The Moon Cuisine in Siem Reap

Ini restoran pertama yang kami kunjungi untuk makan siang sekaligus ngungsi karena tidak kuat dengan panasnya Siem Reap. Dua kali saya berkunjung ke The Moon Cuisine. Yang pertama sejam setelah sampai Siem Reap. Dan di malam kedua, Saya dan Rudy pilih makan malam di sini, sambil cari yang anget-anget karena suami lagi sakit.

Yang tidak terbantahkan dari menu Kamboja yaitu jus buahnya. Baik penjual kaki lima maupun restoran punya berbagai racikan jus buah yang segar. Saya pesan jus mangga dan apel kiwi di The Moon Cuisine. Cita rasanya lebih lux daripada jus jalanan, karena memasukkan daun mint dan beberapa daun herbs. Yang terpenting kualitas buah yang digunakan, selalu segar dan kandungan air tambahannya lebih sedikit. Hasil minumannya juga kental.

Malah bisa nyobain spring roll, makanan khas Vietnam. Semacam sosis basah yang kulitnya terbuat dari rice paper, lapisan berbahan beras. Isinya bisa dilihat ada rice noodle, daun ketumbar, irisan tipis wortel, mentimun, dan sepotong kecil daging ayam tanpa bumbu. Cara makannya juga gampang, cukup dicelup dalam kuah yang rasanya agak masam dengan sedikit ebi yang ditumbuk. Enak ? Hahaha saya susah mendeskripsikan. Termangu sambil agak menyesal sudah pesan makanan ini.

makanan khas siem reap

spring roll

fresh spring roll

Tampilan cantik dan menarik bukan jaminan makanan enak. Eh bukan maksud saya tidak mengapresiasi spring roll. Makanan ini cocok untuk mereka yang hobi makan eat clean. Meski saya sudah akrab dengan makanan eat clean, minim atau tanpa bumbu. Tapi spring roll ini jauh sekali dari ekspektasi.

Rasanya begitu hambar dan paling eneg paduan karbo + karbo dari rice noodle dan rice paper. Lidah saya tidak bisa menerimanya. Kalau saya saja sudah tidak cocok, apalagi Rudy. Biar tidak mubazir, saya makan sayur-sayuran dan ayamnya saja.

Menjadi pelipur kekecewan, mango sticky rice-nya juara banget. Agak beda penampakannya dari mango sticky rice yang ada di Thailand. Penyajian makanan berbahan beras ketan ini warnanya hijau karena dimasak dengan daun pandan dan aromanya lebih harum. Saus santannya juga enak.

Untuk kunjungan dan pengalaman pertama makan spring roll yang tidak memuaskan. Saya jadi bertanya-tanya kualitas restoran ini. Soalnya, kami jadi pengunjung pertama. Bahkan dari awal sampai kami keluar restoran, tidak ada yang datang selain kami berdua.

Secara desain ruangan, tempat makan ini memang konserfatif layaknya restoran biasa. Ada beberapa sofa di bagian samping untuk pengunjung yang ingin makan sambil santai-santai. Di bagian luar juga ada beberapa meja untuk makan, tapi baru buka menjelang malam hari.

Saya malah tertarik dengan pajangan yang ada di pintu masuk. Satu meja jadi tempat beberapa baskom yang terbuat dari anyaman. Semuanya digunakan untuk menyimpan bahan makanan yang mayoritas dari biji-bijian. Mulai dari kacang hijau, kacang merah, kedelai putih, kedelai hitam, jagung, beras, dan bawang. Tapi ada satu bahan makanan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Warnanya putih, berbentuk bulir seperti telur. Saya pikir bahan ini seperti bubur mutiara jika nanti dimasak. Lalu saya tanya pada waitress dan ia memberi tahu kalau bahan tadi adalah congee.

Barulah di malam kedua saya berhasil makan bubur congee. Refrensi makanan Cina meluas ke berbagai negeri, termasuk Kamboja.  Sajian sederhana, dengan potongan ayam, udang, dan irisan seledri. Tambahan pelengkapnya pun hanya tauge mentah dan irisan jeruk nipis.

Bubur conge rasanya begitu ringan. Tidak jauh berbeda dari mayoritas masakan Indochina yang dibilang hampir hambar, jika dibandingkan dengan masakan Indonesia. Yang membuat harum dan sedap yaitu kuah kaldunya. Ketika terendam kaldu, conge jadi mengembang dan hampir mirip seperti bubur lemu di Jawa, tapi teksturnya lebih padat dan tidak terlalu encer.  Istilah bobor rice porridge akrab disebut beberapa wisatawan asing yang ada di Kamboja.

Bubur ini terbuat dari beras dan beberapa rempah termasuk jahe. Di Indonesia kebanyakan bubur yang pernah saya coba dibuat dan lauk pelengkapnya juga dibumbui santan. Di Kamboja rempah pada congee lebih terasa selain kaldu dari daging yang digunakan.

Nah, yang perlu diperhatikan ketika akan makan congee yaitu lauk serta bahan olahan berasnya. Ada beberapa pilihan yaitu ayam dan ikan. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka menggunakan daging babi sebagai campuran pembuat bobor rice porridge ini.

Congee biasa dimakan saat sarapan atau ketika sore oleh orang lokal Kamboja, terutama para pekerja. Bubur khas Kamboja yang saya makan ini tidak menyertakan lauk pelengkap. Namun, beberapa referensi malah mengatakan kalau congee juga bisa dimakan dengan cabai dan tambahan kuah pedas.

Berhubung lagi sakit, Rudy lebih pilih pesan sepoci teh panas dan bihun seafood ala Kamboja. Nama aslinya Kuyteav. Sup berbahan dasar bihun dengan wortel dan lobak. Kuytev identik menggunakan udang yang sumbernya dari Sungai Mekong.

Untuk makanan penutup, kami pesan yang standar yakni buah potong. Di Indonesia, jarang-jarang pisang dijadikan makanan pencuci mulut untuk di restoran. Dan baru di Kamboja saya lihat, buah pisang disajikan dalam bentuk buah potong. Sudah makan kenyang, eh dapat buah pisang yang mengenyangkan.

Pertanyaan saya pun terjawab pas kunjungan kedua, karena restoran ini baru ramai ketika malam hari dan jadi tempat makan malam banyak wisatawan Asia Timur maupun bule yang lebih suka makan malam di tempat yang tenang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *