Sekilas Tentang Ayutthaya

Ayutthaya jadi kota terakhir yang saya kunjungi selama 10 hari perjalanan di tiga negara. Salah satu tujuan wisata Thailand yang hanya 1,5 jam atau sekitar 80 kilometer dari Bangkok, bisa dijangkau dengan kereta api super murah yang tiketnya cuma enam ribuan rupiah.

Menginjakkan kaki pertama kali di stasiun Ayutthaya, mengingatkan saya pada stasiun kecil di dekat rumah, stasiun Solo Kota. Kecil, kuno, tapi bersih. Saat kami datang hanya seikit orang berada di sana. Tidak seriuh kalau di stasiun Pasar Senen yang orang-orangnya sampe duduk dlosoran di lantai.

Keluar dari stasiun, kami langsung didekati sopir-sopir tuk-tuk yang ngetam di pinggir jalan. Beberapa menawari jasa untuk mengantar pergi berkeliling atau menuju penginapan.

sejarah ayutthayaSaya sama sekali tidak tertarik, karena naik tuktuk di Ayutthaya jauh lebih mahal jika dibandingkan di Kamboja. Lebih baik nyebrang saja mencari tempat persewaan sepeda motor. Tepat di depan stasiun ada jalan kecil yang isinya beberapa kios makan sekaligus tempat sewa sepeda motor. Setelah transaksi beres kami melenggang berkendara mencari penginapan.

Ayutthaya dulunya merupakan kerajaan besar yang terkenal di dunia perdagangan. Bahkan penjelajah menuliskan bahwa kerjaan ini termasuk yang terkaya di kawasan timur. Tiongkok, India, Jepang, Persia berhubungan dagang dengan Ayutthaya. Bahkan negara barat seperti Belanda, Spanyol, Portugis turut bertandang dan sempat mendirikan pemukiman di luar tembok kota. Negara Perancis lah yang paling istimewa, karena Raja Narai, salah satu yang memimpin tahun 1656-1688 punya hubungan istimewa dengan Louis XIV. Ayutthaya sempat mengirimkan duta sampai ke Perancis pada masa itu.

Kerajaan Siam menjadikan Ayutthaya sebagai kota kedua terbesar di wilayahnya setelah Sukhotai. Berada di sebuah pulau kecil, keunikan Ayutthaya karena letaknya dikelilingi sungai yang menjadi pertemuan sungai Lopbhuri, sungai Chao Praya, dan sungai Pa Sak. Secara geografis menguntungkan di zaman kerajaan, karena sebagai pelindung alami dari serangan musuh kala itu.

Ada dua rute agar sampai ke penginapan yang sudah saya booking. Naik kendaraan dan melewati jembatan. Atau pilih menyeberangi sungai dengan perahu, tapi tetap saja perlu jalan kaki. Pilihan pertama tetap yang terbaik karena saya nggak mau capek.

Jalanan lengang dan tenang, jauh banget dari macet. Meski sempat kesasar beberapa kali, kami berdua tetap enjoy karena jauh dari stress menghadapi jalanan padat seperti di Jakarta. 😛

ayutthaya day tripPinggiran kota Ayutthaya sudah cukup modern dengan jalan besar dan jembatan layang. Meski termasuk dalam kota tua yang sudah dilindungi UNESCO. Jangan bayangin Ayutthaya punya penampilan kuno dan susah cari makan di sana ya. Malah ada banyak kafe-kafe unik yang berjajar di lokasi tertentu. Letaknya berderet beberapa kafe lalu diselingi perkantoran atau ruko. Tempat nongkrong seperti ini biasanya berada di pinggir jalan besar. Termasuk dengan hostel-hostel yang didesain sangat instagramable.

Kami juga sempat melewati kawasan pasar basah. Nggak jauh beda dari pasar di Indonesia. Kalau sedang beroperasi pedagangnya bisa luber sampai jalanan.

ayutthaya thailandSetelah muter-muter ke sebagian tempat, kami tiba di Stockhome Hostel dan langsung check in. Menjelang tengah hari mau menjelajah Ayutthaya Historical Park, eh, tiba-tiba hujan deras. Rencana kami sebagian batal karena nggak bisa kemana-mana. Akhirnya pilih tinggal di hostel sambil istirahat nonton tivi dan baca buku panduan keliling Ayutthaya yang disediakan pihak hostel. Ayutthaya punya banyak banget tujuan wisata candi yang harus dikunjungi, kalau memang kita niat mendatangi semuanya. Total ada 58 tempat wisata yang direkomendasikan untuk didatangi dan mayoritas merupakan candi tua dan reruntuhan yang belum sempat direnovasi.

Saat berangkat dari Bangkok ke Ayutthaya, saya berbarengan dengan beberapa turis dari negara lain. Beda dengan kami yang meluangkan waktu untuk tinggal semalam. Mereka lebih pilih bolak balik berangkat pagi dan kembali lagi ke Bangkok pakai kereta jadwal malam.

Jam duaan siang, cuaca sudah agak bersahabat meski mendung. Kami nekat keluar hostel untuk cari makan yang aman, karena sudah bosen dengan makanan hambar yang bumbunya ngambang. Untungnya ada fast food KFC, dapat penyelamat dan yakin kami pasti bisa puas makan lahir batin. Menu utamanya memang sama, pakai ayam dan nasi. Tapi soal bumbu memang agak beda dan lebih pedas. Ada juga beberapa dessert khusus yang hanya diproduksi di Thailand. Nggak salah ya kalau travelling tetep mampir ke restoran cepat saji. Soalnya bisa ngerasain varian makanan waralaba yang menu dan rasanya beda.

Kelar makan, kami lanjut pergi berkeliling dan mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Wat Mahathat. Bener deh, kalau cuaca lagi nggak mendukung, rasanya ogah-ogahan mau ke mana-mana. Dari takut kehujanan, atau alesan langit nggak bagus jadi bawaannya males buat foto-foto.

Setiap cuaca agak cerah, kerjaan kami cuma berkeliling naik motor. Meski nggak sampai blusukan ke tempat-tempat yang susah dijangkau. Aktivitas ini cukup menyenangkan. Bisa mengukur seberapa lama berkeliling Ayutthaya di lingkar paling luar dan ternyata cuma butuh durasi 20 menit. Naik motornya pun nggak pakai ngebut.

Banyak sekali reruntuhan candi yang ada di sana. Kadang sampai bingung sendiri apa perbedaan satu candi dengan yang lain kalau tidak benar-benar memperhatikan.

Meskipun Thailand mayoritas penduduknya beragama Budha. Tapi di Ayutthaya saya sempat menemukan sebuah area yang berisi orang-orang muslim. Ada banyak perempuan mengenakan pakaian gamis dan berkerudung melakukan aktivitas luar rumah. Di Thailand, agama Islam mendudukui posisi kedua sebagai agama kedua yang banyak dianut warganya. Pemerintah sendiri sangat menghormati dan mengakomodir kehidupan Islam di negeri Gajah Putih ini. Salah satu bentuk dukungan yaitu mengangkat seseorang yang bertanggungjawab tentang segala hal yang berkaitan dengan agama Islam. Jabatan tersebut diberi nama gelar Syaikhul Islam (Chularajmontree). Bisa dibilang agama Islam dan Budha bersanding dengan baik di Thailand, salah satunya di Ayutthaya.

Suasana kota warisan dunia yang masuk dalam dafatar UNESCO tahun 1991 semakin lengang saat malam hari. Duh, saat kami berkeliling cari makan malam dan melewati ruas jalan, penerangan sangat minim. Hampir gelap gulita dan nggak ada orang yang wara wiri. Hanya jalan utama saja yang cukup banyak orang dan saya merasa lebih aman untuk menghabiskan malam di tempat yang ramai.

Di beberapa tempat ada pasar malam dadakan yang luasnya hanya dua kali lapangan bulu tangkis. Sudah hampir pukul tujuh, tapi hanya sedikit pedagang yang baru buka. Karena tidak sabar nunggu, Saya dan Rudy pilih langsung pergi saja mencari tempat lain untuk disinggahi.

Kegiatan yang kelihatan asik malah ada di lingkar jalan terluar yang berdekatan dengan sungai. Beberapa mobil rela parkir berjam-jam untuk mancing di sungai. Kayanya mereka tidak cuma cari ikan tapi sekalian bersosialisasi dengan warga lain. Memancing sudah jadi gaya hidup sebagian pria di Ayutthaya pas waktu luang.

Keesokan harinya kami harus segera balik ke Bangkok untuk ngejar penerbangan ke Jakarta. Dan masih sempat berkunjung ke Wat Chaiwatthanram pas pagi hari. Backpacker ke Ayutthaya kali ini memang belum maksimal karena waktunya pendek banget dan susah ke mana-mana karena hujan. Meski begitu, saya tetap terkesan dengan kunjungan pertama ini. Bisa punya pengalaman naik kereta di Thailand dan mengetahui sejarah tentang Ayodya, sebutan lain untuk Ayutthaya.

Baca artikel lainnya :

Cara ke Ayutthaya dari Bangkok Naik Kereta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *