Tetap Kenyang Tanpa Takut Diabetes

Tahun lalu ketika saya mudik menggunakan travel ke kota Solo, kebetulan bisa bertemu dengan pemudik lain asal Jogja. Rute darat yang begitu melelahkan karena perjalanan lebih dari 10 jam. Seharusnya kami lebih dulu melewati Yogyakarta baru tujuan akhir ke Solo. Mendadak rute berubah dan kami lewat jalur utara.

Tapi perjalanan ini begitu berkesan untuk saya, karena bertemu seorang bapak yang bekerja di BUMN area Kalimantan Barat. Sekeluarga diboyong ke Jogja untuk mudik sekalian mengantar bapak tadi untuk berobat.

Saya pikir semuanya normal, sampai ketika kami ngobrol, ternyata bapak tadi hampir buta karena diabetes. Ngeri sekali kan ? Karena kebetulan tinggal di Pontianak, si bapak bolak balik Indonesia ke Kuching, Jakarta, dan Surabaya untuk berobat. Kali ini menjelang operasi mata di Jakarta, tapi menyempatkan untuk mudik sejenak ke kampung halaman.

Ngerinya Diabetes

Saya seperti diingatkan saat bertemu seseorang yang sudah menderita sakit parah dan hampir kehilangan 100% penglihatannya. Semua gara-gara yang manis-manis. Jadi benar yang manis tak selalu baik.

Cerita singkatnya karena si bapak tidak mengontrol makanan dan hobi sekali makan manis termasuk banyak makan nasi putih yang kadar gulanya lebih tinggi daripada sumber karbohidrat lain. Bahkan ia sudah mahfum dengan suntik menyuntik untuk memasukkan cairan insulin ke tubuh agar kadar gula darah seimbang.

Saya langsung balik lagi mengingat-ingat apa saja ya yang saya makan. Apa yang sudah masuk ke badan ? Banyak makan coklat maniskah? Sambil ngobrol, saya jadi kembali lagi berfikir pentingnya hidup sehat sejak muda.

Makanan punya pengaruh penting dalam kesehatan tubuh. Berat badan dipengaruhi 70% dari makanan dan 30% dari olahraga. Jadi, meski olahraga sudah teratur bahkan mengarah ke berat, jangan terlalu percaya diri dan beranggapan bisa makan apa saja.

Pilih-pilih makanan tentu saja sangat penting. Kan kita sendiri yang tahu badan kita. Ketika sakit, kita yang merasakan. Suatu ketika saya pernah disindir halus hanya karena berusaha menghindari gula di minuman yang saya pesan.

“Minumnya apa mbak ?” kata penjual di rumah makan Padang.

Jawab saya cepat, “Es teh nggak pakai gula.”

Tiba-tiba salah seorang yang ada di situ nyeletuk, “Gaya amat nggak pakai gula.”

Tapi saya tidak ambil pusing. Kan sakit kita yang nanggung sendiri. Coba kalau melihat apa yang dialami bapak tadi. Hanya karena yang manis, dia hampir tak melihat lagi indahnya dunia dan keluarga tercinta.

***

Ketika suami saya pulang dan membawakan satu pack beras hitam. Ini jadi kode kuat kalau saya harus semakin menjaga kesehatan. Baru kali ini saya mencoba beras hitam, jika sebelumnya makan dengan beras merah.

Beras hitam yang dibawakan pun organik dan berasal dari petani di daerah Sragen, Jawa Tengah. Kemasannya juga tidak tanggung-tanggung, karena di vacum agar udaranya hilang. Bukan tanpa tujuan lho, karena untuk menghindari lembab dan kualitas beras hitam tetap terjaga.

Pertama kali masak beras hitam pun tidak langsung berhasil. Sempat kurang air dan hasilnya agak keras, Nasi hitam versi pertama lebih cocok untuk dibuat nasi goreng. Percobaan kedua saya pakai ukuran air 2,5 kali lipat dari sebelumnya dan sukses. Saat dimasak dengan rice cooker pun mengeluarkan aroma yang wangi, hampir mirip ketan hitam. Setelah masak beras hitam warnanya akan hitam keungu-unguan.

Saat dicoba rasanya juga enak, meski memang jauh dari rasa manis. Tapi kan memang tujuannya sehat dan ingin mengurangi gula.

Beras hitam

Beras hitam merupakan varietas padi javanica yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dari beras putih maupun beras merah. Indeks glikemik adalah satuan untuk menyatakan kecepatan suatu bahan makanan yang mempengaruhi kadar gula dalam darah. Makin tinggi indeks glikemiknya, makanan itu tidak baik untuk tubuh karena tinggi gula.

Makanan yang mengandung gula diolah salah satu organ tubuh dengan insulin yang fungsinya mengolah gula darah menjadi zat yang mudah diserap tubuh. Jika gula darah tinggi maka fungsi insulin untuk mengelola dan menstabilkannya. Tapi bagaimana jika terlalu banyak gula di dalam tubuh kita. Bisa jadi kerja pankreas sebagai penghasil insulin semakin keras dan rusak. Insulin tidak bisa diproduksi secara normal.

Kadar gula darah seseorang yang normal 70-110 milimeters. Lebih dari itu maka akan terkena diabetes.

Nasi putih salah satu faktor kenapa seseorang menderita diabetes. Sudah makanannya manis, untuk minum pun masih manis. Mengganti konsumsi nasi putih ke nasi hitam merupakan salah satu cara menghindari diabetes.

Gizi dan Nutrisi Dalam Beras Hitam

Beras hitam disarankan untuk dikonsumsi orang-orang penderita diabetes, ketika mereka benar-benar tidak bisa menghindari karbo. Tapi untuk saya yang kesehatannya masih oke. Tetap saja perlu memakannya karena kandungan kalori yang rendah dan serat tinggi.

Sama seperti perempuan lain yang tidak mau gendut. Saya berusaha beralih makan nasi hitam karena kandungan 351 kcal per 100 gram. Manfaat paling jelas ketika makan nasi hitam yaitu rasa kenyang yang bertahan lama meski makan dalam porsi sedikit. Kandungan nutrisi beras hitam juga dijabarkan denganantosianin 393,9 ppm, pati 75,5%, amilosa 22,9%, amilopektin 51,5%, dan betakaroten 804 mg/100rg.

Jadi sudah jelas dengan apa yang dimiliki beras hitam. Konsumsi karbohidrat saya lewat nasi hitam bisa menghindarkan dari diabetes dan tentu saja mampu membantu menjaga berat badan tanpa harus lapar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *