Kalau berhubungan dengan sunrise, liburan pasti jauh dari leyeh-leyeh dan bangun siang. Saya pun jadi lebih rajin dari sebelumnya. Alarm dipasang beruntun dari 03.15, 03.20, 03.25, 03.30 waktu Kamboja. Mungkin kelihatan berlebihan, tapi sudah jadi kebiasaan untuk berjaga-jaga agar nggak kesiangan.

Begitu juga ketika akan mengunjungi Angkor City. Entah kenapa, alarm tubuh saya otomatis bekerja sendiri tanpa harus bergantung pada alarm handphone. Di panduan mengunjungi Angkor, saya sedikit cerita bagaimana persiapan yang kami lakukan menjelang ke Angkor. Itu semua demi matahari terbit. Yang menurut saya jauh dari ekspektasi, kurang spektakuler, tapi fotonya lumayan lah karena ada paduan warna jingga dan semburat ungu. Itu pendapat saya ya.

Meski pemandangan sunrise tidak terlalu memuaskan, semangat saya nggak turun, karena penasaran dengan salah satu kota yang menurut Henri Mouhot, penjelajah muda Perancis, di catatannya tahun 1863, kota Angkor lebih megah daripada Yunani atau Roma. Semangat saya nggak padam karena bayar tiketnya juga lumayan mahal. Jadi kesempatan ini sayang kalau disia-siakan.

wisata ke kamboja

Gagal Naik Sepeda

Ide untuk menjelajahi Angkor dengan sepeda pun gugur, karena saya dan Rudy sama sekali tidak menguasai jalanan Siem Reap, apalagi kawasan Angkor. Pilihan ini tidak salah, soalnya pas kami melanjutkan perjalanan dari lokasi pembelian tiket menuju Angkor Wat, jaraknya saja sudah 3 kilometer, jalanannya begitu gelap dan minim penerangan.  Ditambah lagi, saya menyaksikan sendiri bule perempuan yang rela naik sepeda subuh-subuh menuju Angkor Wat untuk melihat sunrise. Wah, kelihatan sengsara sekali.

Memasuki Angkor itu seperti menjelajahi hutan. Kota tua ini sudah tertutup pohon-pohon besar dan jalanan yang kami berdua lalui bersama sopir tuktuk sisi kanan kirinya hijau dan banyak pohon yang tinggi-tinggi.

Selama tur kecil ini, saya melihat nggak banyak wisatawan yang benar-benar sendirian bersepeda dan mengelilingi Angkor hanya berbekal peta. Kebanyakan yang menjelajahi Angkor dengan cara seperti ini pasti ikut paket wisata sepeda yang dipandu seorang guide. Atau mereka memang salah startegi, karena mengira Angkor tidak begitu luas dan cukup menyewa sepeda saja, daripada pergi dengan tuk-tuk.

Dari seluruh candi yang ada di Angkor, hanya Angkor Wat yang bentuknya masih utuh. Sungai yang mengelilingi kompleks membantu melindungi kompleks candi ini agar tidak hancur dimakan akar-akar pohon. Sekilas memang hampir mirip Kebun Raya Bogor dengan bangunan yang berada di tengah lahan luas. Bedanya sungai yang mengitarinya lebih lebar dan tentu saja area yang berkali-kali lipat lebih besar.

Kondisi masih gelap ketika kami menyisir jalan raya dekat sungai, Angkor Wat kelihatan berbayang hitam. Wih, saat diantar tuk-tuk memang rasanya seperti hidup di zaman kerajaan yang pergi dari satu lokasi ke lokasi lain menggunakan kereta kuda.

Iringan tuk-tuk memecah kesunyian hutan. Dari kejauhan lampu tuk-tuk berkerlip beriringan dengan tujuan yang sama yaitu Angkor Wat.

Sopir tuk-tuk akhirnya menurunkan saya di halaman parkir. Area berangsur ramai, karena wisatawan lain juga mulai berdatangan. Kami sepakat bertemu lagi 2,5 jam kemudian sekitar jam delapan pagi. Pastikan menghafal wajah dan model tuk-tuk yang ditumpangi ya. Karena ini akan sangat bermanfaat ketika nanti keluar dari kompleks candi, sebelum melanjutkan kunjungan ke tempat berikutnya.

Sekitar setengah kilometer dari tempat parkir ada jembatan batu yang menghubungkan daratan terluar menuju teras Angkor Wat. Jembatan yang kanan kirinya dilengkapi dengan pegangan batu menjadi jalan utama kota Angkor Wat yang dikelilingi parit.

wisata menarik di kamboja

Sampai di penghujung jalan, semua wisatawan melewati gapura tinggi dengan detil khas bangunan Khmer. Gapura tadi merupakan pintu gerbang utama kompleks Angkor Wat yang megah. Kami wisatawan yang datang berbondong-bondong berjalan menuju tempat yang sama. Penampilan yang masih berantakan, muka bantal dan sebagian masih sembab karena kurang tidur. Setelah melewati gerbang, kami langsung mencari posisi nyaman di pinggir danau untuk menyaksikan matahari terbit yang berlangsung tak lebih dari lima menit.

Beruntungnya saya datang tidak dimusim kunjungan yang tinggi. Sehingga acara rebutan tempat duduk masih terkendali dan semua berlangsung secara teratur. Sebagian besar memang memilih lokasi di sisi kiri halaman Angkor dan hanya sebagian kecil yang menyaksikan sunrise di halaman bagian kanan.

Saya membayangkan cahaya muncul dari balik candi dengan semburat kuning keemasan. Lalu langit berubah jingga sebelum langit benar-benar tampak biru. Tapi, yang terjadi tidak sempurna. Langit sudah keburu terang sebelum matahari muncul dan sekejap saja momen matahari terbit usai.

Saya merasakan kekecewaan pengunjung lain yang tidak mendapatkan suguhan indah seperti bayangan mereka. Karena banyak dari referensi atau tulisan menyebutkan sunrise di Angkor Wat begitu menakjubkan. Tapi ternyata…. Ah mungkin cuaca juga tidak mendukung. Saya berusaha berfikir positif.

Keliling Angkor Wat

Halaman luas Angkor Wat terbagi menjadi dua sisi dari depan karena terbelah jalan setapak yang cukup panjang. Setelah prosesi menonton sunrise selesai, semua wisatawan tersebar dan memencar dengan urusannya masing-masing. Ada yang langsung masuk lokasi utama, tapi nggak sedikit yang memilih ambil waktu rehat sejenak. Kami yang memutuskan istirahat mencari lokasi kosong yang bersih untuk sekedar sarapan dengan bekal yang sengaja dibawa sebelumnya.

Saya bersama Rudy, pilih mojok di dekat jembatan. Nyemil beberapa biskuit karena kami tidak beli makanan besar hari sebelumnya. Sarapan penting banget lho, karena kami harus sedia banyak energi untuk keliling Angkor dan tidak punya banyak waktu untuk nongkrong di kedai-kedai yang ada di halaman parkir candi. Ditambah lagi harga makanan yang berkali-kali lipat lebih mahal jika dibandingkan beli di luar kompleks wisata.

Setelah selesai sarapan, kami lanjut masuk bangunan utama. Saya terkesan dengan penampakan candi dari luar. Bentuknya menggambarkan kerajaan yang begitu besar dan cantik. Kuil yang peruntukan pertamanya bagi pemujaan agama Hindu untuk dewa Wisnu ini memang kelihatan megah. Sebelum akhirnya dialihkan untuk pemujaan Budha Theravada. Candi agung yang juga berfungsi sebagai ibu kota ini memiliki konsep yang berbeda jauh dari candi-candi yang ada di Indonesia.

angkor wat 1

indonesian travel bloggerBeberapa pintu masuk ada di beberapa titik yang menghubungkan koridor dengan pilar-pilar tinggi yang membentuk pagar persegi. Di balik pilar tadi bekas kota Angkor Wat masih terawat baik karena candi ini secara tidak langsung terpelihara karena masih digunakan untuk aktivitas keagamaan Budha.

Saat di dalam candi pun, beberapa wisatawan bisa meminta berkat ke biksu-biksu cilik yang ada di sana. Mereka meminta untuk didoakan dan nantinya akan diperciki air suci yang sudah disiapkan para biksu. Proses pemberian berkat ini ada di bagian dalam yang lokasinya berdekatan dengan pemandian kuno zaman itu. Terdapat dua kolam dengan tangga menuju ke bawah yang memperlihatkan bahwa area tersebut digunakan untuk pembersihan diri. Entah dalam arti harfiah atau digunakan dengan ritual tertentu.

wisata murah ke kamboja 1

wisata ke kamboja geonation travel

wisata murah ke kambojaCandi ini memiliki desain yang cukup rumit, karena dilengkapi banyak pintu dan jendela yang tidak terlalu tinggi. Serta penuh dengan aksen pilar dan lekukan-lekukan di bagian tembok. Berbeda jauh dengan Borobudur yang kaya dengan relief. Saya hanya menemukan relief di beberapa tembok di Angkor Wat. Entah karena minim hiasan relief atau memang sudah tergerus dimakan usia. Detil temboknya juga sudah menghitam dan tidak beraturan. Bahan bangunan yang digunakan pun lebih lunak yakni batu pasir, jika dibandingkan dengan bahan penyusun candi-candi di Indonesia yang mayoritas batu kali.

Setelah selesai di lokasi pemandian. Saya keluar menuju area bagian tengah. Ternyata di dalam Angkor Wat terdapat candi-candi kecil yang dikelilingi halaman. Candi yang ada dibuat tinggi dengan undakan yang begitu banyak. Di bagian atas saya masih mendapati orang sedang berdoa dan melakukan ritual tertentu. Saya dan beberapa wisatawan yang pergi ke sana. Akhirnya hanya bisa duduk-duduk di luar bangunan, sambil mengamati area sekitarnya.

things to do in angkor

candi di kamboja

Jika dari luar kompleks, kita bisa melihat puncak-puncak candi yang menjulang ke atas. Yang paling tinggi merupakan candi utama. Candi tersebut menjadi perlambang Mahameru, salah satu gunung yang ada di Pulau Jawa. Candi ini sekaligus menjadi obyek wisata utama yang dikunjungi ratusan wisatawan setiap harinya.

Kenapa mereka mengenal Mahameru ? Mungkin awalnya Angkor Wat dibangun oleh Suryawarman II. Tapi perjalanan panjang setelah ia wafat, seorang raja bernama Jayawarman VII melanjutkan pembangunan kota Angkor termasuk candi lain yakni Bayon. Pernah dengar Jayawarman kan ? Ia saudara dari Syailendra yang melepaskan diri dari Jawa kemudian melakukan perjalanan hingga ke Khmer. Beberapa referensi menyatakan bahwa Borobudur punya kesamaan dengan Angkor secara fisik bangunan. Tapi saya tidak melihat kesamaan itu, mulai dari tata ruangnya ataupun hiasan-hiasan yang menyertai dinding candi. Sungguh berbeda antara candi-candi Budha di Jawa dengan di Siem Reap.

wisata murah ke kamboja 2

Saya menggambarkan Angkor Wat merupakan kompleks hunian raja yang di dalamnya terdapat pavilliun-paviliun kecil yang memiliki fungsi masing-masing. Termasuk satu candi utama tadi. Untuk memasuki candi utama, para wisatawan mesti antri sebelum menaiki puluhan tangga.

Bangunannya memang khas dibuat begitu tinggi. Bayangkan saja, jika dari tembok terluar saja dibuat lebih tinggi dari dataran sekitar. Candi utama ini berada di tengah dengan tinggi sekitar 65 meter. Tangga aslinya pun sudah tergerus sehingga agak sulit untuk digunakan berpijak. Sehingga pengelola memberi papan-papan kayu untuk mempermudah wisatawan yang akan naik dan juga besi untuk pegangan. Sebelum masuk candi utama, kami diberi semacam tanda pengenal yang dikalungkan. Gunanya agar petugas bisa membatasi berapa orang yang bisa naik, untuk menjaga agar candi tidak semakin rapuh.

Selain harus berpakaian sopan, saat memasuki candi utama, semua aksesoris kepala seperti topi harus dilepas. Kami diajari untuk memberikan penghormatan dan menghargai kawasan suci umat Budha di Siem Reap.

Bagi saya yang tidak gemar bangunan tinggi, menaiki tangga-tangga terjal merupakan tantangan tersendiri. Kami yang naik ke atas harus ekstra hati-hati, selain tinggi, tangga yang menjadi bagian bangunan asli kemiringannya hampir 75 derajat.

Di bagian atas, saya bisa memandang halaman Angkor Wat yang begitu luas dari empat jendela yang berbeda. Di satu sisi mengarah ke halaman bagian depan dengan pemandangan jembatan. Tapi sisi yang lain memperlihatkan rimbunnya hutan.

Perjuangan mengunjungi Angkor Wat ini membuktikan bahwa kerajaan Khmer ratusan tahun lalu, sudah mampu membuat bangunan dengan arsitektur kokoh dengan sanitasi yang baik. Nggak sampai disitu, kunjungan wisata jadi semakin menantang karena selain naik turun tangga, tubuh kami juga harus menyesuaikan dengan udara Siem Reap yang panas dan lembab.

Meski banyak sekali pepohonan, hampir tidak ada angin semilir yang berhembus.

Saya yang lahir di daerah tropis saja masih kesulitan menyesuaikan diri dengan panasnya Siem Reap, apalagi para bule yang hidup di negara subtropis.

tempat wisata siem reap

Menuruni tangga juga jadi hal yang menggelikan. Jika biasanya kita turun tangga dengan menghadap ke arah depan. Beberapa wisatawan termasuk saya, malah turun dengan menghadap tangga. Saking kami merasa takut dan keder dengan ketinggian candi.

Pelan-pelan saya menapaki tangga kecil sambil berpegangan erat pada gagang besi. Malunya, karena untuk turun saja, saya kurang berani. Dan tambah malu, wisatawan lain yang melakukan hal sama ternyata sudah berusia lanjut.

tempat wisata kamboja

wisata kamboja

paket wisata kamboja

angkor watArea paling tenang dari Angkor Wat di bagian belakang. Di sana saya bisa puas berfoto dan santai tanpai harus berebut antrian dengan pengunjung lainnya.

Halaman belakang begitu luas dengan desain bangunan yang hampir sama dengan bagian depan. Yang menakjubkan, halaman belakang ini masih terdapat banyak pepohonan rimbun dengan jalan yang menuju gerbang belakang terluar Angkor Wat.

Setelah selesai mengambil foto dan melihat-lihat bangunan. Saya bergegas kembali ke area parkir untuk bertemu sopir tuk-tuk dan melanjutkan tur candi ke Bayon.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *