Pagi di Melaka

Menjadi independen traveler tanpa mengikuti itenerary agen wisata menurut saya lebih menyenangkan. Tidak terikat jadwal padat dengan waktu kunjungan terbatas. Atau berpindah tempat dengan terburu-buru karena takut ditinggalkan rombongan. Liburan terasa santai dan saya bisa menentukan mau ngapain aja. Menentukan kapan dan dimana berbelanja bahkan menghilangkan jadwal belanja yang sering kali memenuhi jadwal perjalanan yang diikuti.

Sebenarnya, saya tinggal tak begitu lama di Melaka. Cuma tiga hari. Tapi cukup untuk menikmati kota kecil bersejarah ini. Suasananya adem dan tenang. Meski pada kenyataannya Melaka memang panas karena letaknya berada di tepi laut. Saya tinggal di pusat kota dan belum sempat menjelajahi semua area. Dalam penilaian saya Kota Melaka termasuk sangat bersih, teratur, dan nyaman. Ketika suatu kali saya mengunggah foto Sungai Melaka di sosial media. Beberapa teman langsung berkomentar saya sedang di mana. Mereka cukup takjub jika memang ada sungai di Indonesia terutama di daerah kota yang sebersih itu. Sungainya cukup lebar dengan air yang bersih dari sampah meski tidak jernih. Alias warnanya hijau keruh. Tidak berbau dan bagian badan sungai dijaga dari bangunan permanen.

Saya menyempatkan bangun agak pagi di hari terakhir. Setelah kemarin saya memilih bangun siang dan bersantai-santai di hostel. Menyusuri jalan setapak di tepi sungai Melaka yang bersih sekitar pukul enam pagi. Mataharinya sudah nongol dan cukup terik ketika saya melewati belakang hostel tempat menginap yang berada di pinggir sungai Melaka. Jika malam hari beberapa hostel juga punya restoran kecil di pinggir sungai Melaka. Keesokan harinya lokasi jualan sudah bersih. Saya menyimpulkan kota ini ramah pejalan kaki dan sangat enak digunakan untuk aktivitas olahraga pagi atau sore.

Panjang sungai Melaka 14 kilometer. Tapi saya memilih tidak menyelesaikan rute ini. Saya lari-lari kecil melewati Portugese Fort dan berpapasan dengan pelari lain. Maksud hati ingin melihat Selat Melaka dari pinggiran jalan layang. Saya diperingatkan seorang petugas agar memilih rute memutar melewati Hotel Casa Del Rio, hotel termewah dan termahal di Melaka. Lucunya, si petugas ini langsung menebak kalau saya orang Indonesia. Wah wajah saya kentara sekali ke Indonesiaannya ya. Untung saja bapak tadi tidak meminta paspor untuk bukti identitas, karena saya meninggalkannya di hostel. Orang-orang di Melaka juga ramah. Ketika berpapasan dengan beberapa orang yang menghabiskan  pagi hari dengan berolahraga, mereka tidak segan tersenyum dan menyapa “Halo” meski tidak saling kenal. Ciri khas orang Indonesia dan Malaysia yang satu ras Melayu.

Suasana pagi di Melaka tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi. Kebayang kan di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia bisa dengan gampang membeli sarapan di warung. Di Melaka sungguh berbeda. Saya melewati beberapa gang untuk balik ke hostel. Berharap menemukan penjual sarapan pagi dengan ragam makanan yang berlimpah. Eh ternyata pagi di Melaka begitu sepi. Yang ada hanya penjual cemilan atau jajan pasar yang makanannya sudah diborong dan tampak tidak menarik. Yang tersisa hanya lontong atau mereka lebih mengenal dengan bacang, semacam kue carabikan dan beberapa makanan yang digoreng.

Yah, akhirnya saya hanya bersabar menahan perut keroncongan dan menghabiskan waktu sampai pukul sepuluh pagi untuk bersiap mengunjungi beberapa museum di Melaka. Dengan kembali berharap beberapa tempat makan sudah buka dan brunch sebelum beraktivitas. Sungguh apes, suasananya tidak jauh berbeda. Sudah ada satu atau dua yang buka tapi makanan yang dijual mengandung babi. Ah, tau gitu malam sebelumnya saya beli beberapa makanan untuk persediaan sarapan.  Mau tidak mau saya ambil sisi positifnya saja. Jika jadi independen traveler punya waktu lebih leluasa untuk melakukan apa saja. Tapi bisa sibuk sendiri kesulitan mencari sarapan seperti pengalaman saya. Di hostel pun sarapan yang disediakan hanya roti tawar dengan meises.  Keuntungan mengikuti perjalanan di agen  wisata semuanya sudah terjadwal rapi tanpa harus repot mikirin mau sarapan apa dan di mana. Ditambah siapa tahu suguhannya sarapan tradisional yang menggugah selera.

 

Incoming search terms:

  • sarapan di melaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *