Merahnya Sam Poo Kong, Klenteng Dengan Arsitektur Megah

Ke Semarang ? Mampir yuk ke Sam Poo Kong.

Saya merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi saat liburan di Semarang. Yang paling saya kagumi dan sukai dari Sam Poo Kong yaitu arsitekturnya. Beberapa foto yang saya ambil memperlihatkan detil bentuk serta ciri khas bangunan Cina. Mulai dari lekuk ukiran, pilar-pilar merah, patung-patung serta pernak pernik yang ada di atap bangunan.

Meski tidak terlalu paham arti dan maksud dari filosofi Cina yang dimasukkan dalam bangunan itu. Komplek Sam Poo Kong memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan meskipun mereka tidak beribadah di sana.

Pengunjung yang datang tidak hanya orang Tionghoa atau orang yang akan beribadah. Tempat ini dibuka untuk umum dan dijadikan jujugan wisata serta tempat nongkrong anak muda. Bahkan remaja berkerudung atau ibu-ibu yang mengenakan jilbab juga banyak yang mengunjungi tempat ini.

Biasanya mereka sekedar duduk-duduk di bawah pohon yang sudah tersedia banyak bangku dari semen. Hanya bersantai sembari berteduh dari panasnya kota Semarang.

arsitektur-sam-poo-kong
gambar-sam-poo-kong
kuil-sam-poo-kong-semarang

Sejarah Klenteng Sam Poo Kong

Bangunan ini menjadi tempat ibadah bagi Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme. Semua beriringan dan bisa akrab satu sama lain.

Kelenteng Sam Poo Kong ini juga disebut klenteng gedung batu. nama itu berasal dari asal usulnya yaitu gua batu besar yang terletak di sebuah bukit. Tapi beberapa orang juga menyebutkan Kedong baru yang artinya tumpukan batu-batu alam untuk membentuk aliran sungai.

Menurut sejarah, tempat ini sempat menjadi persinggahan Laksamana Ceng Ho saat berlayar di wilayah Nusantara. Ia terpaksa melipir karena banyak anak buahnya yang sakit. Cheng Ho membawa 62 kapal dari Shuzhou menuju Champa, Palembang, Jawa, Srilangka, dan Kalkuta. Salah satu misi pelayaran yaitu membawa perdamaian ke tempat-tempat yang ia singgahi.

Sam Poo Kong memang kental akan nuansa merah. Mayoritas bangunan memang berwarna merah dengan aksen hijau dan kuning pada ornamennya. Mengenang Laksama Cheng Ho, patungnya dibuat begitu besar dan berada di salah satu sisi bangunan. Laksamana Cheng Ho mendarat di pantai utara Jawa sekitar abad ke-15.

Bersama para pengikutnya menyusuri Kaligarang dan berada di Simongan. Di sanalah mereka menemukan gua batu yang digunakan sebagai tempat berlindung serta beraktivitas, termasuk bersembahyang. Tapi saat ini kita tidak bisa menemukan goa asli karena sudah longsor tahun 1704.

Ketika sang laksamana kembali melanjutkan pelayaran, ternyata tidak semua anak buahnya turut serta. Sebagian menetap, menikah, dan melanjutkan hidup di sana.

Di dalam Sam Poo Kong terdapat sebuah jangkar yang usianya sudah ratusan tahun dan diberi nama kyai djangkar. Selain itu banyak hal unik yang bisa ditemukan termasuk rantai yang usianya sama dengan jangkar tersebut.

Filosofi

Halamannya luas dengan bangunan warna merah menyala di tengah. Mirip seperti lapangan Tian Nanmen versi mininya. Merah bagi orang Tionghoa memiliki filososfi yang bermakna semangat, keberuntungan, dan antusiasme. Warna ini digunakan dalam perayaan-perayaan penting dengan maksud agar ke depannya bisa lebih baik dan menuju ke arah yang lebih positif.

Begitu pula dengan penggunaan warna di Klenteng Sam Poo Kong Semarang yang hampir semua bangunan bercat merah, selain memasukkan sedikit warna kuning, hijau, dan coklat. Di Sam Poo Kong ini bagaikan apresiasi bagi Laksama Cheng Ho.

Jika dalam sejarah sang pemimpin merupakan seorang muslim. Kenapa malah menjadi klenteng. Tempat ibadah ini dibangun pengikutnya yang beragama Kong Hu Chu.  Terdapat beberapa lokasi ibadah yaitu di Klenteng Besar, Klentheng To Tee Kong, dan tempat pemujaan yang diberi nama Kyai Cundrik Bumi, mbah Kyai Tumpeng, Kyai Jangkar, dan Kyai Juru Mudi.

Wisata di Sam Poo Kong bisa mempelajari berbagai macam hal. Mulai dari sejarah, hingga kerukunan warga yang berbeda keyakinan. Mereka mau untuk liburan dan mengunjungi salah satu tempat ibadah umat agama lain. Serta sama-sama melihat keindahan arsitekturnya.

ibadah
klenteng-sam-poo-kong-semarang
sam-poo-kong-history
sam-poo-kong-1
sam-poo-kong

Tiket Masuk Sam Poo Kong Semarang

Bangunan tersebut khusus diperuntukan bagi pengunjung yang sembahyang dan dikenakan tarif Rp 20.000,00 setiap masuk. Meskipun bagi wisatawan biasa, harus membeli tiket seharga Rp 2.000,00 dan dilarang masuk ke bangunan-bangunan sakral, sebelum membeli tiket masuk lanjutan. Perbedaan ini diberikan untuk menjaga fungsi Klenteng Sam Poo Kong Semarang sebagai tempat peribadatan sekaligus sebagai tempat wisata di Semarang.

Ingin lebih seru lagi. Satu gedung di bagian depan juga menyediakan persewaan kostum khas Tionghoa dengan biaya sewa Rp 50.000 sampai Rp 80.000.

Bangunan Di Klenteng Sam Poo Kong

Dengan kompleks yang luas, Sam Poo Kong dibagi menjadi empat kelnteng yaitu :
-Klenteng Besar
-Klenteng Juru Mudi
-Klenteng Kyai Djankar
-Klenteng Sam Poo Tay Djien

Pada goa tempat beroda tersebut bagian dindingnya dihiasi dengan relief yang menceritakan perjalanan Cheng Ho dari China sampai Jawa.

Tips Mengunjungi Klenteng

Saat mengunungi klenteng artinya kita mengunjungi sebuah tempat ibadah. Meskipun saat ini setiap wilayah mulai memperkenalkan rumah ibadah sebagai tempat wisata. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa bangunan tersebut suci dan menjadi lokasi untuk umat yang mungkin berbeda agama dengan kita.

Sebaiknya ketika berada di lokasi Sam Poo Kong tetap memakai pakaian yang sopan, sebagai wujud saling menghormati pemeluk agama lain. Wisatawan bisa menyewa pemandu untuk menjelaskan sejarah Sam Poo Kong dan mendapatkan informasi lebih detil mengenai klenteng tersebut.

Perayaan-perayaan yang semakin membuat suasana semarak biasanya diselenggarakan saat tahun baru Imlek, hari besar agama Budha, Kong Hu Chu maupun Taoisme.

Buat pecinta fotografi, ada baiknya menyempatkan hadir saat hari raya tersebut, untuk mendapatkan momen cantik dan ramainya lentera yang biasa terpasang.


Alamat Sam Poo Kong Semarang

Jl. Simongan Raya No.129, Semarang Bar., Kota Semarang, Jawa Tengah 50148

Jam Buka : 06.00 – 23.00 WIB


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *