Beberapa kali mengunjungi Kebun Raya Bogor. Tak terbersit keinginan untuk menyambangi makam tua Belanda. Saya merasa ngeri mengunjungi pemakaman apalagi kompleksnya dikelilingi pohon bambu yang daunnya rimbun dan menjalar ke mana-mana. Dulu waktu kecil saya sering ditakut-takuti perihal pohon bambu yang sering jadi sarang hantu atau ular. Iiih ngeri.

Tapi setelah kedatangan yang ketiga kali ke Kebun Raya, rasa penasaran saya mulai muncul. Dan ternyata saya salah. Makam peninggalan Belanda ini ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Kalau saya bandingkan saat pertama kali melewatinya waktu berkunjung dengan beberapa teman, memang jauh berbeda. Area makam memang tampak gelap dan misterius. Siapa juga yang mau ke sana ya? Setelah dibersihkan dan terlihat lebih tertata. Rupanya makam menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Makam Belanda ini malah dijadikan tempat berteduh bagi sebagian pengunjung. Kalau sudah kelelahan dan merasa kepanasan berkeliling taman. Beberapa orang memang sengaja bertandang ke makam hanya sekedar untuk duduk santai sambil ngobrol-ngobrol.  Saya pernah bertemu dua orang bapak-bapak yang sedang berbincang di dekat makam. Mereka asyik sekali, sambil merokok bak lagi ngumpul di warung kopi. Di depan makam memang disediakan bangku panjang untuk beristirahat.

Perbedaan yang lebih terasa pada pertengahan Desmeber 2016 lalu. Makam ini tampak lebih bersih. Batu nisannya yang besar-besar dicat ulang dengan warna putih. Pelatarannya terlihat lebih luas karena daun bambu yang berjatuhan rutin dibersihkan. Kesan spooky nya sudah hilang, bahkan lebih banyak pengunjung yang bertandang ke makam untuk berfoto. Dan kebanyakan anak muda.

Makam Belanda di Kebun Raya Bogor ini lebih tua dari usia kebun itu sendiri. Letaknya tepat di dekat kolam Gunting. Sisi kolam yang terdapat monumen peringatan Reindwart, botani Jerman, pendiri Kebun Raya Bogor. Terdapat 42 makam, tetapi hanya 38 yang memiliki identitas dan tertulis di batu nisannya. Mayoritas nisan memang masih tersusun baik. Ada beberapa nisan ukuran besar dan mendominasi di area itu. Khas Eropa, nisan tersebut tercantum nama lengkap siapa yang meninggal, usia, tanggal lahir, dan kapan ia meninggal. Sering kali ditambahkan kutipan kata mutiara untuk mengenang mereka yang beristirahat di sana. Kebanyakan merupakan makam keluarga dekat Gubernur Hindia Belanda. tetapi ada juga orang di luar pemerintahan yang profesinya sebagai botani. Cornelis Postman yang wafat 2 Mei 1784 merupakan penghuni tertua di makam Belanda Kebun Raya Bogor. Profesinya sebagai administrator toko obat.

Nisan paling besar milik Ary Prins, ahli hukum Belanda yang meninggal pada 28 Januari 1867. Ia merupakan Parlemen Hindia Belanda dan sempat bertugas sebagai pejabat sementara Gubernur Hindia Belanda selama dua kali. Gubernur lainnya yang dimakamkan di sini yaitu DJ de Eerns. Meinggal saat usia 58 tahun tepat tanggal 30 Mei 1840. Eerns menduduki jabatannya hanya 4 tahun. Sedangkan makam bayi yang ada di sana yaitu milik Margaretha Catharina Elizabeth Pahud, usianya belum genap dua tahun saat meninggal. Tertulis lengkap tanggal lahir 16 Juli 1858 dan dimakamkan pada 21 Januari 1860.

Ada pula makam termuda yang meninggal tahun 1994 milik Prof Dr. Andre Joseph Guillaume Henri Kostermans. lahir di Purworejo tahun 1 Juli 1901. Mungkin saking cintanya dengan Indonesia, botani asal Belanda ini rela berpindah kewarganegaraan menjadi Indonesia sejak 158. Permintaan tersebut dikabulkan pemerintah Indonesia mengingat jasa Kostermans terhadap ilmu pengetahuan. Selama hidupnya, Kostermans mengabdikan diri untuk tanaman dan berkerja di Herbarium Bogoriense sampai akhir hayat. Keberanian saya mengujungi makam ini timbul karena informasi jasad yang ada di sana telah dipindahkan atau diambil oleh keluarga.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *