dirgahayu indonesia

Merdeka!!! Hari ini kita memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Kalau dilihat dari usia manusia, Indonesia sudah cukup tua. Tapi dari segi perkembangan sebagai bangsa, rasanya sedang puncak-puncaknya untuk bertumbuh.

Ungkapan sudah merdeka tapi belum ngerasa merdeka. Rasanya perlu dikubur dalam-dalam dan nggak perlu jadi bahan perdebatan di lini masa.

Iya nggak?!

Saya bersyukur banget lahir jauh setelah masa perjuangan kemerdekaan. Bisa punya kehidupan normal, bukan tumbuh pas masa perang. Beda dengan kakek-nenek, bapak-ibu, atau paman-bibi kita yang lahir di zaman perang dan perjuangan.

Jangankan untuk hidup nyaman, untuk bisa makan saja susah. Apalagi sekolah dan berkarir.

Menjadi bangsa dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia.  Indonesia jadi pasar potensial bagi negara-negara lain. Artinya penduduk yang banyak tidak melulu jadi beban, meski saya juga setuju kalau program keluarga berencana perlu digencarkan lagi ya.

kemerdekaan indonesia Penduduk yang melimpah ini, malah jadi aset untuk membangun dan merubah Indonesia dari predikat negara berkembang menjadi negara maju. Susah?! Itu pasti.

Mensyukuri apa yang kita miliki dan berperan positif bagi Indonesia saat sudah merdeka ini memang susah-susah gampang. Gampang kalau kita mau mengesampingkan perbedaan. Mau kerja bareng, gotong royong, dan fokus kerja bersama membangun bangsa. Susahnya, di era internet dan banjirnya informasi. Banyak berita-berita simpang siur yang memecah belah, informasi yang memprovokasi, yang ujungnya berdampak buruk untuk stabilitas keamanan dan ekonomi bangsa kita. Orang bisa dengan mudah tersulut emosinya hanya karena status lalu berantem nggak ada habisnya. Yang berujung saling menyalahkan.

Energi kita tersedot untuk debat kusir nggak berkesudahan. Lalu lupa dengan tujuan awal yaitu membangun negeri ini.

Ikut andil merawat rasa nasionalisme, memperbesar rasa cinta tanah air, membiasakan hidup dalam kemajemukan, dan menjaga persatuan dengan sesama  bisa dilakukan dengan banyak cara. Nggak selalu harus muluk-muluk dan melakukan hal besar.  Yang kita butuhkan sekarang itu kekompakan.

Tradisi menyambut Dirgahayu Indonesia setiap tahun, menurut saya dibuat dan menjadi kebiasaan bukan tanpa maksud. Melainkan untuk merekatkan, mengakrabkan, dan wujud syukur kalau bangsa ini mampu bertahan dan bertambah umur karena kontribusi dari seluruh warga, meski lewat hal-hal kecil itu tadi.

 

Coba inget deh, tradisi yang dilakukan terutama di bulan Agustus, ternyata kalau dipikir-pikir. Ini bukan kegiatan remeh temeh biasa. Tapi memang biasa dilakukan untuk memupuk rasa persatuan dan cinta tanah air lewat hal-hal kecil.

Kerja bakti – menjadi kegiatan tiap minggu yang biasa dijalankan di setiap kampung atau wilayah. Tujuannya memang untuk menjaga kebersihan area tempat tinggal kita. Tapi lihat deh, menjelang Agustus, terutama sepekan sebelum 17-an. Nggak sekedar bersih-bersih, tapi juga ada momen untuk menghias kampung agar lebih meriah dan merah-putih. Kerja bersama di minggu-minggu biasa, apalagi di bulan Agustus tentunya punya makna lain, yaitu saling mengakrabkan kita dengan tetangga dan warga sekitar.

Berbaur dalam perbedaan, bergotong royong, dan memupuk semangat persatuan serta kekompakan. Betul kan?!

Lomba 17-an itu tradisi unik yang dimiliki Indonesia selain mudik. Setiap tahun, dua atau tiga minggu sebelum tanggal 17 Agustus berbagai lomba diselenggarakan. Selain bikin, peringatan 17-an jadi lebih meriah. Kegiatan ini juga mengasah semangat kompetitif lewat lomba yang lucu dan menghibur, misalnya balap karung, makan kerupuk, panjat pinang dlsb.

Dari kecil sebenarnya kita sudah dididik untuk berkompetisi lewat hal-hal kecil. Dan yang paling penting mengasah mental bagaimana saat menerima kemenangan dan legowo saat kalah. Paling nggak lewat lomba 17-an antar RT(rukun tetangga).

Dari sesuatu yang kecil, efeknya besar banget. Nggak cuma nanti di lingkungan kerja dan bermasyarakat. Siapa tahu kalau ikutan jadi kandidat pejabat pemerintahan pas pemilihan umum. Mau menang atau kalah, jadi nggak kagetan. Because life is a competition.

Bentuk rasa terima kasih akan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia yang kita miliki sekarang ini, diwakili tradisi tirakatan di malam menjelang tanggal 17 Agustus. Nggak sekedar kumpul-kumpul, begadang, atau kongkow-kongkow dengan warga lain. Tirakatan yang berasal dari kata tirakat , artinya bersuyukur. Punya makna mendalam, bagaimana kita mensyukuri kebebasan yang kita punya sekarang ini. Kumpul bersama dan berdoa untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik.

Kalau upacara, sudah jadi kegiatan wajib setiap tanggal 17 Agustus pagi hari. Ini hanya bentuk pengorbanan kecil banget, berdiri satu sampai dua jam untuk mengikuti serangkaian ritual memperingati kemerdekaan Indonesia. 72 tahun lalu, di tanggal yang sama, para founding father kita juga melakukan hal yang sama. Upacara pengibaran bendera merah putih yang dilanjutkan dengan menyebar luaskan berita bahagia kemerdekaan ke seluruh Indonesia.

Di pagi hari ada upacara bendera, sore hari penurunan bendera. Malamnya panggung pertunjukan biasa digelar paling tidak di tingkat RW(rukun warga). Warga yang punya potensi entah menyanyi, menari, atau baca puisi biasanya didaulat untuk mengisi acara. Bukan cuma buat senang-senang lho. Kontribusi tiap warga di usia dan level apa pun diperlukan, bahkan untuk sebuah pertunjukkan di kampung untuk memperingati kemerdekaan.

Kirab budaya, juga sudah menjadi tradisi tahunan di beberapa kota dan kabupaten di bulan Agustus. Memelihara dan melestarikan keanekaragaman budaya dan seni lewat iring-iringan yang bisa ditonton penduduk. Selain untuk hiburan, tentu saja kirab budaya memang bertujuan menjaga serta memperkenalkan kekayaan tak ternilai yang dimiliki Indonesia ke generasi selanjutnya.

Pakai baju khas daerah, menyanyikan lagu daerah sambil konvoi, atau bermain alat musik. Kirab budaya jadi sesuatu yang seru dan tontonan apik yang biasa dinantikan.

Tumpeng akrab untuk sajian ulang tahun dan acara seremonial. Makanan yang berbentuk kerucut ini sebenarnya berasal dari Jawa, tetapi saat ini juga sudah diadopsi wilayah lain. Tumpeng merupakan wujud syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas panen melimpah dan berkah yang diterima. Tumpeng yang berisi ragam olahan bahan makanan ini sebagai representasi banyaknya ragam dan hasil panen.

Meski tumpeng nggak melulu berkaitan dengan pertanian. Tumpeng sudah masuk dalam tradisi merayakan 17 Agustus, dan lekat sebagai ungkapan terima kasih atas semua yang sudah kita terima selama ini. Tumpeng biasanya menjadi salah satu menu wajib saat malam tirakatan.

Banyak simbol dan kegiatan sebagai wujud rasa syukur akan kemerdekaan yang sekarang kita rasakan. Semoga ga hanya sekedar simbol ya, tradisi-tradisi kecil yang sudah sering kita lakukan ini, nantinya jadi pemicu kontribusi positif kita untuk mengisi kemerdekaan dan memajukan Indonesia.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *