Tips Mengatur Keuangan Ketika Travelling Tiga Negara

Namanya jalan-jalan pasti tak bisa lepas dari yang namanya sangu. Sangu yang cukup artinya bawa uang cukup untuk berbagai hal terutama makan, bayar akomodasi, beli tiket masuk tempat wisata, dan oleh-oleh. Kenapa cukup ? Saya berpendapat, traveling itu tak selalu harus punya uang banyak dulu baru bisa jalan. Asal tahu mau ke mana dan ngapain aja, masalah keuangan dan sangu bisa diatur, tanpa harus pelit di perjalanan.

Jeda ketika saya traveling ke Indochina di tahun 2017 memang sudah setahun, tapi rasanya membagi pengalaman mengatur keuangan selama di Vietnam, Kamboja, dan Thailand perlu saya tulis di artikel ini.

Pergi ke 3 negara, mata uang apa saja yang harus disiapkan ?

Meski ke tiga negara, ternyata saya harus menyediakan empat mata uang. Kok bisa ?

mata uang vietnam
Mata uang vietnam : dong.

Vietnam

Mendarat di Bandar Udara Internasional Tân Sơn Nhất, Ho Chi Minh City. Setelah check imigrasi saya langsung mencari bis umum menuju pusat kota. Tentu saja sudah menyiapkan mata uang Vietnam, dong. Beberapa warna lembaran kertas hampir sama, saya perlu jeli ketika bertransaksi menggunakannya.

Apalagi ketika berkunjung ke pasar untuk belanja di Benh Than Market. Saya lebih cermat menerima kembalian dan menanyakan harga. Seminggu sebelumnya teman saya terkena scam karena makan di pasar itu dan tertipu diberi kembalian uang yang nominalnya jauh lebih kecil dari pada yang seharusnya.

Pengalaman : Saya jarang bertransaksi dengan uang koin di Ho Chi Minh City. Hampir semua mata uang yang saya gunakan ketika beli oleh-oleh atau makanan, pakai uang kertas, termasuk beli jajanan ketan pisang di pinggir jalan. Kecuali ketika ke minimarket dan membeli air mineral botol. Saya masih bisa pakai receh.

Menjadwalkan dua malam di Ho Chi Minh City, saya hanya menyediakan dong dalam jumlah sedikit. Tak ayal kami, saya dan suami, kekurangan uang untuk bayar grab di hari terakhir. Untungnya hostel tempat kami tinggal menyediakan penukaran uang. Maka saya tukar uang bhat ke dong dengan mudah. Masalah selesai dan bisa lanjut menuju Kamboja.

Mata uang Kamboja : riel.

Kamboja

Di Kamboja inilah, saya perlu bawa dua mata uang sekaligus, USD dan riel. Pengalaman yang sangat menarik ketika harus bertransaksi dengan dua mata uang sekaligus di satu negara. Tidak cuma jeli, tapi saya jadi teliti dan itung-itungan ketika membeli apa saja. Termasuk pergi ke toko kelontong untuk beli sabun mandi dan beberapa cemilan. Sebelum bayar dan setelah terima uang kembalian, saya mengeluarkan ponsel dan pakai kalkulator untuk menghitung.

Masuk ke sebuah toko di Phnom Penh, saya mengambil sabun batang, air minum, dan beberapa biskuit. Suasana Phnom Penh seperti Jakarta di tahun 80-an, bahkan ketika menemukan sabun di rak toko itu. Packaging yang digunakan berbentuk kotak balok dari kertas tebal. Pun dengan desainnya yang sering saya jumpai tapi lima belas tahun lalu.

Semua price tag pada rak makanan dan kebutuhan sehari-hari malah menggunakan USD daripada riel. Saya pun membayar dengan lembaran dollar Amerika Serikat. Tapi ketika penjualnya memberikan kembalian, saya diberi mata uang riel.

PERHATIKAN : Sesuai pengalaman saya, proses jual beli lebih sering menggunakan dollar. Tapi, ketika ke Kamboja, saya sarankan Anda juga menyiapkan riel. Jika tidak mendapatkannya sebelum berangkat. Tukar saja dulu dengan dollar, lalu tukarkan riel saat berada di Kamboja. Jika tak mau ribet, belanja saja dengan dollar dan minta kembalian riel sebagian besar dalam bentuk koin. Simpan baik-baik receh yang Anda dapatkan karena sangat berguna di transaksi selanjutnya.

Membeli makanan pun, bayarnya malah bisa dengan dua mata uang. Mereka akan mentotalkan apa yang sudah kita makan dalam bentuk riel. Lalu mengkonversi dalam dollar USD. Untuk yang bisa dibulatkan dalam USD saya bayar dengan USD. Sedangkan pecahannya dengan riel.

Tips satu ini sangat penting untuk menghindari kerugian. Karena kebanyakan sangat suka memberi harga dalam bentuk dollar, tapi kembalian dengan riel. Kalau ketemu dengan penjual yang curang, ketika dihitung ulang uang yang mereka berikan ternyata tidak pas atau kurang. L

Saat masuk ke tempat wisata pun, mata uang yang digunakan lebih sering menggunakan USD. Waktu itu, karena stok riel kebanyakan. Saya membayar dengan riel. Alhasil, ketika masuk ke Royal Grand Palace, saya malah harus membayar lebih banyak dari harga tiket yang seharusnya.

Begitu pula ketika membeli hot dog di gerobak kaki lima, harganya USD 1,2. Tapi saya bisa membayar nya dengan dua mata uang sekaligus.

Entahlah, setelah pulang wisata ke Kamboja, saya pun membandingkan apakah semua yang saya beli sebenarnya harganya cukup murah atau lebih mahal jika dibandingkan di Indonesia.

Sebagai contoh, minuman favorit saya di Phnom Penh adalah es tebu. Satu gelas besar hanrganya satu dollar. Ketika dikonversi ke rupiah, waktu itu 1 USD = Rp 13.500. Menurut Anda, beli es tebu dengan harga itu apakah sepadan ?

Kejadian lain ketika pergi ke minimarket di Siem Reap, saya menemukan indomie goreng dalam bentuk cup yang tidak dipasarkan di Indonesia. Satu cup indomie harganya Rp 13.500, padahal di Indonesia mie cup merek lokal paling mahal harganya maksimal Rp 7.000 saja. Itu pun sudah diseduh dan siap makan.

Kamboja memang negara yang sangat unik. Pengalaman masuk Kamboja di perbatasan pun malah bisa menggunakan tiga mata uang sekaligus untuk beli makan siang.

Baca juga : Pengalaman Perjalanan dari Bangkok ke Ayutthaya Naik Kereta. 

Thailand

Negara yang menjadi dream land di kawasan Indochina. Penjagaan perbatasan daratnya lumayan ketat jika dibandingkan Kamboja. Jadi jangan khawatir kalau melihat tampang garang para petugas imigrasi termasuk polisi. Mereka hanya menjalankan tugas karena takut kecolongan terjadi trafficking dan masuknya pencari kerja ilegal ke negara itu.

Thailand yang juga masuk ke dalam sepuluh negara dengan biaya hidup termurah di dunia ini memanjakan wisatawan seperti saya. Wisata kuliner beragam dengan harga terjangkau dan enak-enak.

Di Thailand, saya hanya menggunakan satu mata uang saja. Membawa bhat dalam nominal besar kemudian menukarkannya dengan pecahan kecil saat berbelanja. Ingat, pentingnya membawa receh dan uang kecil ke mana-mana. Semua lembaran uang kertas bhat bergambar wajah Raja Bhumibol Adulyadej yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap pimpinan Thailand yang telah wafat ini.

Cerita di atas tentang mata uang apa saja yang perlu disiapkan sebelum pergi wisata ke Indochina. Selanjutnya apa lagi yang perlu disiapkan terkait sangu agar cukup dan tidak kekurangan uang ? Berikut tiga tips penting :

Tentukan durasi kunjungan dan buat itinerary.

Dengan memiliki jadwal perjalanan yang jelas. Kita bisa memperkirakan berapa pengeluaran di masing-masing negara, berikut pembagian penukaran mata uang sesuai yang dibutuhkan. Saya membuat itinerary berdasarkan waktu kunjungan di satu negara, tempat wisata yang dikunjungi termasuk harga tiket masuk, biaya makan, transportasi, dan uang jaga-jaga.

Dengan cara seperti ini, kita bisa menentukan di Vietnam perlu berapa banyak dong yang harus disediakan. Riel dan dollar USD yang harus ditukar, dan menyedikan bhat ketika kunjungan ke Thailand.

Patuh pada budget dan tidak boros beli oleh-oleh.

Tidak perlu terlalu kaku membelanjakan uang, tapi patuh pada jadwal dan anggaran biaya yang sudah direncanakan sangat membantu agar tidak kekurangan uang selama melakukan perjalanan di tiga negara yang memiliki mata uang berbeda. Dengan membuat pos-pos pengeluaran, cara ini mempermudah kita membiayai akomodasi dan transportasi selama liburan.

Tenang saja, ketika menentukan sebagai pejalan ala backpacker ke Vietnam, Kamboja, dan Thailand wisata kuliner bisa tetap dijalankan karena harga makanan tergolong masih terjangkau. Asalkan tidak gengsi beli di pedagang kaki lima. Keuntungannya selain dapat harga murah, kita juga bisa merasakan makanan yang juga dibeli warga lokal kan?!

Saya termasuk pejalan yang tidak hobi menghabiskan waktu membeli terlalu banyak oleh-oleh atau belanja. Ketika sekarang belanja online sudah marak, membeli barang antar negara bisa dilakukan dengan mudah. Jadi, ngapain terlalu repot menenteng-nenteng tas kresek berisi hasil belanjaan untuk dibawa ke Indonesia.

Catat pengeluaran.

Repot ? Memang. Perlu sedikit ekstra tenaga untuk mencatat pengeluaran harian saat liburan. Pakai saja aplikasi yang bisa diunduh via playstore. Ini akan berguna untuk mengetahui berapa uang yang Anda keluarkan di masing-masing pos tiap harinya. Apakah masih on track atau kebabalasan dan jadi boros.

Tidak hanya untuk saat itu, ketika melakukan pencatatan dan merekapnya saat pulang. Kita jadi tahu berapa sih sebenarnya biaya jalan-jalan yang harus disiapkan selanjutnya.

Saya pun jadi tahu ketika pulang ke Indonesia dan melihat catatan keuangan traveling. Kamboja menjadi negara yang menguras biaya terbesar selama perjalanan 10 hari itu. Alasannya, karena hampir semua pembayaran menggunakan dollar USD dan tiket masuk ke tempat wisata yang lumayan mahal.

Gimana ? Semoga tips ini membantu untuk merencanakan keuangan traveling ya. Sudah siap untuk jalan-jalan ke tiga negara ?

Baca juga : Jajanan di Taman April 30 Park Ho Chi Minh City

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *