Sragen, Soto, Dan Cara Menikmatinya Dengan Sebuah Perkedel

53660860-10213930464515317-7794545062968295424-o
Setiap daerah punya budaya sarapan masing-masing. Jakarta identik dengan nasi uduk, kalau di Solo ada nasi liwet. Ketika saya pindah ke Sragen (untuk sementara), saya pun menjalani kebiasaan sarapan yang unik. Makan soto hampir tiap hari.

Dalam mangkuk kecil, nasi putih yang tak lebih dari satu centong. Ditambah suwiran daging sapi, sedikit kecambah, taburan seledri dan bawang goreng. Lalu disiram kuah berbumbu yang panas. Nikmatnya…segar dan menghangatkan perut. Ditambah lagi segelas the tawar panas yang bisa membuat badan tiba-tiba gembrobyos alias berkeringat.

Soto di Indonesia tidak punya satu pakem khusus, tapi yang jelas pasti berkuah. Kuah inilah yang menjadi ciri khas selain dari isiannya yang dimodifikasi berbeda-beda. Kalau saya pribadi menyukai soto berkuah bening. Setelah makan jadi tidak berat dan dengan porsi yang pas, sebuah soto mampu memberikan kenikmatan untuk mengawali aktivitas di pagi hari.

Beda lagi ketika di Jakarta, saya tak terlalu tertarik dengan soto betawi dengan kuah santan dan gumpalan minyak yang mengambang. Rasanya di lidah menjadi lengket. Apalagi dulu, kesan pertama mencoba soto betawi saat makan siang di pinggir jalan. Soto dengan kuah panas yang kental bersantan, cuaca yang panas, wew… kebayangkan rasanya gimana.

Jadilah saya jarang-jarang makan soto betawi karena pengalaman pertama yang kurang berkesan.

Di Setiap Sudut Ada Warung Soto

Saat tinggal di Sragen. Saya lumayan takjub dengan kompetisi warung soto yang ada di daerah ini. Hampir setiap sudut terdapat warung soto yang kebanyakan menjual soto daging sapi. Uniknya lagi, meski saling berkompetisi, masing-masing soto memiliki pelanggan setianya sendiri. Sudah pasti, meski punya jam buka warung yang bersamaan, tempat usaha mereka sama-sama ramai.

Jangan salah, warung soto yang satu dengan yang lain jaraknya bisa kurang dari satu kilometer.

Setelah mencoba lima dari sekian banyak warung soto yang ada di Kota Sragen. Saya menyadari bahwa meski komposisi bahan makanannya hampir sama. Tiap sajiannya menonjolkan keunikannya masing-masing. Ada yang satu mangkok kecil dengan suwiran sapi super lembut, tetapi bumbu kuahnya begitu mantap dan harganya Rp 3.500 (Saat pertama beli harganya masih Rp 3.000 per mangkuk). Nama warung ini Soto Cimplis. Ada empat cabang di kota Sragen. Ini yang paling cocok untuk lidah saya. Kuahnya light, meski menggunakan kaldu daging sapi. Ibarat kata, daging yang ada di dalam mangkuknya hanya hiasan semata. Harganya saja murah meriah, tentu saja tak bisa berharap mendapatkan daging sapi tebal.

Satu mangkuk sudah cukup untuk saya. Dan ritual yang saya lakukan kurang lebih sama setiap kali makan di Soto Cimplis. Dengan perasan dua potong jeruk nipis, tahu bacem/perkedel kentang nan lembut yang saya sobek-sobek dengan tangan hingga menjadi beberapa bagian. Mangkuknya menjadi penuh, sehingga saya perlu menyeruput kuahnya perlahan, agar tidak luber ke mana-mana. Kemudian, mulailah dengan sendok bebek stainless, adukan perlahan untuk mencampur lauk menjadi satu dengan soto tersebut. Saya berusaha agar kuah soto meresap ke dalam gorengan. Barulah suapan demi suapan nasi masuk ke dalam mulut, yang diselingi dengan tambahan lauk lain seperti kerupuk atau tempe goreng.

Perkedel Kentang, Teman Baik Saat Makan Soto

Mungkin perkedel kentang hanya berteman baik dengan soto berkuah bening. Tekstur kentang yang pekat, akan bercampur dan membuat kuah menjadi lebih kental. Makanya, kalau soto berkuah santan rasanya kurang pas.

Cara ini berkali-kali saya nikmati selama di Sragen. Perkedel kentang yang dibuat pun harus pulen. Dikukus sampai empuk, ditumbuk sampai halus, diberi bumbu lalu dikepal berukuran kecil kemudian digoreng. Menggorengnya dengan dilapisi telur ? Oh tidak… versi yang ini pun kurang cocok. Telur yang melapisi perkedel kentang memberikan rasa berbeda. Yap, saya tidak terlalu suka. Jadi, saya tidak merekomendasikan makan soto dengan perkedel kentang berlapis telur. 😛

Baca juga : Amok Dari Kamboja.

Soto Seribu, Tak Banyak Yang Bisa Diharapkan Selain Kenyang

Buat kalian yang membaca artikel ini. Mungkin terheran-heran jika di tahun 2019 masih ada makanan berat dengan harga Rp 1.000. Di Sragen, saya menemukan semangkuk kecil soto setara dengan ongkos parkir. Tidak banyak yang diharapkan dari satu mangkuk itu, selain kuah yang rasa kaldunya tidak terlalu kuat, dan hampir tidak berdaging. Isinya hanya nasi, tauge, taburan seledri. Kalau hanya mencari makanan berkuah yang segar tanpa banyak ekspektasi, soto ini masih masuk di kelasnya.

Tak hanya satu warung saja. Setelah berkendara ke beberapa daerah di Sragen yang dekat dengan kotanya. Saya mendapati ada banyak warung yang berani menjual soto sewu.

Sejarah Soto di Indonesia

Soto yang sudah sangat kita kenal ini konon berasal dari negeri Tiongkok. Lagi-lagi makanan peranakan yang telah mengalami silang budaya dengan kondisi daerah setempat. Menurut Denys Lombard, seorang pakar ketimuran dari Perancis, dalam penyidikannya tentang Asia Timur & Asia Tenggara. Ia membuat tulisan dalam Nusa Jawa, bahwa di Cina ada makanan bernama Caudo. Makanan ini saat di Nusantara pertama kali populer di Semarang. Lambat laun caudo ini berubah nama menjadi soto. Nama soto pun berkembang bermacam-macam. Di Makassar namanya menjadi coto, di Pekalongan namanya menjadi Tauto.

Kalau di tempat asalmu apakah soto punya nama yang berbeda ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *