Yang dikenal banyak orang sebagai ikon Kota Lama Semarang biasanya Gereja Blenduk. Tapi kini berbeda kota lama yang sudah lama mati suri ini mulai bangkit. Gedung-gedung tua direnovasi. Dikemas ulang tanpa meninggalkan ciri kolonial yang menjadi akar pembangunnya. Fungsinya sudah berbeda dari zaman dulu. Bangunan-bangunan diperuntukkan lebih komersil seperti restoran, cafe, atau bar. Di jalan Letjen Suprapto, Tanjung Mas, Semarang Utara ada Taman Sri Gunting. Letaknya bersebelahan dengan Gereja Immanuel. Taman ini patut disinggahi. Meski tidak terlalu fantastis, taman Sri Gunting menjadi public space karena letaknya strategis dan menjadi penolong bagi pengunjung apalagi saat siang hari yang panas.

Eits, jangan cuma nongkrong. Taman ini jadi tempat mangkal kuliner pedagang kaki lima yang harganya murah meriah tapi lazis rasanya. Tak jauh dari situ ada gang sempit yang sebelumnya kosong dan diperuntukkan sebagai pembatas gedung saja. Kini sudah dirubah menjadi lokasi pasar loak.  Pasar barang bekas ini memang nggak besar-besar amat. Tapi barang yang dijual memang cukup beragam dan lumayan jadul. Awalnya pasar barang bekas hanya buka pada hari tertentu dan jam tertentu saja. Karena banyak penggemar dan pembelinya lumayan. Akhirnya pasar loak Sri Gunting jadi buka lebih teratur, dari sore hingga malam hari. Apalagi saat hari libur bisa buka dalam durasi lebih lama.

Ini salah satu barang yang saya beli dari pasar loak Sri Gunting. Niat awal hanya lihat-lihat saja. Lihat-lihat cuma lihat-lihat dan akhirnya gatel beli topi bekas yang harganya Rp 125.000. Topi coklat bahan bludru model jadul ini kalau baru saya taksir di atas 500 ribu rupiah. Ya tak apalah, saya pikir karena jarang belanja pas liburan. Anggap saja jadi semacam souvenir pas kunjungan ke Semarang. Kios-kios di pasar klithikan(istilah lain pasar loak) ini tidak permanen. Mereka kebanyakan memakai booth bekas dari beberapa pameran. Karena sebagian besar dari atasnya ada logo brand produkproduk tertentu.

Topi hanya sebagian kecil yang dijual di pasar loak Sri Gunting ini. Saya tertarik sekali dengan sepasang kaca tua dengan gantungan di bagian bawahnya. Sepasang ditawarkan Rp 500.000 itu masih bisa ditawar. Tapi ya nggak mungkin saya beli, karena waktu itu rumah saja belum punya. hiks

Ragam Barang Bekas

Barang-barang bekas di pasar loak ini lumayan ragamnya. Di kios yang saya sambangi cukup lama menjual mulai dari topi bekas, televisi cembung kuno yang sudah mati, mesin penggiling bumbu manual, lampu gantung seperti yang ada di rumah-rumah lama, sampai kamera tua. Model kameranya beragam memenuhi satu meja. Di kios sebelahnya menjual piala model lama, sendok bekas, garpu, cangkir keramik, sampai alat makan model kuno. Yang menarik yaitu koper tua darin kayu ukuran besar yang berat. Cocok nih kalau didaur ulang dan dimodifikasi jadi meja atau alamari. Sesuai untuk penggemar barang-barang klasik dan ingin mendekorasi rumah bergaya retro.

Untuk yang hobi pendengar musik gramophone, kios lain juga menjual setumpuk lempengan hitam. mata uang kuno juga dijajar dalam wadah plastik dan ditata rapi. Ada yang kertas, tapi kebanyakan lempengan receh. Lampu-lampu petromax ukuran besar hingga kecil juga dijual dengan harga yang cukup murah.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *