Semalam di Bhaktapur

Banyak yang bisa saya ceritakan tentang Bhaktapur, meski kurang dari dua hari menetap di desa ini. Dengan jarak yang cukup dekat dengan ibukota negara. Bhaktapur menjadi trilogi durbar yang mesti saya kunjungi selama di Nepal, selain Kathmandu Durbar Square dan Patan Durbar Square.

Uniknya untuk masuk sebuah desa dan menetap di sana, saya perlu sebuah tiket masuk yang berlaku selama satu minggu.

Taksi mengantarkan saya menuju Bhaktapur dari Khatmandu. Meski jarak kedua tempat ini hanya 13 kilometer saja. Perlu waktu hampir satu setengah jam menuju sebuah desa Bhaktapur. Berbekal pencarian dari google. Yang terlintas di pikiran saya sebuah lokasi lapang pusat budaya dan wisata desa itu. Foto-foto gempa 2015 banyak tersebar di berbagai blog dan situs menjelaskan kondisi Bhaktapur pasca bencana. Yang artinya, tak banyak yang bisa saya lihat selain reruntuhan.

Perjalanan yang saya lalui rasanya hampir sama ketika menuju ke Lalitpur. Hanya saja ini lebih lama karena memang lebih jauh. Tak hanya jalan raya, saya juga melewati daerah yang rimbun ditumbuhi pepohonan. Semacam hutan kecil dengan sisi sebelah kiri deretan pohon tinggi dan kanannya berupa jurang dengan pemandangan indah memperlihatkan lembah tempat pemukiman penduduk.

Ketika melewati jalanan yang menghubungkan antar daerah antar Kathmandu dan Bhaktapur. Saya baru benar-benar merasa di bagian bumi belahan lain, di Nepal, dengan kultur yang sangat berbeda. Sapi-sapi berteman dengan mobil di jalanan. Wara wiri tanpa digiring penggembala dan mereka tampak tenang berjalan menguasai sebagian kecil sisi jalan. Para pemilik kendaraan pun paham dan mengalah dengan hewan yang dianggap suci oleh umat Hindu ini. Pengemudi lebih memilih berjalan pelan di belakang sapi. Atau mendahuluinya tanpa perlu emosi dengan tambahan suara klakson agar sapi paham untuk minggir. Di sini keselarasan untuk sebagian kebiasaan yang dianggap tidak lumrah di Indonesia, berjalan beriringan.

nyatapola temple
Kuil Nyatapola yang menjadi ikon Bhaktapur.

Sampai di Bhaktapur

Kami menyusuri jalanan yang sempit dengan debu berterbangan di mana-mana. Bangunannya di kanan kiri kebanyakan masih disangga balok-balok kayu. Entahlah, apa yang terjadi di Nepal, tiga tahun bukan waktu yang cukup untuk membuat negara ini kembali normal bangkit dari bencana gempa.

Tak lama kemudian, sopir taksi bilang bahwa kami sudah sampai tujuan.

Saya pun langsung turun dan membayar tarif taksi sambil celingukan kira-kira di mana Nyatapola Guest House, penginapan yang saya tuju. Sebelum menghabiskan hari untuk berwisata, saya memang ingin segera check in untuk meletakan gembolan barang dan ransel yang lumayan membebani ini. Bertanya kepada penduduk sekitar, di mana lokasi tempat menginap yang saya tuju. Salah satu dari mereka mengarahkan saya pergi ke sebuah loket. Katanya saya harus membayar izin masuk karena guest house yang saya tuju berada di dalam kompleks desa.

Yup, datang ke Bhaktapur, saya mengunjungi sebuah kompleks desa wisata yang perlu tarif 1000 rupee Nepal per tiketnya. Tiket ini berlaku untuk seminggu, di mana wisatawan diperbolehkan keluar masuk komplek desa.

Paspor saya serahkan untuk diperiksa dan diberi bukti masa tinggal selama seminggu. Selain itu peta wisata dan beberapa lembar panduan agar wisatawan bisa lebih mengenal Bhaktapur lebih jauh. Tiket ini tidak boleh hilang, karena sebagai bukti untuk memasuki kompleks lagi.

Lanjut masuk ke dalam kompleks, ada saja orang yang menawarkan untuk mengantar ke penginapan atau jasa tour guide. Tapi, kami tetap kekeuh akan keliling Bhaktapur sendiri tanpa panduan.

kehidupan di negara nepal
Seorang ibu yang berjualan di pasar dekat Nyatapola Temple.

Perjuangan Menemukan Tempat Penginapan

Sejak di Indonesia, saya sudah booking guest house untuk menginap selama di Bhaktapur. Memilih yang lokasinya dekat dengan tempat wisata, akhirnya tertambat di Nyatapola Guest House. Selepas melewati pintu gerbang desa. Kami berdua bergegas pergi ke bagian dalam dan salah satu warganya memberi tahu arah menuju penginapan yang saya tinggali.

Tempat ini tidak terbayangkan sebelumnya dan saat datang saya seperti dimanjakan dengan berbagai macam shophouse yang menjual berbagai macam cinderamata unik dan lucu. Meski memang tak hobi belanja saat liburan. Rupanya berbagai macam pernak pernik dan kerajinan warga setempat membuat saya kagum akan potensi alam Nepal dan kreativitas warganya mengolah sumber daya agar lebih punya nilai tambah. Lagi-lagi barang-barang yang mereka jual memang tak jauh dari ukiran, patung, aksesoris, pakaian, ataupun tas. Tapi saya merasa, pilihan barang di Bhaktapur ini lebih beragam baik dari model maupun warnanya. Di sela-sela melewati jalan setapak yang dikhususkan untuk pejalan kaki. Saya dimanjakan dengan barang-barang yang digantung untuk dipamerkan kepada calon pembeli. Termasuk melihat lukisan ataupun foto dalam postcard yang dijual di toko-toko. Semua potretnya berkaitan dengan alam dan budaya Nepal, termasuk pegunungan paling memikat Anapurna yang jadi incaran para pendaki seluruh dunia.

Pencarian saya terus berlanjut, kami bertanya dari orang satu ke orang berikutnya mencari Nyatapola Guest House. Nama ini ternyata diambil dari sebuah kuil yang ada di pusat desa. Bangunan tinggi yang sangat megah tersusun dari batu berwarna oranye dengan beberapa tingkat.

Sampai di guest house saya pun memperlihatkan bukti booking dari hanphone kepada resepsionis. Perempuan berkulit sawo matang ini kemudian mencari nama saya di daftar tamu mereka yang menginap di hari itu dan hasilnya nihil. Saya pun memastikan kembali jika menginap di Nyatapola Guest House. Dan ia pun tetap tidak menemukannya. Lalu, ia ingin melihat lebih detil, Nyatapola manakah yang saya maksud. Setelah diperiksa teliti, ternyata saya lah yang salah mendatangi tempat menginap. Ia pun memberi informasi bahwa di sana banyak sekali nama penginapan dengan label Nyatapola.

Kemudian resepsionis baik hati ini malah mengantarkan kami untuk mencari penginapan yang kami tuju. Jaraknya sekitar 400 meter dari sana. Meski tak jauh dari kuil Nyatapola ternyata penginapan kami lebih dekat dengan kompleks pembuatan gerabah di desa wisata itu.

Akhirnyaaa…. setelah berjalan ke sana kemari. Sampai juga di guest house dan kami pun disambut welcome drink ala Nepal yaitu black tea.

wisata nepal
Suasana pagi di Dattatreya Square, Bhaktapur.

Susahnya Cari Makan Malam Yang Layak

Saya dan Rudy baru sadar jika kami memang benar-benar tinggal di desa. Ketika ingin pergi keluar rumah mencari makan malam. Jalanan desa sudah gelap gulita. Hanya lampu-lampu berwarna kuning yang menyinari beberapa sudut jalan. Hampir tak ada toko buka satu pun, begitu juga tempat makan. Yang ada sebuah kafe kopi dengan lampu temaram untuk memunculkan suasana cozy. Kami pun tetap nekat keluar rumah kalau-kalau menemukan ada yang bisa kami beli untuk makan malam. Sayang hasilnya nihil.

Kuil Nyatapola tak disinari apa pun begitu juga dengan sekitarnya. Padahal bisa dibayangkan jika ada lampu yang meneranginya. Betapa terlihat megah dan syahdu menjadi ikon dari pusat Bhaktapur. Lokasi yang biasa ramai, karena di sekitarnya tempat lalu lang kendaraan saat siang dan juga pasar. Terlihat begitu sepi hampir tak ada aktivitas.

Perut lapar, mencari mini market tidak ada. Apes pikir saya liburan hari itu. Mau minta disiapkan makanan dengan pemilik rumah pun rasanya sungkan. Tak lama kemudian saya melihat gerombolan yang ada di sudurt pasar. Saya mendatangi mereka, ternyata ada seseorang yang menjual street food. Saya belum tahu namanya apa. Dalam kegelapan akhirnya, saya dan Rudy ikut antri untuk membeli. Kami bersama gerombolan anak-anak dan remaja mengerumuni penjualnya.

Saya perhatikan betul bagaimana ia menyiapkan makanan itu. Ada dua macam makanan yang dijual. Yang satu berbentuk gelempung tepung goreng yang isinya kosong. Bulatan-bulatan ini kemudian dipecahkan dengan ibu jari kemudian diisi semacam olahan dari kentang tumbuk yang dicampur berbagai bumbu, bawang bombay cincang, dan beberapa irisan daun. Lalu adonan ini dimasukkan ke dalam bulatan gorengan tadi. Karena saya tingin membawanya pulang ke guest house. Maka untuk kuahnya pun dimasukkan dalam plastik. Sepulangnya dari Nepal, saya baru tahu kalau namanya Pani Puri setelah menyempatkan browsing.

Cemilan lainnya yaitu campuran snack instan dan kacang-kacangan yang diaduk dengan berbagai macam bumbu termasuk bubuk masala yang diberi nama chatpatey. Keduanya dihargai hanya Rp 8000 atau sekitar 50 rupee Nepal. Ketika mau bayar, penjualnya tak ada kembalian. Akhirnya, saya gunakan uang receh yang tersisa namun dengan 1 USD. Hmm… jadi beli makanannya jauh lebih mahal.

Pulang ke guest house sambil membawa makanan, pemiliknya menyapa saya dan menanyakan apa yang saya beli. Saya pun menceritakan street food yang saya temukan di dekat Nyatapola. Lalu reaksinya sangat mengejutkan. Ia memperingatkan saya untuk hati-hati ketika makan street food di sana. Tentu saja setelah benar-benar melihat cara pembuatan kuahnya di beberapa video. Ada yang mengaduk kuah pani puri hanya dengan tangan, bukan dengan sendok atau alat tertentu. L

Sampai Jumpa Bhaktapur, Lain Kali Berkunjung Kembali

Hanya satu malam saja di Bhaktapur. Di tulisan saya bercerita tentang pengalaman yang saya alami tentang desa wisata ini. Tapi dari 48 jam selama di sana. Saya masih punya rangkaian kisah menarik tentang daerah yang masuk menjadi warisan dunia dan terkenal sebagai kota budaya sekaligus pemuja. Yup benar, meski secara rupa saat ini cenderung lebih tepat disebut desa wisata. Teta

keindahan nepal
Jalan menuju guest house yang saya tinggali. Ramai saat pagi hingga sore hari.

pi menurut sejarahnya Bhaktapur merupakan kota kuno Newa yang letaknya berada di lembah Kathmandu. Sampai ketemu lagi Bhaktapur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *