Kota Tua Jakarta, Saksi Sejarah Kejayaan Oud Batavia

Ada keuntungan ketika kita liburan :

  1. Refreshing, melepas penat dan kebosanan dari padatnya aktivitas
  2. Menambah wawasan karena mendapatkan informasi baru terkait tempay yang kita kunjungi

Dua hal tersebut rupanya sangat bisa didapatkan saat kita punya waktu untuk ke Kota Tua Jakarta.

Apalagi kalau dilihat. Ibukota Indonesia ini hampir tak punya banyak wisata alam yang menyegarkan.

Namun, di pinggir kota, tepatnya Jakarta Barat. Kota Tua Jakarta menyuguhkan aneka wisata yang mampu mengisi akhir pekan. Baik dihabiskan bersama keluarga, teman, atau melakukan perjalanan sendiri.

Oud Batavia atau Batavia Lama merupakan tempat yang sama. Saat ini kita lebih mengenal namanya dengan Kota Tua Jakarta. Dulu, Belanda melabelinya dengan gelar Koningen van Oosten, Ratu dari Timur. Wilayah jajahan yang menjadi pangkalan bagi Verenigde Oostindische Compagnie.

Perusahaan ini merupakan perusahaan dagang milik Belanda untuk menancapkan kekuasaanya di Jawa. Permata dari timur yang tak dilepas, begitu berharga hingga para penjajah Belanda lebih memilih merelakan Melaka kepada Inggris. Saat persaingan antara dua bangsa penjelajah tersebut terjadi berabad lalu.

Oud Batavia ada karena jalan berliku hubungan dagang antara VOC dengan Jayakarta. Jayakarta sendiri merupakan tempat yang sama, dibangun tahun 1527 setelah Fatahillah berhasil menaklukan pusat pelabuhan milik kerajaan Sunda yaitu Sunda Kelapa.

galangan-voc
Galangan VOC merupakan tempat untuk bersandar kapal-kapal. Sempat beberapa kali beralih fungsi, mulai dari kantor, gudang, bengkel pembuat peta hingga jam pasir.

Padrao dan Kisah Panjang Kota Tua Saat Bernama Sunda Kelapa

Mari kita mundur beberapa tahun sebelum nama Sunda Kelapa ada. Terdapat sebuah perjanjian bernama Luso Sundanese Padrao yang dibuat pihak Portugis berbentuk tugu batu. Kerajaan Portugis mengutus seorang bernama Henrique Leme bertemu dengan wakil Kerajaan Sunda, untuk membawa barang-barang bagi Raja Samian(Raja Sanghyang Surawisesa yang kala itu pangeran dari Kerajaan Sunda).

Padrao merupakan perjanjian internasional pertama yang disepakati tahun 1522. Kesepakatan itulah yang memberikan jalan bagi Portugis untuk mendirikan benteng dan gudang, tepat pada tanah yang telah disepakati.

Prasasti ini ditemukan kembali setelah penggalian saat pembangunan fondasi salah satu gedung di Batavia yaitu Prinsentraat (sekarang Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Kali Besar Timur).

Pembangunan besar-besaran dimulai untuk membuat Batavia menjadi nyata. Kota strategis perdagangan di bawah Belanda, khususnya, kamar dagang VOC.

Saat ini Luso Sundanese Padro disimpan di Museum Nasional Jakarta, sedangkan replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta.

Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Menjadi Batavia

Perjalanan Jakarta yang kita lihat sekarang ini, berawal sejak abad ke-4 sebelum masehi. Lokasi yang sudah menjadi pemukiman sejak berabad-abad  oleh umat Hindu. Bahkan sempat menjadi bagian penting dari kerajaan Tarumanegara. Begitu pula dengan area laut di sebelah utara yang memiliki dermaga kecil. Dimanfaatkan sebagai pelabuhan kapal.

Saat Tarumanegara tak lagi punya kekuatan. Tempat ini diambil alih oleh Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis untuk perdagangan, menjadikan dermaga ini lambat laun membesar dan berfungsi sebagai pelabuhan yang mengalirkan lada, komoditas utama Kerajaan Sunda di masa itu.

Lada dan kekayaan lainnya yang diperdagangkan melalui dermaga yang diberi nama Sunda Kalapa. Pelabuhan ini menurut sebuah manuskrip lama merupakan milik Pakuan Pajajaran (sekarang Bogor), ibukota dari Kerajaan Sunda.

Tahun 1513 menjadi salah satu tahun bersejarah bagi Sunda Kalapa yang didatangi pelayar Eropa yakni Portugis, dibawah kepemimpinan De Alvin. Sedangkan kunjungan kedua, Henriques Leme datang mencari rempah-rempah dan menegaskan keberadaannya di Jawa lewat Padrao.

Persaingan, kekayaan, dan kekuasaan selalu berujung pada kompetisi. Saling mendepak dan menghancurkan. Tak tahan dengan kekuatan Portugis yang mempengaruhi kerajaan lainnya, yang mampu memonopoli perdagangan. Banten meminta bantuan Demak dan Cirebon menggempur Portugis.

Pangeran Fatahillah menyerang bangsa Eropa ketiga seletah Italia dengan Marcopolo dan Tiongkok dengan Laksamana Cheng Ho yang datang ke Nusantara itu, dan merebut Sunda Kalapa.

Peperangan berlangsung setahun, sampai akhirnya pada 1527, Sunda Kalapa jatuh ke tangan Fatahillah dan berganti menjadi Jayakarta. Nama baru telah lahir, Jayakarta yang diambil dari bahasa Sansakerta berarti kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha, kembali menggoreskan sejarah.

Bangsa Eropa lainnya datang dibawah kepimpinan pelayar bernama Cornelis de Hotman tahun 1596 dengan tujuan utama perdagangan dan membeli rempah-rempah. Pelaut Belanda ini kembali mengajak kerjasama pemerintah setempat agar diberi kuasa untuk mendapatkan kekayaan alam Nusantara yang tak ada di negeri barat.

Sejarah selalu berulang. Niat awal berdagang, kemudian berkembang menjadi nafsu menguasai. Belanda pun mendirikan persekutuan dagang bernama VOC  tahun 1602 untuk menguasai perdagangan Asia. Bersaing dengan Inggris yang memiliki EIC (East India Company).

Di tahun yang sama, Inggris sudah mampu mencapai Aceh dikomandoi Sir James Lancaster. Serta sampai di Bantam (sekarang Banten) yang pada akhirnya diberi kesempatan mendirikan pos perdagangan jual beli Inggris di Nusantara, tahun 1682.

Bertahun-tahun perdagangan yang dijalin pihak VOC di Jayakarta berjalan mulus. Bahkan tahun 1610, Pangeran Jayawikarta memberi hak istimewa pada saudagar Belanda untuk mendirikan rumah kayu dengan pondasi batu sebagai pusat perdagangan.

Kemudian dilanjutkan menyewa lahan seluas 1,5 hektar membangun gudang bernama Nassau Huis. Saat JP Coen memerintah, Mauritius, gudang lainnya dibangun dilengkapi dengan tembok tinggi dan beberapa meriam. Dari sinilah persiapan menguasai Jayakarta dimulai.

Hubungan yang memanas tahun 1618 terjadi antar kedua belah pihak. Sampai akhirnya memuncak saat Jayawikarta ingin menyerang kedua gudang milik Belanda. Berbagai konflik dan keinginan menguasai menjadi pemicunya. Jan Pieterzoon Coen melakukan pembalasan dengan membakar seluruh kota Jayakarta pada 30 September 1619.

Peristiwa ini meluluhlantakan kota, dan hanya padrao yang tersisa. Barulah pada 1620 JP Coen, membangun kota baru yang diberi nama Batavia.

Kota Tua Jakarta Dulu – Kota Strategis, Incaran Semua Bangsa

Saya masih meraba, sulit membayangkan tentang keadaan Sunda Kelapa dan Jayakarta di masa lalu. Beberapa lukisan dan foto memperlihatkan rupa kota yang sempat jadi primadona bagi kerajaan-kerajaan terdahulu.

Dari sebuah dermaga kecil berkembang pesat menjadi kota pelabuhan startegis.

Kota Tua Jakarta yang kini saya temui sebagian kecil meninggalkan jejak pelabuhan Sunda Kalapa. Berupa pelabuhan yang memang menjadi peraduan kapal-kapal dari berbagai pulau untuk menaik turunkan bawaannya.

Tapi lainnya tak ada, Batavia lah yang menggagas dan mengembangkan Kota Tua Jakarta yang dulunya menjadi pusat kota dan peraduan bagi imigran baik bagi bangsa Belanda sendiri, Tiongkok, serta jadi magnet bagi orang-orang di Nusantara untuk hijrah ke Batavia seperti Bali, Bugis, Jawa, Sunda, Melayu, Arab, Makassar, Ambon dan lainnya yang menjadi cikal bakal suku Betawi.

Berawal dari tepi timur sungai Ciliwung.

Batavia dibangun oleh JP Coen. Hingga tiba masanya berkembang dan mencapai kejayaan. Luasnya bertambah tahun 165 mencapai tepi barat sungai Ciliwung, sampai bekas reruntuhan kota Jayakarta.

Lapangan Fatahillah di Kota Tua Jakarta. Itulah pusat Kota Batavia, di sana juga dibangun sebuah stadhuis atau balaikota yang menjadi kantor Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Batavia dibangun menjadi kota megah pada masanya.

Dengan benteng (Kasetel Batavia) yang dilengkapi dinging melindungi seluruh kota. Kanal-kanal dibangun didalamnya untuk memisahkan bagian-bagian bangunan mirip blok. Perdagangan terus saja berlangsung di sana. Semakin ramai didatangi berbagai macam etnis untuk mengadu nasib dan mencari peruntungan di Batavia.

Kota ini begitu maju pada masa itu dan bisa disaingkan dengan kota pelabuhan lainnya seperti Malaka ataupun Goa di India. Uang hilir mudik dari hasil perdagangan yang dikelola oleh VOC. Tapi, sistem dan kelicikan beberapa orang di dalamnya malah membuat VOC hancur setelah 180 tahun berdiri di Batavia.

Korupsi merupakan masalah utama yang melatarbelakanginya.

1799 VOC resmi dibubarkan dan Batavia diambil alih langsung oleh kerajaan Belanda, dibawah Louis Napoleon Bonaparte. Saat itu Belanda di Eropa sedang mengalami peperangan dengan Perancis dan kalah. Kekalahan ini juga mempengaruhi nasib Kota Batavia yang akhirnya, secara tidak langsung sempat dikelola oleh Perancis.

Kota Tua Jakarta menjadi saksi bisu perjalanan Batavia.

Yang semula kosong, malah dibangun berbagai macam gedung mulai dari gereja, pembangunan benteng pertahanan, pabrik senjata, gudang makanan, jalan raya, dan lain sebagainya saat Deandles menjadi Gubernur Jendral yang menguasai Batavia.

D7K-9253
Bangunan peninggalan Hindia Belanda.

Batavia Yang Ditinggalkan

Ada hal yang tak bisa dikontrol oleh manusia. Dan ini pula yang terjadi di Batavia. Jika Anda bertanya kenapa Batavia yang dulu menjadi pusat kota pemerintahan berada di bagian barat Jakarta. Malah sekarang pusat kota Jakarta ada di Jakarta Pusat, berjarak sekitar tujuh kilometer dari Oud Batavia.

Ternyata ini yang menjadi alasan kehancuran dan ditinggalkannya Oud Batavia atau yang sekarang kita sebut Kota Tua Jakarta. Kanal-kanal yang ada lama kelamaan terisi penuh. Namun, sanitasi yang buruk dan kebersihan yang tak terjaga menimbulkan banyak penyakit di Batavia, antara lain kolera dan penyakit tropis lainnya. Wabah menyerang dan merenggut nyawa banyak orang.

Penyebab ini yang membuat lokasi Kota Tua Jakarta ditinggalkan. Orang-orang kulit putih yaitu bangsa Belanda, memutuskan menggeser pusat pemerintahannya dan pindah ke area Weltevreden (sekarang Lapangan Merdeka).

DSC-6349
Cafe Batavia, sebuah restoran yang sering menjadi tujuan wisatawan mancanegara dan sebagian wisatawan lokal. Mereka menghabiskan waktu untuk makan, sambil menikmati keunikan interiornya.
museum-kota-tua-jakarta
Pada Hari Minggu, lapangan Fatahillah selalu ramai didatangi pengunjung.
wisata-jakarta
Wisata murah meriah di Kota Jakarta. Mulai dari kulineran, sampai sewa sepeda untuk berfoto atau hanya berkeliling lapangan.

Bangunan-Bangunan Kuno di Kota Tua Jakarta, Peninggalan Oud Batavia

Beberapa bangunan lama di Kota Tua Jakarta masih berdiri. Meskipun masih banyak yang terlantar dan tak ditempati. Kebanyakan bangunan yang tak diurus tersebut milik swasta. Sedangkan bangunan yang dimiliki pemerintah dialih fungsikan menjadi museum dan perkantoran.

  • Stadhius atau Balaikota milik VOC sekarang ini menjadi Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah.
  • Museum  Wayang dulunya merupakan Gereja Lama Belanda bernama De Oude Hollandsche Kerk
  • Museum Seni Rupa dan Keramik di zaman Hindia Belanda merupakan gedung pengadilan dengan nama Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia. Dibangun 12 Januari 1870.
  • Museum Bank Indonesia merupakan gedung peninggalan De Javasche Bank yang dibangun dengan arsitektur neo-klasikal.
  • Museum Mandiri terletak di Jalan Lapangan Stasiun 1 Jakarta Barat. Bersebelahan dengan Museum bank Indonesia, museum Mandiri dulunya merupakan gedung Nederlandsche Factorij Batavia yaitu perusahaan dagang milik Belanda yang berkembang di bidang perbankan.
  • Museum Bahari menyimpan koleksi yang berkaitan dengan kebaharian dan kelautan. Museum ini dulunya gedung yang diperuntukkan sebagai gudang untuk menyimpan, memilih, dan mengepak hasil bumi terutama rempah-rempah yang dimiliki VOC untuk didistribusikan ke Eropa.
  • Glodok dan Pinangsia Area. Wilayah ini merupakan lokasi tempat tinggal warga Tionghoa terbesar di Batavia. Saat ini Glodok berkembang menjadi pusat perdagangan elektronik di Jakarta.
  • Menara Syahbandar. Dibangun tahun 1839 dan diberi nama Uitkijk berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapl-kapal yang keluar masuk pelabuhan Sunda Kelapa.
  • Jembatan Kota Intan di Kota Tua Jakarta. Jembatan jungkit warisan Belanda. Dikenal dengan nama jembatan pasar ayam, jembatan ini dibangun tahun 1628.
  • Cafe Batavia merupakan bangunan gudang yang sekarang difungsikan sebagai restoran.
  • Toko Merah dibangun tahun 170 oleh Gustaaf von Imoff sebagai tempat tinggal.
  • Pelabuhan Sunda Kelapa. Dermaga kecil yang berubah menjadi pelabuhan startegis di Pulau Jawa. Pelabuhan Sunda Kelapa berjarak sekitar empat kilometer dari Lapangan Fatahillah.
  • Taman Fatahillah atau dikenal dengan lapangan Fatahillah merupakan pelataran di depan Stadhius. Lapangan ini dulunya menjadi pusat kegiatan pemerinathan seperti mengumpulkan warga hingga pemberian hukuman gantung bagi orang yang dianggap bersalah.
  • Stasiun Kota Jakarta dikenal dengan nama Stasiun Beos kepanjangan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij.

Wisata Kota Tua Jakarta tak lagi membosankan dengan mengunjungi satu museum ke museum lainnya. Bahkan saat ini, restorasi bangunan diperuntukkan sebagai galeri dan restoran. Wisata malam juga hidup, bahkan menjadi sumber penghasilan orang-orang kreatif. Mereka membuat cosplay berbagai macam atribut pahlawan dan bangsawan Belanda. Kegiatan ini otomatis menarik perhatian wisatawan lokal untuk bisa berkunjung ke sana terutama saat akhir pekan.

Bangunan di Kota Tua Jakarta (Batavia) Yang Telah Hilang

Benteng yang dibangun mengelilingi Batavia telah dirubuhkan bahkan sekarang tak terlihat bekasnya. Museum Bank Mandiri yang ada sekarang menyimpan sejarah selain karena bangunannya. Pondasi dasar dari bangunan tersebut menempati batas benteng Batavia. Jika Anda berkunjung ke museum Mandiri, akan dijabarkan dengan jelas bagian manakah yang masih menyimpan jejak benteng Batavia.

Banyak bangunan yang ada di Batavia dihancurkan, roboh, atau memang hancur karena gempa yang sempat terjadi di kota ini. Termasuk akibat bencana besar yang disebabkan meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883.

D7K-9174
Jalanan super padat, bisa juga dikatakan sering macet. Tak kenal hari, jalan raya ini padat karena sebagai jalur transportasi berbagai moda, dari mobil pribadi, bus transjakarta, sampai angkot.
D7K-9270
Bagian yang ditutupi dengan seng biru itu sedang dalam perbaikan. proses revitalisasi sebagai usaha agar Kota Tua Jakarta masuk dalam daftar Wolrd Heritage.

D7K-9248
Pembenahan Kota Tua Jakarta

Saya masih ingat sekali, ketika menjelajahi Kota Tua Jakarta pertama kali. Cukup kumuh dan tak terawat. Sedih melihatnya, karena lokasi yang pernah berjaya, diperebutkan kerajaan-kerajaan, bahkan menjadi permata bagi bangsa Eropa menjadi tersingkir dan dianak tirikan dari gemerlap kota metropolitan, Jakarta.

Bangunan yang menjadi ciri khas Kota Tua Jakarta memang terbengkalai. Hanya sebagian kecil yang terawat dan dialihfungsikan menjadi museum, kantor, dan restoran.

Namun, pemerintah kota tampakanya mulai sadar. Bahwa Kota Tua Jakarta bukanlah kota lapuk yang tua dimakan zaman. Tetapi, aset dengan berjuta kekayaan sejarah yang bisa dikembangkan menjadi pusat wisata Jakarta. Sebuah lokasi dengan cerita panjang dari kota pelabuhan yang bisa disulap menjadi area wisata kota yang memanjakan turis asing begitu pula penduduk lokalnya.

Bangunan-bangunan tua tepatnya di sekitar lapangan Fatahillah saat ini menjadi lokasi utama hiruk pikuk kegiatan wisata Kota Tua Jakarta. Perbaikan dan kebersihan yang selalu ditingkatkan. Menata para pedagang kaki lima menjadi lebih teratur tanpa menggusur atau memindahkan mereka ke tempat lain. Bahkan mendirikan satu lokasi khusus untuk wisata kuliner di Kota Tua Jakarta.

Tak hanya itu, beberapa gedung di sekitar museum Fatahillah di rombak menjadi restoran dengan interior dan gaya unik. Menonjolkan arsitektur Belanda yang tertinggal di sana. Tak mudah untuk menghidupkan kembali Kota Tua Jakarta, tapi yang tak mudah bukan berarti tak bisa. Satu solusi telah lahir untuk menyemarakan Kota Tua Jakarta agar lebih diminati warganya untuk liburan murah.

Wisata Kota Tua Jakarta

Wisata Kota Tua Jakarta mulai digalakkan. Tak hanya menjadi bagian situs sejarah. Kota Tua Jakarta menjadi salah satu pusat wisata bagi warga lokal. Berkunjung ke museum merupakan pilihan untuk mengenal Batavia lewat bangunan-bangunan yang tersisa.

Banyak perkumpulan atau komunitas sejarah yang mengadakan perjalanan untuk napak tilas kejayaan Batavia pada masa itu. Mengunjungi bangunan tua dan mempelajari kisah sejarahnya dengan membawa ahli sejarah yang akan menjelaskan secara detil tentang kisah Belanda di Hindia Timur. Atau wisata kota Jakarta menggali potensi untuk dijadikan obyek fotografi. Sunda Kelapa merupakan salah satu lokasi menarik untuk memotret. Kegiatan sehari-hari di pelabuhan dibingkai secara apik untuk memperlihatkan sisi lain kehidupan di pelabuhan tua itu. Bahkan Sunda Kelapa menjadi tempat yang sering diincar untuk wedding photography.

Kegiatan wisata Kota Tua Jakarta berlangsung dari pagi hari hingga tengah malam. Lapangan Fatahillah yang menjadi pusatnya akan dipenuhi wisatawan yang mengunjungi museum atau sekedar datang untuk bermain sepeda di sana. Menyewa sepeda warna-warni dengan biaya Rp 25.000,00 per 30 menit.

Seni kreatif pun berkembang. Banyak orang dengan ide-ide baru menciptakan lapangan kerja khususnya hiburan, sekaligus mengisi kekosongan Kota Tua Jakarta. Dari yang anak-anak hingga dewasa. Menyelubungi dirinya dengan kostum besar berbagai macam ikon kartun mulai dari doraemon, teletubbies, dan aneka tokoh anak-anak. Mereka memang mencari nafkah dari kostum itu. Berpose di siang hari yang gantang, menyiapkan diri agar diajak berfoto wisatawan dengan imbal jasa recehan rupiah. Ada pula yang rela melumuri dirinya dengan cat dan mematung dengan kaya khas, tapi menarik perhatian pengunjung.

Kota Tua Jakarta kembali hidup, meski baru di satu sisi yakni pusat kota Batavia dulu, yang letaknya di depan Stadhius atau sekarang lebih kita kenal dengan lapangan Fatahillah. Tapi tak mengapa, satu pijar kehidupan pada kota lama, semoga akan menjadi awal mula meramaikan Kota Tua Jakarta agar lebih meriah ke depannya.

Harapan Untuk Mantan Kota Pelabuhan, Semarakkan Wisata Kota Tua Jakarta

Saya jadi teringat bagiaman Malaysia mengelola Kota Malaka menjadi wisata kota yang menjadi jujugan pelancong bahkan dari mancanegara. Itu pula terbersit di pikiran saya, melihat Kota Tua Jakarta kembali hidup, semarak, dan menjadi tujuan wisata. Sungai yang ada di sana, dikembalikan lagi seperti semula seperti dulu. Menjadi sarana transportasi kapal-kapal pedagang yang ingin masuk ke kota Batavia.

Tapi untuk era abad 21 ini, sungai itu dapat berubah menjadi lokasi wisata baru yang menarik dengan menempatkan kapal-kapal wisata untuk menjelajahi Ciliwung. Ah, saya memang terbayang River Cruise di Kota Malaka. Membersihkan pinggiran sungai dari hal-hal kumuh, bau pesing, dan menyulap menjadi kawasan tongkrongan yang menarik.

Kota Tua Jakarta, saya menunggu geliatmu.

Kembali berjaya seperti berabad-abad lalu. Bukan untuk menjadi kota pelabuhan tempat bernaung pedagang dari seluruh negeri. Tapi menjadi tujuan wisata yang memanjakan pelancongnya dengan cerita sejarah dan peninggalan bangunan yang ternilai.

Ketika artikel ini dibuat pertama kali tahun 2016, area wisata sudah dan sedang mengalami perubahan. Beberapa bangunan lama dirapikan lalu dijadikan kafe, tempat nongkrong, atau bazar mini.

Bagian kali besarnya, sudah direnovasi. Tampak lebih bagus dan tertata.

Itinerary Wisata Kota Tua Jakarta Dalam Sehari 

Sebaiknya rencanakan kunjungan sejak beberapa hari sebelumnya. Jika ingin puas liburan, Anda memang perlu menjadwalkan satu hari untuk mengelilingi wilayah Sunda Kelapa dan area lapangan Fatahillah.

Mencapai kota tua sangatlah mudah, bisa dengan naik busway transjakarta atau naik kereta.

Jangan lupa juga tips wisata pertama yang saya sarankan yaitu bawalah air mineral sendiri dan mini back pack. Untuk memudahkan aktivitas saat liburan singkat ini.

Datang pagi hari sangat baik. Jam berapakah ?

Jika ingin mengambil foto yang bagus, Anda bisa pergi ke pelabuhan Sunda Kelapa dulu pagi hari, sekitar jam enam pagi sudah ada di lokasi. Mempersiapkan gear untuk memotret.

Ke pelabuhan pun cukup mudah jika dari stasiun Jakarta Kota. Anda bisa jalan kaki atau sewa sepeda saja sekita Rp 30.000 – Rp 50.000, sopir ojek juga bersedia mengantarkan berkeliling.

Sesampai di pelabuhan Anda bisa mengambil spot terbaik untuk mengambil foto. Atau mengabadikan momen-momen kegiatan di pelabuhan.

Saya pernah menyewa kapal dan diantarkan hingga bagian luar pelabuhan. Bersama Pak Tajudin waktu itu, ia pun bercerita tentang sepenggal kehidupannya dan kegiatan sehari-hari selama di pelabuhan. Tarif naik kapal pun murah, Rp 50.000 sekali jalan.

Paling-paling Anda hanya butuh satu jam. Lalu bisa kembali lagi ke lapangan kota tua. Saya pilih jalan kaki, karena ingin melihat-lihat kondisi sekitar serta menyusuri beberapa bangunan lama.

Nah, menjelang siang, sekitar jam 10 pagi. Anda bisa mulai melakukan tur museum ke museum. Rata-rata biaya masuknya antara Rp5.000 – Rp10.000.

Jangan salah, satu hari akan terasa cepat jika Anda benar-benar mampir ke semua tempat bersejarah tadi.

Dan ketika lapar melanda, saya tetap bisa makan enak dan kenyang di area kota tua. Tempat lain yang banyak menjual makanan ialah area stasiun. Anda bisa makan sambil istirahat di sana.

Tunggu… jangan langsung pulang..

Sekalian saja, mengunggu senja tiba. Menjelang malam, area ini semakin ramai karena banyak wisatawan lokal yang datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *