Kesendirian Martello di Pulau Kelor

Begitulah Martello, dari kejauhan pun saya bisa merasakan kesepiannya. Ia sendirian dan berusaha tegar. Beberapa pohon menemani dengan daun meranggas, menyesuaikan diri dengan kemarau berkepanjangan. Martello setia menunggui Pulau Kelor yang hanya selebar daun kelor.

Martello bukan manusia. Martello merupakan puing yang berusaha dipugar kembali dan diperbaiki beberapa bagiannya. Benteng ini menjadi pelindung Pulau Kelor yang dibangun pada abad ke-17 di Teluk Batavia dari serangan Inggris. Saat saya ke sana, salah satu bagiannya sudah disangga bambu. Dindngnya mengelupas, retak-retak, dan batu bata penyusunnya terlihat besar-besar. Dua kali lipat dari batu bata merah yang bisa dijual di toko bangunan.

Obyek utama dari laut menuju Pulau Kherkof adalah Martello. Pulau Kherkof yang menjadi nama asli Pulau Kelor ini awalnya tidak sekecil sekarang. bentengnya luas dan berlapis-lapis. garis tengahnya 14 meter dengan ruang melingkar selebar empat meter. Jadi kalau ditotal bisa mencapai 24 meter. Yang tersisa sekarang ? Bangunan berbentuk tabung yang memiliki jendela -jendela yang luasnya tak lebih dari 30 meter. Sebagian kecil dinding luarnya sudah bersentuhan dengan air laut. Pemecah ombak dijejerkan di depan Martello untuk melindungi dari abrasi yang dapat melenyapkan bangunan ini.

Sebenarnya tak hanya Pulau kelor yang memiliki benteng serupa. beberapa pulau lain yang ada di kepulauan seribu juga dibangun benteng untuk pertahanan Hindia Belanda, beberapa di antaranya Pulau Onrust dan Pulau Cipir. Tapi di Kelorlah sisa yang paling besar dan masih berdiri. Saya mengamati dengan seksama bentuk batu batanya. Memang jauh lebih tebal, ketebalannya hampir mirip dengan rumah salah satu teman yang ayahnya berhasil membeli rumah peninggalan Belanda. Batu batanya tebal-tebal. Konon batu bata ini dibuat di Tangerang. Saya percaya saja dengan kualitas barang yang dibuat zaman dulu. Awet. Buktinya masih bertahan selama beratus tahun dan kuat diterjang abrasi bahkan tsunami akibat Gunung Krakatau yang meletus tahun 1883.

Saya penasaran bagaimana zaman dulu orang-orang melakukan perlindungan dari pulau-pulau kecil di kepulauan Seribu untuk melindungi Batavia. Menggunakan mercusuar dan menyampaikan kode tertentu. Adakah meriam besar yang dipasang secara seksama mengarah ke musuh dan seberapa jauh jangkauannya? Ah sulit sekali membayangkannya.

Saya jalan-jalan mengelilingi pulau Kelor. Hanya perlu waktu kurang dari 15 menit. Saat datang pengerjaan proyek masih berlangsung. Untuk menanggulangi kerusakan Martello dan Pulau kelor yang lebih parah. tanggul-tanggul beton dibangun di sekitarnya, sehingga di beberapa bagian terdapat bangunan baru untuk mengatasi gempuran ombak yang pelan tapi pasti mampu menggerus luas pulau ini.

Pemerintah daerah sepertinya tanggap dengan menjadikan Pulau kelor sebagai cagar budaya. Saya dan beberapa wisatawan lain sempat bertemu penjaga yang menunggui Martello. Kami dilarang untuk heboh memanjat bagian-bagian yang tertentu dari Martello. Dan hanya sebagian kecil saja yang masih bisa diduduki, Itu pun harus bergantian. Duduk bersamaan di bagian benteng akan memberikan beban berat dan membuat Martello semakin rapuh.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di Pulau Kelor. Selain karena tidak terlalu luas. Tidak banyak hal yang bisa diulik mengenai pulau ini. Ada beberapa bangunan baru sebagai tempat berteduh dan kamar mandi umum. Yang apik dari Pulau Kelor lainnya selain Martello yaitu pantai pasir putih yang tidak terlalu luas. Saya sempatkan bermain air hanya sebentar sambil menunggu rombongan perjalanan yang masih asyik foto-foto atau makan siang dengan bekal mereka masing-masing. Walaupun cuacanya sangat panas tapi bermain di pantai memang selalu mengasyikan. Saya tak lama di Pulai Kelor karena harus melanjutkan perjalanan kembali menuju Onrust.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *