Risalah Dari Phnom Penh

Phnom Penh itu ajaib. Saya menggambarkannya seperti Jakarta era 90-an.

Gedung kuno mulai diperbaharui, sekaligus berdampingan dengan bangunan beraksen tradisional yang penuh polesan emas.

Saat cuaca cerah, langit Phnom Penh cenderung biru. Tanpa hiasan polusi udara seperti asap kendaraan yang membubung.

Saya begitu menikmati perjalanan saat naik tuktuk, melihat suasana kota yang pagi itu masih cenderung lengang.

Kendaraan di Phnom Penh mentereng dan mewah. Mobil yang dianggap mahal dan menampilkan keglamoran di Indonesia seperti Mitsubishi Pajero, Toyota Hilux, Ford Ranger sangat mudah saya temukan di sepanjang jalan. Sekilas mobil-mobil itu bergumul dengan debu, apalagi jika memasuki jalan kecil yang belum selesai diaspal.

Pengamatan saya soal Phnom Penh, memang terbatas hanya tiga hari dua malam. Terlalu dini untuk menilai ibukota yang sedang berkembang dan bangun untuk melupakan masa lalu kelam yang jejaknya bisa saya lihat di Choeung Ek Genocidal Center dan Tuol Sleng Genocide Museum.

phnom-penh-kamboja
Sore hari di jalanan depan Royal Palace.
IMG-0012-2
Kampanye yang sedang berlangsung di jalan raya. Mereka beriringan membawa bendera dan pengeras suara untuk menunjukkan dukungan terhadap suatu partai.

Saat berkeliling sebagian kota pun, ada suguhan arak-arakan kampanye di beberapa jalan utama.

Tuk-tuk yang saya naiki, terpaksa berhenti. Begitu pula dengan mobil serta kendaraan lainnya.

Saya dapat tontonan bagaimana politik di Kamboja berjalan, khususnya Phnom Penh. Mereka akan memilih pemimpin baru.

Entah, saya agak lupa apakah untuk pemimpin daerah atau negara.

Yang saya perhatikan, kampanye mereka, mirip dengan yang ada di Indonesia. Pendukung partai tertentu menggunakan seragam dan atribut partai. Mereka naik motor atau mobil serta membawa beberapa pengeras suara. Menyuarakan sesuatu termasuk yel-yel, ditambah derungan motor yang bersahutan.

Mayoritas orang Phnom Penh bisa berbahasa Inggris, sebagian kecil lainnya terbata-bata. Namun, hal ini yang membuat paling nyaman karena kami bisa berkomunikasi dengan lancar.

wisata-phnom-penh
Suasana di area dekat Royal Palace. Saat sore hari, sebagain warga tumpah ruah menghabiskan waktu senggang mereka di ruang publik.

Dari sopir tuk-tuk, resepsionis hotel, penjaga tempat wisata, sampai penjaja makanan street food pun menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang asing.

Saya sampai di Phnom Penh sore hari, ketika hujan deras. Perjalanan lewat darat dari Ho Chi Minh City ke Phnom Penh lancar-lancar saja.

Bahkan ekspektasi untuk bisa menyebrang sungai Mekong pupus, karena ada jembatan yang menghubungkan daratan di kedua negara.

Ingatan saya pun kembali menerawang ketika menulis artikel ini. Bagaimana saya dan Rudy ingin mencari kebutuhan harian di mini market. Tapi, kami mendapati mini market remang-remang yang menjual barang seperti sabun, makanan kecil, sikat gigi memiliki display yang tidak tertata dan lebih mirip toko kelontong.

Transaksi pertama saya di sana diliputi penyesalan. Kenapa sih nggak beli barang-barang pas di Ho Chi Minh City saja.

Belanja di Phnom Penh pembayarannya pakai USD. Apes saja, kalau beli sabun mandi batang merek Lux harganya $1. Yang waktu itu, kalau dirupiahkan setara dengan Rp 12.500.

Rasanya mau nangis, sama-sama di negara berkembang tapi pengeluaran jadi membengkak untuk beli hal-hal kecil.

Begitu pula ketika membeli minuman di pinggir jalan. Saya sempat beli es jus mangga & es tebu, harganya masing-masing $1. Tapi, soal rasa nggak perlu ditanya. Sepadan dengan harganya.

Saat makan malam pun, saya sempat kaget, karena untuk beberapa menu tidak harus dimakan dengan nasi. Dan tidak ada nasi atau karbohidrat lain saat saya tanya di warung itu.

Sedihnya, saya hanya sarapan roti dan pisang, melewatkan makan siang, lalu berharap mendapatkan menu makan malam eksotis yang halal dan mengenyangkan perut.

Ternyata, saya harus makan banyak protein & telur bakar tanpa karbohidrat.

Paling mencengangkan ketika mau menyambangi sebuah warung. Saya melihat ada bayi tanpa baju yang digeletakkan begitu saja di atas trotoar. Tepat di pojokan sebuah butik kecil yang menjual kerajinan.

Awalnya saya pikir hanyalah boneka. Tapi setelah saya perhatikan, memang benar-benar bayi. Ia bergerak menggeliat-geliat tapi tidak menangis.

Jujur, saya sempat shock melihat kejadian itu. Apalagi dalam kondisi hujan begitu deras.

Esok harinya, saya bertemu lagi dengan bayi tersebut sedang digendong oleh ibunya dan bersama kakaknya. Ah, mereka sedang ketawa-ketawa keluar dari sebuah rumah.

Banyak hal mengejutkan selama saya di Phnom Penh. Sebagian besar bertolak belakang dengan apa yang saya bayangkan sebelum berkunjung ke sana. Termasuk bagaimana kehidupan seorang biksu.

Saya pikir, biksu-biksu memang hanya akan menghabiskan waktu berada di tempat peribadatan. Mirip dengan potret-potret yang diperlihatkan film-film. Lalu ke mana pun mereka pergi, hanya berjalan kaki.

Ternyata lumayan berbeda. Saya melihat biksu, juga pergi untuk berwisata mengunjungi Royal Palace, sama-sama mengantri tiket, lalu menikmati tempat wisata yang mereka kunjungi dan berfoto.

Lain waktu saya melihat biksu membonceng kendaraan roda dua. Mungkin ojek. Untuk mengantarkannya ke suatu tempat.

Namun, saya juga melihat kejadian-kejadian spiritual dengan mudah bahkan di pinggir jalan.

wisata-kamboja
Seorang biksu sedang duduk di pinggir sungai Tonle Sap.

Ketika saya keluar dari Cheoung Ek, beberapa sopir tuk-tuk sedang meminta berkat kepada seorang biksu yang sedang lewat.

Dengan cerita singkat berdasarkan pengalaman saya. Apakah Phnom Penh cocok menjadi destinasi wisata Kamboja yang patut Anda kunjungi ?

Ya, saya tetap merekomendasikannya. Karena wisata kan tidak selalu hal yang menyenangkan dan hura-hura. Kita bisa belajar banyak hal dari warganya atau melihat seberapa bagus perkembangan suatu kota.

Saya menyarankan, Anda yang membaca artikel ini, tetap menyelipkan Phnom Penh sebagai tempat wisata saat melakukan perjalanan panjang dari Thailand ke Vietnam atau sebaliknya.

Phnom Penh sama menariknya seperti Siem Reap, dengan keunikan yang berbeda.

Phnom Penh ibukota Kamboja yang mulai menggeliat.

Tunggu, jangan sampai salah melafalkan Phnom Penh.

Bukan Fnom Penh, Feenom Pen, atau Fenomh Fenh. Yang benar ialah Pinom Peng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *