Menginap di The BrownStone Hostel & Space Ipoh

Sebuah perjalanan liburan perlu dilengkapi dengan kunjungan menginap di tempat yang menyenangkan. Tentu saja menyenangkan bukan berarti harus mewah dan selalu memiliki standar high quality. Ketika perjalanan dilabeli dengan tema backpacking, memilih penginapan selalu bersinggungan dengan ketrampilan memilih tem[pat tinggal sementara berbiaya terjangkau.

Begitu juga saat saya dan Rudy pergi menyambangi Ipoh awal Desember 2018. Liburan singkat ke Malaysia ini sebetulnya lebih ingin menjajal plesiran menggunakan kereta.  Sekaligus memuaskan rasa penasaran saya menyambangi satu wilayah baru yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya di Malaysia.

Dari riset singkat dan membaca beberapa review. Ipoh memang tidak sepopuler seperti Penang atau Melaka. Maka, ketika pergi ke sana, saya memutuskan untuk lebih menikmati waktu berlama-lama di hostel. Daripada harus menjelajah sebagian besar Ipoh yang letaknya di Perak, Malaysia.

Hangat dan sederhana menjadi dua kata yang mengingatkan saya tentang The BrownStone Hostel & Space. Hal ini tergambar dari penggunaan bangunan lama yang direnovasi sedemikian rupa yang menggabungkan konsep klasik dengan unsur interior minimalis.

Sesuai dengan bulannya, The BrownStone Hostel & Space  mengusung tema Natal. Warna hijau dan merah menyambut kami sejak di pintu masuk. Jendela-jendela bagian depan ditaburi hiasan pohon natal. Pohon cemara yang dibuat dari hasil kerajinan tangan kertas juga terpampang di ruang tamu hostel. Bahkan sejak di teras pun, interior ruang makan terlihat dari luar dan menunjukkan bahwa pengelola ingin menambahkan unsur kekinian di hostel ini.

Mari ulas satu persatu apa yang dimiliki The BrownStone Hostel & Space.

hostel di ipoh
Pemandangan dari jendela kamar. Ornamen dan lukisan di The Brownstone Hostel & Space.

Lokasi

Salah satu pertimbangan yang membuat saya memilih tempat ini yakni lokasinya yang tak jauh dari stasiun Ipoh. 2,4 kilometer jarak dari stasiun kelihatan dekat. Tapi setelah sampai di sana, saya sampai ke hostel dengan grab car. Memang niat awalnya, saya mau jalan kaki sambil melihat-lihat kondisi kota Ipoh. Tapi saat sampai, hujan turun lumayan deras. Jadi, taksi online jadi solusinya.

Lokasi hostel terletak tepat di pinggir jalan raya. Sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan penginapan ini. Berseberangan dengan kantor pemerintahan dan letaknya dekat dengan pertokoan. Tamu juga dipermudah untuk pergi ke restoran KFC jaraknya hanya 300 meter dari sana.

Masuk ke dalam hostel memang seperti bertamu ke rumah orang. Bagian ruang tamu ditata selayaknya sebagai tempat bersantai sekaligus menunggu bagi tamu. Bagian sudut berupa meja kecil dengan komputer, mesin  fotokopi, dan segala macam perlengkapan administrasi hostel.

Upaya untuk mempertahankan keaslian bangunan tetap dipertahankan. Buktinya bagian lantai masih menggunakan keramik motif klasik yang sering digunakan untuk rumah-rumah pecinan. begitu pula ruangan yang digunakan juga tanpa merubah fungsi dasarnya.

Tambahan ornamen dan lukisan digunakan untuk mempercantik tembok-tembok yang kosong.

Rupanya kami datang terlalu awal, jam 10 pagi waktu setempat. Sedangkan waktu check in pukul dua siang. Namun, saya bisa menitipkan tas ke bagian resepsionis dan pergi meninggalkan hostel untuk jalan-jalan di lingkungan sekitar hostel.

hotel di ipoh
Kamar dormitory

penginapan ipoh
Bagian teras hostel.

Kamar

Menjelang jam dua siang saya pun kembali ke hostel untuk sekedar beristirahat sejenak sebelum melanjutkan jalan-jalan di Ipoh sore harinya.

Sebelumnya saya memesan kamar mix dormitory via online dari agoda.com dan mendapatkan harga lumayan murah. $10 per orang per malam. Saat booking online pun, saya pesan dengan akun berbeda saya memesan tempat tidur untuk saya sendiri dan untuk suami. Tapi ketika check in, saya bisa meminta untuk diberikan kamar dormitory yang sama. Lebih menyenangkan lagi di malam pertama, kamar dorm tersebut hanya ditempati kami berdua.

Saat kami hendak menuju ke kamar. Resepsionis memberitahu ruangan-ruangan yang bisa kami gunakan. Mulai dari dapuryang bisa digunakan setiap saat, kapan pun kami mau. Lalu mengajak ke lantai dua melewati tangga kayu yang mempertahankan gaya bangunan lama.

Kamar dormitory sepertinya ada empat, yang dua di antaranya terpisah dengan ruang santai dipenuhi dengan bean bag.

Kamar saya memiliki jendela yang menghadap bagian jalan raya. Di bagian sudutnya terdapat meja dan kursi yang disertai lampu baca. Ditambah sebuah bangku panjang yang menempel di bawah jendela. Bangku ini memang multi fungsi sekali. Bisa untuk menikmati lalu-lalang jalanan atau sekedar tiduran santai jika bosan berada dalam tempat tidur berbentuk balok.

Karena menggunakan rumah model lama. Kamar yang saya tempati menyesuaikan bentuk asli ruangan tersebut. Terdapat dua pintu di depan tempat tidur kami. Yang satu tidak bisa dibuka karena sudah ditumbuhi tanaman rambat. Sehingga pengelola menempatakan kaca khusus sebagai penghalang agar tanaman itu tidak masuk ke ruang kamar. Sedangkan pintu lain yang tepat di depan tempat tidur saya bisa dibuka dan mengarah ke balkon lantai dua.

Di balkon ini terdapat kursi-kursi untuk bersantai dan beberapa tanaman. Jalannya juga mengarah ke kamar mandi bersama yang letaknya dibatasi dengan tembok.

Di sudut lain dalam kamar yang berhadapan dengan pintu masuk, terdapat jejeran loker hitam tempat tamu menyimpan tas dan barang-barang penting. Setiap tamu diberi kunci loker, kunci kamar, dan kunci pagar. Sehingga kami bisa keluar masuk hostel dengan leluasa di jam berapa pun.

Baca juga : Menginap di The Share Phnom Penh, Kamboja.

ipoh malaysia
Meja makan di The BrownStone Hostel & Space

hostel di ipoh 3

hostel di ipoh
Bangku-bangku di teras samping hostel.

Fasilitas

Di artikel-artikel saya sebelumnya yang mengulas tentang penginapan. Saya lebih merasa nyaman ketika suatu hostel punya fasilitas dapur bersama. Tamu diberi kebebasan menggunakan perlengkapan dapur dan minum teh/kopi kapan pun kami mau. Itu yang diberikan The BrownStone Hostel & Space pada para tamu. Kami bisa punya tea time dan menikmati suasana hostel layaknya rumah. Bersantai di ruang makan dengan kursi berbentuk ayunan, sambil tetap bisa bekerja dari laptop atau sekedar ngobrol dengan sesama tamu.

Banyak tempat yang dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas yang bisa digunakan. Meja panjang dipasang menghadap ke luar jendela, dengan bangku-bangku tinggi. Beberapa majalah diletakkan di sana, sebagai bahan bacaan bagi para tamu.

Kalau bosan di dalam ruangan. Saya bisa keluar rumah dan duduk-duduk di bangku merah, sambil menikmati udara Ipoh yang segar minim polusi.

Tekstur tembok di bagian luar mempertahankan kekusaman untuk memunculkan kesan rustik. Tapi hal ini tidak berlaku di bagian dalam rumah. Tembok-tembok tetap di cat bersih. Bagian lantai di lantai dua dan kamar mempertahankan lantai lama tetapi dilapis semacam cat bening sehingga tampak mengkilat. Sedangkan di ruang santai penuh bean bag yang juga tempat menonton film dan televisi, menggunakan lantai kayu yang sebagian besar dilapisi dengan karpet.

Jendela-jendela besar selalu dibuka sejak pagi hari hingga malam tiba. Mereka berusaha untuk meminimalisir pendingin udara, kecuali di dalam kamar yang masih menggunakan satu pendingin.

Kuno di luar, modern di dalam. Meski menggunakan bangunan lama, fasilitas yang digunakan cukup modern untuk ukuran hostel. Apalagi untuk kamar mandi yang disiapkan bagi para tamu. Dari segi kebersihan saya memberi nilai 8,5. Begitu juga dengan desainnya yang memperhatikan estetika. Oh ya, jangan khawatir jika ingin mandi air hangat di malam hari. Kamar mandi ini juga dilengkapi water heater.

Layanan

Yang tak terlupakan tinggal di The BrownStone Hostel & Space adalah keramahan dan kesigapan staf pengelola. Di hari kedua ketika saya dan Rudy sarapan, kami sempat membicarakan mau akan pergi ke mana hari itu. Kami pun cukup bingung dengan tujuan wisata Ipoh yang jaraknya lumayan jauh dari hostel.

Ketika salah satu pengelola memperhatikan percakapan kami. Mereka rupanya cukup paham dan merekomendasikan beberapa tempat yang bisa kami kunjungi. Terutama jika ingin jalan-jalan keliling kota Ipoh saja.

Ia menyarankan pergi ke Mural Lane Art yang jaraknya sekitar dua kilometer dari hostel.

Saya pun berinisiatif lebih baik menggunakan sepeda saja. Mengingat lokasi wisata kota Ipoh berjauhan. Cara ini merupakan pilihan terbaik yang bisa dilakukan dalam sehari. Apalagi biaya sewa sepeda di hostel ini hanya MYR 10 per 12 jam.

sarapan di ipoh

sarapan ipohMenu Sarapan

Dengan harga $10 dolar per malam. Tamu juga mendapat sarapan gratis yang sudah tersedia dari jam 7 pagi hingga setengah sebelas siang. Menu yang disedikan sederhana. Roti panggang dengan selai strawberry dan selai sarikaya, buah pisang, dan gorengan pastel isi kentang tumbuk bumbu kari.

Self service, buat makanan sendiri, lalu cuci piring sendiri.

Bagaimana? Ingin menginap di The BrownStone Hostel & Sapce ketika jalan-jalan ke Ipoh.

Alamat :

145, Jalan Raja Musa Aziz, Kampung Jawa, 30300 Ipoh, Negeri Perak, Malaysia

 

 

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *