Makan Di Warung Pojok : Versi Lain Soto Ala Kota Solo

Kali ini saya akan cerita tentang pengalaman makan soto yang sudah kesekian puluh kalinya. Namun, setiap soto pasti punya versi dan kisah berlainan.

Saya makan soto lebih sering saat pagi hari. Biasanya untuk sarapan.

Jika soto di Sragen, sudah punya takaran khusus untuk siapa pun yang membelinya. Saat di Solo, Anda harus request dulu, mau porsi yang kecil atau besar.

Saya baru mengetahuinya setelah beberapa kali makan di Warung Pojok. Letaknya memang berada di pojokan jalan. Tapi lokasinya begitu strategis karena berada di pertigaan jalan, yang dekat dengan jalan raya besar.

Warung pojok berwarna kuning. Mereknya tersemat di banner MMT yang terpasang melintang di bagian bawah warungnya.

Buka sejak pagi, menjelang siang pukul 12, sering kali sudah tutup.

Tempat dagang ini menempel pada sebuah bangunan. Jadi, (misalnya) bangunan temboknya dirobohkan. Warung itu kehilangan satu bagian penutupnya.

Warungnya sempit.

Sebagian digunakan sebagai dapur dan tempat cuci piring, sebagian lagi untuk tempat pelanggan makan. Mejanya menempel pada tembok atau seng yang menjadi bahan utama warung itu. Lalu kami duduk di bangku panjang tanpa senderan.

Pas ramai, sering kali harus dempet-dempetan dengan pembeli lain.

Tetapi, di luar warung mereka juga menggunakan tempat untuk makan.

Meminjam teras kecil sebuah rumah yang ada di seberang warungnya. Lesehan tanpa meja dan langsung bisa melihat ke arah jalan raya.

Hmm… posisi makan satu ini sih bukan saya banget. Karena saya lebih nyaman ketika jarak suapan dari mangkuk ke mulut berdekatan.

Sedangkan kalau lesehan tanpa meja seperti ini, mana bisa saya angkat mangkuk sotonya. Kan panas….

soto-solo
Soto daging sapi dengan taburan keripik kentang.

Soto bening Warung Pojok

Pertama saya mau review dulu mengenai rasa. Kalau dibandingkan dengan soto-soto lain yang sudah punya nama mentereng di Kota Solo dan cabangnya belasan. Soto Warung Pojok ini lebih baik. Jauh lebih baik.

Bukannya saya berlebihan, karena dari segi harga, rasa, dan tampilan memang lebih bagus dengan harga sepadan.

Kuahnya bening, protein yang digunakan adalah daging sapi, meski sebagian lemak juga disertakan ke dalam mangkuk. Saya selalu pesan soto ukuran besar. Mereka menggunakan mangkuk bakso bergambar ayam jago. Sehingga saya dapat kuah melimpah.

Yang paling saya suka, ialah taburan kentang goreng tipis. Lumrahnya ada di soto ayam. Tetapi mereka juga menggunakan taburan itu pada soto sapi.

Berbeda dengan Sragen yang mewajibkan perkedel sebagai teman makan soto. Di Warung Pojok saya tidak menemukannya, malahan jajanan yang disediakan penjualnya serasa kurang nyambung.

Ada siomay goreng, martabak asin dengan isian daun bawang, perkedel jagung, dan tempe goreng tanpa tepung yang digoreng tipis sekali.

Ibaratnya, kalau mau makan tidak bisa dipadukan, karena akan menimbulkan cita rasa yang berbeda. Sehingga gorengan-gorengan tadi, lebih cocok untuk dimakan setelah soto.

rawon-solo-warung-pojok
Rawon juga menjadi salah satu makanan yang paling diminati selain soto.

Saya menggemari soto berkuah bening dan gurih. Ini merupakan soto yang wajib dicoba, selain makan soto di warung ibu saya.

Kenapa ?

Di Solo, kebanyakan suka menambahkan gula untuk kuahnya, sehingga rasa manis sering mendominasi. Untuk versi-versi tersebut, saya kurang begitu cocok.

Selain soto, ada rawon

Yup, warung ini memilih rawon sebagai menu lain yang diunggulkan. Rawon yang penyajiannya dengan piring, kuah melimpah dan bertabur daging sapi pada bagian tengah atas.

Di meja pembeli, sudah tersedia makanan pendamping rawon seperti irisan mentimun, kecambah mentah, daun kemangi, dan sambal.

Mau lebih enak makannya ? Anda bisa ambil telur asin untuk dimakan bersamaan sebagai lauk rawon.

Saya biasanya makan berdua. Memang kalau makan lebih enak berduaan atau dalam grup kecil ya. Biar ngobrolnya bisa enak.

Satu lagi menu yang ada di warung itu ialah oseng kikil pedas. Awalnya saya berminat mau coba, tapi ketika tanya, sang pembeli pun buru-buru memberi penjelasan, kalau oseng-osengnya sangat pedas. Hmmm… batal deh untuk nyobain.

Harga satu porsi soto ayam Rp 9.000, rawon Rp 10.000

warung-pojok
Warung Pojok nan sempit tapi selalu ramai didatangi pengujung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *