Solo Travelling : Pegawai Tua & Diganggu Orang India

Di Singapura orang lanjut usia masih bekerja, bahkan di shift malam. Rasanya terenyuh banget, mereka masih giat cari uang dan kerja sampai larut. Meski tugasnya hanya bagian remeh temeh atau bersih-bersih.

Ada ibu paruh baya usia 60an, dapat tugas malam untuk bersihin area sekitar Wang Cafe. Di Singapura, baik Changi atau tempat makan umum pembeli dianjurkan untuk buang pembungkus kertas makanan dan naruh nampan ke tempat kotor. Tapi, di negara semaju ini, masih ada juga yang males dan ninggal gitu aja sisa makanan dan sampah di atas meja. Lagi-lagi deh, ibu tadi yang harus beresin. Mulai dari buang sampah sampai ngelap meja dan nyapu-nyapu lantai.

Tengah malam, saya liat bapak tua yang lebih pantes dipanggil kakek, masih kerja ngumpulin troli yang berserakan di satu sudut. Dia ngambil troli satu per satu lalu dirapikan, sebelum diambil petugas lainnya. Bayangin loh, kalau di Indonesia, mereka udah pensiun dan di rumah.

Kakek tua tadi tinggi kurus dan kulitnya sudah keriput. Jalannya tidak terlalu tegak dan kurang sigap. Ia pelan-pelan mendorong troli, lalu mengumpulkannya jadi satu baris.

little india singapuraHari kedua saya ketemu pegawai Mc Donald yang sudah tua banget. Pendengarannya nggak berfungsi baik, karena sering dipanggil rekan kerjanya yang jauh lebih muda tapi nggak noleh-noleh. Kerjaannya beresin meja kalau ada yang kotor. Tapi kebanyakan pembeli di McD malah sungkan dan kasihan, termasuk saya. Yang akhirnya jadi lebih tertib buang sampah dan beresin sisa makanan sendiri. Hampir sejam saya makan di McD, kakek ini cuma berdiri di meja, sambil beresin sedotan dan hitung berulang-ulang. Entah karena emang sudah nggak ada tenaga, yang akhirnya bikin kerjanya lambat. Ada rekan kerja yang jauh lebih muda sering keki dan jengkel sama kakek itu. Saat saya beberes dan mau keluar restoran, sepertinya si kakek ditegur karena cara kerjanya yang tidak cekatan. Si penegur juga bicara dengan nada yang tinggi, cenderung tidak sopan. Kakek itu tidak terima dan keduanya cekcok, mereka berdua cekcok pakai bahasa Tionghoa yang saya nggak ngerti.

Kakek tua lainnya yang bekerja sebagai pembersih di restoran, saya temui di BJ Junction. Kakek inibertanggung jawab di satu lokasi food court yang diisi lima stall makanan. Tempat makan BJ Junction memang nggak terlalu luas, bahkan menurut saya terlalu sempit untuk ukuran pusat perbelanjaan.

Kakek yang badannya mulai bungkuk itu, mengenakan seragam dan celemek. Ia membereskan mangkuk yang ditinggalkan pembeli di atas meja. Lalu mengantarkan ke bagian cuci piring dan menyelesaikan tugasnya dengan mengelap meja. Tiga hal itu terus yang ia lakukan berulang-ulang. Saya jadi penasaran dengan budaya dan aturan kerja di Singapura yang mempekerjakan orang dengan usia lanjut, yang sampai sekarang belum ketemu jawabannya.

Hal yang paling bikin keki dan gemes, tempat buang ampah dan taruh nampan letaknya ada di ujung. Di tembok sudah dipasang himbauan untuk membuang sampah dan membereskan alat makan yang dipakai sendiri. Tapi tetap saja, ada banyak orang yang langsung ngeloyor pergi begitu saja setelah makan.

Ketika saya melakukan solo travelling, saya jadi lebih banyak memperhatikan kejadian di lingkungan sekitar, bagaimana aktivitas warga asli, dan cara mereka bersosialisasi satu sama lainnya, atau dengan pendatang/ turis seperti saya.

Baca juga : Menutup Sore di Marina Barrage

Perjalanan ini juga membuat saya lebih mawas diri, meski pun berkunjung ke negara maju.

Banyak kejadian menarik yang tidak saya temui sehari-hari. Kebanyakan menyenangkan karena mengenal orang baru, budaya baru, dan memahami bagaimana aktivitas keseharian penduduk Singapura.

Tapi sempat juga ada kejadian kurang mengenakan  di Garden By The Bay waktu sore hari.  Setelah cukup tidur siang dan merasa fresh. Saya lanjut jalan-jalan lagi pas sore hari. Nggak jauh-jauh saya berkeliling di sekitar Marina Bay Sand. Melihat kegiatan sore hari dan juga cari makan. Kemudian lanjut lagi ke Garden By The Bay  untuk ngelihat lamp tree pas malam hari.

singapura

Saya suka banget duduk santai di taman. Niatnya mencari spot yang tidak terlalu banyak orang dan agak sepi. Saya pun berjalan menuju area Dragonfly & Kingfisher Lake sekalian mengunjungi sisi lain taman yang tadi belum sempat saya lihat. Baru saja belok kanan ingin lewat jembatan, perasaan saya sudah nggak enak karena merasa diikuti seseorang.

Jalan yang saya lewati memang tidak banyak orang dan sepertinya dijadikan kesempatan seorang pria untuk bersikap nggak baik. Ketika saya menoleh, orang tersebut berpura-pura melakukan aktivitas lain mulai dari benerin celana dan bersiul-siul. Saking saya kesal karena dia terus menguntit. Saya ancam akan lapor polisi jika ia nekat mengikuti saya.

Gertak sambal rupanya berhasil. Ia langsung bete  dan pergi ngeloyor mendahului saya. Dan batal deh punya me time ke beberapa area Garden By The Bay yang saya incar.

Saya terpaksa balik badan dan gabung dengan pengunjung lain saja ke tempat yang lebih ramai.

Saya jadi belajar untuk lebih hati-hati pas jalan-jalan sendiri. Bukan karena Singapura tidak aman. Tapi kejahatan terjadi memang karena kesempatan dan peluang.

Meski sering kali banyak hal tak terduga terjadi, belum ada tuh kejadian yang bikin saya mandeg untuk pergi jalan-jalan, bahkan ke tempat yang lebih jauh. Plus nyobain (lagi) solo travelling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *