Pengalaman Jalan-Jalan ke Nepal dan Cerita Yang Terkenang

Nepal diapit dua negara besar yang berpengaruh, China dan India. Dua negara yang sama-sama masuk dalam lima besar negara berpenduduk terbesar di dunia. Tentu saja ketika datang ke Nepal saya tidak hanya memenuhi keinginan untuk liburan. Tetapi menemukan hal baru yang belum saya jumpai sebelumnya di kehidupan sehari-hari saat di Indonesia. Pengalaman jalan-jalan ke Nepal bukan hanya sekedar menambah stempel passport bahwa saya pergi ke negara baru. Melainkan lebih dekat mengenal bahwa dunia memiliki jutaan manusia dengan aneka budaya, keyakinan, dan kebiasaan yang mungkin bertolak belakang dari apa yang kita anut selama ini.

Perjalanan tidak hanya memburu tujuan, melainkan menjemput pengalaman..

Bersyukur Hidup di Indonesia

Sebagian dari kalian yang membaca artikel ini mungkin sudah bolak balik naik pesawat terbang, mengunjungi bandara, bahkan pergi ke luar negeri. Biasanya negara yang pertama kali dikunjungi untuk wisata yaitu Singapura atau Malaysia. Lihatlah bandaranya, menakjubkan bukan ?!

Bahkan dalam salah satu adegan Crazy Rich Asian, Rachel Wu sempat takjub dan berkomentar tentang taman kupu-kupu dan bioskop. Tentu saja saat di bandara, yang menjadi salah satu perhatiannya ialah kondisi dan kenyamanan. Ketika di Changi, ada fasilitas kursi pijat gratis, taman indah di dalam bandara, instalasi seni, dan pusat hiburan untuk mengisi waktu saat transit dalam jangka waktu lama. Jika durasinya lebih dari lima jam. Coba deh mendaftar ikut tur keliling Singapura naik bus gratis.

Sama halnya dengan KLIA2. Tempatnya juga nyaman, meski tidak sekeren di Changi. Tapi kalau kepepet tidur di bandara pun tetap bisa dilakukan meski harus guling-guling di area tertentu. (Perlu tahu spot terbaik menginap ketika di bandara ya). Atau minimal ketika ke Soekarno Hatta di terminal 3 yang baru. Suasananya terkesan lebih mewah daripada terminal 2. Di sana disediakan kursi leyeh-leyeh yang sangat memadai.

Pssst… bagaimana dengan bandara Nepal? Pengalaman saya mengurus visa on arrival Nepal dan menunggu antrian imigrasi dalam waktu lumayan lama bisa di baca di sini. Sudah kebayang kan suasananya?

Ketika ke luar imigrasi pun tidak banyak hal yang bisa saya temukan. Kalau di bandara internasional lain kemungkinan besar ada restoran kecil, tempat jajan, atau semacamnya. Melewati pintu kedatangan, tidak banyak yang bisa saya temukan. Selain kerumunan orang mendatangi tempat penukaran uang dan pembelian simcard.

Begitu juga saat akan kembali ke Indonesia. Tribuvan International Airport memang sangat jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta International Airport. Yang ada di sana tak lebih dari kios yang menjual cemilan dan minuman ringan.

Setelah petugas memeriksa paspor dan tiket keberangkatan. Kami langsung menuju bagian xray security di pintu masuk. Dan yang terjadi, tidak ada pemeriksaan yang berarti. Semua tas saya letakkan agar melalui mesin pemeriksaan. Jika di bandara yang saya temui sebelumnya di negara lain atau di Indonesia ada petugas imigrasi berseragam yang akan memeriksa calon penumpang pesawat secara cermat. Kami malah dibiarkan berlalu, sedangkan petugas yang menjaga asyik ngobrol. Mereka pun tidak berseragam. 😀

Barulah ketika pemeriksaan kedua sebelum masuk ke ruang tunggu pemberangkatan. Pemeriksaan lebih cermat dan dilakukan oleh petugas yang seharusnya. Bahkan jalur untuk laki-laki dan perempuan dibedakan. Dalam tahap ini, ketika mengenakan jaket, saya diminta melepaskannya.

Baca juga : Panduan Wisata Backpacking ke Nepal Bagi Pemula 

Setelah itu, kami semua duduk menunggu jadwal penerbangan di sebuah ruang tunggu. Menurut saya lebih mirip ruang tunggu di rumah sakit, dengan kondisi yang tidak terlalu bersih tentunya. Untuk ukuran ruang tunggu termasuk tidak luas, tempat duduk berhimpitan, tidak berpendingin udara. Hanya menggunakan kipas angin di mana semakin banyak orang, suhu udaranya terasa lebih panas. Saat saya kebelet hendak mau ke toilet sebelum penerbangan dan mendapati toiletnya. Yiek… saya pun berbalik dan mengurungkan niat. Nanti sajalah, ditahan dulu, biar pipis di dalam pesawat.

backpacker ke nepal 2018
Bersama salah satu penjual souvenir antik dan aksesoris di Kathmandu Durbar Square.

Seperti Nepali

Pada waktu akan check in saya tidak menemukan loket maskapai yang saya tuju. Lalu, saya meminta pertolongan pada seorang polisi yang berjaga di salah satu pintu. Kelucuan pun dimulai. Saya paham tak semua Nepali mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Tetapi, jika orang ditugaskan di bandara internasional, saya beranggapan mereka sudah lolos tes berbahasa minimal inggris.

Saya juga jarang menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari. Belum lagi aksen jawa yang melekat pada lidah saya. Serta aksen khas Nepal kadang-kadang membuat saya harus beberapa lama mencerna bahasa yang mereka gunakan. Kecuali, saat bertemu orang-orang yang sudah familiar dengan lingkungan hotel atau pemandu wisata. Sudah dijamin, mereka malah bisa menebak asal kita dari mana.

Balik lagi, ketika saya bertanya di mana letak loket maskapai penerbangan yang saya maksud. Polisi pria itu menjawab dengan bahasa tertentu yang tidak saya mengerti. Lalu, saya mengulangi pertanyaan yang sama. Sambil menunjukkan e-ticket di layar handphone. Kembali dia tidak memahami apa yang saya katakan.

“I cant speak Nepali.” tambah saya.

Mendadak mukanya jadi cemberut, terlihat seolah-olah menyepelekan saya dan menganggap saya bodoh.

Lalu, saya dibawa ke petugas di sudut lainnya. Petugas itu perempuan, dan sang polisi berharap, apa yang saya maksud bisa dimengerti. Sampai akhirnya, ketika bertanya hal serupa ke petugas perempuan ini. Saya memperlambat ucapan dalam bahasa inggris, sambil menggunakan sedikit bahasa tubuh dengan harapan agar ia mengerti. Kemudian, petugas perempuan melakukan hal yang sama. Huh… dan akhirnya untuk mengakhiri pembicaraan tanpa ujung itu. Saya langsung berujar, “I am not Nepali. I am from Indonesia.”

Barulah setelah mengatakan seperti itu. Mereka tertawa dan raut muka berubah. Apalagi polisi laki-laki yang sebelumnya sempat jutek sama saya. Kami pun tertawa bersamaan dan petugas perempuan selanjutnya menunjukkan kalau waktu check in masih satu jam lagi. Jadi saya harus menunggu.

“Oh, you are from Indonesia. I thought you can speak local. Your face look like Nepali.” Polisi laki-laki menyapa saya. “Look at her. Look like Nepali ?!” ucapnya pada petugas perempuan itu, sambil menujuk saya.

Ini sudah orang ke sembilan yang mengira saya adalah orang asli Nepal. Mulai dari pemilik restoran di Thamel, lelaki lokal yang menukar uang pada saya, penjual anting di Kathmandu Durbar Square, pemilik guest house di Bhaktapur, penjual bakdar di sebuah kedai rumahan di Bhaktapur, pemilik toko souvenir di Bhaktapur, pemandu wisata yang saya temui di Thamel, resepsionis di hotel yang saya tinggali saat di Nagarkot, dan polisi yang salah paham di Tribuvan Airport.

Perasaan saya antara bangga bercampur geli. Saya menebak-nebak, bagian manakah yang membuat mereka mengira saya seperti orang Nepal ?

Apakah hidung ? Saya rasa tidak. Mata? Mata saya hitam, sedangkan sebagian mereka punya mata cantik yang berwarna. Aha… bisa jadi kulit coklat saya yang mengecoh penglihatan mereka.  Ya..ya..kulit saya yang kecoklatan.

cara pergi ke nepal
Penjual bunga yang berada di area Taumadhi Square Bhaktapur.

Negara Baru, Budaya Baru, dan Jalan Menyembah Tuhan

Sejak sekolah dasar, apa yang saya ketahui tentang agama yang diakui di Indonesia hanya lima. Islam, Khatolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Lalu pada tahun 2000 saat peemrintahan Gus Dur, Kong Hu Chu diresmikan sebagai agama ke-6 yang diakui dalam hukum Indonesia.

Pernah ke Bali ? Melihat bagaimana umat Hindu sembahyang, perempuan-perempuan cantik membawa sesajen dan saat berdoa menggunakan kebaya sebagai pakaian tradisional yang sampai sekarang terus dilestarikan. Di Nepal, agama terbesar yang dianut penduduknya juga Hindu. Perlu diketahui, Budha sendiri lahir di Nepal. Tepatnya daerah bernama Lumbini yang jaraknya 265,6 kilometer dari Kathmandu. Namun, presentase penganutnya hanya mencapai 10,74%. Sedangkan negara dengan penganut agama Budha terbesar malah ada di China. Selain karena memang penduduknya jauh lebih banyak.

Buat saya orang awam yang tidak paham agama Hindu, pasti akan melihat cara berdoa pasti sama saja. Ternyata cukup berbeda lho. Sama halnya ketika kita mau menelaah agama Islam yang alirannya banyak. Lalu ajaran Khatolik yang aliran juga bermacam-macam.

Ketika saya ke Nepal, saya menemukan budaya dan tradisi baru yang sangat berbeda tentang bagaimana mereka menganut kepercayaan dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.

Kebiasaan berdoa paling kentara yang bisa saya lihat, ketika berada di Bhaktapur. Saya bisa melihat sangat dekat kegiatan sehari-hari warga sekitar. Apa yang mereka lakukan untuk mengawali hari. Berdoa, mengantar anak ke sekolah, berbelanja, dagang, dan akhirnya menutup hari lebih awal. Karena memang kegiatan mereka tidak sampai larut malam. Jam 7 malam waktu setempat, rata-rata toko dan perumahan sudah tutup.

Pagi-pagi setelah selesai sarapan, saya dan Rudy kembali menyusuri kompleks Bhaktapur. Menghabiskan waktu di depan Nyatapola Temple yang megah. Di bagian paling atas, sudah ada orang lokal yang kemarin juga saya temui di temat yang sama.

Namun, kali ini ia melakukan syuting dengan cameraman bule dan menjelaskan tentang Nyatapola dalam bahasa inggris. Di sepanjang jalan yang saya lewati, ada jejeran orang membuka dagangan menjual bahan makanan mentah. Tepat di depan Nyatapola, ada dua atu tiga perempuan menjual bunga untuk digunakan berdoa.

backpacker ke nepal
Bhairavnath Temple

Di sudut keramaian itu ada bangunan besar, Bhairavnath Temple. Di sana sehari-hari orang berdoa dan melakukan pemujaan. Selalu ramai, sejak awal saya datang, silih berganti orang mendatangi untuk sembahyang meski tidak terlalu lama. Saya pun memperhatikan apa saja yang mereka lakukan.

Ada beberapa ibu-ibu yang datang dengan membawa bunga, lalu meletakkan di tempat tertentu. Kemudian berdoa, lalu menempelkan tangan pada suatu tempat seperti altar pemujaan dan meletakkan sesuatu di bagian dahi mereka.

Kegiatan ini pun silih berganti dilakukan setiap pengunjung yang ke sana. Ada pula lelaki yang saya perhatikan sepertinya hendak pergi ke suatu tempat dan melewati persimpangan. Lalu menghentikan langkahnya dan mampir. Berdoa khusyuk sambil memejamkan mata serta menangkupkan kedua telapak tangan seperti menyembah di bagian depan dada. Berdoa dalam waktu singkat, memegang lonceng, meletakkan sesuatu ke dahi mereka. Kemudian berlalu pergi melanjutkan aktivitas.

Tapi ada pula yang datang dengan perlengkapan lebih serius. Seorang ibu berpakaian sari, tampak segar, cantik, dan rapi dengan pakaian tradisional. Ia keluar dari sebuah mobil lalu menuju lokasi yang sama. Ibu berpakaian merah dan kuning ini membawa piring lebar dari alumunium dan berdoa di sana.

Tak lama ia mendatangi Nyatapola Temple dan meletakkan beberapa bunga serta sesajen di bagian tertentu.

Baca juga : Gadis-Gadis di Kathmandu.

Yang membuat saya heran tentang keberadaan Nyatapola. Bangunan ini tinggi dan besar. Di bagian atapnya digantungkan lonceng-lonceng kecil. Ketika angin cukup kencang, suara lonceng itu akan bersahutan satu sama lain. Bagian paling puncak terdapat ruangan kecil yang dikunci. Saya tak tahu apa yang ada di dalamnya.

Meski pun di anak tangga bagian bawah tempat memberikan sesajen. Lucunya, saat siang hingga sore hari, banyak orang naik ke atas menghabiskan waktu di sekitar ruangan yang terkunci tadi untuk leyeh-leyeh atau ngobrol. Kebanyakan malah orang lokal yang bercengkrama di sana. Memang ada bagian yang bisa digunakan untuk duduk, yang dilapisi kayu.

backpacker ke nepal murah
Seorang pria sedang melakukan ritual tertentu.
pengalaman jalan jalan ke nepal
Berdoa menjadi ritual di pagi hari yang dilakukan umat Hindu. Salah satu lokasi untuk bersembahyang.

budaya nepalTak jauh dari Nyatapola. Ada tempat pemujaan lainnya yang berada tepat di pertigaan jalan. Di sini juga digunakan sebagai tempat berdoa bagi banyak orang Hindu. Dua buah tempat berukuran kecil. Yang satu dibuat lebih besar, di dalamnya terdapat patung. Sedangkan satunya tidak memiliki atas dan terdapat patung singa. Lonceng menjadi salah satu sarana peribadatan yang tak pernah tertinggal, begitu pula dengan bunga.

Yang datang ke sana pun biasanya orang-orang yang lalu lalang melewati jalan. Ketika mau bepergian atau melewati tempat itu, mereka sengaja berdoa sejenak. Itu yang ada dalam penglihatan saya selama menghabiskan pagi di sekitar Nyatapola Temple.

Saya semakin memperhatikan cara mereka berdoa. Terutama ketika ada seorang lelaki yang sedang melewati jalan itu. Ia menghentikan langkahnya kemudian berdoa sejenak lalu menempelkan kepalanya di dinding bagian bawah Nyatapola. Begitu juga dengan ibu-ibu yang ada ada dalam foto.

paket wisata ke nepal
Kunjungan anak-anak sekolah di Lalitpur Durbar Square.
paket tour ke nepal
Anak sekolah dengan penampilan hampir mirip mulai dari rambut dan pakaian yang dikenakan.
wajah orang nepal
Mereka bertiga masih kelas enam sekolah dasar.
orang nepal
Remaja yang menuju ke sekolah. Lokasi : Thamel.
orang nepal
Beberapa siswi di Nagarkot.
wisata nepal murah
Berdasi, kemeja lengan panjang, dan rambut diikat jadi ciri khas penampilan siswi di Nepal.
wisata nepal 2018
Siswi di Nagarkot berpakaian lebih sporty. Seragam mereka dilengkapi dengan jaket, menyesuaikan iklim di sana.

Anak-Anak Sekolah Yang Rapi

Sejak datang di Nepal, saya bertemu dengan banyak anak yang diantar jemput bus sekolah. Salah satunya ketika berada di jalanan menuju Thamel. Sangat mudah sekali mengenali anak sekolah di Nepal. Mereka menggunakan seragam rapi, berdasi, kemejanya dimasukkan ke dalam celana/rok, menggunakan sepatu yang sama, dan yang paling saya sukai. Tatanan rambut mereka rapi, baik perempuan maupun laki-laki.

Saya jadi ingat dengan seragam saat masih sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Saya diharuskan mengenakan dasi. Terutama saat hari Senin dan ketika upacara bendera di hari besar nasional. Dispensasi untuk tidak mengenakan dasi pun diberlakukan ketika di hari biasa. Tapi lain halnya ketika di Nepal.

Ketika seragam sekolah mengharuskan memakai dasi dan berpakaian rapi. Rupanya mereka menggunakan perlengkapan tersebut dari rumah hingga pulang sekolah. Sampai-sampai saya berujar, “Kok nggak ada anak yang agak nakal dan menggunakan seragam seenaknya ya?”

Dari kebanyakan anak-anak sekolah yang sempat saya temui sepertinya cukup menaati peraturan terkait baju seragam. Ketika di Bhaktapur, saya hanya sekali melihat dua orang anak sekolah menengah yang ketika pulang mengeluarkan bajunya dan menggunakan topi di luar ketentuan sekolah. Itu pun jika dibandingkan dengan anak sekolah di Indonesia yang rebel, mereka masih dalam taraf lebih rapi.

Di pelataran Nyatapola Temple, sering digunakan sebagai lokasi antar jemput anak sekolah. Bus sekolah atau mobil elf digunakan untuk menjemput mereka. Lalu ketika siang atau sore hari. Beberapa anak akan di-drop dan dijemput salah satu anggota keluarganya di area tersebut.

Ketika di daerah yang lebih dingin, seragam sekolah pun lebih dimodifikasi agar terlihat santai dan mampu menahan hawa dingin. Di Nagarkot, saya berpapasan dengan gerombolan anak sekolah yang sedang melakukan aktivitas hingga sore hari. Mereka mengenakan pakaian dengan model casual dan lebih sporty.

Soal kerapian anak sekolah tampaknya tidak bisa saya ragukan. Bahkan ketika akan hiking di Nagarkot. Saya juga bertemu dengan anak kecil yang berangkat ke sekolah sendirian. Ia mengenakan celana panjang warna biru dan kemeja biru muda, tak lupa dengan dasi serta tas koper kecil yang ditenteng.

Untuk anak yang lebih kecil, orang tua atau saudara yang lebih tua akan mengantar ke sekolah.

wisata ke nepal
Rumah-rumah di pinggiran Thamel. Sebagian besar merupakan bangunan baru.

Rumah Bertingkat

Rumah-rumah di Nepal cenderung bertingkat. Baik di kota maupun desa. Rumah gaya lama minimal tiga lantai dan menggunakan kayu yang disertai ukiran-ukiran rumit dengan pintu kecil yang mengharuskan orang untuk menunduk terlebih dahulu ketika masuk maupun keluar rumah.

Rumah dengan pintu pendek ini mengingatkan saya pada rumah-rumah bergaya tradisional Jawa. Di tempat mbah saya di Jogja. Masih menggunakan rumah gebyok (istilah rumah yang terbuat dari kayu dan bisa dijual dengan cara knock down dan dipindahkan).

Filosofi mengenai pintu yang pendek ini mengharuskan bahwa siapa pun terutama tamu yang akan masuk rumah diwajibkan menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan pada pemilik rumah dan kediaman itu sendiri.

Sedangkan rumah yang lebih modern dibangun dengan batu bata yang sama-sama dibuat bertingkat. Saat menginap di Bhaktapur, saya tinggal di rumah warga yang menjadikan beberapa kamarnya sebagai tempat penginapan. Di guest house ini, para tamu berada di dua lantai bagian atas. Kalau tidak salah, rumah itu sendiri terdiri dari lantai dasar dan empat tingkat di atasnya.

Mayoritas rumah warga tidak terlalu luas, tetapi di bangun ke atas dan berhimpitan.

Pengalaman jalan-jalan ke Nepal kali ini memang lebih bertema budaya dan menghabiskan waktu mengamati keseharian warganya. Saya punya daftar alasan untuk kembali lagi liburan ke Nepal. Apakah dengan cerita saya membuat kalian juga ingin mengunjungi negeri atap dunia ini ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *