Selain transportasi, memilih penginapan jadi bagian krusial saat melakukan liburan. Lebih tepatnya, hal kedua yang menyita biaya paling besar. Banyak yang beranggapan kalau liburan semuanya harus serba wah. Ibarat nabung sekian lama, lalu dihabiskan dalam jangka waktu yang cepat. Liburan kudu lebih nyaman dari kehidupan sehari- hari, karena tujuannya untuk refreshing.

Ada beberapa orang yang berpendapat, saat berlibur ya lebih enak tinggal di hotel yang bagus, atau kalau bisa di resort. Untuk traveller kalangan menengah menginap di resort yang harganya satu juta rupiah ke atas rasanya bikin dompet empot-empotan. Apalagi kalau waktunya lebih dari seminggu. Kantong bisa jebol euy. Tapi ya itu tadi,sebagian golongan yang melabeli liburan mesti bergaya fancy daripada kehidupan sehari-hari mengeluarkan trik khusus. Liburan bergerombol dan patungan sewa kamar yang agak mahal. Ya atau ya ?

Tapi ada juga sebagian yang sudah cukup nyaman tinggal di penginapan biasa. Nggak selalu harus tinggal di hotel yang ada kolam renangnya. Bahkan lebih pilih tidur sekamar dengan banyak orang yang tidak dikenal. Bobok di dormitory.

Sebagian ini termasuk saya. Yang memang cukup berhitung soal pengeluaran untuk pilih tempat menginap. Bukan karena pelit, tapi lihat dulu tujuannya saat berlibur. Selain karena saya belum kaya-kaya amat untuk tinggal di resort mewah yang harganya satu sampai dua jutaan per malam. Dormitory yang ditawarkan hostel (ingat pakai S, hostel, bukan hotel) jadi opsi pertama untuk menghemat pengeluaran.

Nggak ada yang keliru ketika memilih hostel, hotel, resort untuk menginap selama berlibur. Tergantung mau apa dan ke mana saat liburan. Kalau saya, ketika pilih tinggal di hotel, pengennya bangun siang lalu menghabiskan waktu di kamar sekedar goler-goler santai. Atau memanfaatkan fasilitas hotel yang ada semaksimal mungkin. Wah, apalagi kalau tinggal di resort ya. 100% nggak mau rugi, ngubek-ubek apa aja yang disediakan layanan resort.

Saya memilih hostel biasanya ketika perjalanan ke luar negeri. Itenerary harian yang lebih banyak dihabiskan di luar ruangan, membuat saya lebih pilih tinggal di tempat yang murah. šŸ˜€

Hostel memang kebanyakan hanya untuk tidur dan istirahat sejenak. Selebihnya pergi keliling kota atau mengunjungi tempat wisata di daerah yang saya datangi. Di kota-kota besar Asia Tenggara, harga dan layanan hostel sangat kompetitif. Jumlahnya seabrek dengan ragam fasilitas yang bermacam-macam. Tarifnya berkisar Rp 60.000 sampai Rp 190.000. Harga tentu menyesuaikan fasilitas yang di dapat bukan ? Fasilitas ini meliputi pakai kipas atau pendingin ruangan. Kamar mandi dilengkapi pemanas air atau tidak. Ukuran dan bentuk tempat tidur. Layanan kamar, suasana hostel, sampai sarapan. Tentu saja jangan mengharap terlalu banyak pada hostel yang harganya terlalu murah.

Saya selalu ambil hostel di range harga 80 ribu-an rupiah sampai 130-an rupiah sampai saat ini. Karena liburannya masih berada di kawasan Asia Tenggara. Tarifnya terjangkau tapi serba lengkap dan cukup untuk sekedar numpang tidur. Kamarnya bersih dan selalu ada pembantu yang merapikan, bisa mandi pakai air hangat, aminitis gratis, dan biasanya sudah termasuk sarapan. Semakin menghemat pengeluaran bukan?!

Beberapa hostel juga memberi layanan ekstra seperti boleh ambil air mineral kapan saja dan menyediakan dapur umum, jika tamu yang tinggal ingin masak sendiri. Feels like home.

Selain harga terjangkau, yang menyenangkan dari hostel yaitu kreativitas pengelolanya dalam mendesain kamar dormitory ataupun kamar pribadi sebaik mungkin dengan konsep yang unik. Ini yang membuat saya selalu tertarik tinggal di hostel karena bisa mendapati interior ruangan tidak biasa.

Kebanyakan hostel memang menyediakan dormitory saja. tetapi ada beberapa yang bisa menginap di kamar pribadi tanpa harus campur dengan tamu lain. Harganya memang hampir setara dengan hotel bintang tiga di Indonesia. Tapi sekali lagi, tinggal di hostel salah satunya menikmati desain interior unik. Apalagi jika hostel punya ruang santai yang luas. Para tamu bisa menghabiskan free time atau sekedar istirahat setelah lelah beraktivitas di luar. Jadi nggak bosen di kamar terus.

Beberapa hostel di Bangkok yang memberi tarif di atas Rp 150.000 malah sudah mampu memberikan fasilitas layaknya hotel dengan ragam makanan buffet yang banyak. Serta tempat bersantai yang nyaman bagi para tamu.

Sampai saat ini, tinggal di hostel tetap menyenangkan buat saya. Apalagi ketika di dormitory, saya bisa bergaul dengan orang yang memiliki latar belakang dan berasal dari negara yang berbeda. Mengasah toleransi saat bergaul bersama orang-orang yang punya kebiasaan tertentu, seperti tidak seenaknya bersuara keras dalam kamar dormitori. Paling penting, saat tinggal di hostel saya tetap harus bangun pagi demi tidak berebut pakai kamar mandi dengan teman sekamar lainnya.

Note : Saya tidak tahu sampai kapan akan bisa menginap di dormitory selama liburan. Ketika sudah berkeluarga dan nanti punya anak. Mau tidak mau, akan menggunakan hotel. Kebanyakan hostel memberi batas minimal usia untuk tamu yang menginap. Mayoritas antara 18-21 tahun. Sangat jarang yang memberi batas minimal 15 tahun.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *