Roadtrip : Menembus 350 Kilometer Menuju Madura Dengan Roda Dua #1

Oh begini rasanya. Ketika hubungan suami istri tidak hanya sebatas tentang masak untuk suami atau cari nafkah demi istri. Melainkan menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang sering sulit diterima, termasuk memahami hobi lelaki yang kerap membuat pasangannnya berfikir, “haduh”.

Bukan pertama kalinya, saya kembali memaksakan diri mau roadtrip bersama Rudy dengan motor. Yang berulang kali saya berujar, “Ya naik motor ntar panas lah, belum lagi kalau ujan.”

Jawabnya pun enteng, “Naik motor itu kalau hujan nggak kepanasan, kalau panas nggak kehujanan.”

Hanya karena setiap perjalanan membawa cerita baru. Akhirnya, saya pun luluh dengan ajakan jalan-jalan lewat jalur darat ini.

“Jangan bawa tentengan banyak-banyak. Nggak praktis,” pesan suami saya beberapa hari sebelum perjalanan saat long weekend itu.

Akhirnya, setelah beberapa tahun bepergian bersama. Saya jadi lebih terlatih untuk packing secara ringkas, membawa pakaian seperlunya dan perlengkapan seminim mungkin. Dan berhasil mengemas pakaian tiga hari dua malam  untuk dua orang dalam satu backpack. Termasuk laptop, yang kami gunakan untuk bekerja selama liburan di Jawa Timur.

Hari masih gelap, jalanan juga masih sunyi. Kendaraan kami bebas melaju kencang, hanya terhambat lampu merah di perempatan jalan. Selebihnya semua lancar tak ada halangan. Pagi yang sunyi, kami lewati jalanan aspal dari kota Sragen. Melesat melewati toko dan rumah-rumah yang dipasangi lampu kuning redup untuk penerangan. Hawa sejuk meresap di badan, lama kelamaan berubah menjadi hembusan angin tipis. Roda motor kami bergerak semakin cepat. Mengejar waktu sebelum petang sirna ditelan mentari.

Hello Gunung Lawu

Memasuki gerbang perbatasan Jawa Timur, pemandangan pun berubah. Menyusuri jalanan yang sedikit berkelok. Kanan kiri penuh dengan hutan pinus dengan pohon-pohon tinggi. Dari sela-selanya tampak langit mulai memutih. Pertanda pagi segera tiba.

Kami berdua tidak berhenti. Beralih melewati desa-desa di jalan Ngawi, udara terasa semakin menghangat dan aktivitas warga mulai bergeliat.

gunung lawu
Berhenti sejenak menikmati keindahan Gunung Lawu saat pagi.
Seorang ibu mengayuh sepeda yang sering disebut pit kebo.
roadtrip
Roadtrip naik motor bersama pasangan. tertarik ?

Tampak di kejauhan, Gunung Lawu seperti menyembul dari langit. Sebentar-sebentar pandangan tertutupi pohon dan rumah warga yang ada di pinggir jalan. Kemudian muncul lagi. Pucuk Lawu yang hitam tampak kontras dengan birunya langit dan hijaunya sawah. Udara bersih minim polusi bisa saya hirup dalam-dalam. Kami berdua pun berhenti, meluangkan waktu lebih lama menikmati momen berharga yang jarang saya temui semenjak bekerja di ibukota. Ditambah lagi mengamati sepotong kehidupan pedesaan yang tenang, ayem tentrem, dan menjadikan alam sebagai bagian dari keseharian. Membuat saya sesaat iri dengan apa yang orang desa miliki.

Benar kata orang, bangun pagi biar rejeki nggak dipatok ayam.

Seorang ibu mengayuh sepeda menembus pagi untuk mulai bekerja. Membawa wadah bambu besar yang bisa digunakan untuk tempat apa saja : sayuran, barang belanjaan, atau pakan ternak. Begitulah, orang yang hidup di desa bangun pagi agar punya waktu lebih panjang beraktivitas. Sama saja, orang kota pun sering kali tergopoh-gopoh berangkat sebelum matahari terlihat. Sayangnya, kebanyakan untuk menghindari macet, bukan ?

Aktivitas sudah dimulai.

Jalanan mulai ramai dengan kendaraan. Ada bapak-bapak mengumpulkan jerami, mungkin dari sisa pembersihan area sawah sebelum ditanam lagi. Diikat kencang lalu ditumpuk-tumpuk di atas motor untuk dibawa pulang buat si sapi. Atau bisa dikeringkan untuk bahan bakar masak di dapur.

Satu lagi, seorang ibu yang sedang menurunkan pupuk dari motor. Sedangkan suaminya menggotong dua karung pupuk itu ke tengah sawah.

wisata alam jawa timur
Seorang ibu sedang menurunkan pupuk.

Lain dulu, lain sekarang. Banyak petani yang pergi ke tempat bekerja motor. Jadi tak perlu capek-capek membawa bawa pupuk atau hasil pertanian dengan digendong atau disunggi serta menempuh jarak berkilo-kilometer.

Saya jadi ingat mbok di desa. Ketika dulu masih pelihara sapi, beliau rela pergi ke kebon mencari jerami untuk pakan sapi-sapi kesayangan yang nantinya dijual jika saatnya tiba. Aktivitas itu dilakukan dua atau tiga hari sekali setiap sore. Ketika pekerjaan utama mengolah lahan pertanian selesai. Dan ketika asyik, ambil gambar. Plenyek… kok sepertinya saya menginjak tanah empuk yang teksturnya sedikit aneh.

Antara yakin dan tak yakin, bisa jadi ini tahi sapi yang dibawa ke pinggir sawah untuk dijadikan pupuk. Tanah empuk tadi di atasnya bercampur dengan jerami kering yang terserak. Memang tidak menimbulkan bau, bisa jadi karena tahi sapi tercampur dengan tanah. Pupuk kandang, rupanya masih dijadikan pilihan untuk menambah nutrisi tanah. Saya tahu betul karena pernah diajak ke sawah dan belajar menanam padi secara manual. Jalan mundur meletakkan bibit padi pada kedalaman dan jarak tertentu. Ketika itu, saya hanya dapat ledekan karena tidak bisa sempurna melakukannya.

Perhentian ini mengingatkan pengalaman waktu kecil di desa bersama mbok saya yang sekarang sudah pensiun dari aktivitas bercocok tanam karena encoknya sering kambuh.

Makan Sarang Lebah – Botok Tawon

Memasuki Wilangan, Nganjuk, motor dibelokkan ke sebuah warung makan sederhana yang letaknya dekat rel kereta. Ah saya lupa nama tempat makan yang pelatarannya terdapat meriam tepat di depan pintu masuk.

Gara-gara plang yang ditancapkan di pinggir jalan bertuliskan “Sedia Botok Tawon”, saya minta suami rehat sejenak sambil cari sarapan. Tempat yang sangat sederhana dengan mayoritas daftar menu standar yang bisa dijumpai di warung makan lain. Tapi menu utama botok tawon-lah yang membuat saya tertarik untuk mampir.

Saya hanya pesan satu bungkus botok tawon dan dua piring nasi. Ditambah lauk pelengkap telur dadar dan tempe goreng. Saya sudah mengenal botok sejak lama. Makanan yang terbuat dari ampas kelapa (kelapa yang diparut) beberapa kali dibuat ibu. Namun, botok yang seringkali saya jumpai berisi melanding dicampur teri.

botok tawon
Botok tawon
botok tawon
Sebagian botok tawon yang sudah hancur karena proses pemasakan.

Sesuai namanya, botok tawon, saya membayangkan kalau serangganya yang dimasak dan dibumbui. Tetapi setelah membuka bungkusnya, ternyata yang diolah adalah sarangnya. Sarang tawon entah dari spesias mana yang dipilih untuk dimasak. Versi yang saya makan ini dilengkapi kuah yang cukup banyak. Tidak ada tambahan bahan makanan lain kecuali sepotong tomat sebagai bumbu dan memberi rasa segar. Proses memasak botok tawon perlu beberapa tahap. Sebelum dibumbui, bahan utama yakni sarang lebah harus direbus terlebih dahulu agar sarang terpisah dari larvanya. Setelah itu sarang lebah digoreng sampai kering. Kemudian dibumbui dan dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus.

Botok tawon sebagian sudah hancur dan terurai sehingga lebih mirip kacang tolo. Tapi ada juga yang masih menggumpal meski sudah tidak utuh lagi. Aroma botok tawon tidak terlalu menyengat, bahkan mirip dengan masakan biasa. Memang rasanya lebih unik, gurihpada kuahnya dan terasa manis madu ketika mengunyah ampasnya.

Tertarik makan botok tawon ?

Jika iya. Perlu hati-hati, apalagi buat Anda yang punya alergi makan makanan aneh-aneh. Setelah selesai sarapan, kami berdua kembali melanjutkan perjalanan. Apa yang terjadi kemudian? Wajah saya mulai ruam merah dan bentol-bentol. Kemudian rasa gatal di setengah wajah dan bagian leher. Tak lama setelah itu, sebagian tangan dan kulit di perut kena imbas alergi dari botok towon. Untungnya, saya tak terlalu banyak makan botok tawon-nya sehingga biduran yang muncul tak terlalu banyak.

Kuncinya cuma satu, jangan digaruk dan biarkan saja, meski menahan gatal saat jalan-jalan cukup bikin bete. Alhasil, sampai di Mojokerto dan mampir untuk berwisata pun, saya terpaksa tetap percaya diri jalan-jalan sambil dilihatin orang karena wajah bentol-bentol sangat kentara.

Setengah perjalanan dengan motor roda dua. Beberapa kali saya dan Rudy pergi touring tipis-tipis bersama. Kali ini lebih mengesankan karena bisa menyapa pagi yang indah di Jawa Timur dengan pemandangan yang tidak sering saya jumpai.

#bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *