Meramu Teh, Menghangatkan Jiwa

Teh sudah menjadi bagian yang melekat di kehidupan keluarga kami. Buat bapak saya, tidak ngeteh tiap pagi rasanya ada yang kurang. Meski bukan termasuk penggila
teh, minuman ini sudah menjadi pembuka hari yang menghangatkan suasana. Setiap pagi bapak saya merebus air, mengambil takaran di wadah penyimpanan teh, menuangnya ke dalam ceret blirik kecil. Setelah air rebusan sudah matang, lalu ditunggu sesaat, kemudian dituangkan.

Ngecem teh dulu, lalu berangkat mandi. Setelah selesai baru menuangkannya ke dalam gelas kaca dan dinikmati sambil nonton berita di televisi. Beruntungnya saya punya bapak yang tidak manja. Jauh dari kebiasaan patriarki yang segala macam harus diladeni, bahkan untuk minum teh.

Soal kebiasaan ini malah kami yang ada di rumah sering kali ditawari untuk dibuatkan teh. Si bapak yang membuatkan teh untuk ibu. Jarang sekali, bahkan hampir
tidak pernah ibu saya sibuk-sibuk membuat segelas teh untuk suaminya. Kalau memang harus membuat teh untuk bapak, ibu saya membuatnya ketika tamu datang berkunjung. Jadi ya sekalian saja. Tidak ada momen spesial menyajikan teh.

Saya menjadi salah satu yang tidak ketinggalan untuk ditawari. Kadang ya sungkan, tapi kalau ditawari, saya manggut-manggut saja dan minta dibuatkan dengan gula yang
sedikit. Lain halnya dengan adik saya, bungsu kesayangan, yang lebih sering pesan satu gelas teh hangat pas bapak sedang membuatnya.

Bapak saya memang peramu teh yang unggul. Bahkan teh yang digunakan sehari-hari ia yang mencari resepnya dan mencampurkan. Dulu ibu saya hanya pakai satu merek teh. Teh Sintren. lalu berkembang menjadi dua karena entah dari mana mendapatkan resep ini. Sampai ketika pergi ke pasar, bapak saya menitipkan tiga merek teh untuk dibeli. Yang digunakan juga teh tubruk. Harganya murah, dapatnya gampang, dan sekali takaran penyeduhan bisa untuk tiga atau empat gelas. Teh 999, teh Sintren, dan teh Gopek. Itu campuran teh yang menjadi minuman pembuka setiap hari untuk bapak saya. Tiga teh tubruk tadi dibuka dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu dicampur dengan dikocok sampai semuanya berbaur rata. Disimpan dan
digunakan dengan takaran yang hanya kira-kira saja. Tapi tetep mantap rasanya saat diseduh.

Teh sudah menjadi bagian yang terelakkan dari jamuan tiap rumah di Indonesia. Dari basa basi sampai tata krama perjamuan, rata-rata menyuguhkan teh ketika ada kunjungan tamu di setiap rumah. Baru kopi atau air sirup sebagai penggantinya.

Suatu ketika saya memiliki tugas kerja berkaitan dengan survei merek-merek produk di Indonesia. Kami harus keliling ke beberapa rumah untuk melakukan wawancara
mengenai berbagai macam barang yang beriklan di televisi. Teh tidak ketinggalan menjadi bahan tanya jawab. Proses wawancara memang cuma 45 menit. Tapi obrolan mengenai teh malah berlanjut panjang. Dari cara menyeduh teh yang baik, merek teh turun temurun, sampai kebiasaan ngeteh yang sudah menjadi candu bagi sebagian orang. Ditambah saya mendapatkan tips meramu teh yang tidak biasa.

Ginastel. Legi, panas, kentel jadi salah satu ukuran teh yang enak bagi orang jawa. Di rumah, kami mencampurkan tiga merek teh untuk dikonsumsi. Ketika survey saya malah dapat tips untuk mendapatkan kualitas wedang teh yang uenak, coba campurkan sembilan merek teh sekaligus. Lumayan banyak juga pikir saya. Tapi nara sumber ini memberi dispensasi, kalau sembilan dianggap terlalu banyak kurangi menjadi enam merek teh tubruk saja.

Setiap merek teh biasanya memang memiliki keunggulan masing-masing. Ada yang istimewa karena aromanya yang wangi. Ada yang menonjolkan teh dengan rasa pahit. Ada yang menjual ciri khas teh kental ketika diseduh. Dan ada pula yang istimewa karena identik dengan rasa sepet.

Kontur tanah, iklim, cuaca, serta proses pengolahan mempengaruhi hasil akhir teh. Masing-masing keistimewaan dari merek teh ini dicampur menjadi satu untuk
mendapatkan minuman dengan rasa, aroma, kekentalan yang pas dan nikmat.

Beruntungnya ketika sudah menikah saya punya suami yang lebih mahir membuat wedang teh daripada saya. Tidak manja diladeni wedang teh setiap pagi. Malah sebaliknya, ia sering menawari membuatkan teh untuk saya. Teh tanpa gula
yang hangat dan tidak terlalu kental. Meski hanya segelas teh hijau tanpa gula. Segelas teh sudah mampu menghangatkan dan mengakrabkan kami berdua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *