Pengalaman ke Bayon, Kamboja : Candi Seribu Wajah

Sudah selesai jilid pertama menjelajahi Angkor Wat. Berikutnya, sang sopir tuk-tuk membawa saya menuju Bayon yang terkenal.

Dengan tuk-tuk perjalanan saya lancar jaya, meyusuri jalanan beraspal yang membelah hutan. Bak naik andong di mana penumpangnya berada di belakang. Tuk-tuk melaju cukup kencang ketika jalanan sepi. Pastinya bisa berkendara lebih cepat, karena kendaraan ini menggunakan motor, bukan ditarik tenaga manusia atau hewan.

waktu terbaik mengunjungi siem reap
Pintu gerbang menuju kompleks Bayon Temple.

Di kiri-kanan jalanan pohon-pohon menjulang tinggi. Angin sepoi-sepoi mengobati hawa panas yang memang identik dengan Kamboja. Sesekali saya terhibur dengan gajah-gajah yang diarak untuk mengantarkan penumpang. (Meskipun sekarang sedang kampanye larangan eksploitasi gajah untuk pariwisata. Di Kamboja hal seperti ini masih bisa dijumpai).

Sejujurnya saya lebih menyukai Bayon daripada Angkor Wat. Itu pernyataan saya setelah memasuki Bayon dan melihat bangunan-bangunannya.

***

Setiap kompleks candi yang akan kami kunjungi. Wisatawan melewati gerbang megah, tak terkecuali ketika akan memasuki kompleks Bayon. Jembatan dengan patung-patung prajurit besar menghubungkan antara daratan yang terpisah sungai.

wisata siem reap

tempat wisata siem reap

Di area ini hampir semua turis berhenti. Tentu saja untuk berfoto, mau apalagi selain melakukan hal itu. Semuanya turun dari kendaraan masing-masing. Dan ikut ambil bagian mengambil posisi di lokasi yang sekiranya kosong dan bagian belakang masih terlihat ornamen bangunan khas Khmer.

Tapi ada juga wisatawan yang semenjak di Angkor Wat berbarengan dengan saya. Malah mengganti kendaraan dan menyewa sepeda untuk menuju kompleks utama Bayon.

Jarak daripintu gerbang yang terbuat dari batu pahatan sampai bangunan utama masih jauh. Cukup memakan waktu jika berjalan kaki atau bikin keringetan jika pilih menggunakan sepeda.

Sesampainya di depan bangunan utama. Saya pun diturunkan sang sopir. Ia menjelaskan sedikit tentang Bayon dan beberapa candi lain yang berdekatan. Lalu menunjukkan ke mana saja saya dan Rudy harus pergi. Transaksi saya hanya sebatas jasa antar saja ke Angkor, tidak lebih dari itu. Beruntung ia memberitahu apa saja yang harus kami kunjungi. Kemudian bapak tadi pergi jauh mengendarai tuk-tuk di lokasi parkir bersama teman-temannya.

Baca Juga : Panduan Wisata Mengunjungi Angkor Wat 

Cerita Menjengkelkan Hingga Konyol Menginap di Hostel di Tiga Negara 

Tentang Bayon, Candi Seribu Wajah

Dari kejauhan Bayon terlihat memiliki lebih banyak bangunan menjualng jika dibandingkan dengan Angkor Wat. Detilnya lebih terasa meskipun Bayon juga sama seperti yang lain sudah mengalami banyak pemugaran. Atas bantuan Jepang yang bekerjasama dengan Kamboja. Pihak konservasi Jepang untuk pelestarian Angkor berusaha mengembalikan arsitektur Khmer bergaya barok.

Paling mengesankan yakni wajah-wajah yang terukir pada batuan. Saking banyaknya, Bayon disebut candi seribu wajah. Meski pada kenyataannya hanya ada 200 wajah Lokesvara. Ukiran pada menara-menara itu umumnya berjumlah tiga atau empat. Jika diperhatikan lebih seksama, antara satu wajah dengan wajah lainnya memiliki mimik yang berbeda-beda.

paket wisata kamboja

mata uang siem reap

obyek wisata siem reap

Bayon tidak seluas Angkor Wat, tapi bangunannya cukup megah. Candi yang dibangun atas ide Raja Jayawarman VII pada abad ke-12 ini awalnya digunakan untuk penganut Budha Mahayana. Namun, peruntukannya beralih setelah Jayawarman VII meninggal. lalu difungsikan sebagai candi Hindu dan Buddha Theravada.

Nama Bayon ada setelah pendudukan Perancis di Kamboja. Orang Perancis menamainya Candi Banyan yang artinya pencerahan sang Buddha di bawah pohon Banyan. Perubahan menjadi Bayon terjadi ketika orang lokal Khmer tidak bisa mengucapkan Banyan dengan sempurna. Sedangkan menurut sejarahnya nama asli candi Bayon ini adalah Jayagiri (Gunung Kemenangan).

Bayon memiliki relief yang lebih jelas dibandingkan dengan Angkor Wat. Cerita tentang prajurit Khmer, nelayan, dan relief binatang masih terlihat. Bangunannya juga didominasi dengan ruang-ruang kecil serta beton penyangga bagian atap yang juga terbuat dari batu.

Tidak semua bagian Bayon mengalami konservasi. Candi ini jelas terlihat sebagai bangunan tua yang lama tak ditempati. Ketika masuk ke beberapa bangunan kecil di dalamnya. Bau pengap mudah tercium, termasuk bau batu yang lembab dan area yang kurang terkena cahaya matahari. Desain menara-menara membentuk puncak. Yang paling tinggi berada di tengah. Namun di sana tidak terdapat ruangan khusus yang bisa dikunjungi wisatawan. Menara dengan relief wajah menjadi salah satu lokasi terbaik yang sering diabadikan wisatawan.

Baca juga : Cerita Mengelilingi Angkor Wat 

Wisata Di Lokasi Popular Dunia Tak Selalu Menyenangkan

Berkunjung ke salah satu tempat wisata dunia tidak selalu mendapatkan pengalaman menyenangkan. Saya berbaur dengan wisatawan mancanegara dengan tujuan sama. Napak tilas tentang sebagian kecil sejarah Kamboja dan ingin menyaksikan bangunan peninggalan yang tersisa.

Seperti wisatawan pada umumnya, mengabadikan gambar menjadi bagian wajib di setiap liburan. Pengalaman jalan-jalan ke Siem Reap terutama Candi Bayon ini. Saya mendapat hal yang seringkali kurang menyenangkan.

wisata siem reap
Bayon dipenuhi wisatawan yang ingin berfoto dengan relief Lokasvara

Saya pun terusir ketika sedang santai dan duduk di beberapa lokasi yang ada di Bayon. Alasannya karena ada beberapa wisatawan asal negara Cina yang ingin berfoto.

Mereka biasa datang bergerombol dan hobi foto bersama. Sedangkan turis yang berusia lebih muda, akan sibuk bergaya dengan pose tertentu di bagian candi yang secara visual lumayan apik.

Yang bikin saya heran, sebagain dari mereka rela membawa beberapa properti yang bikin ribet. Dan semua dimasukkan ke dalam tas besar yang ditenteng ke mana-mana. Tak banyak turis dari Cina saat saya temui mampu berbahasa Inggris bagus saat itu. Ketika saya dirasa mengganggu, maka gestur tubuh mereka yang bicara. Seperti saat kejadian seorang suami mau memfoto istrinya. Saya berdiri di dekat bangunan penuh relief. Kemudian suami itu menghalau saya agar minggir.

Apalagi ketika kami harus antri menaiki tangga untuk melihat ruangan-ruangan di dalam Bayon. Beberapa orang berebut tidak mau antri dan saling geser.

Mendekati pukul 12 siang, saya dan Rudy harus segera menyelamatkan diri dari Bayon. Matahari terasa begitu terik dan semakin panas. Kami pun turun dan keluar lewat pintu depan. Tanpa lupa saya pun mengabadikan bagian terbaik paling favorit dari candi ini.

tempat wisata kamboja
Berfoto di depan Bayon.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *