wisata ke kamboja

Untungnya saya belum pernah mengalaminya. Nggak bisa membayangkan jika ini terjadi pada saya. Ah sudah pasti saya cuma uring-uringan, kalau pun mulut saya mingkem, itu karena badan sudah lemas tak berdaya dan males ngapa-ngapain.

Tapi siapa sih yang mau sakit pas liburan ? Saya yakin nggak ada.

Merawat orang sakit saat liburan, beberapa kali jadi itenerary tambahan pas bareng Rudy. Untungnya suami sendiri.

Sudah jatahnya saya yang harus dibonceng ketika pergi touring ke mana-mana. Selain karena badan  kecil, saya tidak mungkin bisa ngalahin cara berkendara suami yang lebih gesit dan tarikannya lebih lincah.

Hal ini pula yang menyebabkan, saya nyaman jadi penumpang, duduk di belakang pengemudi. Yang sudah bisa ditebak, saya punya waktu istirahat lebih banyak. Istirahat dalam arti yang sebenarnya, molor sambil dibonceng. Hebat kan saya. Hahaha.

Namanya juga berkelana naik kendaraan. Dapat jatah dibonceng juga bikin saya terlindungi dari angin bahkan guyuran air hujan, kalau pas apes tiba-tiba hujan deras langsung datang. Kejadian beberapa waktu lalu, saat kami keliling sebagian Bali selama hampir sepuluh hari. Bukannya nyaman

melakukan perjalanan berpindah tempat dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Tapi Rudy rela ngajak saya bolak balik dari Kuta ke tempat wisata Bali yang kami tuju, lalu kembali lagi ke Kuta pas sore hari. Rute ini kami lakukan hampir setiap hari.

Ditambah, cuaca yang sulit diprediksi. Misalnya ketika di Kuta masih panas, pas hampir mendekati Tanah Lot di Tabanan, tiba-tiba hujan deras.  Menghadapi perubahan cuaca yang mendadak dan akumulasi kelelahan bikin daya tahan tubuhnya langsung drop.

Apalagi pas jalan-jalan seringnya kami tidak terlalu memperhatikan pola makan. Kalau lagi pengen es ya diserobot. Lagi dingin ya minum yang agak panas. Jadwal makan tidak teratur dan suka-suka. Suhu tubuh Rudy mendadak naik ketika tengah malam. Untung saja di depan penginapan ada toserba yang buka 24 jam. Saya langsung turun dari lantai tiga, tempat kamar kami berada. Sambil terkantuk-kantuk beli cairan penolak masuk angin. Seperti pertolongan pertama pada tubuh yang meriang. Jamu modern ini memang ampuh.

Setelah menegak satu sachet langsung balik tidur dan voila besoknya badan sudah membaik.

Saya baik ya? Mau merawat orang sakit. Tidak juga, karena bertindak cepat untuk beli obat generik kudu cepat dilakukan. Males kan kalau sudah jauh-jauh pergi, semuanya sudah kami rencanakan, lalu bubar karena sakit.

Kedua kalinya pas kemarin ke Siem Rieap. Kalau ini sih awal mulanya dari Phnom Penh. Yang cuacanya memang ampun banget. Hujan..panas..hujan lagi, pagi terang, sorenya hujan deras. Apalagi ketika kami pisah jalan sendiri di dekat Royal Palace yang letaknya jauh dari hostel. Rudy keluar penginapan sejak sore dan baru balik jam delapan malam. Itu pun karena terhambat hujan, jadi terpaksa berteduh dulu.

Tanda-tanda sakit belum kelihatan. Efek buruk pergantian cuaca yang drastis dan tubuh yang tidak gampang menyesuaikan diri merespon setelah selesai mengunjungi Angkor.

Sejak siang, kami sudah teler karena udara panas. Apalagi Rudy yang baru sampai Preah Khan sudah malas melanjutkan perjalanan. Malamnya, langsung meler dan flu.

Duh…padahal kami baru mengunjungi 3 kota. Masih ada dua lagi yang harus diselesaikan dan perjalanan masih panjang.  Selain itu, Rudy juga sudah mulai ngeluh hidungnya meler terus dan bagaimana caranya biar bisa cepat sembuh, tanpa harus ke dokter.

Cerobohnya lagi, saya lupa bawa obat dan vitamin untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba sakit. Beruntung setelah tanya ke resepsionis hostel. Mereka memberi tahu kalau ada apotek yang lokasinya dekat dengan area Pub Street.

Ternyata ada beberapa obat dan minyak angin yang biasa kami gunakan di Indonesia, juga dijual di sini. Cari yang aman, kami beli satu strip paracetamol yang harganya $0,7 saja.

Setelah itu isi bensin dulu cari makanan berkuah yang panas dan menghangatkan. Dan lagi-lagi pergi ke The Moon Cuisine.

Setelah selesai makan malam, kami langsung ke hostel dan istirahat sampai besok pagi. Meski belum 100% fit, tapi kondisi tubuh sudah jauh membaik. Makan lebih teratur saat perjalanan, minum air putih lebih banyak, jadi solusi ampuh mengatasi sakit dadakan pas liburan.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *