Kuliner Tradisional Nepal Wajib Dicoba : Dari Momo Hingga Dal Bhat

Sore hari saya kelaparan sesampainya di Kathmandu. Untuk menyelamatkan perut keroncongan. Setelah sampai di penginapan kami hanya meletakkan tas dan bergegas pergi. Sejujurnya penasaran terhadap makanan Nepal sudah ada bahkan sejak di Indonesia. Berminggu-minggu sebelumnya saya berselancar lewat internet mengenai makanan tradisional khas Nepal. Mengumpulkan sejumlah informasi tentang kuliner apa saja yang bisa saya icip sesampainya di sana.

Ditambah lagi sebuah video yang beberapa kali saya lihat tentang dumpling dengan ciri khas tertentu. Tastemade mengumpulkan beberapa orang dari negara dan budaya berbeda, lalu menyuguhkan tutorial membuat pangsit asal Tiongkok, Jepang, Korea, India, hingga Nepal.

Dari video ini, keinginan makan momo semakin besar.

***

Sabtu sore itu, hasrat saya terpuaskan…

MOMO

Dari sebuah restoran kecil, saya mendapatkan momo pertama. Pangsit ala Asia Selatan ini disuguhkan anak kecil yang membantu ibunya bekerja sebagai pramusaji restoran rumahan. Sedangkan ibunya memasak di dapur.

Sepiring momo berisi 10 buah yang dimakan dengan bumbu kari.

kuliner khas nepal
Momo yang saya dapatkan di restoran pertama. Lihat detil perbedaan kulitnya.
makanan khas nepal
Bagian dalam momo.

Momo pertama saya bukan yang paling enak. Tapi cukup mengobati rasa penasaran. Momo rebus berisi daging kerbau dengan kulit pangsit berwarna sedikit kekuningan. Tekstur bagian luarnya agak mengering, meski usai direbus. Pangsitnya tidak lembek dengan isi yang masih mengandung kuah dari masakan daging kerbau.

Perjalanan makan momo tidak sampai di situ saja. Saya bahkan sempat memesan momo beberapa kali di tempat yang berbeda.

Pengalaman kedua yakni di restoran yang bersebelahan dengan restoran pertama. Di sini, tempat makannya lebih luas. Dengan momo yang harganya lebih mahal,saya mendapatkan rasa, tekstur, dan bumbu sampingan yang lebih enak. Memang harga tak pernah bohong. Padahal momo kedua yang saya makan ini berisi sayuran. Mereka biasa menyebutnya veg momo.

Momo merupakan simbol Nepal. Menu yang selalu ada di setiap restoran memiliki tiga varian antara lain, buff momo, veg momo, dan chicken  momo. Selain dibuat dengan cara dikukus. Penyajian lainnya dengan cara digoreng.

Kepopuleran momo sebenarnya tidak hanya di Nepal tetapi juga merambah negara lain di kawasan sub benua India. Menurut sejarahnya, momo berasal dari Tibet. Sebuah daerah di kawasan Tiongkok yang berdekatan dengan Nepal bagian utara. Vegetarian momo ada karena kebiasaan orang-orang penganut agama Hindu yang menghindari makan daging.

Makanan ini favorit di semua kalangan. Momo cukup dikenal banyak orang terutama wisatawan mancanegara karena mudah ditemukan, enak, harganya murah, dan mengenyangkan.

makanan tradisional nepal
Momo kedua yang saya m akan di Nepal.

Satu piring momo berisi 10-12 buah dengan kisaran harga Rs 60-Rs100. Untuk fried momo harganya sedikit lebih mahal. Bagi yang memiliki kebiasaan makan dalam porsi kecil. Momo merupakan pilihan pas untuk sarapan atau makan siang.

Pengalaman ketiga dan keempat menikmati momo saat berada di Lalitpur dan Bhaktapur. Saya dan Rudy mencobanya di Cafe Du Temple dekat Patan Durbar Square. Saat di Bhaktapur, sajian ini juga ada bahkan di sebuah coffee shop.

Rata-rata penyajian momo tidak jauh berbeda. Berupa pangsit kukus yang dimakan bersama bumbu sejenis kuah kari. Yang membedakan memang tempat di mana kita makan. Otomatis berpengaruh terhadap harganya. Namun, ketika berada di restoran pun, belum menjamin rasa momo pasti enak. Bahkan ketika makan di Cafe Du Temple, rasa momo juga biasa-biasa saja.

Selain dua varian yang biasa di temui di berbagai tempat makan di Nepal. Ada beberapa ragam momo lainnya, antara lain :

Kothey momo. Momo yang dibuat dengan perpaduan setengah digoreng dan setengah dikukus. bentuknya dibuat memanjang dan bisa didisi dengan sayuran atau varian daging seperti daging kerbau, ayam, atau daging babi.

Sup momo. Penyajian momo dengan proses memasak yang jauh lebih lama. Pertama harus membuat momo utama yang dikukus. Kemudian memasak kuah momo yang mengandung kaldu daging.

Lassi

Ke Nepal, jangan sampai melewatkan lassi. Minuman dari yoghurt disajikan dalam kondisi dingin. Begitu menyegarkan ketika dikonsumsi siang hari.

Lassi lebih encer daripada dahi (yoghurt yang kental). Perbedaanya, lassi merupakan campuran dari dahi yang ditambah air dan beberapa rempah. Rasa aslinya cenderung asam bercampur asin. Saat dicampur biasanya memasukkan garam di dalamnya.

Ragam sajian lassi biasanya dengan buah-buahan. Seperti membuat minuman jus, di mana memasukkan buah sesuai selera. Tetapi komposisi yoghurt dan air jauh lebih banyak daripada buahnya. Jika ingin memesan lassi yang manis. Kita hanya perlu bilang ke penjual, sweet lassi. Maka minuman segar ini akan disajikan.

makanan tradisional khas nepal
Dal Bhat.

Dal Bhat

Menu berat yang wajib dimakan saat berada di Nepal yaitu Dal Bhat. Isinya beberapa lauk pauk dengan nasi briyani yang disajikan dalam piring besar. Makan seporsi Dal Bhat, pengeluaran bisa lebih hemat. Itulah pengalaman selama di Nepal ketika sehari-hari mengkonsumi makanan ini.

Dal Bhat populer di negara Nepal, India, Bhutan, maupun Bangladesh dan Srilanka. Karbohidratnya didominasi dengan nasi briyani yang kemepyar kalau orang Jawa bilang. Teksturnya tidak lengket antar bulir nasi. Saat dimakan juga tidak keras. Lauk pelengkapnya ada beberapa macam. Dimuali dari daging kari yang bisa menggunakan daging kerbau atau daging ayam. Lalu ada sup kacang yang sering diletakkan dalam mangkuk kecil. Nama dal bhat berasal dari dua jenis menu ini. Bhat artinya nasi, sedangkan Dal merupakan sup kacang-kacangan. Penasaran dengan rasanya? Mari baca sampai habis tulisan saya ini sambil membayangkan rasanya….hehe

Sup kacang yang mereka sajikan porsinya memang sedikit. Buat saya, sup ini hanya sebagai pelancar saat menelan makanan. Saya menuangkan kuahnya di atas nasi dan sesekali memakan kacangnya bergantian dengan lauk yang lain. Rasanya hampir tawar dan tidak menggunakan bumbu tertentu yang tajam. Ini satu versi dal yang pernah saya rasakan dalam satu piring. Versi dal lainnya dengan chef yang berbeda, membuat sup kacang-kacangan seperti bubur, dan terlihat keruh. Hampir mirip seperti bubur kacang hijau, tetapi rasanya agak asin.

Untuk versi proteinnya, potongan daging dengan kuah kari merupakan yang utama. Daging yang disajikan memang tak terlalu banyak. Hanya potongan kecil sebagai satu kesatuan sempurna dari sepiring makanan empat sehat lima sempurna.

Mengapa saya menyebutnya demikian ?

Karena dalam dal bhat juga terdapat dahi atau yoghurt yang menjadi favorit saya. Memang sedikit aneh bagi yang tak terbiasa. Nasi, kari, sup, lalu ada yoghurt kental dalam makan besar yang diletakkan dalam satu piring besar berukuran sekitar 25 – 30 sentimeter. Namun, dahi yang terbuat dari susu ini menyamarkan rasa eneg dari semua bumbu kari yang ada dalam dal bhat.

Tak kalah penting yang menjadi bagian dari kuliner Nepal ini yakni sayuran yang dibumbui kari. Orang lokal menyebutnya tarkari. Isi sayuran ini berupa bunga kol, buncis, dan wortel. Semakin lengkap dengan papad yang renyah dan gurih. Kalau saya pikir-pikir, gaya makan orang dari sub benua India ini mirip dengan orang Jawa. Makan perlu dilengkapi yang kriuk..kriuk..

Papad bentuknya seperti opak, tetapi teksturnya lebih tipis. Ada dua cara penyajian papad. Bisa dipanggang atau digoreng. Kalau saya sih, lebih suka yang dipanggang karena minim minyak dan ada bau-bau gosongnya.

Sepori dal bhat lumayan murah. Sekitar Rp 25.000 sampai Rp 30.000 saja. Lagi-lagi ini tergantung tempat di mana kita makan. Makan dal bhat saat brunch, awetnya bisa seharian. Gimana ? Pengen menyicipi dal bhat juga ?

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *