Marabunta dan Jejak Sang Spionase, Mata Hari

Little Netherland, sebutan untuk Kota Semarang zaman Hindia Belanda. Kota ini lebih metropolitan dari Jakarta pada waktu dulu. Bahkan seorang mata-mata wanita paling terkenal abad 19 juga sempat tinggal di Semarang. Dia bernama Mata Hari.

Mata Hari memiliki nama asli Margaretha Geertruida Grietje Zelle. Lahir 7 Agustus 1876. Kehidupannya yang penuh lika-liku membawa Mata Hari pada profesi tersembunyinya sebagai spionase dengan kode H21. Nama Mata Hari sendiri sebenarnya disandang setelah ia menjadi penari erotis. Ia diundang ke berbagai kota dan berpindah-pindah dari Eropa hingga Mesir.Tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh alias bercerai. Margaretha yang lahir di Leeuwarden, Friesland, Belanda ini akhirnya menikah dengan  seorang perwira KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger), tentara kerajaan Hindia Belanda.

Yang menyebabkan Margaretha lekat dengan Semarang, karena suaminya memboyong ke Hindia Belanda dan sempat tinggal di beberapa daerah. Ambarawa, Tumpang-malang, Banyubiru, Sindanglayang, dan Smearang merupakan daerah yang pernah disinggahi. Secara tidak langsung ia juga mempelajari kebudayaan Indonesia serta tariannya. Saat memasuki dunia penari, ia bahkan memasukkan beberapa pakian Jawa sebagai kostum yang dipakai. Sepak terjang Mata Hari, spionase yang berpengaruh pada masa itu, dimulai saat mendapat undangan menari di Berlin.

Agen rahasia Jerman merekrutnya. Mata Hari berkelana ke berbagai negara dan dari kegiatannya menuai perselingkuhan dengan berbagai pejabat penting. Tak cuma itu, bahkan gosip ia menjadi spionase ganda juga beredar. Perancis sempat menawarkan satu juta Frank untuk menjadi agennya.

Tapi apa yang dilakukan Mata Hari tak bertahan lama. Gelagatnya sempat dicurigai oleh MI5, agen keamanan Inggris yang mengurusi masalah domestik. Mata Hari juga diincar dan mengalami serangkaian interogasi agen rahasia Perancis dan membuktikan pekerjaan rahasianya. Ia ditangkap dan diyakini sebagai The Greatest Woman Spy pada abad itu. Informasinya diduga menyebabkan kematian ribuan tentara. Mata Hari kemudian dieksekusi tembak pada tanggal 15 Oktober 1917 di Perancis.

Jejak Mata Hari di Semarang salah satunya berada di gedung Marabunta yang terletak di Jalan cendrawasih 23. Ikon patung semut besar dicat merah menjadi pembeda dari gedung tua lainnya. Saya beberapa kali bolak balik melewati gedung ini. Saya pikir hanya gedung pertemuan biasa yang sudah lama tidak digunakan. Namun setelah mendapatkan sebuah brosur promosi di taman Sri Gunting. Saya sengaja berkunjung ke Marabunta yang sudah diubah menjadi restoran.

Tahun 1854 gedung ini dibangun dan diberi nama Gedung Komedi Stadschouwburg. Gedung asli yang dipergunakan sebagai tempat pertunjukkan sebenarnya berada di sebelah Gedung Marabunta. Namun keseluruhan gedung asli sempat dilanda banjir rob dan membuatnya hanya tersisa sebagian. Sampai saat ini sisa gedung terbengkalai dan tak terawat hingga ditumbuhi berbagai tanaman liar. Sedangkan Gedung Marabunta sendiri ialah lokasi kedua dari Stadschouwburg yang digunakan sebagai tempat dansa dan merupakan bangunan baru yang didirikan sesuai dengan Stadschouwburg yang asli. Mata Hari pernah pentas di Stadschouwburg saat tinggal di Semarang. Bahkan ditemukan fotonya dalam bingkai besar di bangunan tua itu.

Stadschouwburg sendiri tak terurus dan akhirnya dijadikan sebagai markas dan kantor Yayasan Empat Lima yang dikomandani oleh Mantan Presiden Soeharto yang masih menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya tahun 1956 dan Supardjo Rustam. Nama Marabunta berasal dari patung semut yang jadi ciri khasnya. Kemudian berkembanglah gedung ini diberi nama Marabunta Gedung Multiguna karena dijadikan tempat resepsi pernikahan, perkumpulan, pentas seni, hingga foto pra pernikahan.

Saat ini Marabunta dialih fungsikan menjadi MGM Cafe & Gallery. Restoran berkonsep galeri yang juga memajang benda-benda seni. Saya menjadi pengunjung pertama di hari itu dan disambut oleh pengelolanya langsung. Menurut saya restoran ini belum memiliki konsep yang matang. Itu diakui oleh Susan karena ia masih mencari-cari apa yang tepat untuk membangun restoran tanpa menghilangkan unsur sejarah serta klasiknya.

Kebetulan saya datang menjelang peringatan tujuah belas Agustus. Merah putih dan kepahlawanan jadi tema bulan itu. Susan menceritakan bahwa pajangan yang ada di kafenya merupakan koleksi keluarga. Sang ayah meminjamkan barang-barang yang ada di sana untuk meramaikan suasana retsoran yang baru ia bangun. Bahkan ia rela membangun pajangan temporer yang bisa digunakan sebagai piranti foto-foto. Pengunjung lain yang datang setelah saya memanfaatkannya untuk foto keluarga. Sejujurnya saya menyukai bangunan lama yang dipelihara meski fungsinya sudah berubah. Entah untuk perkantoran atau tempat makan seperti ini. Apalagi Marabunta punya kisah sejarah yang panjang serta arsitektur asli yang unik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *