coconut ice cream bangkok thailand

Beberapa waktu saya sengaja ke Bangkok. Lumayan memenuhi  keinginan saya mencoba beberapa street food yang ada di  sana. Menurut saya street food punya daya tarik tersendiri. Selain harganya lebih terjangkau, rasa makanan yang dijual di pinggir jalan biasanya lebih otentik dan asli daripada yang ada di tempat makan modern. Ditambah lagi saya bisa berbaur dan tahu proses penyajian makanan yang unik-unik.

Khao San Road dan Rambuttri merupakan dua kawasan yang nggak boleh dilewatkan untuk berburu makanan. Saya membedakan Khaosan Road yang cenderung ala backpacker dan Rattamburri yang ala koper, meski sebenarnya juga nggak mewah-mewah amat.

Khao San Road memang cenderung tidak seteratur Rattamburi. Beberapa pedagang makanan pakai gerobak kecil, tapi ada juga yang menggendong makanan dagangannya dan dijajakan dengan berkeliling. Biasanya sih makanan kering yang wiww, saya geli kalau mau beli. Kalajengking goreng, belalang, lipan, dan berbagai macam serangga.

Kalau di Rattamburi, kawasannya memang lebih berkelas dibanding Khao San Road. Banyak sekali restoran, kafe, dan tempat makan dengan varian menu asli Thailand sampai kebarat-baratan (menu Italia atau Amerika). Pengunjung bisa nongkrong lebih lama dengan suasana lebih tenang daripada di Khao San Road. Meski juga tidak sedikit, gerobak-gerobak yang mangkal di beberapa titik di jalan Rattamburi.

Beberapa makanan kaki lima yang saya coba di Rattamburi dan Khao San Road antara lain :

coconut ice cream bangkok

Coconut Ice Cream versi Rattamburi – Bangkok identik dengan coconut ice cream. Rasanya belum ke Bangkok jika tidak mencoba jajanan satu ini. Saya beli coconut ice cream di kawasan Rattamburi. Satu porsi harganya 50 THB atau hampir Rp 20.000,00. Bentuknya unik, karena wadah yang dipakai dari batok kelapa muda. isinya es krim rasa kelapa yang ditaburi coklat meises, kacang, dan kelapa yang dikerok.

Meski judulnya es krim kelapa. Rasa kelapanya memang nggak terlalu pekat dan daging kelapa yang digunakan juga sedang nggak muda juga nggak tua). Porsinya lumayan banyak kok. Jadi cukuplah dimakan berdua sama Rudy.

kuliner khas thailand

Coconut Ice Cream versi lain  – Nah, pas saya jalan kaki dari Flower Market ke pelabuhan menuju Wat Arun. Akhirnya, kami berdua, saya dan Rudy memutuskan mampir di kedai kecil penjual coconut ice cream dan beli lagi. Ini agak setengah terpaksa karena di sepanjang jalan nggak ada tempat duduk umum di sekitar trotoar. Cuacanya juga panas sekali.

Tapi hasil istirahat sambil jajan ini. Saya malah nemu versi lain dari es krim kelapa. Tempatnya sih biasa aja, hanya wadah kertas khusus untuk es krim. Yang beda di bagian topping-nya. Jadi pembeli bisa bebas pilih tiga macam topping dari sepuluh yang disediakan. Mayoritas sih kacang-kacangan dan buah khas Thailand. Es krim ini satu wadahnya 40 THB.

jus delima bangkok

Sari Buah  – Wah saya udah lama banget makan delima. Seingat saya terakhir kali pas kelas 5 SD. Karena metik sendiri dari halaman rumah. Sejak pohonnya ditebang, udah nggak pernah makan lagi atau bela-belain beli di pasar/supermarket. Buah delima hasil tanam sendiri itu ukurannya jauh lebih kecil dari yang saya temui di Bangkok.

Di sini, buah delima diolah jadi minuman sari buah. Fresh made on the spot. Bukan sari buah atau jus yang bikinnya di rumah atau diawetkan. Itulah menariknya jalan-jalan di negara Indochina dan Thailand. Cemilan yang populer buah-buahan.

wisata bangkok thailand

jual jus delima

Harga sari buah delima ini 30 THB. Penjualnya menyiapakan buah delima asli di satu kotak, lalu memeras daging
buahnya dengan alat tertentu. Kemudian disaring dan airnya dimasukkan ke botol, lalu dijual. Ukuran botolnya kecil banget sih, skitar 200an ml. Jadi hanya beberapa kali teguk saja udah abis. Tapi beneran seger banget, apalagi kalau minumnya pas siang-siang. Nyes banget, soalnya sari buah tadi didinginin pakai es.

Selain buah delima, sari buah yang dijual biasanya jeruk. harganya cuma THB 20 per botol.

Kejadian lucu ketika saya beli sari delima ini. Penjual sedang asyik maen game di smartphone. Saking sibuknya, saya malah dicuekin dan ia terima uang tanpa merespon saya.

street food rattamburi street

Jus buah  – Masih di Rattamburi. Ada satu kios di mulut gang menuju jalan Rattamburi yang jualan jus buah. Kiosnya temporer dan bisa dipindah. Tapi kalau buka pasti ramai banget yang antri. Dengan harga THB 30-50, jus buah pinggir jalan kualitasnya enak banget. Kental, nggak kebanyakan air, dan manisnya murni dari buahnya, nggak pakai gula.

Dengan harga cukup murah, porsinya juga banyak karena satu cup plastik besar. Puas banget deh beli jus buah di Bangkok.

mie goreng thailandMie Goreng dan Mie Kuah – Mie jadi makanan pinggir jalan yang cukup populer di Bangkok. Di area Rattamburi, ada banyak penjual mie goreng atau mie kuah. Jika kita biasa melihat penjual mie goreng memasak mie dan mencampurkannya dengan semua bumbu hingga warnanya coklat keling penuh minyak.

Mie goreng versi Thailand ini agak berbeda penyajiannya. Semua bumbu dimasukkan dalam mangkuk lalu ditumpangi tauge, bihun yang ukurannya lebih besar(rice noodle), ayam suwir, dan beberapa sayuran. Rice noodle direbus terlebih dahulu, ditiriskan dan diletakkan begitu saja dengan bahan lain. Lalu disajikan ke pembeli.

Sajian seperti ini lebih mirip seperti mie ayam yang ada di Indonesia. Tapi mie goreng khas Thailand punya rasa tipis-tipis, bumbunya tidak setajam mie goreng versi Indonesia. Dalam mie goreng, salah satu bumbu wajibnya
yaitu kacang goreng tumbuk yang dicampur dalam mie.

Kalau versi mie kuah (chicken noodle soup) sajiannya biasa saja. Hanya kuahnya memang bening, meski rasanya
sama tipis. Chicken noodle soup ini, cocok untuk penghobi mie yang tidak terlalu suka dengan mie yang penuh minyak dan berkuah pekat.

Banyak jajanan lain di Rattamburi yang belum sempat saya coba. Saking perut sudah kekenyangan.

Pad Thai – Saya nyobain pad thai di Khao San Road. Mie goreng ini variannya ada banyak dan jadi makanan kaki lima yang gampang ditemui di Bangkok.

Enaknya liburan dengan jalan kaki daripada naik transportasi umum, tuk-tuk atau taksi. Saya gampang menemukan dan nyobain jajanan kaki lima di Bangkok. Selain Khaosan Road dan Rattamburi yang jadi surganya wisata kuliner murah Thailand. Saya juga sempat beli beberapa makanan saat iseng keliling melihat-lihat pusat kota Bangkok.

Buah Potong Segar  – Lagi-lagi tentang buah segar. Nggak cuma di Rattamburi atau kawasan Khaosan Road. Penjual buah potong tersebar di seluruh Bangkok. Ada yang jualan pakai gerobak atau menggunakan kotak kayu kecil yang diletakkan di boncengan sepeda. Tapi banyak juga yang menjajakan buah potong berkeliling.

Cemilan buah sepertinya memang melekat di kehidupan orang Thailand daripada makanan ringan yang manis-manis atau banyak mengandung micin. Buah jadi jajanan yang biasa dikonsumsi orang lokal. Saya jadi seneng banget liburan di Vietnam, Kamboja, termasuk Thailand karena gampang beli buah segar dan harganya terjangkau.

Harga buahnya rata-rata THB 20 per plastik dan satu plastik hanya satu macam. Bisa pilih nanas, mangga, jambu, atau buah lainnya. 20 THB itu hampir delapan ribu rupiah. Mmmm untuk yang satu ini kalau dibandingin di Indonesia rasanya buah di Thailand lebih mahal ya ?!

penjual fortune cake di bangkokwisata kuliner bangkok

Fortune Cake – Jalan-jalan menyusuri trotoar di belakang gedung Wat Pho. Banyak pedagang kaki lima pakai gerobak dorong yang mangkal di beberapa titik. Salah satunya penjual fortune cake, yang buka lapak di depan sekolah dasar. Satu plastik kresek harganya THB 20 dan dapat sekitar 15an kue.

Di dalam makanan ini nggak ada kertas bertuliskan harapan. Tapi krim putih yang agak manis dan semacam
irisan ubi tipis. Rasanya enak dan ringan, lapisan tipis tapi renyah. Lumayanlah buat sangu pas sambil jalan-jalan
menuju Wat Arun.

makanan enak di bangkok

Sate – yang satu ini juga nggak kalah seru. Tengah hari yang panas, lapar, kami tetap jalan terus mau ke Wat Arun dan belum nemu tempat yang sreg buat makan siang. Akhirnya kami melewati pedagang sate. Daging ayam dibumbuin mirip ayam bakar yang harga satunya THB 40, ukurannya lumayan besar dan bikin kenyang. Ada juga sate jeroan (THB 20), ati ampela dan sayap ayam yang dibumbu kuning.

Tapi hati-hati lho, kalau bukan pemakan daging babi. Harus tanya sama pedagangnya menjual daging apa saja, karena penjual sate seperti ini juga menyediakan sate babi kecap.

Pedagang kaki lima di Bangkok rata-rata jualan pakai gerobak dan tingkat kebersihannya terjamin. Penyajiannya
menarik dan rasanya dijamin enak. Jadi nggak salah deh kalau ke main ke Bangkok, untuk berburu street food.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *