Nasi Jamblang : Tentang Daun Jati dan Makanan Sejak Zaman Penjajahan

Di zaman kekinian, makanan dibuat lebih catchy. Tidak hanya dari segi rasa tapi juga tampilan. Apalagi ketika makanan jadi komoditi ekonomi dan memiliki pasar kuliner yang luas. Bungkus modern dengan desain unik jadi salah satu yang ikut dijual agar terus diminati pembeli.

Waktu saya ke Cirebon bulan November 2017 lalu, pertama kalinya mencoba nasi jamblang. Jangan kira makanan tradisional khas Cirebon ini juga ikut-ikutan ganti kemasan jadi lebih kekinian.

Saya merasa takjub karena para penjualnya masih merawat sisi tradisional dengan menggunakan daun jati sebagai bungkusnya.

wisata kuliner khas cirebon3

sejarah nasi jamblang

Sore hari setelah pulang dari Gua Sunyarangi, saya dan Rudy, muter-muter kota untuk merapel makan siang dan malam. Di depan pasar pagi Cirebon, yang tak jauh dari tempat kami menginap, Grand Dian Cirebon, area pinggir jalan mulai rame dengan lapak-lapak yang baru buka.

Ada satu warung tenda dengan terpal warna biru, didatangi beberapa pembeli. Mereka berkerumun duduk di pendek, membelakangi jalan raya. Sedangkan penjual usia 35-an menggunakan clemek jahitan sendiri yang dililitkan di pinggul.

Dari sebrang jalan, sudah tampak menarik karena baskom-baskom warna silver ukuran sedang berjajar di atas meja. Di bangku yang tersisa, kami nyempil numpang duduk dan mengantri agar dilayani.

Wihh…lauk pauknya menggiurkan dan bermacam-macam. Sampai bingung mau pilih yang mana. Lalu penjual tadi menawari saya, “Nasinya mau berapa mbak?”

Bingung ? Iya pasti. Tanpa pikir panjang saya jawab, “Nasinya satu saja.”

Ibu penjual tadi lalu mengambil bungkusan daun dan membukanya. Mengambil sedikit sambal lalu diletakkan di samping nasi.

“Mau lauk yang mana, Mbak?” tanyanya.

Saya pilih-pilih dan tanya ini itu. Akhirnya pilihan tertuju pada ikan tongkol sambal merah dan perkedel tahu. Setelah satu bungkus nasi saya terima dengan lauknya. Duh…isinya, sedikit sekali. Tampang saya memang kelihatan bingung. Lalu sang ibu penjual memberi tahu, “Ini namanya nasi jamblang, memang pakai daun jati. Cuma sebagian saya pakai kertas, soalnya kehabisan daun.”

nasi jamblang khas cirebon

wisata kuliner cirebon

kuliner khas cirebon

Tau nasinya hanya seiprit saya minta tambah satu lagi. Bahkan ukuran nasi jamblang jauh lebih kecil daripada nasi kucing ala Solo dan Jogja (nasi kucing merupakan istilah untuk nasi bungkus yang dijual angkringan dengan porsi hanya sedikit).

Tak lama setelah itu, dua gelas teh tawar hangat diletakkan di depan kami sebagai sajian gratisan untuk setiap pembeli. Sang pria yang sepertinya suami ibu penjual tadi, mengurusi soal minuman pembeli yang makan di tempat.

Baca jugaTHE MOON CUISINE IN SIEM REAP

Makan nasi jamblang dengan gaya prasmanan pinggir jalan. Semua lauk berjejer dalam baskom dengan stok yang tak terlalu banyak di setiap wadahnya. Ada sekitar 15-20 lauk pauk yang bisa dipilih mulai dari tongkol, telur dadar, ayam goreng, jengkol, sate semur kentang, perkedel tahu, tahu goreng, sambal goreng, cumi hitam, paru goreng, dan masih banyak lainnya. Tentang rasa lauk pauk itu memang enak dan layak, untuk ukuran harga sangat murah. Mirip seperti lauk pelengkap yang dijual di warteg atau warung makan lainnya, hanya porsinya memang dibuat lebih kecil.

Nasi jamblang punya sejarah tidak mengenakkan sejak Zaman Belanda. Makanan yang ditujukan bagi pekerja paksa yang turut membangun bagian kecil jalur jalan raya Deandles di bagian Kabupaten Cirebon. Porsinya sedikit berbanding terbalik dengan kebutuhan para kuli dan pekerja yang mengeluarkan tenaga ekstra saat bekerja.

Meski punya nama sama. Nasi jamblang Cirebon ini malah tak punya hubungan dengan buah jamblang. Atau menggunakan bagian pohonnya untuk memasak. Nama nasi jamblang sebenarnya berasal dari sebuah desa yang ada di barat Cirebon.

sega jamblang

nasi jamblang kuliner cirebon

Konon ceritanya, kerja paksa yang merenggut banyak nyawa itu minim dana, karena saat itu Belanda yang mendirikan Hindia Belanda sedang dijajah Perancis di Eropa. Para pekerja membawa bekal sendiri dari rumah, sayangnya karena waktu yang sempit, seringkali bekal tersebut jadi basi. Penggunaan daun jati bukan tanpa sebab. Daun ini bisa membuat bekal nasi menjadi tahan lama dan tetap pulen. Lambat laun, setelah masa penjajahan usai, nasi jamblang tetap diperkenalkan ke generasi berikutnya. Bahkan diperjualbelikan di pasar-pasar.

Daun jati pada nasi jamblang menampik kalau kekinian tidak harus diterapkan dalam segala hal. Bahkan bisa tetap punya daya jual yang tinggi dan daya tarik sebagai makanan tradisional khas Cirebon. Penjual nasi jamblang saat ini semakin banyak dan menjadi salah satu makanan yang direkomendasikan bagi wisatawan yang berkunjung ke Cirebon. Jangan kaget lho, kami berdua makan dengan masing-masing dua porsi nasi dan tiga lauk cuma habis Rp 20.000 saja.

Baca jugaBARBEKIU SAIGON NIGHT PINGGIR JALAN

 

Incoming search terms:

  • nasi jamblang daun jati
  • sejarah nasi jamblang pakai daun jati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *