menstruasi dilarang untuk memasuki tempat suci ini. Saat berkunjung ke Tirta Empul, Geonation.org mendapati tak hanya orang Bali yang melakukan proses pembersihan diri. Wisatawan dari kota lain bahkan turis mancanegara ikut melakukan ritual melukat menggunakan pakaian tradisi Bali. Seoarang lelaki yang paham akan prosesi tersebut, membimbing para turis melakukan tahap demi tahap melukat. Dupa, canang, bunga, dan sesaji menjadi perlengkapan wajib. Para wanita mengenakan kain yang dililitkan menutupi bagian dada ke bawah. Sedangkan kain dikenakan menutupi pinggang ke bawah dikenakan para lelaki yang mengikuti proses melukat.

Satu persatu orang bergiliran mencondongkan tubuhnya untuk mendapatkan kucuran dari masing-masing pancuran. Namun, tidak semua pancuran boleh digunakan. Khusus Tirta Pangentas yang dipergunakan untuk orang yang telah meninggal. Sedangkan Tirta Pambersihan bagi mereka yang telah suci.

Istana Kepresidenan Tampak Siring Berdampingan dengan Kompleks Tirta Empul 

Perhatian tercuri saat melihat gundukan hijau di samping kompleks peribadatan. Tanah dengan permukaan lebih tinggi di mana di atasnya terdapat bangunan megah yang didirikan masa pemerintahan Presiden Soekarno pada 1954. Itulah Istana Kepresidenan Tampak Siring. Sebuah tangga dan gerbang memisahkan Pura Tirta Empul dan Istana Presiden tersebut.

Legenda pada daun lontar mengisahkan Mayadenawa, raja yang sakti, perkasa tetapi memiliki sifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa dan memerintahkan rakyat untuk menyembahnya. Batara Indra, salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu mengetahui perbuatan tersebut. Batara Indra memperingatkan Mayadenawa dengan mengirim balatentara untuk menghancurkannya. Dengan cerdiknya Mayadenawa lari ke hutan dan berjalan dengan memiringkan kaki. Ia berfikir cara itu tak mungkin meninggalkan jejak. Sehingga siapa pun yang mengejarnya  tak akan menemukannya.

Namun cara itu gagal. Akhirnya Mayadenawa berhasil ditangkap. Dengan sisa-sisa kesaktian, sang raja yang lalim menciptakan mata air beracun. Sebagai penawarnya, Batara Indra menciptakan mata air yang lain. Air penawar itulah yang disebut sebagai Tirta Empul atau air suci. Sedangkan kawasan hutan yang dilewati oleh Mayadenawa dengan berjalan miring. Kini dikenal sebagai Tampak Siring. Tampak berarti telapak. Siring berarti miring.

Hanya berjarak 44 kilometer dari Denpasar. Peziarah maupun wisatawan bisa menggunakan mobil atau kendaraan roda dua. Letaknya strategis dan mudah ditemukan. Selain kolam pemandian terdapat pura yang terletak di dekat Telaga Tirta Suci. Sehingga bagi umat Hindu bisa melakukan melukat sekaligus bersembahyang. Bagi wisatawan yang beragama lain. Pura Tirta Empul menjadi peninggalan yang bisa dinikmati dengan membeli tiket sebesar sepuluh ribu rupiah (2013).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *