Menjajal Pad Thai di Khao San Road

Tantangan jadi backpacker yang maunya serba murah karena harus jalan-jalan pakai uang tabungan sendiri salah satunya pilih makanan yang halal, murah, enak di lidah, dan ramah di perut.

Travelling di Bangkok, terutama di Khao San Road saya seperti menemukan surga karena berada di area yang banyak makanan dan jajanan terjangkau.

Saya bukan tipe wisatawan irit yang medit. Alias pelit banget untuk ngeluarin biaya makan demi menghemat pengeluaran. Yang repot harus bawa mie instan atau cuma makan sereal. That’s a big no. Tapi juga nggak begitu cocok dikategorikan di level kaum mewah yang suka makan di restoran pas berwisata. Kebanyakan mewah-mewah sama artinya saya boros.

Saya emang ada di level menengah yang sebenarnya biaya perjalanannya mennegah kebawah. hehe Berburu makanan murah itu bikin perasaan jadi aman.  Selain aman di kantong, pikiran saya juga lebih tenang karena bekal uang masih dalam koridor dan tidak kedodoran. Saya malah lebih gemar beli cemilan dan jajan daripada makan besar.

Travelling di tempat yang punya kultur berbeda = waktunya wisata kuliner.

Kalau di Bangkok, pad thai jadi solusi makan karbohidrat dengan porsi yang pas buat perut saya. Hidangan kaki lima yang mudah dijumpai dihampir setiap sisi ibukota Thailand. Bahan dasarnya mie kwetiau yang digoreng bersama bumbu tertentu.

Meski bahan utama mie dan cara masaknya hampir sama yakni ditumis. Rasa pad thai beda banget dengan kwetiau goreng khas Indonesia. Jika di Indonesia rasanya cenderung kuat, baik manis, gurih serta pedasnya. Pad thai asli Thailand punya cita rasa yang nggak terlalu mencolok. Rasanya tidak terlalu hambar tetapi juga tidak terlalu kuat.

Ini makanan khas Thailand paling sederhana. Para pedagangnya berjejeran di pinggir jalan. Atau sebagian lokasi jualannya berkelompok, campur dengan pedagang makanan lainnya. Saya belum pernah menjajal pad thai di restoran. Yang jelas porsinya pasti lebih banyak dan harganya pasti tidak semurah di jalanan kan.

Penjual pad thai menggunakan gerobak kecil. Di atasnya sudah pasti ada mie kwetiau serta tauge mentah dan beberapa bahan pelengkap lainnya seperti telur, irisan wortel, potongan daun bawang ukuran panjang, serta daun ketumbar.

Jika di Indonesia kwetiau yang disiapkan biasanya berupa kwetiau yang baru saja direbus. Di Bangkok, berjualan pad thai seperti memanaskan ulang kwetiau. Mie berbentuk pipih yang sudah berwarna coklat muda seperti selesai dimasak dicampur dengan semua bahan tambahan untuk dipanaskan ulang lalu dihidangkan ke pembeli.

Kami, para pembeli duduk di kursi yang diletakkan hampir berdampingan dengan tempat penjual memasak. Penjualnya menumis yang wajannya ada atas gerobak tempat meletakkan bahan-bahannya tadi. Meja yang digunakan pun seadanya. Biasanya hanya dua atau tiga meja kecil, dengan beberapa kursi plastik. Penjual pad thai memang mulai berjualan saat siang hari dan semakin ramai saat malam hari. Saya kebetulan mencoba saat sore, ketika pulang dari Wat Arun.

Porsi pad thai jalanan memang mini, sajian karbo yang pas, tidak merasa kekenyangan setelah selesai menghabiskannya. Karena nanti masih harus jajan cemilan lainnya. Wadahnya pun hanya piring sterefoam dan makan di pinggir jalan saat matahari masih panas-panasnya menuju sore. Tapi tenang saja. Di Bangkok polusi tidak seseram di Jakarta kok. Jadi soal debu kotor berhamburan, saya hampir tidak merasakannya.


Varian pad thai ada empat jenis : pad thai original, pad thai telur, pad thai ayam, dan pad thai seafood. Yang paling murah tentu saja pad thai original yang isinya
hanya kwetiau dan tauge serta beberapa helai sayur. Rata-rata harganya 20 bath. Tapi ada juga yang mematok harga 30 bath. Sedangkan yang paling mahal pad thai seafood
berkisar 40 sampai 45 bath. Kalau untuk pad thai telur 25 bath dan pad thai ayam 30 bath.


Makan pad thai pun nggak melulu hanya begitu aja. Saya minta tambahan fried spring roll atau risol goreng. Isi spring roll hanya bihun yang dibumbui. Kita bisa nambahin bubuk cabai, bagi yang suka makanan pedas.

Buat saya rasa pad thai aman-aman saja. Istimewa banget sih nggak, tapi dibilang nggak enak juga nggak. Cuma Rudy yang anti pati sama daun ketumbar yang jadi sayuran khas masakan kawasan indocina termasuk Thailand ini. Mau bilang nggak pakai daun ketumbar juga susah, karena kami juga nggak pernah tahu komposisi tiap masakan apa saja. Baru ketahuan setelah makanan sudah siap disantap. Alhasil, Rudy harus repot milahin satu persatu potongan daun ketumbar yang bagi dia rasanya aneh. Kalau saya sih, ya dimakan aja.

Malahan yang bikin pad thai jadi menarik yaitu taburan kacang tumbuknya.

Kacang memberikan rasa lebih gurih dan menambah cita rasa pad thai. Bumbu tambahan seperti bubuk cabai, garam, merica, serta kacang tumbuk diletakan di atas meja dan saya bisa ambil sesuai selera. Saking bisa ngambil kacang tumbuk sesuka hati, setiap suapan saya tambahkan taburan kacang agar lebih nikmat. Duh, setelah selesai bayar. Saya merasa jadi perampok kacang tumbuk deh. Soalnya satu mangkuk, hanya tertinggal sedikit saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *