2 Malam Di The Share Phnom Penh Hostel

Turun dari tuk-tuk, saya langsung lari ke resepsionis lalu pinjam uang $3 untuk bayar. Dua resepsionis pria di The Share Phnom Penh Hostel baik hati banget. Ramah melayani dan mau minjemin uang dulu. Mau karena nada suara saya agak maksa dan bilang kalau sekalian saya kembalikan pas pelunasan hostel. šŸ˜€

Phnom Penh rasanya istimewa. Pas datang, sudah disambut hujan deras padahal masuk musim kemarau. Sebagian baju basah kena air hujan karena saya nggak bawa payung dan harus lari-lari dari bis ke tempat agen, sebelum diantarkan tuk-tuk ke hostel. Saking istimewanya banyak kejadian unik, lucu, dan tak terlupakan di kota ini. Nanti saya ceritakan babak demi babak di artikel lainnya yah.

Hostel ini strategis banget karena letaknya dekat dengan The Royal Palace dan beberapa tempat wisata lainnya.


Alamat The Share Phnom Penh Hostel
187 Preah Ang Yukanthor Street (19), Phnom Penh, Kamboja


Waktu saya cari hostel lewat website. Saya pilih The Share Phnom Penh karena letaknya di tengah dan bisa ke mana aja. Artinya saya bisa jalan kaki ke mana-mana, santai hang out pas malam hari, ke beberapa kafe terdekat yang tujuan utamanya menekan biaya transportasi.

share phnom penh

Alasan lain nginep di hostel ini karena tempat tidur di kamar dormnya pakai tirai pembatas. Secara keseluruhan fasilitasnya oke, harganya pantas, pelayannya ramah, dan kami berdua banyak dibantu staf hotel maupun pegawai restoran.

Penjaga resepsionis pun pakai seragam. Untuk ukuran hostel, semuanya tampak rapih dan apik. Lobby hostel memang sempit. Hanya lorong memanjang yang didesain artistik ala kafe, sekaligus digunakan sebagai restoran kecil yang juga jualan gelato. Tapi, pssst menurut saya gelatonya mahal. Karena satu cup hampir empat puluh ribu rupiah, dua cap hampir enam puluh, dan tiga cup hampir delapan puluh ribu rupiah.

Nggak banyak penghuni hostel ini yang saya lihat nongkrong di sana. Kecuali bule rambut pirang entah dari negara mana yang tampak matang dan saya yakin uang sakunya banyak. Itu pun mereka hanya minum kopi loh, bukan pesan makanan. šŸ˜›

share phnom penhNamanya hostel, apalagi hostel harga standar murah nggak ada yang sempurna. Setelah saya bayar tuk-tuk. Buru-burulah saya check in. Dari 10 hari perjalanan dan nginep di 5 hostel, entah kenapa perasaan saya paling nggak enak pas tiba di Phnom Penh. It’s sign.

Kaya sudah ada pertanda. Tiba-tiba resepsionis yang wajahnya hampir seperti orang India tapi hidungnya tidak terlalu mancung ngasih penawaran, “If you want to check in now, you will be put at different room.”

Hah…bola mata saya langsung membelalak dan udah mulai males. Alesannya karena tempat tidur di kamar yang sama belum siap, yang kosong hanya satu bed. Saya pun kekeuh mau tinggal di kamar yang sama. Lalu, resepsionis pun ngalah dan mempersilahkan saya untuk menunggu 15 menit, karena dia sendiri yang akan merapikan tempat tidurnya. Ok, soal tempat tidur sudah beres.

Kamar di hostel ini cukup luas dan sama sekali tidak sempit. Isinya cuma empat tempat tidut bertingkat yang muat untuk delapan orang. Ketika saya datang semuanya terisi. Kamar mandinya ada dua. Jadi kami nggak perlu rebutan untuk mandi. Saya nggak pernah tuh harus antri kalau mau mandi atau sekedar pipis. Masih ada satu meja kecil dan dua kursi dari rotan yang diletakkan di tengah. Persis di antara tempat tidur. Saya dan Rudy kebagian tidur di bed atas.

Meski ada di tempat tidur terpisah, kami masih bisa saling pandang memandang, ngobrol, ngegosip, karena kordennya pembatasnya bisa disingkirkan. Paling heboh, kalau lagi nyari barang yang saya titipkan di tasnya Rudy. Saya bisa langsung melangkah bebas di tempat tidurnya.

hostel di kamboja

Gaya The Share Phnom Penh kelihatan elegan karena tempat tidur bertingkat, korden, bahkan sebagian cat dinding punya warna senada. Begitu juga dengan loker minimalis berjeruji yang nggak terlalu besar dan hanya muat untuk nyimpen barang-barang penting atau alat mandi.

Ransel saya taruh di lantai, sedangkan tas lain untuk barang-barang penting saya letakkan di tempat tidur. Kamar dormitori kami juga asik lho karena punya balkon yang langsung menghadap ke jalan. Sambil nunggu hujan reda, kami berdua bisa santai nyemil dan melihat suasana sebagian kecil jalanan Phnom Penh.

Di lantai paling atas juga ada kafe kecil plusbartender yang buka setiap malam.Teman sekamar kami yang semuanya bukan orang Asia pun nggak rese dan cukup tahu diri. Ketika mereka ngobrol dan ketawa ngakak, mereka sadar kalau tamu lain sedang istirahat dan salah satunya ngasih peringatan agar tidak ketawa keras-keras.

Setelah hujan reda, saya dan Rudy cari makan malam di warung tenda yang ternyata nggak jualan nasi. Padahal seharian kami belum makan berat dan baru kali ini jalan-jalan saya benar-benar kelaparan, pengen melahap nasi.

Sehabis makan pun, kami batal jalan-jalan karena ternyata lingkungan sekitar hostel lebih banyak remang-remangnya daripada terangnya. Saya kira mati lampu, tapi ternyata tidak. Entah memang tidak banyak lampu jalan atau lagi gencar penghematan listrik. Gagallah kami berkeliling karena agak khawatir kalau tiba-tiba ada sesuatu yang tidak mengenakkan muncul dari kegelapan.Hiii serem!

share phnom penh hostel

Malam pertama di Phnom Penh, istirahat saja di hostel setelah sari pagi hingga sore duduk di dalam bis. Di hostel sekedar tidur-tiduran saja sampai setengah sepuluh dan lambat laun saya hampir ketiduran. Sayup-sayup teman bule yang satu kamar tadi juga baru pada balik dari ngelayap.

Suasana malam di sekitar tempat menginap seperti saya pas tinggal di desa. Sepi banget. Bahkan suara serangga atau tokek aja nggak ada. Sesekali suara motor lewat, padahal itu belum terlalu malam. Selepas itu, sunyi. Bisa jadi karena areanya berdekatan dengan rumah raja. Jadi semua harus terkontrol dan tenang.

Pas saya sudah mau bablas tidur. Tiba-tiba ada teriakan di jalan. Saya setengah nggak sadar bangun, tapi masih terkapar di tempat tidur karena masih ngantuk. Mau turun dan cari tahu apa yang terjadi males banget.

Saya sempat mendengar para bule teman sekamar lari ke balkon dan bicara lantang ke seseorang di jalan. Saya pikir ada pasangan mabok lalu berantem di jalan. Yang cewek teriak-teriak. Empat bule muda teman sekamar saya malah menawarkan bantuan dan langsung turun ke lobby. Ya udahlah ya, sudah ada yang bantu. Mata saya balik merem dan tidur nyenyak sampai pagi.

Keesokan harinya, Rudy cerita kalau yang njerit kemarin karena dijambret bukan ribut dengan pasangannya. Cerita lanjutannya saya kurang tahu. Tapi, saya kok jahat banget ya, malah ngelanjutin tidur.

Hari kedua biasa saja. Saya bangun nggak pagi-pagi amat dan bisa mandi leluasa. Pakai shower, air hangat, dan bisa mandi santai tanpa harus buru-buru. Penghuni lainnya masih tidur nyenyak sampai kami cabut dari kamar dan sarapan.

Tarif sewa di hostel ini tidak termasuk sarapan. Alhasil kami harus cari keluar hostel. Menurut pengalaman saya yang cuma tinggal dua hari, cari makan pagi di Phnom Penh tidak gampang. Susah nyari sarapan karena hampir semua kedai makanan tutup. Saya harus jalan setengah kilometer dulu dan masuk ke gang-gang demi nyari makan.

Setelah dapat satu penjual mie kuah. Kami masih kurang beruntung karena tempat makannya juga nggak nyaman buat ngiras alias makan di tempat. Mie nya pun dibungkus pakai plastik kresek bening. Kuah dan ampasnya dipisah. Duh…begini amat sih makan pas travelling.

Saya balik ke hostel cepat-cepat untuk sarapan sambil nunggu sopir tuk-tuk yang akan mengantarkan kami ke museum. Sekalian pinjam mangkuk bersih untuk menikmati sarapan yang rasanya ora ngalor ora ngidul (idiom Jawa yang artinya nggak ke utara, nggak ke selatan. Alias rasanya hambar). Saya agak sungkan juga dengan para staf yang sejak dua hari lalu beberapa kali saya mintai tolong. Apalagi tidak ada dapur umum yang bisa digunakan tamu. Akhirnya pinjam alat makan di restoran hostel dan mereka mempersilahkan saya memakainya. Malah nggak pakai cuci alat makan sendiri karena sudah ada staf bersih-bersih.

Malam kedua saya tidak bisa tidur. Efek kunjungan dari The Killing Field sepertinya bikin saya insomnia. Bayang-bayang lahan luas bekas kuburan masih saja nempel di kepala saya. Apalagi isi kamar hanya tiga orang. Saya, Rudy, dan seorang teman lain yang belum pulang. Sedangkan yang lainnya ternyata sudah check out pas pagi.

Dua malam di Phnom Penh danĀ pengalaman nginep di hostel ini nggak saya lupakan. Mulai dari yang nggak ngenakin sampai keramahan petugas hostel dan staf restoran yang bertugas.Ā Tiap keluar masuk hostel mereka pasti menyapa dan memberi salam. Pas kami mau check out pun. Dengan senang hati mereka menawarakan bantuan untuk membawakan tas. Uhhh baiknya.

the share phnom penh hostel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *