Wajah Baru Spiegel di Semarang

Menghabiskan liburan akhir pekan di Semarang bukan lagi hal yang membosankan. Kota lama Semarang hidup kembali. Saya menyebutnya demikian setelah empat tahun tidak berkunjung ke sana. Waktu dulu yang saya ingat ketika panas-panas naik bis jurusan Solo-Semarang. Berhenti di terminal dan masih lanjut naik angkot mengunjungi Lawang Sewu, lalu ke Semarang Gallery dan berakhir makan soto di warung kecil yang lapaknya nempel di Gedung Marba.

Spiegel hanya bangunan kuno yang rapuh, tak terurus, cat temboknya terkelupas. Lebih buruk dari Gedung Marba, bahkan nama bangunannya pun hampir tak terlihat. Ditambah lubang-lubang besar jendela dan pintu yang hanya ditutup dengan seng atau papan kayu usang, memperburuk kondisi gedung tua ini. Mengenaskan!

Tapi itu dulu. Spiegel ternyata sudah dipermak dan dipulas dengan cantik. Barang lama dengan wajah baru yang segar. Tembok luar dicat putih dengan nama Spiegel yang mencolok di tengah bangunan. Lubang jendela berlapis kaca, ditambah stiker dengan tulisan bistro & bar. Sehingga orang dari luar bisa melihat dekorasi bagian dalam. Renovasi bangunan tua di sudut Kota Lama Semarang ini tidak mengubah bentuk bangunan khas Eropa yang klasik, meski secara fungsi berubah total.

Zaman Hindia Belanda, bangunan ini milik lelaki bernama Addler. Toko yang sudah ada sejak 1895, menjual keperluan rumah tangga dan peralatan kantor. Pemiliknya kemudian mengangkat H.Spiegel sebagai menejer toko. Lima tahun setelah itu, kepemilikan berpindah pada H.Spiegel dan sejak 1908 menjadi perseroan terbatas. Perjalanan panjang dilalui Spiegel hingga sempat mangkrak dan teronggok sampai tahun 2014. Barulah pada 8 Juni 2015 Spiegel Resto & Bar berdiri dan menyemarakkan kota lama Semarang.

Dekorasi bagian dalam Spiegel Bistro & Bar memang mengesankan. Lampunya dibuat temaram yang memunculkan kesan romantis. Saya disambut pelayan di depan pintu sambil mengarahkan tempat yang nyaman untuk duduk. Saya pilih di pojokan dekat jendela kaca yang memperlihatkan jalan raya. Tanaman kaktus mini ditata berderet-deret dekat jendela. Meja-meja kecil dengan dua kursi berhadapan berjajar di bagian tembok. Sedangkan untuk pengunjung tiga atau empat orang bisa duduk di meja yang lebih luas. Datang bersama keluarga lebih nyaman duduk di bagian pinggir dengan kursi sofa yang lebih empuk dan nyaman. Atau di kursi bar sambil melihat atraksi bartender menyediakan minuman.

Saya jadi menerka-nerka bagaimana keadaan toko Spiegel ini zaman Hindia Belanda? Bar ini tidak menghilangkan sisi kolonial Spiegel yang kental. Arsitek Belanda memang paham sekali tinggal di Indonesia, apalagi Semarang yang letaknya dekat dengan laut. Iklimnya cenderung panas dan kering. Saat itu belum ada pendingin udara. Solusi dan menjadi ciri khas bangunan peninggalan Belanda di daerah jajahan seperti Indonesia dibuat tinggi dengan jendela dan pintu besar sebagai ventilasi udara. Dinding batu sengaja diperlihatkan dengan cat merah maron yang memperlihatkan aktivitas dapur. Sedangkan satu pintu mengarah ke tangga kayu yang menghubungkan lantai 1 dan galeri lukisan yang ada di lantai 2. Satu lorong menuju toilet yang ah, saya enggan karena sepi dan nampak horor. Tangga yang digunakan sepertinya masih menggunakan rangka yang sama. Meski sepertinya lantai kayunya sudah diganti. Berulir mengarah ke atas dan terdapat jendela kaca kecil. Tata lampunya tetap dibuat temaram cenderung menguning.

Lantai dua berlapis kayu dengan satu lubang besar di bagian tengah. Saya bisa melihat aktivitas bartender dan sebagian bar dari atas. Pilar baja yang menjulang, memiliki fungsi sebagai penopang bangunan sekaligus mempercantik dekorasi. Lantai dua ini menjadi ruang pamer lukisan yang dipajang di sepanjang tembok bangunan. Ada beberapa ruangan tertutup yang masih nganggur dan belum digunakan. Lukisan-lukisan yang dipajang akan diganti perbulan. Spiegel jadi terasa unik karena tidak hanya menjadi tempat makan dan tongkrongan tetapi juga menyuguhkan karya seni yang menjadi daya tarik tersendiri.

Terdapat balkon kecil di beberapa sudut sehingga saya bisa melihat suasana gereja Blenduk dan Taman SriGunting dari atas. Balkonnya sangat sempit, sehingga saya juga tidak bebas bergerak atau berlama-lama di sana. Di bagian atas ini, jendela kayu model kuno masih dipertahankan. Saya merasa unsur bangunan lamanya lebih terasa. Meski ketika jalan-jalan di atas bunyi tok tok tok muncul. Lantai kayu yang digunakan memang kokoh.

Soal makanan, harganya cukup bersahabat. Tidak terlalu mahal dan masih wajar untuk ukuran bistro & bar.

 

Spiegel Bar & Bistro

Alamat : Jalan Letnan Jenderal Suprapto No. 34,
Kota Lama, Semarang Utara, Tanjung Mas,
Kota Semarang, Jawa Tengah 50174
Telepon:(024) 3580049
Jam buka : 10.00 – 01.00 WIB

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *