Telusur Jalanan George Town Dan Kisahnya Lewat Street Art #1

Melalui seni, jejak masa lalu George Town diperkenalkan kembali lewat mural dan patung batang baja. Menggiring pendatang untuk hanyut mengikuti cerita di setiap sudut kota.

Pagi saya berlalu tanpa kesan indah. Bangun dengan badan rontok seperti habis kerja bagai kuli. Langkah kaki pun terasa berat, ketika setiap pijakan menghasilkan dentuman ringan karena menginjak lantai kayu yang usianya puluhan tahun lebih tua dari saya. Tapi, saya harus segera bergegas mandi. Menyambut hari kedua di Penang dan mulai menjelajahi jalanan, berburu karya seni yang menghidupkan kembali kota bersejarah ini.

hotel murah di penang
Penginapan di kawasan Love Lane. /CN
Tembok di beberapa rumah yang sengaja dibiarkan menjamur untuk memunculkan kesan kuno. /RH
Jalan di depan Red Inn Guest House, Love Lane, George Town, Penang. /CN

Pilihan tepat menginap di kawasan Love Lane, mendekatkan saya untuk mengenali sejarah Penang, khususnya George Town. Terletak di pusat kota, kawasan ini diperuntukkan bagi pelancong yang mayoritas penghuninya traveller internasional. Kebanyakan kategori backpacker yang menginap dengan budget sangat diperhitungkan (isi kantong sedang hingga kelas cekak). Hotel budget bertebaran di kawasan ini, yang memanfaatkan bangunan tua untuk tempat tinggal sementara wisatawan.

Di sepanjang jalan merupakan rumah-rumah lama bernuansa pecinan yang usianya sudah uzur. Tapi di sanalah keindahannya. Mayoritas bangunan jika dilihat dari luar tampak serupa. Bertembok tebal, dua lantai, dengan posisi jendela dan pintu yang sama. Tampak depan terlihat mungil, tapi jika masuk ke dalam, ruangannya begitu luas karena bentuknya memanjang ke dalam.  Cat tembok luarnya mengelupas dan berjamur. Daun jendela di setiap rumah tampak tak sempurna.

Baca juga : Mengapa Pilih Menginap di Hostel ?

Sama halnya dengan penginapan yang saya tinggali. Di luar terlihat sangat sederhana dengan teras mini yang saat hujan besar datang. Sudah bisa dipastikan kalau berdiri di sana, akan tetap basah terkena air. Bagian dalamnya masih mempertahankan keotentikan bangunan lama pecinan. Mungkin itulah yang dinamakan heritage.

Tapi ada juga, rumah lama yang terlihat lebih berkelas. Jaraknya seratus meter dari tempat saya tinggal. Dengan pintu gerbang kayu dan detil ukiran serta patung dewa dewi yang saya tak terlalu paham maknanya. Ketika pintu gerbang di buka ada pekarangan kecil, sebelum memasuki pintu rumah. Saat saya lihat dari luar, bagian dalam bangunannya pun juga hampir serupa dengan penginapan yang saya tinggali. Masih menggunakan tangga kayu dan berlantai kayu.

Ketika Tembok Bercerita

Seni yang menempel pada tembok menjadi cara terbaik bagi George Town mendefinisikan Penang sebagai kota bersejarah yang multikultural dengan kekayaan kuliner, budaya, dan arsitektur bangunan nan unik.

Dari Love Lone pula, perburuan street art saya mulai….

Di tikungan jalan yang tak jauh dari penginapan, karya seni mudah dijumpai baik berupa mural yang mempercantik tembok lawas. Sekaligus sejarah yang diperkenalkan lewat patung batang baja. Bahan yang digunakan berupa baja berbentuk pipih yang dibentuk sedemikian rupa.

Di pilar-pilar itu street art dipasang untuk menceritakan kisah kaki lima. /RH
Amah Cina, young jogger & kuli./RH
Amah Cina. /CN

Narrowest Five Foot Way

Lima patung yang berdiri sendiri menghiasi tembok. Mengisi ruang kosong sekaligus memperindah lorong kusam yang digunakan pejalan kaki. Jalan setapak yang sempit dan tak panjang ini menempel pada townhouse dan bangunan yang didirikan di pertengahan abad 19 hingga akhir abad 20.

Dari kiri ke kanan tukang cuci India dengan keranjang, amah Cina atau pembantu rumah tangga, pelari muda, seorang buruh/kuli, dan petani berkebangsaan Inggris. Patung patung tadi dibuat kartunis bernama Julian Lefty Kam untuk mengkaitkan Stamford Raffles dengan Batavia.

Jalan kaki lima lekat sekali dengan penemu Singapura ini. Raffles yang sempat bertugas di Batavia tahun 1811-1815 mengamati pembangunan salah satunya trotoar yang berukuran tinggi satu kaki dan lebar lima kaki.

Konsep ini dibawa Raffles dalam town-plannya tahun 1822 yang lebih dikenal dengan The Jackson Plan. Saat menetapkan bangunan koloni yang baru didirikan, kaki lima wajib dimasukkan sebagai fitur bangunan dan arsitektur yang dibuat seragam. Kaki lima harus dibuat dari batu bata dan dilapisi ubin untuk mengurangi resiko kebakaran.

Cara amati tiru modifikasi ini ternyata merembet ke semua wilayah yang menjadi koloni Inggris, terutama di wilayah Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Istilah kaki lima sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Tapi buktinya sampai saat ini seperti yang terjadi di Indonesia. Area kaki lima juga digunakan sebagai tempat pedagang asongan untuk berjualan. Maka munculah istilah  pedagang kaki lima. Kemudian merembet menjadi tempat penyimpanan, bahkan ruang hidup bagi orang tertentu (gelandangan).

Singapura di bawah kepemimpinan Raffles, dalam membangun kotanya tidak meninggalkan ciri khas kaki lima. Tapi ternyata fungsi kaki lima yang bergeser itu menimbulkan gejolak di Singapura. Tahun 1880-an terjadi Verandah Riots atau Kerusuhan Teras, di mana misi untuk mengembalikan fungsi kaki lima sebagaimana mestinya mendapat tentangan.

Tidak sia-sia ternyata saya jalan-jalan sampai ke Penang. Bahkan untuk hal kecil dan sejarah kaki lima pun diangkat dalam sebuah karya seni.

love lane penang
Saya di depan street art Budget Hotel. /RH
wisata penang murah
Area restoran dan coffe shop saat pagi hari. /CN

Di ujung gang, steel road sculptures dengan tema Budget Hotels menghiasi tembok seven eleven. Love Lane memang populer menjadi tempat tinggal para backpackers. Huniannya rata-rata berkonsep  guest house yang memanfaatkan bangunan tua. Jika pagi hari, suasana di Love Lone begitu sepi. Mirip dengan pemukiman kampung biasa. Barulah sore hari, restoran, coffee shop, serta tempat nongkrong buka dan menggunakan sebagian jalan untuk aktivitas dagang.

Mereka menyulap interior bangunan lama menjadi tempat makan modern dengan tema-tema tertentu untuk menarik pengunjung. Sedangkan bentuk asli bangunan tetap dipertahankan. Buktinya di Holy Guacamole yang menjual makanan Mexico. Lantai duanya masih tetap menggunakan lantai kayu, sedangkan dekorasi dan desain bagian dalamnya dirubah total. Sama sekali tidak ada unsur bangunan pecinan melainkan bernuansa biru dan ungu. Ditambah aksen oranye, kuning, dan putih.

Tentang Love Lane, Juragan, dan Perselingkuhan

Mengapa di beri nama Love Lane ? Konon bangunan-bangunan di kawasan ini dulunya merupakan tempat bordil. Pada masa itu pelaut dan serdadu dari Eropa sering berhubungan kurang senonoh dengan perempuan lokal di kebun bambu. Lama kelamaan banyak rumah plesiran dibangun di kawasan ini. Love Lane dalam terjemahannya jalur cinta, memang menawarkan cinta sesaat dan kesenangan. Tentu saja di sana tinggal wanita-wanita simpanan para juragan Cina zaman dulu.

street art Penang
Cheating Husband Street Art letaknya persis di depan Budget Hotel street art. /RH

Sebutan lain untuk Love Lane pun muncul seperti Eurasian Lane, karena di sana menjadi pusat orang-orang Eurasia. Ada lagi dalam bahasa Penang Hokkien menyebutnya Serani Hang. Meski masih diperdebatkan, Love Lane sudah terkenal sejak tahun 1897 dalam sejarah Penang. Bahkan cerita uniknya ini diabadikan lewat Cheating Husband street art.

Lelaki kaya gendut dengan mimik ketakutan sedang melarikan diri lewat jendela. Ketika sang istri mencari dan memergoki ulah nakal suaminya. Perhatikan, patung baja yang dibuat benar-benar menggambarkan situasi kala itu. Di mana tokoh utama, berada di bawah jendela lalu ngumpet  biar tidak ketahuan.

street art penang 2
Temple Day street art di Lorong Muda. /CN

Temple Day Street Art letaknya hanya 200 meter dari pintu utama penginapan kedua yang saya tinggali di Penang. Tak jauh dari situ ada Kuil Kuan Yin/Goddes of Mercy Temple yang setiap harinya ada aktivitas keagamaan dan kegiatan sosial. Dari jendela kamar saya, terlihat jelas atap bangunan kuil dengan detil berwarna merah hijau.

Temple Day Street Art menggambarkan aktivitas yang biasanya dilakukan di kuil serta kesibukan warga sekitar seperti lapak penjual bunga, lilin, dan perlengkapan sembahyang. Di samping seni jalanan ini, ada rumah tua yang dihuni seorang kakek. Setiap hari ia masih memproduksi dupa buatan sendiri. Sehabis pulang jalan-jalan, saya mendapati si kakek sedang menjemur dupa buatannya di pinggir jalan, tepat bersebelahan dengan hotel.

street art Penang
Ting ting Thong di Lorong Seck Chuan. /RH

Street art di Penang juga dibuat untuk mengingatkan kembali hal-hal yang populer di masa itu. Batang baja yang dibentuk sedemikian rupa dilengkapi keterangan singkat. Misalnya tentang Ting Ting Thong yang letaknya ada di Lorong Seck Cuan. Patung batang baja ini menceritakan tentang seorang pedagang asongan yang pergi berkeliling menjajakan permen yang sangat keras. Saat menyajikan untuk anak-anak, permen tadi perlu dipukul-pukul hingga pecah dan menimbulkan suara ting ting thong. Ting ting thong merupakan sebuah onomatopoeia, sesuatu yang merangsang indera pendengaran untuk memberi gambaran obyek yang direpresentasikan. Jika di Indonesia, kita juga mengenal es dung dung. Penjual yang berkeliling kampung menjajakan es dan membunyikan alat musik untuk menunjukan identitas dirinya lewat suara.

Penang street art
Double Role street art di Gat Lebuh Chulia. /RH
Kantor pemadam kebakaran di George Town penang. /CN

Di Chulia Street, patung polisi India dengan seragam dan senjata menempel di tembok Kafe Black Kettle. Lalu apa hubungannya jalan Chulia dengan polisi tadi ? Dahulu hingga tahun 1909, polisi di Penang punya tugas ganda yaitu sebagai polisi dan petugas pemadam kebakaran. Tepat di seberang patung tadi. Sebuah kantor pemadam kebakaran berdiri yang masih memanfaatkan bangunan kuno bercat putih dan merah.

Para seniman benar-benar detil menggambarkan kondisi saat itu lewat Double Role street art. Polisi menoleh ke kanan dan kiri, dengan senapan di sebelah kanan serta selang pemadam di sebelah kiri. Menurut saya, kenapa peletakkan patung malah menempel di sebuah kafe? Karena tepat di samping kantor pemadam kebakaran tidak ada trotoar pejalan kaki. Ditambah lagi, detil bangunan yang unik sangat sayang jika dipasang patung.

Street art di George Town dibuat mulai tahun 2010, hampir sepuluh tahun usianya saat saya datang. Ada 52 karya yang tersebar di pusat kota George Town hasil kerja seniman Tang Mun Kian, Baba Chuah, Reggie Lee, dan Lefty.

(Bersambung)

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *